THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 27 TERINGAT DENGAN SESEORANG


__ADS_3

Winner’s POV 



Ada yang aneh dengan pria mungil itu. Sejak menggandeng tangannya dan memaksanya untuk pergi bersama denganku, aku merasakan sensasi tidak asing di dalam benakku. Lingkar tangannya benar-benar kecil untuk ukuran seorang pria apalagi untuk pria yang bekerja di bawah Aliansi Ingmar yang sekarang sedang berperang dengan Aliansi Arael. Dari pengalaman yang aku pelajari, pria-pria yang bekerja untuk militer selalu memiliki tubuh yang kekar dan otot yang kuat apalagi untuk pria yang bekerja di bagian lapangan di mana ketahanan fisik adalah hal yang paling utama. 



Tapi. . . pengawalku ini berbeda. 



Selain tinggi tubuhnya yang lebih pendek dari kebanyakan pria lainnya, tubuhnya juga tidak kekar dan tidak memiliki otot yang kuat. Saat memegang lengannya tadi, aku dapat dengan jelas merasakan perbedaan itu. Tapi meski kondisi fisiknya yang berbeda, kemampuannya mungkin sudah tidak bisa diragukan lagi. Ujian yang dijalaninya itu benar-benar ujian yang berat dan bahkan tidak sedikit pun rasa takut tergambar dalam tubuh pengawalku ini. 



Meski aku tidak bisa melihat wajahnya, meski aku tidak bisa melihat sorot matanya, aku dapat dengan jelas melihat pengawalku ini sama sekali tidak memiliki rasa takut pada dirinya hanya dengan melihat gerakan pada tubuhnya. 



Andai aku bisa melepas masker yang menutupi separuh wajahnya dan membuat poni di rambutnya itu sedikit berkurang. Mungkin dengan melakukan itu. . . aku bisa sedikit mengurangi rasa penasaranku ini terhadap pengawal yang membuatku merasakan sensasi tidak asing di dalam diriku ini. 



Sembari melihat Rudi yang membawa Savior berkeliling rumah, aku terus menatap ke arah Savior secara diam-diam. Dan ketika Rudi hendak membuat Savior tidur di lantai satu, aku menghentikan niat Rudi itu dan membuat Savior untuk tidur di lantai dua bersama denganku.



Alasannya mudah. Aku hanya ingin mengetahui siapa sosok di balik kode nama Savior ini. Mungkinkah aku mengenalnya? Mungkinkah kami pernah bertemu? Aku tidak tahu. 



Tapi. . . aku ingin sekali mengetahuinya. 



Aku hanya takut jika seseorang yang kuperkerjakan sebagai pengawalku ini adalah mata-mata yang mungkin akan melukai orang-orang yang kusayangi lagi. Bukankah tidak ada salahnya berjaga-jaga dan memastikan?? 



\*  



“Apa kalian sudah selesai?” Teriakan kencang terdengar dari arah bawah dan itu adalah suara dari Winner. 



“Sudah.” Rudi-manajer Winner segera menjawab pertanyaan dari Winner itu. “Apa kau membutuhkan sesuatu, Winner? Kebetulan jadwalmu hari ini sudah kukosongkan semua karena pertemuan dengan wakil-wakil dari kelompok negara netral. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?” 


__ADS_1


“Ya, aku ingin ke mall. Bisakah kita pergi?” 



Sarayu menatap ke arah Rudi dan berbisik pelan. “Jadwalnya kosong? Bukankah tadi saat membawaku, Winner mengatakan jika punya jadwal lain yang menunggunya?” 



Rudi terkekeh mendengar pertanyaan Sarayu. “Ah. . . i-itu hanya akal-akalan Winner saja. Maafkan kebiasaan buruk Winner itu. Meski dia setuju untuk menjadi duta dan lambang dari kelompok negara netral demi menyelamatkan warga negara Indonesia yang terjebak di medan perang, nyatanya Winner tidak begitu suka dengan semua hal yang berbau politik.” 



“Benarkah begitu?” Sarayu berbisik lagi untuk memastikan. 



Kali ini Rudi mendekatkan wajahnya ke wajah Sarayu dan agar bisikannya bisa lebih jelas terdengar oleh Sarayu. “Itu benar. Winner itu membenci politik. Di matanya politik itu bahkan lebih buruk dari aktor dan aktris yang berakting. Jika aktor dan aktris berakting karena kecintaan mereka pada dunia peran, maka lain lagi dengan politikus. Mereka berakting, berbicara ini itu dan membuat banyak janji manis, tapi pada akhirnya kebanyakan dari mereka melupakan ucapannya, melupakan rakyatnya ketika sudah duduk di kursi pemerintahan. Maka dari itu, aku ingatkan. Jangan sampai-sampai membicarakan masalah politik ketika berada di samping Winner!” 



Di balik masker hitamnya, Sarayu membuat senyuman kecil. “Tenang saja. Aku juga tidak begitu suka dengan dunia politik. Jadi. . . aku juga menghindari masalah politik.” 



“Baguslah kalau begitu.” Setelah menjawab Sarayu, Rudi kembali menaruh perhatian kepada Winner yang sudah bangkit dari posisi rebahan dan berganti dengan berkacak pinggang karena telah membuatnya menunggu. “Kenapa kau ingin ke mall, Winner? Apakah ada pakaian yang ingin kau beli?” 



Winner menganggukkan kepalanya. “Ya. Jadi bisakah kita pergi sekarang?” 




Winner mengubah posisi badannya dan kemudian mulai berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua sementara Rudi yang harus menyiapkan segala sesuatu untuk Winner, bergegas turun dan berpapasan dengan Winner. 



“Dalam sepuluh menit, aku akan turun,” ucap Winner. 



“Oke.” 



Setelah Rudi menghilang untuk bersiap dan Winner berada di lantai dua, Winner yang hendak masuk ke kamarnya dan berganti pakaian, menghentikan langkahnya melihat ke arah Sarayu. 



“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Winner?” ucap Sarayu dengan menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormatnya kepada orang yang sedang dilayaninya saat ini. 

__ADS_1



“Kau harus ikut.” 



“Tentu, Tuan. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai pengawal Tuan.” Sarayu menyamarkan suaranya dengan merendahkan nada suaranya agar terlihat seperti suara laki-laki pada umumnya. 



“Lalu bisakah aku bertanya padamu, Savior?” 



“Silakan, Tuan.” 



“Masker itu, tidak bisakah kamu melepaskannya?” 



Sarayu menundukkan kepalanya lagi sebagai bentuk permintaan maafnya. “Mohon maaf, Tuan Winner. Demi keamanan Tuan, saya harus menggunakan masker ini ketika sedang bertugas. Aliansi Ingmar ingin saya merahasiakan semua identitas saya ketika sedang bertugas menjadi pengawal Tuan agar tidak menarik perhatian orang-orang dari Aliansi Arael yang mungkin bersembunyi di balik penggemar Tuan.” 



Winner menganggukkan kepalanya lagi beberapa kali, karena setuju dengan penjelasan Sarayu mengenai masker yang menutupi separuh wajahnya. “Lalu. . . bisakah aku memanggilmu dengan nama lain? Memanggilmu dengan nama Savior membuat lidahku ini merasa sedikit kelu.” 



Sarayu menganggukkan kepalanya setuju. “Asal itu bukan panggilan yang buruk dan memalukan, saya bersedia menggunakan panggilan yang menurut Tuan Winner lebih cocok dengan lidah Tuan.” 



“Benarkah?” 



“Ya, Tuan. Savior hanyalah kode nama yang kami gunakan ketika sedang bertugas. Jika Tuan kesulitan untuk mengucapkannya, Tuan bisa memanggil saya dengan panggilan lain dengan syarat panggilan itu bukan panggilan yang memalukan. Meski saya saat ini adalah pengawal Tuan, saya masih bekerja di bawah Aliansi Ingmar dan saya harus menjaga nama baik dari Aliansi.” 



“Kalau begitu. . .” Winner kemudian terdiam sejenak memikirkan nama yang cocok untuk diberikan kepada Sarayu sebagai panggilannya yang baru. “Bagaimana dengan nama Bahram? Apa kau keberatan dengan nama panggilan itu, Savior?” 



Mendengar kata Bahram keluar dari mulut Winner, untuk sejenak Sarayu merasa sedikit terkejut. Apa ini hanya kebetulan saja? Bagaimana dia masih ingat dengan nama itu? Merasa penasaran dengan pemilihan nama yang Winner pilih, Sarayu kemudian bertanya kepada Winner. “Jika boleh saya ingin bertanya, kenapa Tuan memilih nama itu untuk saya?” 



“Karena kau membuatku teringat dengan seseorang di masa lalu. Aku pernah punya teman kuliah dan dulunya dia suka menggunakan itu sebagai nama pena atau nama samarannya.” 

__ADS_1



Di balik masker yang menutupi wajahnya, mulut Sarayu sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Winner. Mungkinkah Winner masih mengingatku? 


__ADS_2