
Winner’s POV
Setelah kematian manajerku-Andi, aku pikir menjadi lambang dan wakil dari kelompok negara netral adalah sebuah kesalahan besar. Tapi. . . mengingat di belahan dunia yang lain, perang ma
sih terus berjalan dan korban masih terus berjatuhan, pikiranku mengatakan bahwa keputusan itu tidaklah salah. Dua Aliansi besar sedang memperebutkan kekuasaan mereka: Arael sedang berusaha untuk mengambil alih kekuasaan sementara Ingmar berdiri untuk menahan Arael.
Perang dunia ketiga ini mungkin hanya melibatkan dua aliansi, tapi korban-korban yng berjatuhan bukan hanya dari dua aliansi itu saja. Banyak warga negara dari kelompok negara netral yang kebetulan berada di negara-negara yang tergabung dengan aliansi itu kemudian kehilangan nyawa mereka karena tidak sempat menyelamatkan diri dan kembali ke negara asal mereka. Beberapa lainnya masih terjebak berada di tengah lokasi perang dengan harapan negara asal mereka akan mencari mereka dan membawa mereka kembali ke tanah air mereka.
Harapan itu memang kecil, tapi justru harapan kecil itulah yang menjadi penerang dalam perjuangan mereka mempertahankan hidup mereka di tengah-tengah medan perang.
Karena alasan itulah, aku setuju untuk menjadi duta dan lambang dari kelompok negara netral. Aku berharap dengan statusku, aku bisa masuk ke lokasi perang dan membawa pulang warna negaraku yang masih berada di lokasi perang. Tapi. . . karena pilihan itu, aku kehilangan manajerku yang sudah kuanggap sebagai kakakku dan telah menemaniku selama hampir sepuluh tahun lamanya. Perasaan kehilangan itu, aku tidak ingin merasakannya lagi.
Ayah, ibu, cinta pertamaku sekaligus sahabatku dan terakhir adalah manajer yang kuanggap sebagai kakak. Aku sudah cukup merasakan banyak sekali kehilangan dalam hidupku dan kali ini, aku tidak akan membiarkan Rudi-adik dari Andi, kehilangan nyawanya karena berusaha untuk melindungiku lagi.
Hari ini. . . karena insiden yang terjadi pada Andi, perwakilan dari kelompok netral mengajukan sebuah rencana untukku. Mereka akan memberikan pengawal khusus untukku yang akan menjagaku selama 24 jam lamanya dan akan tinggal bersamaku. Pengawal itu dikirim dari Aliansi Ingmar karena menurut mereka-hanya Aliansi Ingmar-lah yang biasa melawan Aliansi Arael.
Ucapan mereka memang ada benarnya. Serangan yang menewaskan Andi memang berasal dari Aliansi Arael. Tapi meminta bantuan dari Aliansi Ingmar-menurutku bukanlah ide yang bagus. Dua aliansi itulah penyebab perang ketiga ini dan aku tidak sudi untuk mendapatkan pengawal dari dua aliansi itu. Awalnya itulah yang aku pikirkan.
Aku duduk menunggu di ruang tunggu bersama dengan anggota perwakilan dari negara lain yang tergabung dalam kelompok negara netral. Di sisi lain, perwakilan dari Indonesia yang merupakan negara di mana aku berasal sedang berada di luar ruangan untuk menyambut kedatangan pengawal yang berasal dari Aliansi Ingmar.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, muncul dua orang pria. Satu pria memiliki tinggi sekitar 178 cm dengan wajah oriental khas benua Asia. Melihatnya wajahnya yang tampan dan matanya yang tidak terlalu sipit, aku menduga pria itu berasal dari Korea Selatan. Pria lain yang datang dengan membawa tas di punggungnya dan koper kecil di tangan kirinya, memiliki tinggi yang lebih kecil dari pria sebelumnya. Karena masker yang terpasang di wajahnya, aku tidak bisa melihat bagaimana rupa pria mungil itu dan menebak tempatnya berasal.
Dari dua pria itu, tadinya aku menduga pria yang akan menjadi pengawalku adalah pria dengan wajah oriental. Tapi dugaanku salah. Pria yang menjadi pengawalku itu justru adalah pria mungil yang terlihat lemah sekali bahkan jika harus membandingkannya dengan aku.
Apa mereka tidak salah mengirim pengawal? Apa mereka menganggap nyawaku ini tidak berharga hingga mengirim pria mungil yang lemah ini untuk menjadi pengawalku? Merasa tidak puas dengan keadaan fisik dari calon pengawalku itu, aku kemudian berbisik kepada perwakilan dari negara Malaysia untuk membuat ujian bagi calon pengawalku itu. Alasannya mudah, aku hanya ingin melihat seberapa kemampuan dan layaknya pria mungil itu menjadi pengawalku.
Belum cukup dengan kenyataan dari pria mungil yang akan menjadi pengawalku, aku dibaut terkejut ketika pria mungil itu menjawab dengan bahasa yang aku gunakan. Caranya berbicara, caranya menjawab dan intonasinya ketika berbicara, jelas-jelas mengatakan bahwa pria mungil itu adalah seseorang yang pernah tinggal di Indonesia untuk waktu yang lama.
Sebelum Andi terbunuh dan tewas, ada sebuah video yang sempat menyebar. Video itu menggambarkan medan perang yang dimenangkan oleh Aliansi Arael hanya dengan satu orang yang memukul dengan keras permukaan tanah dan membuat seluruh pasukan dari Aliansi Ingmar terkubur di dalam tanah. Penasaran dengan video yang sempat menyebar selama satu menit lamanya dan kemudian menghilang dan tidak bisa diakses, aku berusaha menemukan video-video perang yang tersebar di situs hitam. Di sana aku menemukan video itu lagi dan menemukan beberapa video yang menggambarkan bahwa Aliansi Ingmar punya pasukan khusus yang terjun di saat genting. Pasukan itu terdiri dari beberapa orang dengan kemampuan unik: ada orang yang mampu berpindah tempat dalam sekejap mata, ada orang yang mampu menyembuhkan luka-luka dalam waktu singkat, ada si ahli senjata ganda dan ada lagi pengendali air yang mampu memanggil air hanya dengan menggunakan tangannya.
Karena video itu dan atas permintaanku, kelompok negara netral yang ingin meminta pengawal pada Aliansi Ingmar kemudian mengirim pesan kepada pasukan khusus dari Aliansi Ingmar yang dikenal dengan nama Pasukan Perdamaian Dunia.
“Sebelum itu. . . bisakah saya meminta Tuan ini untuk menunjukkan keahlian Tuan dalam melindungi Winner nantinya? Dalam kesepakatan yang kami kirimkan, dijelaskan bahwa kami bisa menolak orang yang dikirim oleh Aliansi Ingmar jika kami merasa orang yang dikirim tidak cukup kuat untuk melindungi Winner kami.”
__ADS_1
Permintaanku itu akhirnya diungkapkan oleh perwakilan negara Malaysia yang juga sama penasarannya denganku.
“Tentu, Tuan. Bagaimana cara saya menunjukkan kemampuan saya?” Si pria mungil itu menjawab dengan suara ringan seolah tidak keberatan atas permintaan yang aku ajukan itu.
Sebelum kami berpindah tempat, dua pria asing dari Aliansi Ingmar itu kemudian mengenalkan dirinya kepada kami.
“Savior. Kode nama saya adalah Savior, Tuan. Lalu di samping saya ini adalah pria dengan kode nama Sixth.”
Si pria mungil itu bernama Savior dan pria dengan wajah oriental itu bernama Sixth. Pria oriental dengan kode nama Sixth itu muncul beberapa kali pada video yang aku lihat di situs hitam. Jika aku tidak salah mengingat wajahnya, aku rasa Sixth itu adalah pria dengan kemampuan yang mampu berpindah tempat dalam sekejap mata.
“Karena sebelum ini Winner kami diserang oleh penembak yang menembakkan peluru mereka secara beruntun dan membunuh manajer lama Winner, kami ingin melihat bagaimana Tuan akan melindungi diri Tuan sendiri ketika hujan peluru itu datang kepada Tuan. Apa Tuan Savior keberatan dengan hal itu?” Setelah berpindah tempat ke lokasi ujian, perwakilan dari Indonesia kemudian menyebutkan ujian yang akan dilalui oleh pria mungil bernama Savior.
“Tentu tidak, Tuan. Silakan melihat.”
Hitungan mundur dimulai dan tepat ketika hitungan satu terdengar, seluruh senapan keluar dari tempatnya dan langsung menembakkan peluru yang ada di dalamnya. Dor. . . dor. . . dor. . .
__ADS_1
Bunyi letusan dari banyak senapan itu benar-benar membuat telingaku sakit bahkan ketika aku berada di ruangan yang berbeda, suara letusan senapan dalam jumlah banyak itu masih mampu membuat telingaku yang sensitif ini, mendengarnya dan merasakan sakit karena suara yang kencang. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu. Aku hanya peduli untuk melihat bagaimana pria mungil itu bertahan menghadapi banyak senapan yang sedang melepas peluru di saat yang bersamaan. Sayangnya sebuah asap hitam yang tebal membuat penglihatanku bersama dengan penglihatan semua orang, tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di dalam ruang ujian.