THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 37 SERANGAN KEDUA PART 3


__ADS_3

Winner’s POV 


“Aku?? Kau pasti sedang bercanda bukan?” Bahram sepertinya benar-benar tidak percaya jika saat ini dirinyalah yang sedang menjadi incaran dari Knight One-pria dengan aura kuat yang sungguh menakutkan. 


“Kamu. . . sepertinya meremehkan dirimu sendiri, Bahram. Kuakui kemampuanmu mengendalikan angin adalah kemampuan yang tidak terlalu bagus.” Sembari berbicara dengan Bahram, Knight One memberikan isyarat kepada orang di sampingnya untuk menyelamatkan pria yang tadi telah dikalahkan oleh Bahram dan kini terjebak di celah tebing karena hantaman yang luar biasa dari pukulan tongkat merah milik Bahram. 


Sementara Bahram hanya diam mendengarkan, begitu juga kami sebagai penonton yang tidak tahu menahu dan hanya bisa diam untuk keselamatan kami. 


“Tapi peralatan yang kamu gunakan itu sungguh luar biasa. Kamu bisa berdiri dan bergerak dengan bebas bahkan ketika di atas air dengan sepatu itu. Tongkat merah itu juga bisa berubah ukuran seperti keinginanmu. Tapi. . .” Knight One menghentikan ucapannya ketika Knight Three bisa membawa Knight Five yang terluka ke sampingnya dan untuk sejenak memeriksa luka-lukanya. 


“Tapi apa?” Kali ini Bahram membuka mulutnya untuk bicara 


“Bagaimana keadaannya?” Knight One bertanya kepada Knight Three yang sedang memeriksa luka dari Knight Five. 


“Hantaman yang tadi kita lihat ternyata kekuatannya benar-benar luar biasa. Banyak tulang yang patah dan menusuk ke bagian organ dalam. Akan butuh waktu bagi saya untuk menyembuhkannya dan ketika saya melakukan itu, mungkin saya tidak akan bisa membantu banyak untuk Knight One.” 


“Cukup bantu aku semampumu saja.” Knight One kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bahram lagi dan kini menjawab pertanyaan dari Bahram. “Tapi hanya kamu yang bisa menggunakan peralatan itu. Aku sudah memastikan tadi di medan perang bahwa semua rekanmu dari Pasukan Penjaga Perdamaian dari Aliansi Ingmar, tidak satupun menggunakan satu dari peralatan milikmu.” 


“Lalu?” Bahram bertanya lagi. 



“Itu artinya kau istimewa. Kau anomali yang belum pernah kami temui dan kemampuanmu mungkin tidak sebatas itu saja. Bahkan Knight Three yang mampu meniru nyaris semua kemampuan unik, gagal meniru kemampuan milikmu. Knight Five tidak bisa menyentuhmu dengan logam-logam miliknya dan Knight Two yang mampu mengendalikan pikiran orang lain dengan mudah, tidak bisa mengendalikan pikiranmu dan membuat berjalan ke arah kami. Jelas sekali bahwa kau istimewa dan hal itu membuatku semakin menginginkanmu, Bahram.” 



Aku bergidik mendengar ucapan Knight One dengan senyuman dingin itu. Kata ‘menginginkan’ yang keluar dari mulutnya yang kudengar, lebih mirip dengan kata ‘obsesi’ dari pada kata ‘menginginkan’ yang sebenarnya. 



“Kau tentu tidak berpikir bisa membawaku semudah membalikkan tangan bukan??” Bahram mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Tangan kanannya menggenggam erat tongkat merah miliknya sementara tangan kirinya yang kosong bersiap untuk membuat pelindung angin untuk melindungi dirinya. 



“Jika mudah membawamu, maka aku tidak akan turun tangan sendiri untuk melihatmu, Bahram. Kau adalah bentuk kesenangan lain yang mampu menghiburku, Bahram.” Knight One tiba-tiba membuat gerakan dengan tangan kirinya seolah sedang memberikan isyarat kepada Knight Three yang sedang mengobati Knight Five yang sedang terluka parah. 



Air laut di bawah kaki Knight One tiba-tiba bergerak karena bantuan dari Knight Three. Tidak lama kemudian Knight One bergerak dengan cepat ke arah Bahram dan berusaha untuk menyerang Bahram dengan pukulan tangannya.



Blur. . . booom. 



Pukulan tangan dari Knight One itu mendarat di air dan kemudian menimbulkan getaran yang sangat hebat hingga air laut di sekitar tempat pukulan itu meluap layaknya gambaran tsunami. 



Bahram yang tahu kerasnya pukulan dari Knight One tiba-tiba bergerak mundur ke arah kapal di mana kami berada dan kemudian mengangkat tangan kirinya membuat lapisan pelindung dari angin untuk menghentikan air laut yang bergerak ke arah kapal dan membuat gelombang yang cukup besar yang mungkin bisa disebut dengan tsunami kecil. 

__ADS_1



“Prok. . . Prok. . .” Knight One bertepuk tangan dengan senyuman di bibirnya. “Kau bisa menghindar rupanya, Bahram! Dengan kemampuanmu yang mampu mengendalikan angin dan bahkan membuat angin menjadi pelindung seperti itu, kamu pasti mampu menahan gelombang tsunami, Bahram. Ini benar-benar menarik! Kamu sungguh menarik sekali!” 



“Savior!” 



Suara yang tiba-tiba terdengar di sampingku itu, membuat perhatianku untuk sejenak teralih ke arah lain. 



“Kami datang.” 



Aku menatap dua orang pria di sampingku dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam yang sama dengan pakaian yang dikenakan Bahram ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Aku mengenali satu dari dua pria itu. Aku ingat dengan baik bahwa pria itu mengenalkan dirinya dengan nama Sixth di hari pertemuan pertamaku dengan Bahram. 



“Sixth, Second! Apa Zero mengirim kalian kemari??” Bahram bertanya dengan melirik sedikit ke arah dua pria di sampingku sembari terus waspada kepada Knight One di hadapannya. 



“Wah sepertinya. . . dua lalat kecil telah datang untuk membantumu, Bahram!” Knight One bergerak lagi dan kali ini benar-benar berniat untuk menjatuhkan Bahram. 




“Aku mengerti. Tapi sebagai gantinya aku akan membiarkan Second berada di sini untuk membantumu.” 



“. . .” Bahram tidak menjawab karena pikirannya sedang fokus kepada Knight One di depannya yang terus berusaha keras untuk menyerang dirinya dan berusaha menangkapnya. 



Pria bernama Second kemudian melompat turun dari kapal. Dan yang mengherankan, pria bernama Second ini juga mampu berdiri di atas air seolah tubuhnya lebih ringan dari massa jenis air. 



“Aku akan membawa kalian menjauh dari pertarungan mengerikan ini.” Tepat setelah mengatakan hal itu, pria bernama Sixth itu mengangkat tangannya dan hendak menjentikkan jarinya untuk membuat kapal beserta seluruh isinya untuk berpindah tempat. 



Namun tepat sebelum pria bernama Sixth itu menjentikkan jarinya, aku melompat ke arah lautan dan berhasil menghindari perpindahan itu. Byur. . . Aku berusaha berenang di tengah laut tanpa mengenakan pelampung atau pengaman lainnya. 


__ADS_1


“Holy \*\*\*\*. What did you just do, Mr Winner?” Pria bernama Second itu mengumpat padaku ketika menyadari aku telah melompat dari kapal feri yang harusnya membawaku menjauh dari Bahram dan juga menjauh dari pertarungan ini.



Buk. Wushhh. Aku belum sempat membalas umpatan itu ketika mataku yang basah terkena air laut yang mengandung garam melihat ke arah Bahram yang terkena pukulan dari Knight One dan terhempas hingga nyaris mendekat ke arahku dan Second berada. 



“Aku berhasil mengenaimu, Bahram.” Knight One tersenyum senang karena satu dari belasan pukulannya akhirnya berhasil mengenai Bahram dan mungkin membuat Bahram terluka. 



“Win. Winner. Apa yang baru saja kau lakukan???” Bahram yang baru saja terkena pukulan itu menatap ke arah Knight One, tapi mulutnya justru memanggil namaku. “Kenapa kau melompat dari kapal??” 



Second membantuku untuk berpijak di atas air dengan kemampuannya yang tidak aku tahu. Jika Winner adalah orang lain, mungkin dia akan marah ketika mendengar pengawalnya memanggilnya dengan namanya secara langsung. Tapi Winner adalah aku dan panggilan nama itu membuatku teringat akan seseorang dan juga mimpi yang baru aku alami semalam. 



Win. Winner. Itu adalah panggilan khas seseorang yang selalu ada di hatiku sejak aku kuliah hingga saat ini. 



Win. Winner. Itu adalah panggilan namaku yang selalu diucapkan satu orang gadis yang bahkan tidak pernah terpesona oleh ketampananku dan selalu menganggapku sebagai temannya. 



Win. Winner. Itu adalah panggilan namaku dari gadis yang membuatku menyesali beberapa hal dan waktu yang kulewatkan begitu saja. 



Sixth muncul di samping Second secara tiba-tiba. “Haruskah aku mengirim Winner sekarang, kembali kepada manajernya??” 



“Tidak. Ramalan Zero sebentar lagi akan terjadi. Kita tidak bisa meninggalkan Savior jika ingin menyelamatkannya. Hanya saja. . .” 



“Hanya saja apa??” Sixth bertanya kepada Second. 



“Kenapa Zero tidak mengatakan apapun soal pria di sampingku ini??” 



Sixth melihat ke arahku dengan tatapan yang kurasa mungkin setengah kesal dan setengahnya lagi tidak percaya. “Mungkin Zero tidak bisa melihat masa depannya karena belum pernah menyentuhnya secara langsung. Dia adalah variabel yang mungkin tidak diperhitungkan atau tidak terlihat oleh Zero.”


__ADS_1


Mendengar nama Zero disebut, untuk sejenak aku merasa penasaran. Kiranya siapa Zero ini? Ramalan apa yang Zero katakan hingga membuat dua rekan Bahram menatapku dengan kesal?  


__ADS_2