
Di sisi Aliansi Arael.
“Kabar apa yang kamu miliki, Knight Two?”
“Serangan kita kemarin pada lambang dan duta dari kelompok negara netral, hanya menewaskan manajernya saja, Knight One.”
“Begitukah?” Knight One mengetuk-ngetukkan jarinya sembari berpikir mengenai rencana selanjutnya. “Lalu bagaimana dengan keberadaan orang-orang berkemampuan dari Aliansi Ingmar, Knight Two?”
“Mengenai hal itu. . .” Knight Five tiba-tiba berbicara dan memotong Knight Two yang ingin menjawab pertanyaan dari Knight One. “. . . aku mendapatkan sesuatu yang menarik, Tuan Knight One.”
“Apa itu?”
“Karena serangan yang kita tujukan pada lambang dan duta dari kelompok negara netral yang bernama Winner, informasi yang aku terima mengatakan bahwa kelompok negara netral meminta orang khusus dari Aliansi Ingmar. Dua orang dari Aliansi Ingmar datang ke Indonesia dan salah satunya adalah pria yang dapat berpindah tempat dalam waktu singkat. Pria itu adalah pria yang sering muncul dalam medan perang dengan membawa rekan-rekan mereka.”
“Lalu bagaimana dengan satu orang lainnya?” Knight One tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuatnya tertarik.
“Dia adalah pria mungil yang belum pernah kita lihat dalam pengamatan kita selama ini. Yang membuat saya merasa aneh adalah pria mungil itu bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih seolah dia pernah tinggal di sana untuk waktu yang cukup lama, Tuan Knight One.”
“Sama sepertimu, Knight Five?” Knight One berbalik bertanya kepada Knight Five.
“Itulah yang aya dengar, Tuan Knigt One.” Knight Five menganggukkan kepalanya.
“Mungkinkah pria mungil itu adalah pria yang ditemukan oleh Ethan dan pasukannya beberapa waktu lalu yang sengaja datang ke Indonesia?” Knight Three yang duduk diam sejak tadi, tiba-tiba merasakan koneksi dalam dua kasus itu.
“Mungkin saja,” celetuk Knight One. “Jika ingin mengetahuinya, kita harus memeriksanya dengan mata kepala kita sendiri. Lagi pula kita punya misi untuk membunuh Winner dan membuat kelompok negara netral setuju untuk ikut dalam aliansi kita. Jika kita melakukan hal itu, aliansi kita pasti akan memenangkan peperangan ini dan menguasai seluruh dunia.”
Knight Two, Knight Three, Knight Four dan terakhir Knight Five, menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan kecil dari Knigght One yang membawa harapan mereka semua.
“Jadi. . .” Knight One melihat ke arah empat Knight yang merupakan bawahannya. “Siapa di antara kalian yang ingin berjalan-jalan menuju ke Indonesia dan menerima tugas untuk membunuh Winner?”
Knight Five melangkahkan kakinya dengan mantap ke arah depan. “Akan menjadi kehormatan besar bagi saya yang baru bergabung jika bisa menerima tugas ini, Tuan Knight One.”
Knight One melihat ke arah Knight Five yang baru saja bergabung dan melihat keberanian di sorot matanya. “Aku suka keberanianmu, Knight Five. Benar juga. . . kau belum pernah mendapat tugas selain pengamatan yang kamu lakukan bersama dengan Knight Two, bukan?”
“Ya, Tuan Knight One.”
“Baiklah.. . karena kau berasal dari negara yang sama dengan Winner dan cukup familiar dengan negara itu, aku akan menugaskanmu untuk tugas ini.”
“Terima kasih, Tuan Knight One.” Knight Five membalas dengan nada penuh semangatnya.
__ADS_1
“Tapi. . . aku tidak akan membiarkanmu untuk bertugas seorang diri, Knight Five. Karena ini adalah misi pertamamu, harus ada seseorang yang menemanimu.” Knight One melihat ke arah Knight Three dan tersenyum ke arahnya. “Bagaimana jika kamu yang menemani Knight Five, Knight Three?”
Knight Three menundukkan kepalanya dengan rasa bangga. “Sebuah kehormatan jika Knight One mempercayai saya.”
“Bagus. Karena kemampuan adalah mengopi kemampuan lain, mungkin tidak ada salahnya kamu menemani Knight Five dan mengopi kemampuan pengawal dari Winner saat ini.”
“Itu tugas yang sangat menyenangkan, Knight One,” ucap Knight Three dengan senyuman bahagia di bibirnya.
“Baiklah. . . aku menunggu hasil yang baik dari kalian. Jika kalian membutuhkanku, kalian bisa mencariku di ruang rapat. Setelah ini aku ada rapat dengan aliansi untuk memulai perang besar yang sudah menunggu kita.”
“Baik, Tuan.”
Knight Three kemudian meminta tangan Knight Five. “Berikan tanganmu, Knight Five!”
Knight Five melakukan perintah Knight Three dan begitu tangannya menyentuh tangan Knight Three, Knight Five merasakan kilatan hitam di dalam penglihatannya selama beberapa detik. Namun begitu menyadari apa yang saat ini dilihatnya, Knight Five tahu bahwa dirinya bersama dengan Knight Three telah berpindah tempat dalam hitungan detik seperti kemampuan salah satu pasukan dari Aliansi Ingmar.
\*
Begitu sampai di mall, Winner yang mengenakan masker, kacamata hitam dan topi hita, membuatnya terlihat benar-benar mirip dengan penampilan dari pengawalnya-Savior yang kini dipanggil dengan nama Bahram.
“Apa yang ingin kamu beli, Winner?” Rudi yang berjalan dua langkah di belakang Winner, bertanya kepada Winner untuk memastikan apa yang ingin dibeli oleh Winner.
“Bahram?” Rudi memandang Sarayu dengan tatapan heran.
“Ya, Bahram.” Winner menganggukkan kepalanya. “Mulai hari ini ketika bekerja denganku, namanya adalah Bahram dan bukan Savior.”
Rudi menganggukkan kepalanya karena tidak bisa berkomentar apapun untuk panggilan yang dibuat oleh Winner untuk Sarayu. Rudi kemudian bertanya lagi kepada Winner untuk memastikan tujuan kedatangannya ke mall hari ini dan mengambil risiko untuk bertemu dengan penggemarnya. “Kita akan membeli pakaian untuk Sa. . ah tidak, Bahram??”
“Itu benar.”
“Baiklah. Kalau begitu apakah kamu tidak keberatan jika Bahram mengenakan pakaian dengan merek yang sama denganmu, Winner?” Rudi bertanya lagi.
“Ya, aku tidak keberatan. Tenang saja. . . aku yang akan membayarnya sebagai hadiah perkenalan kami, Rudi dan kamu juga bisa mengambil satu setel pakaian yang kamu suka.”
Rudi menganggukkan kepalanya paham dan tidak lama kemudian menuntun Winner dan Sarayu menuju ke butik dengan merek kelas internasional di mall yang merupakan langganan tetap Winner dan brand yang menjadikan Winner sebagai bintang utamanya. Begitu masuk ke dalam, Rudi kemudian langsung menemui manajer butik dan dalam waktu singkat butik langsung dikosongkan dari pengunjung lain.
Inikah kekuatan dari pamor seorang aktor tingkat internasional? Sarayu memandang keadaannya saat ini, dengan wajah tidak percaya.
“Apa yang bisa saya bantu, Tuan Winner?” Manajer butik langsung turun tangan sendiri untuk melayani tamu kehormatan mereka: Winner.
__ADS_1
Winner membuka kacamata hitam dan masker yang menutupi wajahnya. “Tolong carikan beberapa setelan jas yang cocok untuk pengawal baruku ini?”
“Tentu, Tuan.” Manajer itu kemudian memerintahkan karyawannya untuk mengambil beberapa setelan jas yang sesuai dengan tinggi tubuh dan ukuran dari pakaian yang saat ini dikenakan oleh Sarayu.
“Bahram!” panggil Winner.
Sarayu mendekat ke arah Winner. “Ya, Tuan Winner apa yang bisa saya bantu?”
“Ketika di rumah pakaian apa yang biasa kamu kenakan?”
Mulut Sarayu membuka lebar ketika Winner bertanya mengenai pakaian yang dikenakannya di rumah. Untung saja. . . saat ini Sarayu mengenakan masker yang menutupi bagian bawah wajahnya dan membuat Winner tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Kenapa tiba-tiba dia bertanya soal pakaianku di rumah?
“Untuk apa Tuan bertanya mengenai hal itu?” Sarayu bertanya untuk memastikan maksud dari pertanyaan Winner.
“Aku hanya tidak ingin ketika di rumah bersamaku, kau mengenakan pakaian yang tidak enak aku lihat. Jadi. . . katakan pakaian apa yang biasa kamu kenakan di rumah?” tegas Winner dengan melirik tajam ke arah Sarayu.
“Pakaian jenis traning, Tuan. Karena tugas saya adalah menjaga Tuan selama 24 jam, saya tidak bisa mengenakan pakaian yang terlalu santai. Jadi saya biasanya mengenakan setelan training, Tuan.”
“Aku suka cara kerjamu, Bahram!” Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Winner kembali memanggil manajer butik dan kali ini meminta untuk membawa koleksi training mereka yang sesuai dengan ukuran Sarayu.
Drrrrttttt. . . sebuah getaran kecil kemudian dirasakan oleh Sarayu dan di saat yang bersamaan lampu-lampu di dalam butik berkedip beberapa kali.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Winner. Sepertinya sedang ada masalah dengan aliran listriknya, Tuan. Kami akan segera menghubungi pihak yang berkaitan.” Manajer butik dengan cepat menjelaskan keadaannya kepada Winner sebelum Winner berkomentar.
Sarayu yang merasakan keadaan itu bukanlah keadaan yang umum terjadi, kemudian mengambil earbuds miliknya dan langsung menghubungi Forth untuk meminta bantuannya memeriksa keadaan.
“Forth, ini aku Savior.”
“Aku tahu ini kau, Savior. Ada apa menghubungiku?”
Sarayu merasakan suara Forth sedikit bergetar seperti sesuatu mungkin sedang terjadi. Tapi. . . Sarayu ingat bagaimana kehebatan rekan-rekannya dan mengabaikan pikiran itu. Saat ini, Sarayu hanya perlu fokus pada Winner. “Bi-bisakah kau memeriksa lokasiku saat ini? Baru saja ada getaran yang tidak biasa terjadi, diikuti dengan aliran listrik yang tidak biasa.”
“Baiklah. Beri aku satu menit.”
Sarayu menghitung selama satu menit lamanya dan ketika hitungan itu mencapai angka 60 dalam hitungan detik, karyawan toko datang dengan membawa pakaian untuk Sarayu dan di saat yang sama Forth memberikan jawaban untuk pertanyaannya.
“Savior! Dua orang tidak dikenal berada di lokasi yang sama denganmu dan aku rasa dua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang sama seperti kita. Kurasa mereka berasal dari Aliansi Arael!”
Baru saja. . . Forth menyelesaikan ucapannya, Sarayu melihat dua orang dengan mengenakan pakaian serba hitam muncul di depan butik di mana dirinya dan Winner saat ini sedang berada.
__ADS_1
Aku tidak menyangka mereka akan datang secepat ini! Sial!