THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 36 SERANGAN KEDUA PART 2


__ADS_3

Di gedung peace. 



“Apa yang terjadi?? Forth??? Kenapa Knight One dan Knight Three menghilang dan bertukar dengan Knight Two??” Ethan yang melihat peperangan yang dipimpin oleh First dan rekannya, terkejut ketika melihat Knight One yang tadi mereka lawan dan membuat kelabakan tiba-tiba menghilang bersama dengan Knight Three yang tiba-tiba muncul dengan membawa Knight Two. 



“Apa ini?? Knight Three meniru kemampuan Sixth untuk berpindah tempat??” Jika sebelumnya Ethan sibuk mencari ke mana perginya Knight One yang telah membuat banyak pasukan Aliansi Ingmar dan warga sipil tewas, Dylan justru sibuk memperhatikan kemampuan dari Knight Three.



Forth yang terhubung dengan saluran komunikasi kemudian menjawab pertanyaan dari Ethan dan Dylan. “Maafkan saya, Tuan. Saya kira saya tahu ke mana perginya Knight One an Knight Three. Lima belas menit yang lalu, Savior menghubungi saya untuk menemukan lokasinya karena merasakan sesuatu yang tidak biasa.”



“Savior?? Lagi?? Apa mereka benar-benar ingin membunuh Winner hingga membuat Knight One turun sendiri untuk membunuhnya??” Ethan terdiam sejenak menyadari keadaan yang dihadapinya saat ini. “Oh tidak. Celaka. Kita masuk jebakan!” 



“Apa maksudnya, Ethan??” Dylan yang berdiri di samping Ethan, tidak memahami maksud dari ucapan Ethan. 



“Forth, minta Sixth kembali bersama Seventh! Kita harus membantu Savior sekarang juga! Jika tidak. . .” 



“Jika tidak apa yang akan terjadi???” 


“. . .” Dylan yang gugup tidak sengaja menyentuh tangan Ethan dan membuat Ethan melihat masa depan di hadapannya. Untuk sejenak Ethan terdiam melihat masa depan yang menunggunya. 


“Ethan?? Apa yang kau lihat di masa depan??” 



Ethan mengabaikan pertanyaan Dylan dan kembali menghubungi Forth. “Forth, mint Sixth kembali bersama dengan Second sekarang juga!” 



“Saya mengerti, Tuan.” 



Tidak lama kemudian, Forth menghubungi Sixth dan Second. Dalam waktu sekejap mata, Sixth dan Second telah kembali dari lokasi perang dengan Aliansi Arael dengan pakaian yang berantakan. 



“Apa yang terjadi, Tuan? Kenapa Tuan meminta saya kembali bersama dengan Second?” Sixth yang tiba di ruangan perpindahan langsung menghubungi Ethan dengan saluran komunikasi yang terhubung di ruangannya. 



“Dengarkan aku, Sixth! Saat ini Savior berada dalam bahaya. Jika kau tidak ke sana bersama dengan Second, Knight One akan membawa Savior.” 



“Apa maksudnya dengan itu, Ethan?” tanya Dylan terkejut. 



“Apa maksudnya dengan itu, Tuan?” tanya Sixth dan Second bersamaan. 



“Dengarkan kalian semua. Knight One mendatangi Savior karena menginginkannya. Dia mencari Savior bukan karena ingin membunuh Winner tapi karena ingin membawa Savior. Di mata Knight One saat ini, Savior terlihat sebagai pasukan yang unik karena kemampuannya.” 



“Lalu kenapa memanggil saya dan bukan First atau Fifth?” tanya Second tidak mengerti. 



Ethan kemudian menceritakan masa depan yang dilihatnya jika First atau Fifth yang pergi menolong Savior bersama dengan Sixth. Dylan bersama dengan Sixth, Second dan Forth yang mendengarkan penjelasan Ethan hanya bisa mendengarkan seolah mereka tidak bisa bernapas dengan benar. 



“Apa kalian mengerti??” Ethan yang telah menyelesaikan ceritanya kemudian bertanya kepada Sixth dan Second lagi sebelum mereka berangkat untuk menyelamatkan Savior. 



“Kami mengerti, Tuan.” 



“Ingat, nanti hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Savior, Second. Aku bergantung padamu, Second.” 



“Ya, Tuan. Kalau begitu kami berangkat sekarang.”



“Forth, lokasi Savior. Apa kau sudah menemukannya??” tanya Sixth yang sudah siap berpindah tempat ke tempat di mana Savior saat ini berada. 

__ADS_1



“Sudah. Lihatlah ke layar nomor empat. Itu adalah kapal Winner di mana Savior berada saat ini, Sixth.” 



“Baiklah kalau begitu, kami berangkat.” 



Sixth dan Second kemudian menghilang dari hadapan Ethan dan Dylan, di saat yang bersamaan. 



\*



Winner’s POV



Firasatku tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dua dari tiga orang yang mengejarku tiba-tiba menghilang begitu saja dan meninggalkan satu orang yang langsung menyerang Bahram tanpa pandang bulu. Melihat keadaan genting ini dan juga lokasi di mana aku dan banyak orang berada, situasi ini adalah situasi yang sulit bagi Bahram. 



Pengawalku itu mungkin adalah orang yang menakjubkan. Pengawalku itu mungkin adalah orang luar biasa yang pernah aku temui. Tapi melihatnya seorang diri demi melindungi banyak orang, aku rasa itu adalah berlebihan. Dia tidak seharusnya memikul tugas yang berat ini, seorang diri. Dia tidak seharusnya melindungi banyak nyawa ketika nyawanya sendiri hanya berjumlah satu. Aku rasa ini tidak adil. Situasi ini tidak adil. 



Wushhh. . . 



Gelombang laut yang telah tenang, membuatku dapat dengan jelas melihat logam-logam yang beterbangan dan bergerak dengan cepat ke arah Bahram. Hebatnya. . . sebanyak apapun serangan itu datang, Bahram dapat dengan cepat menangkis dan menahan logam-logam itu untuk tidak menyentuh dirinya atau menyentuh kapal kami. 



“Apa itu??” 



“Apa yang baru saja aku lihat ini?” 



“Bukankah pria itu adalah pengawal Winner? Kenapa dia bisa berada di atas air tanpa tenggelam??” 




“Mohon kembali ke bawah! Ini situasi yang berbahaya!” Rudi dengan sigap langsung menahan banyak kru pemotretan untuk kembali ke dalam. Namun karena Rudi hanya seorang diri, Rudi tidak mampu menahan rasa ingin tahu banyak orang itu. 



“Ambil kamera dan rekam itu! Jika bisa merekamnya, mungkin kita bisa mendapatkan rating yang bagus!” 



Aku tidak tahu siapa yang berkata itu. Tapi ketika aku menoleh ke belakang semua kamera baik itu ponsel atau kamera biasa telah siap untuk merekam Bahram dan pertarungannya dengan orang-orang yang beniat membunuhku. 



Wushhhh. . . tongkat merah milik Bahram kemudian berhenti berputar. “Ruyi, lindungi aku selama beberapa 30 detik!” 



Aku mendengar perintah itu dari Bahram tepat sebelum Bahram bergerak ke arah kami di tengah pertarungannya. Ruyi kembali berputar-putar di udara tanpa tuannya dan melindungi Bahram dari logam-logam yang terus beterbangan dan menyerangnya. Tanpa tongkat merah di tangannya, Bahram kemudian mengambil dua buah pistol miliknya yang tersimpan di ikat pinggangnya. 



“Bisa kalian matikan kamera kalian sekarang juga??” Bahram sepertinya sadar apa yang terjadi di kapal dan keributan orang-orang yang ingin merekam kejadian itu saat ini. 



Nyatanya di zaman seperti ini di mana berita selalu menjadi sesuatu yang luar biasa, orang-orang itu tidak mendengarkan permintaan Bahram yang saat ini mungkin sedang berusaha untuk bersabar. Bahram akhirnya mengarahkan satu dari dua pistolnya ke arah kami.



“Jika kalian masih tidak mau mematikan kamera kalian, maka jangan salahkan aku jika setelah ini semua benda milik kalian itu tidak akan bisa digunakan.” 



Kling. Kling. 



Cahaya menyilaukan kemudian keluar dari pistol milik Bahram dan langsung mengarah kepadaku dan semua orang di kapal. 



“Apa ini??” 

__ADS_1



“Ponselku, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini??” 



“Kamera mahalku, kenapa bisa menjadi seperti ini??” 



Aku menoleh melihat ke belakang dan menyadari semua ponsel dan semua kamera terpisah menjadi komponen kecil penyusunnya. Aku tersenyum melihat keributan itu dan kemudian kembali melihat ke arah Bahram yang telah kembali dengan tongkat merahnya melawan pria dengan nama Knight Five. 



“Ruyi, membesar!” Bahram menyimpan dua pistol miliknya ketika satu tangan kanannya sibuk dengan tongkat merah miliknya. 



Dengan tongkat merah yang membesar, Bahram yang bergerak di atas laut layaknya bermain seluncur di atas es kemudian bergerak dengan cepat mendekat ke arah Knight Five dan mengayunkan tongkat merahnya layaknya tongkat pemukul baseball. 



“Ruyi memanjang!” 



Entah bagaimana aku menggambarkan situasi saat ini. Setelah memegang tongkat merah layaknya tongkat pemukul baseball, Bahram kemudian membuat gerakan seolah ingin memukul bola baseball dengan sangat kencang. Kukira dengan jaraknya itu, Bahram hanya akan memukul jatuh logam-logam yang mendekat ke arahnya. Namun tiba-tiba Bahram memberikan perintah lain dan membuat tongkatnya memanjang. Tongkat yang diayunkan itu kemudian bergerak memanjang dan tanpa kusadari mampu menjangkau tubuh Knight Five. 



Wushhhhhh. Brukkkk. 



Suara angin ketika tubuh Knight Five terhempas jauh terdengar begitu kencang, nyaris seperti embusan angin sebelum badai. Knight Five yang tidak memperhitungkan keadaan itu, tidak bisa berbuat apa-apa ketika tubuhnya terkena pukulan Ruyi, terhempas sebelum akhirnya menabrak tebing di pulau tak berpenghuni. 



“Yey.” Aku bersorak kegirangan melihat kehebatan dari Bahramku itu. Namun ketika aku melihat ke sekitarku dan melihat wajah semua orang yang melongo tidak percaya, aku kemudian menahan ekspresi senangku itu. 



“Woahhh. Bagaimana manusia biasa bisa begitu??” 



Aku tersenyum mendengar komentar orang-orang tentang pengawalku yang hebat itu. Namun senyum kebahagiaanku itu tidak berlangsung lama, ketika dua orang muncul lagi dan memberi tepuk tangan kepada Bahram. 



“Prok. Prrok. Aku dengar kamu memang hebat. Tapi aku benar-benar tidak menyangka jika kau benar-benar hebat melebihi apa yang aku bayangkan.” 



Bahram memiringkan kepalanya melihat pria asing yang tiba-tiba muncul dan berdiri di atas air bersama dengan pria sebelumnya-Knight Three. 



“Apa aku harus merasa senang ketika mendapat pujian dari Knight One?” ucap Bahram. 



“Tentu, kau harus senang. Karena dari Knight Two hingga Knight Five, belum pernah ada yang menerima pujian dariku, Bahram.” 



Bahram bergerak mundur dan kemudian memasang pelindung angin dari tangan kirinya yang kosong. Sama sepertiku, sepertinya Bahram merasa bahwa pria dengan nama Knight One itu adalah musuh yang berbahaya dan juga musuh yang paling menyeramkan karena tekanan tiba-tiba terasa berat sejak kedatangannya. 



“Kenapa kau datang kemari hanya untuk membunuh Winner yang hanya manusia biasa, Knight One?” Bahram mengajukan pertanyaan penting. “Kau bahkan selama ini hanya muncul beberapa kali dalam medan perang dan kenapa kali ini kau datang hanya demi membunuh lambang dari Kelompok Negara Netral?” 



Tidak seperti empat Knight yang menyembunyikan wajah mereka, Knight One adalah satu-satunya pria yang tidak menutupi wajahnya. Dari tempatku berada, aku dapat dengan jelas melihat wajah Knight One yang khas dengan wajah kebanyakan orang Rusia. 



Aku melihat senyuman di wajah Knight One sebagai pertanda buruk. Senyuman dingin yang mengerikan itu rasanya seolah datang bersama dengan kematian. 



“Siapa yang bilang aku datang kemari untuk membunuh manusia biasa itu? Kemampuanku yang hebat ini akan sangat sia-sia jika kugunakan untuk membunuhnya.” 



“Lalu?” Bahram tidak mengerti tujuan dari kekacauan yang berada di hadapannya saat ini dan aku pun juga sama tidak mengertinya. “Apa tujuanmu datang kemari? Tidak mungkin kamu datang kemari hanya untuk bermain-main bukan?”



“Aku datang kemari untukmu, Bahram. Aku kemari untuk membawamu dengan paksa.” 


__ADS_1


Deg, jantungku berdetak dengan kencang ketika tujuan bahaya di hadapanku ini akhirnya terungkap. 


__ADS_2