THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 50 WINNER DAN CINTA RAHASIA MILIKNYA


__ADS_3

            “Ah i-itu. . .” Winner tadinya berniat untuk membuat seribu alasan seperti yang dilakukannya kepada Sixth dan Dylan. Tapi. . . kali ini lawannya adalah Ethan yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dan masa lalu tentang dirinya dan mengatakan seribu alasan dari mulutnya sama halnya dengan mempermalukan dirinya sendiri. Itulah yang ada di dalam benak Winner. “Se-sepertinya aku sudah tertangkap basah. Di depan Tuan Zero, saya tidak akan bisa membuat banyak alasan.”


            “Jadi??”


            “Ya, sejak kuliah saya sudah menaruh hati pada Sarayu, ah tidak Savior maksud saya. Hanya saja. . . Savior tidak pernah menyadari perasaan saya itu, Tuan. Dulu. . . saya tidak pernah tahu kenapa di matanya saya ini hanya terlihat sebagai seorang teman dan tidak pernah bisa lebih dari itu. Tapi. . . setelah melakukan perjalanan ke masa lalu dan melihat Sarayu kecil di sana, saya akhirnya sadar kenapa di matanya saya tidak pernah terlihat sebagai seorang pria.”


            “Karena cinta pertamanya, jika saya tidak salah menduganya. . .”’ Ethan mencoba menebak maksud dari cerita Winner.


            “Ya, Tuan. Meski kecil dan sudah berlalu dalam waktu yang cukup lama, Savior masih menyimpan perasaan untuk anak laki-laki bernama Redo itu, Tuan. Jujur saja. . . saya yang melihatnya hanya dalam waktu singkat langsung terpesona dengan ketampanan anak laki-lai bernama Redo itu. Jika di masa sekarang dia menjadi aktor atau publik figur, mungkin ketenaran saya akan kalah darinya.”


            Ethan tersenyum melihat ke arah Winner setelah mendengar pujian kecil dari Winner untuk cinta pertama Sarayu. “Mungkin anak laki-laki itu adalah anak yang sangat tampan. Mungkin juga di masa lalu dia punya tempat khusus di hati Savior. Tapi. . . siapa yang akan memiliki ruang itu di masa depan, kita tidak akan tahu, Tuan Winner.”


            “Jadi. . . . Tuan tidak marah saya memiliki perasaan kepada Savior?” tanya Winner dengan wajah bahagia.


            “Aku tidak pernah bisa ikut campur masalah perasaan seseorang, Tuan Winner. Perasaan suka dan cinta adalah hak setiap orang dan saya tidak punya hak untuk melarang hal itu, Tuan. Hanya saja. . .”


            Baru saja Winner merasa bahagia dengan gambaran di benaknya dirinya bisa memiliki banyak waktu untuk bersama dengan Sarayu. Namun bayangan itu harus hancur dalam hitungan beberapa detik saja.


            “Hanya saja apa, Tuan?”

__ADS_1


            “Hanya saja. . . saya tidak bisa membiarkan orang-orang menemukan kenyataan itu, Tuan Winner. Savior punya tugas besar yang menunggunya dalam waktu yang tidak lama dan alasan itulah kenapa Savior yang merupakan wanita bisa berada di markas ini dan bekerja sebagai satu dari anggota Pasukan Perdamaian Dunia. Jika seseorang menemukan hubungan kalian berdua dan menemukan bahwa satu dari kalian memiliki perasaan untuk lainnya, maka hal itu bisa menjadi kelemahan bagi Savior di masa depan. Saat ini. . . Knight One sudah mengubah targetnya dari Tuan Winner menjadi Savior. Dan inilah permintaan ketiga saya, Tuan Winner.”


            Glek. Winner menelan ludahnya karena menduga apa yang akan diminta oleh Ethan kepada dirinya. “Mungkinkah itu. . .”


            “Benar, Tuan. Setelah ini Savior tidak akan menjadi pengawal Tuan Winner. Kami dari pihak Aliansi Ingmar akan menugaskan orang lain untuk tugas itu dan mengirim Savior ke medan perang dalam waktu dekat.”


            Winner menundukkan kepalanya, karena harapan kecilnya yang hancur dalam hitungan beberapa detik saja. “Kenapa? Kenapa begitu? Bukankah Savior yang bertugas sebagai pengawal dan penjagaku? Kenapa tiba-tiba menggantinya dan membuatnya terjun ke medan perang?? Meski dia adalah anggota dari Pasukan Perdamaian Dunia, dia tetap seorang wanita. Mengirimnya ke medan perang adalah sesuatu yang kejam baginya.”


            “Sama seperti yang Tuan katakan, awalnya saya juga enggan mengirim Savior ke medan perang. Tapi. . . takdir Savior telah mengikatnya dan membuatnya harus berjalan ke sana.” Ethan bangkit dari duduknya. Tangannya meraih tangan Winner dan tidak lama kemudian, Ethan membuat Winner melihat pemandangan pertama yang diterimanya ketka menerima kemampuan dari pecahan meteor-God’s Bleesing.


“Aku tahu kau meragukanku, Ethan. Aku tahu kau ragu karena lebih dari siapapun kau berharap aku selamat. Tapi keselamatan banyak orang lebih penting dari pada keselamatan aku seorang, Ethan. Jadi. . . jika ingin membantuku sekarang, kau bisa lakukan satu hal, Ethan. Kau tahu dengan baik, aku benar-benar bodoh soal perhitungan. Jadi katakan padaku berapa ketinggian gelombang itu dan berapa ketinggian pelindung angin yang harus aku buat? Berapa ketebalan pelindung angin yang harus aku buat agar bisa menahan gelombang air laut sebesar itu, Ethan? Kumohon.”


            “Gambaran masa depan sekaligus alasan Savior berada di sini.” Ethan menarik tangannya dan kemudian memandang Winner dengan tatapan yang sedikit sedih. “Dari kami semua, hanya Tuan Winner yang melihat bagaimana Savior mampu melindungi satu kota dari terjangan tsunami paling mengerikan yang pernah terjadi. Di masa depan. . . Savior harus melakukan hal itu lagi demi melindungi banyak orang dan membawa perdamaian kembali ke bumi ini.”


            Satu tangan Winner meremas tangannya yang lain karena tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya dan kenyataan pahit yang menunggunya di masa depan nanti. “Apakah harus seperti itu?”


            “Ya. . harus Savior orangnya. Takdir telah mengikat jalan hidupnya dan membawanya kemari, Tuan Winner. Saya harap. . . Tuan Winner bisa berpamitan dengan Savior dengan cara baik dan dua hari dari sekarang, saya akan meminta Sixth untuk membawa Tuan Winner kembali ke negara Tuan.”


            Ethan bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar dari ruangan Winner. Ethan ingin memberikan Winner waktu sendiri dan memikirkan segala hal yang perlu dilakukannya untuk berpamitan kepada Sarayu.

__ADS_1


            “Tuan Zero?”


            “Ya.” Ethan menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihat lagi ke arah Winner. “Apa yang bisa saya bantu, Tuan Winner?”


            Winner melihat ke arah Ethan dengan matanya yang penuh dengan harap bercampur dengan rasa takut dan rasa khawatir. “Di masa depan. . . apakah saya masih bisa melihat Sarayu lagi? Di masa depan. . . apakah saya masih bisa bertemu dengan Sarayu lagi?”


            “Ya, Tuan. Di masa depan. . . Tuan Winner pasti akan bertemu lagi dengan Savior. Untuk hal itu. . . saya bisa berjanji pada Tuan. Apa yang saya lihat dari masa depan seseorang, tidak pernah salah sebelumnya.”


            Mendengar jawaban dari Ethan, Winner langsung mengembuskan napasnya sebagai tanda dari rasa takut dan khawatirnya yang telah menghilang. “Jika memang begitu. . . maka dua hari lagi saya akan kembali ke negara saya.”


            “Terima kasih banyak atas pengertian Tuan Winner.”


            “Lalu bisakah saya meminta sesuatu kepada Tuan sebagai gantinya?” tanya Winner dengan sedikit ragu.


            “Tentu, Tuan. Tuan Winner tidak perlu merasakan sungkan kepada saya.”


            “Tolong jaga baik-baik Savior.” Winner menatap Ethan dengan tatapan penuh harap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. . . Winner memikirkan orang lain melebihi nyawanya sendiri.


            “Tentu, Tuan. Sama seperti Tuan yang peduli pada Savior, kami semua di sini juga ngat peduli kepada Savior.”

__ADS_1


__ADS_2