THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 51 BUAH KESUKAAN DAN SALAH PAHAM


__ADS_3

Tok. . . tok. . .


            Setelah kedatangan Ethan, Winner kali ini sengaja mendatangi Sarayu di tempatnya dirawat selama beberapa hari ini. Dengan waktu dua hari yang diberikan oleh Ethan, Winner ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Sarayu. Winner ingin berpamitan dengan benar kepada Sarayu supaya kelak jika Winner tidak lagi bisa bertemu dengan Sarayu, Winner tidak akan menyesal seperti sebelumnya.


            “Siapa??” Sarayu bertanya dari balik pintu kamarnya.


            “Ini aku, Winner. Bisakah aku masuk??” tanya Winner dengan sopan.


            “Tentu, masuklah.”


            Winner membuka pintu, berjalan masuk dan kemudian duduk di samping tempat tidur Sarayu. Winner menatap Sarayu dengan tatapan dalam dan berkata dengan senyuman di bibirnya. “Sepertinya keadaanmu sudah baik-baik saja, Sarayu. Aku benar-benar tidak menyangka jika tubuhmu ini sekuat itu.”


            “Tubuhku memang kuat sejak dulu. Di rumah, akulah satu-satunya anak yang tahan banting. Aku pernah mengalami kecelakaan motor sebanyak dua kali dengan salah satunya menyebabkan tanganku patah. Lalu ketika semua orang di rumah sakit, akulah satu-satunya yang selalu baik-baik saja dan akhirnya merawat seluruh orang di rumah yang sakit. Sejak awal. . . tubuhku ini memang sudah kuat.” Sarayu tersenyum memuji dirinya sendiri sembari mengingat beberapa kenangan masa lalunya.


            “Ya. . . ya. . . ya, kau memang kuat, Sarayu. Aku yang salah karena mengira kau seperti kebanyakan wanita lainnya.”


            Sarayu tertawa kecil mendengar ucapan Winner. “Kenapa kau kemari, Winner? Kudengar kau tidak ingin kembali hingga membuat Sixth dan Tuan Dylan kehabisan akal untuk membujukmu kembali.”


            “Hehe.” Winner terkekeh mendengar pertanyaan dari Sarayu. “I-itu karena aku ingin melihat dan memastikan keadaanmu lebih dulu. Aku tidak bisa kembali sebelum memastikan keadaanmu baik-baik saja, Sarayu. Kau begini. . . karena mengawalku dan melindungiku.”


            “Itu sudah jadi tugasku. Pekerjaan ini. . . memang memiliki risiko yang tinggi tapi bayaran yang diberikan juga cukup fantastis.” Sarayu tersenyum menjawab ucapan dari Winner. Sarayu melihat ke ara apel di meja di dekat tempat tidurnya. “Kau mau apel? Jika aku tidak salah ingat. . . penggemarmu dulu mengatakan bahwa kau suka apel. Aku ingat bahkan gadis-gadis di kampus selalu membawakan apel untukmu.”


            Winner melihat ke arah apel merah di samping tempat tidur Sarayu dan mengingat alasan di balik banyak gadis di kampusnya yang suka memberinya apel dengan tujuan menarik perhatiannya.


            Beberapa tahun yang lalu.


            “Winner. . . buah apa yang kamu suka??” Salah satu gadis yang mengejarnya tiba-tiba menanyakan hal itu kepada Winner.


            Awalnya Winner enggan menjawab pertanyaan itu. Tapi. . . karena pertanyaan itu diajukan di depan banyak gadis-gadis lainnya yang mengidolakan dirinya, Winner harus memberikan jawaban untuk pertanyaan itu agar gadis-gadis itu berhenti bertanya lagi.


            Tadinya. . . Winner ingin menjawab dengan jawaban yang terpikirkan di pikirannya begitu saja. Namun mata Winner kemudian tertuju kepada buah apel merah yang berada di genggaman Sarayu yang sudah menarik perhatiannya selama ini. Winner terus menatap ke arah Sarayu yang sedang berdiri memandang mading kampus dengan menggigit apel merah di mulutnya. Tanpa disadarinya. . . Winner membuka mulutnya dan mengatakan apel merah.

__ADS_1


            Ucapan Winner yang didengar oleh gadis-gadis yang mengerumuninya itu kemudian dianggap sebagai jawaban untuk pertanyaan yang diajukan oleh salah satu dari mereka. Dan sejak saat itu. . . semua gadis yang mengidolakan Winner akan selalu membawa apel merah untuk diberikan kepada Winner sebagai bentuk perhatian mereka kepada Winner.


            Siapa yang akan menyangka kejadian kecil saat itu kemudian terus mengikuti Winner hingga dirinya terkenal sampai saat ini.


            Bukannya mengambil apel merah, Winner justru mengambil jeruk yang berada di samping apel merah dan tindakan itu membuat Sarayu mengerutkan alisnya karena merasa heran.


            “Kenapa mengambil jeruk dan bukannya apel? Bukannya kamu suka dengan apel, Winner?


            Winner mengupas kulit jeruk, mengambil satu dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah habis jeruk di dalam mulutnya, Winner membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sarayu. “Aku tidak terlalu suka dengan apel. Yang sebenarnya aku suka adalah jeruk ini dan kebetulan jeruk ini sangat manis.”


            Kerutan alis Sarayu semakin dalam karena jawaban dari Winner. “Lalu jika kau suka dengan jeruk, bagaimana kau bisa mengatakan pada penggemarmu bahwa kau suka apel?”


            “Itu salah paham. Dulu. . . ada seorang gadis yang sedang memakan apel merah di kampus saat sedang melihat mading kampus. Aku terpesona olehnya dan tanpa sengaja mengucap kata ‘apel merah’ di depan gadis-gadis yang mengerumuniku. Siapa yang akan menyangka jika ucapan yang keluar dari mulutku karena terpesona kepada seorang gadis, dianggap sebagai jawaban oleh gadis-gadis itu??” Winner mengambil tiga jeruk sekaligus dan memasukkannya ke dalam mulutnya secara bersamaan. “Hanya kau dan manajerku yang tahu tentang hal ini, Sarayu.”


            “Tunggu sebentar. . . jadi itu hanya salah paham??”


            “Ya.” Winner menganggukkan kepalanya lagi sembari menelan jeruk lagi.


            Winner membuang mukanya karena tidak ingin Sarayu melihat ke arahnya dan menatap matanya. “Kau tidak akan mengenalnya, Sarayu. Dia hanya gadis biasa yang tidak mengidolakanku. Aku bahkan ragu dia mengetahui bahwa aku menyukainya sewaktu kuliah.”


            “Heeeeeeh. Kau menyukai gadis biasa di kampus dan lagi gadis itu bukan satu dari gadis yang mengejar-ngerjarmu??” Sarayu mengulang kalimat Winner dengan wajah tidak percaya. “Aku benar-benar terkejut mendengarnya.”


            “Kenapa?? Aku tidak boleh menyukai gadis biasa yang tidak mengidolakanku??” balas Winner.


            Sarayu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak melarangnya. Aku hanya terkejut saja mendengarnya. Seorang Winner yang dikenal tampan, diidolakan banyak gadis di kampus, ternyata menyukai seorang gadis kampus yang biasa yang bahkan tidak mengidolakannya.”


            “Sekarang. . . aku ingin bertanya padamu, Sarayu? Apakah boleh??”


            Sarayu menganggukkan kepalanya. “Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan?”


            “Karena kau bukanlah penggemarku dan juga bukan termasuk dari gadis-gadis yang mengerumuniku seperti semut yang mengerumuni gula, menurutmu kenapa gadis biasa itu tidak menyukaiku?”

__ADS_1


            Mata Sarayu membelalak dan nyaris saja terjatuh dari tempatnya karena terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kepada dirinya.


            “Kenapa dengan tatapanmu itu, Sarayu?? Apa kamu terkejut?” Winner yang menyadari tatapan Sarayu mengajukan pertanyaan untuk memastikan bahwa Sarayu memang benar-benar terkejut ketika mendengarnya.


            “Tentu saja, aku terkejut. Kau adalah Winner, aktor terkenal kelas Internasional dari Negara Indonesia. Kau juga dipilih sebagai duta dari kelompok negara netral  dan itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa di tengah peperangan besar di sisi lain bumi ini. Seorang Winner yang terkenal bertanya kepadaku kenapa gadis biasa yang pernah disukainya tidak menyukainya??” balas Sarayu. Sesuatu dalam benak Sarayu kemudian menyadari sesuatu. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh Winner bahkan dalam wawancaranya secara eksklusif. Teman-teman Sarayu yang sangat mengidolakan Winner selalu mengatakan bahwa Winne menyembunyikan rapat-rapat kisah cintanya bahkan untuk cinta pertamanya. Setiap kali wawancara, Winner selalu menghindari pertanyaan tentang kisah cinta dan asmaranya. Dan sekarang. . . Winner membuka mulutnya dan bertanya kepada Sarayu tentang pendapatnya sebagai gadis biasa.


            “Kenapa diam?” tanya Winner lagi.


            “Kau yakin bertanya hal itu kepadaku, Winner?”


            “Ya.” Winner menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Aku butuh pendapatmu tentang itu. Anggaplah itu adalah dirimu. Jika semasa kuliah aku memintamu menjadi kekasihku, apakah kau akan menerimanya?”


            “Tidak.”


            Jika sebelumnya Sarayu yang terkejut, kali ini Winner yang terkejut hingga matanya nyaris jatuh. “Kenapa cepat sekali kamu menolak??”


            “Bukankah kau bertanya padaku?”


            Huft. Winner mengembuskan nafasnya. “Baiklah kau menolaknya. Lalu katakan alasannya kenapa kau menolakku dan tidak menganggapku bahkan setelah banyak gadis yang mengejar-ngejarku?”


            “Karena kau meminta pendapatku, maka mungkin gadis yang kau sukai tidak menyadarimu perasaanmu untuknya karena dia memiliki perasaan untuk orang lain. Itulah yang ada di pikiranku.”


            “Ah. . . mungkin itu benar.” Winner menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Jadi. . . mungkin kau masih menyukai anak laki-lak bernama Redo itu bukan?, pikir Winner dengan perasaan sedih.


            “Jangan katakan padaku. . . kau masih menyukai gadis itu hingga sekarang, Winner??”


            Winner yang tadinya membuang muka untuk menyembunyikan perasaan dan ekspresi di wajahnya langsung menoleh ke arah Sarayu dengan wajah terkejut.


            “Kau. . . benar-benar masih menyukainya, Winner! Katakan padaku siapa gadis itu??”


 

__ADS_1


__ADS_2