
Berkat bantuan dari batu yang mengalungkan dirinya di leher Sarayu, bencana tsunami dalam penglihatan Ethan akhirnya berhasil dihentikan. Lalu dengan kematian para Knight Arael beserta dengan serangan nuklir yang dilepas oleh Knight One, seluruh dunia dengan terang-terangan memusuhi Aliansi Arael. Pemboikotan terjadi besar-besar di seluruh belahan dunia. Berkat itu. .. satu per satu negara yang awalnya dipaksa untuk bergabung dengan Aliansi Arael kini melepaskan diri mereka. Pada akhirnya, pemimpin negara Rusia dan Israel harus maju bertanggung jawab untuk kehancuran banyak negara dan kematian banyak orang dalam perang. Pemimpin dua negara beserta semua orang yang menjadi petinggi Aliansi Arael dihukum mati untuk membayar perbuatan mereka.
Kematian mereka menjadi penutup dalam perang dunia ketiga sekaligus menjadi hari di mana perdamaian kembali ke bumi. Perdamaian itu benar-benar terwujud seperti impian Sarayu dan Ethan hingga tanpa disadari oleh mereka, sepuluh tahun telah berlalu.
“Bunda!!!”
Sarayu menolehkan kepalanya melihat ke arah putranya yang sedang berlari ke arahnya sembari memanggil-manggil dirinya. Sarayu tersenyum melihat wajah putranya yang tampan dan sangat menggemaskan.
“Ya, Reinner. Kenapa kau berlari seperti itu??” Sarayu membungkukkan tubuhnya untuk memeluk putranya itu.
“Bisa katakan padaku, Bunda. Bagaimana caraku mengalahkan Paman Ethan?? Dia tidak bisa melihat tapi selalu bisa menemukanku ketika aku membolos latihan yang diberikannya. Bagaimana Paman Ethan bisa melakukannya??”
Sarayu menjiwit telinga Reinner-putranya itu. “Kau membolos lagi??? Bukankah sudah Bunda katakan untuk tidak membolos ketika Paman Ethan memberikanmu latihan??”
“Ahhhh, ampun, Bunda. Telingaku sakit. . .”
“Jangan menjiwit telinganya, Sarayu.” Sarayu melihat Ethan yang berjalan dengan tongkatnya menghampiri dirinya bersama dengan Reinner.
“Maafkan aku, Ethan. Putraku ini benar-benar nakal dan susah diatur seperti Ayahnya-Winner.” Sarayu melepaskan jiwitannya di telinga Reinner.
“Tidak apa-apa, Sarayu. Meski sedikit nakal dan susah diatur, Reinner adalah anak yang cerdas dan cepat mengerti. Mungkin karena dia dengan cepat menguasai sesuatu, Reinner jadi lebih cepat merasa bosan.”
Reinner menatap ke arah Sarayu dan menarik lengan bajunya. “Bunda, kapan Ayah akan pulang dan mengunjungi kita?? Aku sudah rindu padanya.”
Sarayu menyipitkan matanya menatap ke arah Reinner dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. “Kau tidak bisa berbohong di depan Bunda, Reinner. Kau tidak merindukan ayahmu tapi merindukan mainan yang akan dibawa pulang oleh Ayahmu. Merindukan makanan dan manisan yang dibawakan oleh Ayahmu ketika sibuk berkeliling dunia karena pekerjaannya.”
Ethan tiba-tiba bersiul memanggil kuda miliknya yang ada berkeliaran di sekitar untuk mencari makan. Kuda itu langsung menghampiri Ethan begitu mendengar panggilannya.
__ADS_1
“Bunda, aku ingin naik kuda itu. Kali ini aku boleh melakukannya, bukan? Aku sudah bosan naik keledai yang berjalan dengan sangat lambat itu. . .” Reinner merengek sembari menarik lengan baju Sarayu beberapa kali.
Sarayu melihat ke arah Ethan, sebelum akhirnya melihat ke arah Reinner. “Tanyakan itu pada Paman Ethan. Jika Paman Ethan memberi izin, kau boleh menaikinya, Reinner.”
Reinner melepaskan pegangannya di lengan baju Sarayu dan berganti memegang lengan baju Ethan untuk merayunya. “Apa aku boleh menaikinya, Paman Ethan?”
“Ya, kau boleh menaikinya sekarang. Tapi. . . jika kau melarikan diri lagi dari latihanmu, selamanya Paman tidak akan mengizinkanmu untuk naik kuda itu lagi. Bagaimana, Reinner??”
“Aku setuju, Paman. Aku tidak akan membolos lagi.”
Tanpa banyak basa basi, Reinner langsung menaiki kuda peliharaan milik Ethan itu dan membuat kuda itu berlari selama beberapa putaran. Di saat memperhatikan Reinner, Ethan dan Sarayu yang sedang mengawasi kemudian berbincang-bincang kecil.
“Tidak heran kau bersikeras tinggal di pegunungan yang jauh dari kehidupan manusia, Sarayu. Putramu ini benar-benar. . . .”
Sarayu tersenyum kecil mendengar keluhan Ethan tentang putranya. “Aku minta maaf untuk itu, Tuan Ethan.”
“Jangan memanggilku Tuan lagi, Sarayu. Aku sudah bukan atasanmu dan sekarang hanyalah seorang pria buta yang ingin hidup tenang bersama dengan teman dan keponakan kecilku itu,” jawab Ethan. “Bagaimana dengan Winner? Kapan dia akan kembali dari pekerjaannya?”
“Harusnya begitu. . . selama ini dia selalu pulang hanya di hari peringatan kematian rekan-rekan kita. Kali ini. . . harusnya dia juga pulang setelah sibuk berkeliling dunia untuk menambah pengetahuannya sebagai ilmuwan.”
Sejak perang ketiga berakhir dan sejak Aliansi Arael dibubarkan, Aliansi Ingmar pun juga dibubarkan karena tujuannya telah tercapai. Sarayu, Ethan dan Dylan yang selamat mendapatkan banyak ucapan terima kasih dan hadiah dari seluruh negeri. Berkat itu, Sarayu, Ethan dan Dylan sekejap menjadi orang kaya karena kekayaan mereka. Ethan menyumbangkan separuh hartanya untuk perbaikan pasca perang, sementara Sarayu menyumbangkan kekayaannya untuk memberikan bantuan kepada korban pasca perang termasuk santunan kematian. Lalu Dylan menyumbangkan separuh kekayaannya untuk kesehatan dan fasilitasnya untuk merawat seluruh korban perang.
Setelah itu. . Sarayu menggunakan sepertiga uang miliknya untuk membeli tanah yang luas di pegunungan Indonesia yang masih belum dihuni oleh manusia. Sarayu membangun makam untuk rekan-rekannya, membangun rumah tidak jauh dari lokasi makam lengkap dengan perkebunan dan peternakan. Ethan yang ingin hidup tenang dan damai dari kesibukan para manusia kemudian tinggal bersama dengan Sarayu di rumah itu setelah Sarayu menikah dengan Winner. Sementara Dylan yang terkadang sibuk dengan penelitiannya, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berkeliling dunia untuk mempelajari banyak hal.
Alasan Sarayu memilih tinggal di pegunungan yang jauh dari keramaian, pertama adalah untuk ketenangannya. Sarayu tidak orang-orang yang mengenalinya sebagai pahlawan perang terus memuja-mujanya setiap kali bertemu. Dan alasan kedua adalah batu yang ada di lehernya saat ini. Sarayu merasa jika Sarayu tinggal di tengah keramaian dan menggunakan kemampuannya, hal itu akan memicu masalah di kemudian harinya. Karena itu. . . Sarayu memilih tinggal jauh di pegunungan untuk melindungi batu itu dari jangkauan orang-orang yang mungkin menginginkan kekuatan dari batu di lehernya itu.
Di tengah perbincangannya dengan Ethan, Sarayu yang kini bisa mengintip masa depan mendapatkan penglihatan tentang masa depanya yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
“Sarayu?? Kau baik-baik saja??” Ethan memanggil nama Sarayu ketika tiba-tiba Sarayu tidak merespon ucapannya dalam waktu yang cukup lama.
“Tuan Ethan, panggil kudamu sekarang juga!!”
Ethan bersiul memanggil kudanya yang masih ditunggangi oleh Reinner. Kuda itu langsung berlari ke arah Ethan dan membuat Reinner yang masih ingin bermain lagi, merengek dengan kesal.
“Paman kenapa tiba-tiba memanggil kudamu lagi??? Aku masih ingin bermain lagi.”
Sarayu menurunkan Reinner dari kuda itu dan kemudian memberikan peringatan kepada Reinner. “Dengarkan Bunda sekali ini saja, Reinner. Setelah ini. . . bawa Paman Ethan kembali ke rumah dan bersembunyilah di bunker di dalam rumah. Mengerti??”
“Kenapa begitu, Bunda? Apa yang terjadi??” Reinner bertanya dengan wajah bingung.
“Dengarkan, Bunda. Masuk ke dalam bunker dan apapun yang terjadi kau tidak boleh membuka pintu bunker sampai ayahmu pulang, mengerti??”
Melihat wajah serius Sarayu, Reinner tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Reinner segera menarik tongkat milik Ethan untuk menuntunnya pergi ke dalam rumah mereka. Tapi. . . Ethan yang juga masih sama bingungnya dengan Reinner, menolak untuk pergi.
“Sarayu, apa yang terjadi?? Kenapa tiba-tiba kau meminta kami masuk ke dalam bunker??”
Sarayu menyentuh tangan Ethan dan membuat Ethan melihat masa depan yang sedang menunggunya dalam hitungan kurang dari satu jam lagi.
“Ini??” tanya Ethan tidak percaya. “Dylan tidak mungkin mengkhianati kita, Sarayu!!”
“Aku tahu itu, tapi. . . untuk berjaga-jaga akan lebih baik jika kalian bersama dengan semua pelayan yang ada masuk ke dalam bunker yang ada dan menunggu kedatangan Winner bersama dengan beberapa pengawalnya. Untuk mengulur waktu, aku akan membuat pelindung di mana Dylan dan pasukannya tidak akan bisa menemukan rumah kita.” Setelah memberi penjelasan singkat kepada Ethan, Sarayu berteriak kepada Reinner. “Reinner, sekarang cepat kembali ke rumah dan lakukan perintah Bunda.”
Reinner berlari menarik tongkat milik Ethan dan membuat kuda milik Ethan mengikuti ke arah Ethan pergi.
“Tunggu, Reinner! Paman masih belum selesai bicara dengan Bundamu!!” Ethan berharap Reinner akan mendengarkannya dan menghentikan langkahnya. Tapi. . . Reinner terus berlari ke arah rumah seperti kesetanan.
__ADS_1
“Aku titip putraku padamu, Tuan Ethan!!!” Saat jaraknya sudah menjauh dari Sarayu, Ethan mendengar teriakan Sarayu padanya untuk menjaga Reinner apapun yang terjadi.
Kreettt. . . Reinner tiba di dalam rumah bersama dengan Ethan dan begitu pintu rumah ditutup oleh Reinner, alarm tanda bahaya yang dipasang di sekeliling hutan di dekar lingkungan rumah berbunyi dan memberi peringatan kepada semua pelayan yang ada.