THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 86 AMBANG KEKALAHAN PART 2


__ADS_3

            Kamera rahasia yang terpasang di dekat hutan dan pantai, memperlihatkan bagaimana Sarayu akhirnya tertangkap oleh Knight Five serta First dan Seventh yang akhirnya kehilangan nyawanya dibunuh oleh pukulan mematikan dari Knight One.


            “Denyut jantung First sudah berhenti berdetak.”


            “Denyut jantung Seventh sudah berhenti berdetak.”


            Ethan mendengar ucapan operator di bawah Forth yang mengabarkan kematian dua rekannya lagi. Kini yang tersisa hanya dirinya, Forth, Ninth dan Savior. Ethan tahu dengan jelas akhir yang menunggu rekan-rekannya itu.


            “Pada akhirnya apa yang aku lihat tetap terjadi. . .” Ethan menundukkan kepalanya berusaha menahan tangisan kehilangan rekan-rekannya. “Mengintip masa depan rasanya begitu menyesakkan. . .”


            Forth yang selama ini selalu berada di kursinya dan jarang beranjak ketika sedang bertugas, tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Ethan dengan senyuman di wajahnya.


            “Tuan. . . kematian kami tidak akan sia-sia, jika itu adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan perdamaian.”


            Ethan memikirkan rekan-rekannya yang telah kehilangan nyawanya: First, Second, Third, Fifth, Sixth, Seventh dan Eighth. Wajah mereka muncul satu persatu dalam benak Ethan dan memutar kembali ke pertemuan pertama mereka.


            “Maafkan aku, Forth. Harusnya. . . aku membawa kalian hingga perdamaian itu benar-benar terwujud dan berharap kalian semua menghadapi kematian kalian dengan cara yang kalian inginkan: mati di kasur yang hangat, mati di tengah keluarga bahagia yang kalian miliki dan mati dengan tenang dan senyuman di wajah. Aku berharap kalian akan mendapatkan hal itu, tapi nyatanya. . . kematian yang datang kepada kalian benar-benar di luar bayanganku.”


            “Kemenangan-kemenangan yang kami terima selama beberapa waktu ini adalah berkat Tuan. Jika bukan karena Tuan, kami semua mungkin sudah kehilangan nyawa kami jauh sebelum hari ini datang, Tuan. Berkat Tuan. . . kami yang kehilangan keluarga karena perang ini, merasakan perasaan memiliki keluarga lagi. Kami semua hidup bersama, saling membantu satu sama lain dan saling melindungi satu sama lain. Kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan, Tuan.”


            Ethan yang sejak tadi menundukkan kepalanya berusaha menahan tangisannya, kini menatap Forth yang sudah ada di depannya. Forth memberikan senyuman terbaik yang pernah dia buat dan memberikan penghormatannya kepada Ethan mewakili rekan-rekannya yang telah tewas untuk mengucapkan terima kasihnya kepada Ethan selama ini telah berusaha dengan keras melindungi dirinya dan rekan-rekannya.


            Air mata Ethan jatuh melihat bagaimana Forth mewakil rekan-rekannya  yang telah kehilangan nyawanya seolah sedang membuat penghormatan terakhir kepada dirinya. “Kenapa kau melakukan i-“


            Buk.


            “Apa yang kau lakukan, Forth?” teriak Dylan yang terkejut melihat Forth melayangkan pukulannya ke tengkuk belakang Ethan dan membuat Ethan kehilangan kesadarannya.


            Forth langsung menangkap tubuh Ethan yang ambruk dan melihat ke layar monitor di mana Knight One mulai berjalan ke arah markas. “Maafkan aku, Tuan Dylan. Tapi. . . Tuan Ethan dan Sarayu adalah satu-satunya harapan kami untuk mendapatkan perdamaian. Mereka berdua harus tetap hidup untuk mewujudkan apa yang pernah dilihat oleh Tuan Ethan ketika mengintip masa depan.”


            “Kau. . . kau ingin kami bersembunyi dan membuatmu bersama dengan Ninth menghadapi Knight One seorang diri???”


            Forth menganggukkan kepalanya. “Itu yang harus kami lakukan, Tuan. Bukankah setelah kematian kami datang, pecahan batu milik kami akan menyatu dengan pecahan batu milik Sarayu, Tuan??”

__ADS_1


            Dylan terkejut mendengar ucapan Forth.


            “Aku sudah berbicara dengan Ninth tadi, Tuan dan kami berdua sepakat untuk bertahan sembari menyembunyikan Tuan bersama dengan Tuan Ethan dan Winner. Segera setelah kematian kami. . . pecahan batu milik kami akan menyatu dengan pecahan lain yang sudah menyatu sebelumnya dengan milik Sarayu. Dengan begitu Sarayu yang sekarang sedang sekarat, dia bisa membalikkan keadaan ini dan menyelamatkan dunia. Dengan begitu. . . kematian kami tidaklah sia-sia.”


            “Kau sudah membulatkan tekadmu rupanya, Forth,” ujar Dylan melihat senyuman di bibir Forth.


            “Maafkan saya, tapi saya memang sudah bertekad.”


            Forth kemudian meminta beberapa operatornya untuk membawa tubuh Ethan dan Dylan ke bunker di mana Winner berada.


            “Tuan Dylan. . . bisakah sampaikan ucapanku ini ketika Tuan Ethan bangun nantinya.” Forth menatap ke arah Ethan yang masih tidak sadarkan diri.


            “Apa itu?”


            “Maaf karena telah memukulnya tadi.”


            Dylan tersenyum kecil dengan mata nanar. “Aku pasti akan menyampaikannya, Forth. Sebagai gantinya. . . aku ingin minta sesuatu padamu.”


            “Jika ada sedikit saja kemungkinan hidup bagi kau dan Ninth, pilihlah untuk bertahan hidup. Aku dan Ethan tidak akan menyalahkan kalian jika kalian nantinya lari untuk menyelamatkan nyawa kalian.”


            “Aku akan coba memikirkannya, Tuan Dylan. Selamat tinggal.”


            Forth menutup bunker yang mengurung Dylan, Ethan dan Winner di dalamnya dan kembali ke ruang komando memimpin seluruh pasukan dan memandu Ninth untuk menjaga markas mereka. Forth berjuang sekuat tenaga berusaha untuk menjaga markas mereka, tapi pertahanan markas hancur akibat misil yang ditembakkan oleh pesawat-pesawat musuh yang datang dari arah laut. Di barisan depan Ninth yang menjaga pertahanan markas, kehilangan nyawanya ketika Knight One menemukannya.


            “Kuserahkan padamu, Forth!”


            Itulah kalimat terakhir Ninth sebelum kehilangan nyawanya ketika menghadap salah satu kamera yang masih terhubung.


            “Ya, Ninth. Setelah ini. . . kita akan bertemu dengan rekan-rekan kita yang lainnya.”


            Knight One terus menembus setiap pertahanan  yang di hadapannya. Kerasnya logam yang pelindung setiap ruangan tidak mampu menahan pukulan Knight One yang mengerikan itu. Hingga dalam hitungan 10 menit, Knight One tiba di ruang komando di mana Forth bersama dengan seluruh operatornya berada.            


            “Sebagai atasan kalian selama ini, aku berterima kasih atas usaha kalian selama ini. Jika kalian ingin menyelamatkan diri, silakan keluar dari ruangan ini melalui pintu darurat. Tapi jika kalian ingin tetap di sini bersamaku, maka dengan senang hati kita akan berjuang bersama.”

__ADS_1


            Bruk. .. bruk. . . di tengah usaha Knight One yang berusaha untuk membuka pintu ruang komando dengan pukulan mematikannya, Forth memberikan pilihan kepada semua anak buahnya yang selama ini telah bekerja keras bersama dengannya. Forth sebagai anggota dari Pasukan Perdamaian Dunia mempunyai tugas untuk melindungi orang-orang termasuk anak buahnya saat ini. Sama seperti Dylan yang memintanya untuk berpikir menyelamatkan dirinya, Forth memberikan pilihan yang sama kepada semua anak buahnya yang selama beberapa waktu ini bekerja bersama dengannya.


            “Kami akan tetap di sini bersama dengan Tuan.” Semua operator Forth bangkit dari kursinya dan membuat barisan di depan pintu ruang komando yang mulai penyok akibat pukulan Knight One.


            Forth melihat kesetiaan yang diberikan oleh anak buahnya dan dalam sekejap merasakan apa yang tadi dirasakan oleh Ethan untuk dirinya dan rekan-rekannya yang telah tewas ketika bertugas.


            “Terima kasih banyak untuk kesetiaan kalian.” Forth memberikan hormatnya kepada seluruh anak buahnya yang berdiri membentuk pagar dan berusaha untuk melindungi dirinya. Dengan pistol di tangan, anak buah Forth berdiri tanpa rasa takut sekalipun.


            Brukkk. . . pukulan terakhir yang kencang itu kemudian berhasil membuka pintu ruang komando dan secara serentak seluruh anak buah Forth menembakkan peluru di dalam pistol mereka ke arah Knight One.


            “Kalian serangga-serangga tidak berguna!!” Knight One memukul tempatnya berdiri dan membuat guncangan yang hebat di dalam ruang komando.


            Dar. . . dar. . . dar. . . suara memekikkan dari tembakan pistol, bergema di ruang komando bercampur dengan asap tebal dan bau mesiu yang menyengat. Beberapa peluru mungkin mengenai Knight One tapi dengan menggunakan bagian pintu ruang komando yang rusak, Knight One berhasil membentengi tubuhnya dari ratusan peluru yang datang ke arahnya. Begitu semua peluru habis, Knight One mengayunkan pintu di tangannya dan membuat separuh dari operator Forth tewas seketika. Tidak berhenti di situ saja, Knight One bergerak dengan cepat memukul satu persatu operator Forth dan akhirnya harus berhadapan satu lawan satu dengan Forth.


            “Di mana Ethan??” Knight One yang telah memberi belasan kali pukulan pada Forth, mencengkeram kerah pakaian Forth dan bertanya tentang keberadaan Ethan kepada Forth.


            Di ambang kematiannya, Forth tersenyum sembari meludahkan darah bercampur air liurnya ke arah Knight One. “Kau tidak akan menemukan Tuan Ethan, Knight One. Selagi kamu masuk kemari dan memorak-porandakan markas ini, kami mengirim Tuan Ethan keluar. Kau kalah, Knight One. Kau tidak akan pernah menang dari Tuan Ethan seperti keinginanmu.”


            Mendengar ucapan dari Forth, Knight One kehilangan kesabarannya. Knight One melemparkan tubuh Forth yang sudah lemah ke arah dinding dengan kencang. Bruakk. . . tubuh Forth membentur dinding  dengan kencang.


            Hueekkk. Forth memuntahkan darahnya lagi karena tabrakan itu mungkin telah melukai organ dalamnya. Dengan mata yang mulai samar-samar melihat, Forth melihat ke arah Knight One yang berlari ke arah dirinya dengan mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Senyuman muncul di bibir Forth.


            “Jika ada sedikit saja kemungkinan hidup bagi kau dan Ninth, pilihlah untuk bertahan hidup. Aku dan Ethan tidak akan menyalahkan kalian jika kalian nantinya lari untuk menyelamatkan nyawa kalian.”


            Di saat kematiannya akan datang, Forth mengingat ucapan Dylan yang memintanya untuk sekali saja memikirkan dirinya dan nyawanya sendiri.


            “Maafkan saya, Tuan Dylan. Saya lebih memilih untuk pergi bersama dengan rekan-rekan saya daripada hidup seorang diri.”


            Lima detik sebelum pukulan Knight One mengenai dirinya, Forth melihat wajah-wajah rekannya yang telah pergi lebih dulu. Mereka mengulurkan tangannya kepada Forth seolah ingin mengajak Forth ke tempat yang indah dan penuh dengan kedamaian. Dengan senyuman bahagia di wajahnya, mereka menyambut kedatangan Forth.


Brukkkkk. . . Pukulan yang harusnya menyakitkan itu tidak terasa menyakitkan karena Forth menerima uluran dari rekan-rekannya dan merasakan rasa hangat dari rekan-rekannya melewati tangan mereka dan menyebar di sekujur tubuhnya .


Aku datang, teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2