THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 43 BENCANA DI MASA LALU PART 1


__ADS_3

       Menyadari semua yang Sarayu lihat hanyalah bagian dari masa lalu, Sarayu langsung menghapus wajahnya yang basah oleh air matanya. Setelah membersihkan wajahnya dari air mata dan mengatur napasnya, Sarayu kemudian berjalan pergi, meninggalkan Redo dan dirinya di masa lalu begitu saja.


           “Kenapa kau pergi, Sarayu? Harusnya kamu melihat semua pengakuan itu?” Winner memotong langkah Sarayu dengan kakinya yang lebih panjang dan melompat ke depan Sarayu. “Kembali ke masa lalu, tidak semua orang bisa melakukannya.”


“Apa yang kamu katakan mungkin memang benar, Winner. Tapi. . . untuk apa aku melihat pengakuan ini? Pengakuan yang sudah aku lewatkan beberapa tahun lamanya ini, tidak akan mengubah apapun di masa depan.” Saratyu bergerak ke samping untuk melewati Winner dan melanjutkan lagi langkah kakinya. “Kita tidak punya banyak waktu untuk mengenang masa laluku ini sekarang, Winner. Kita harus segera mencari jalan pulang demi rekan-rekanku yang sedang menungguku dan semua orang yang sedang menantikan perdamaian.”



Winner menarik lengan Sarayu dan menghentikan langkah kakinya. “Sekarang, ketika kita di sini dan tidak ada yang mengenali dan melihat kita berdua, katakan padaku alasanmu bergabung dengan Aliansi Ingmar, Sarayu?”



“Kenapa kamu ingin tahu?” Sarayu mengangkat lengannya yang ditangkap oleh Winner dan berusaha untuk melepaskannya.



“Aku hanya ingin tahu saja. Seingatku sewaktu kuliah, kau sama sekali tidak terlihat seperti gadis yang suka berolahraga maupun melakukan hal gila seperti yang sedang kau lakukan saat ini,” jelas Winner. “Rasanya apa yang kamu lakukan sekarang ini, bukanlah dirimu yang sebenarnya.”



Sarayu menatap datar ke arah Winner. “Semua orang akan berubah ketika waktunya tiba, Winner.” Sarayu melepaskan lengannya di genggaman tangan Winner dan kemudian tanpa sengaja melihat ke arah kalender yang tergantung di sebuah ruangan klub di dekatnya. Sarayu ingat ruangan itu adalah ruang klub musik di mana Redo sering kali menghabiskan waktunya dulu.



“Apa yang kamu lihat, Sarayu?”



“Winner, lihat kalender di dalam klub itu!”

__ADS_1



Winner melihatnya dan kemudian melihat tanggal di mana dirinya sekarang berada. “Apa ada yang spesial di tanggal 26 Desember 2020, Sarayu?”



“Apa kau lupa, Winner?”



Winner menatap Sarayu dengan tatapan tidak percaya dan kemudian mulai menunjukkan dirinya kepada Sarayu bahwa dirinya adalah Tuan dari Sarayu saat ini. “Apa yang harus aku ingat, Bahram??”


           Sarayu menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan ingatan buruk dari Winner yang tidak berubah bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. “Ingatanmu masih buruk seperti dulu, Winner.”


           “Kau mengejekku, Bahram?” Sekali lagi, Winner memanggil Sarayu dengan nama Bahram untuk menunjukkan posisinya sebagai orang yang dilayani dan harus dilindungi oleh Sarayu.


           “Tidak, aku tidak mengejek Tuan Winner.” Sarayu membalas Winner dengan cara yang sama bahkan memanggil Winner dengan panggilan Tuan, sama seperti sebelumnya.


           “Tanggal ini adalah tanggal bencana di laut selatan: Tsunami. Apa kau tidak ingat??”


           Winner berusaha untuk mengingat kembali ingatan masa lalunya di mana tsunami selalu menjadi bencana yang menarik perhatian di seluruh dunia karena selalu menimbulkan jumlah korban yang tidak sedikit. “Aku ingat. Tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2020 di siang hari. Kalau aku tidak salah sekitar pukul satu siang. Bencana itu memakan korban nyaris menyentuh angka satu juta nyawa karena menyebar di seluruh pulau J di Indonesia. Seingatku tsunami yang terjadi waktu itu memecahkan banyak rekor dalam sejarah karena jumlah korbannya yang sangat banyak, kerusakan yang sangat fatal dan juga menjadi tsunami terbesar dengan gempa yang besar.”


           “Baguslah kalau kau ingat, Winner. Sekarang lihat ke arah jam itu, Winner!” Sarayu menunjuk ke arah jam dinding yang menempel di dinding yang tidak jauh dari kalender.


           “Pukul 11.30.” Winner menatap Sarayu dengan tatapan tidak percaya. “Bukankah itu artinya bencana itu sebentar lagi akan terjadi???”


           Baru saja Winner menutup mulutnya, sebuah guncangan terjadi dan membuat semua orang di dalam bangunan sekolah langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.


           “Huft.” Winner mengelus dadanya merasa senang jika saat ini dirinya bukanlah bagian dari masa lalu dan hanya bayangan saja. “Syukurlah jika saat ini aku hanyalah bayangan.”

__ADS_1


           Krek. Krek. Krek. Krek.  Suara retakan muncul setelah guncangan yang sangat kencang itu terjadi. Brukkkkkkkkk. Booommmmmm. Setelah bunyi retakan itu terdengar dengan sangat kencang. Teriakan banyak siswa terdengar di telinga Sarayu dan Winner. 


           “Ahhhhhhhhhh.”  


           “Sarayu!” Winner langsung memegang lengan Sarayu dengan erat. “Apakah di kotamu ada bangunan yang runtuh hingga menimbulkan suara sekencang itu?” 


           “Bukan hanya satu bangunan. Tapi banyak bangunan.” Sarayu menunjuk ke arah salah satu bangunan klub yang hancur tertimpa bangunan tepat di semping sekolah. “Ruang klub yang berada di paling ujung jatuh tertimpa bangunan di samping sekolah. Lalu bangunan bersejarah di kota ini juga hancur karena guncangan yang kencang itu, dikarenakan usianya yang sudah tua. Lalu ada beberapa bangunan lain yang ambruk karena pondasinya yang tidak kuat dan dalam.”


           “Itu artinya kota ini mengalami kerusakan yang cukup parah karena tsunami yang akan terjadi??”


           Sarayu mengingat sesuatu di dalam benaknya saat ini. Dia ingat bagaimana bencana di masa lalu-di tahun 2020 adalah bencana yang mengerikan dan seharusnya membunuh banyak nyawa di kota tempatnya tinggal. Namun dalam ingatan Sarayu, dirinya ingat jika kota tempatnya tinggal yang memiliki jarak yang hanya berjarak 37 Km dari pantai terdekat justru tidak mengalami banyak kerusakan. Sarayu juga ingat dengan baik kota J tempatnya tinggal memiliki jumlah korban paling sedikit di antara semua kota yang berada di jalur selatan di mana pusat guncangan atau gempa terjadi.


           “Ada yang aneh, Winner??”


           “Apa yang aneh??” Winner bertanya masih dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Sarayu.


           “Pusat gempa dalam tsunami kali ini hanya berjarak 10 Km dari kota J di mana aku tinggal. Tapi. . . dalam ingatanku, tsunami itu tidak datang kemari ke kota ini.  Aku ingat dengan baik, tsunami tidak menerjang ke kota ini dan membuat kota J sebagai satu-satunya kota dengan jumlah korban paling sedikit dalam tsunami yang akan terjadi dalam hitungan menit.”


           “Apa maksudmu?? Aku tidak mengerti.” Winner melepaskan genggamannya di tangan Sarayu. “Kenapa hanya kota ini saja yang selamat dari terjangan tsunami padahal berada di titik paling dekat dengan tsunami??”


           “Itulah yang aku maksud. Ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat kota ini tidak terkena terjangan tsunami dan hanya mengalami kerusakan akibat guncangan yang baru saja terjadi,” jelas Sarayu.


           “Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini, Bahram?”


           Sarayu melihat ke arah Redo yang kini sibuk berkumpul bersama dengan siswa lain termasuk Sarayu kecil yang terbangun dari tidurnya karena guncangan yang dirasakannya.


           “Aku harus memeriksanya, Winner. Setelah ini aku akan ke pantai terdekat dan memeriksa apa yang terjadi di sana sehingga hanya kota J yang tidak terkena terjangan dari tsunami. Apa kau mau ikut atau tetap berada di sini, Winner?”


           Winner menatap Sarayu dengan penuh keyakinan. “Aku akan ikut padamu. Bagaimanapun, aku harus tetap bersama denganmu. Bukankah kau bilang akan melindungiku, Sarayu??”

__ADS_1


           Sarayu menganggukkan kepalanya. “Ya, aku akan melindungimu seperti janjiku hingga tugasku sebagai pengawalmu berakhir, Winner.” 


__ADS_2