THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 90 TSUNAMI DALAM PENGLIHATAN ETHAN PART 3


__ADS_3

Air laut yang tertarik ke tengah laut tadi berkumpul dan membuat gelombang yang besar yang kini semakin tinggi dalam setiap detiknya. Di saat yang sama, alarm pantai yang dibuat untuk memberi peringatan kepada warga sipil tentang tsunami berbunyi dengan kencang memberi peringatan tanda bahaya.


            Ramalan itu benar-benar terjadi. Apa yang Ethan lihat tidak ada yang berubah. Mengenali pemandangan di depannya dan apa yang akan terjadi, Savior mengangkat tangannya dan membuat pelindung sepanjang pantai yang bisa dijangkaunya. Tapi gelombang itu semakin besar, di saat yang sama tubuh Sarayu sudah sangat lemah. Darah keluar dari mulutnya karena pukulan yang diterimanya dari Knight One.


            “Larilah, Savior!!!”


            Sarayu mendengar suara Ethan dari saluran komunikasi yang memberinya perintah untuk lari menyelamatkan dirinya. Ah. . . sial. Jika saja lari semudah itu, maka aku akan lari sejak tadi. Tapi. . . tanggung jawab, perasaan ini dan tubuh ini menolak untuk lari. Membayangkan di masa depan aku akan menyesali pilihan menyelamatkan diri, aku akan sanggup menanggungnya.


            Sarayu melihat gelombang laut yang berkumpul itu semakin tinggi bahkan lebih tinggi dari tsunami yang sebelumnya Sarayu hentikan. Karena Knight Two, gelombang itu sekarang membawa radiasi nuklir yang jika menyentuh daratan, air itu akan merusak segalanya. Bagaimana pun. . . aku harus menghentikannya.


            “Larilah, Savior!!! Selamatkan dirimu!!!”


*


            Dengan satu-satunya kamera yang ada di pantai, Ethan melihat Sarayu berdiri dengan kaki gemetar dan tubuh yang mungkin sudah nyaris kehilangan semua tenaga dan energi kehidupan miliknya. Gelombang tsunami yang akan datang itu semakin tinggi saja ketinggiannya dan hal itu membutuhkan banyak energi bagi Sarayu untuk melindungi apapun yang ada di belakangnya dari gelombang tsunami itu. Sayangnya. . . Sarayu yang sudah benar-benar lemah tidak lagi bisa membuat pelindung kubah seperti sebelumnya.


“Ethan, berapa jarak gelombang itu dengan daratan??”


“Aku memintamu untuk lari, Savior. Tubuhmu saat ini sudah tidak sanggup menahan gelombang itu lagi. Bahkan jika kau menggunakan angin pantai yang berembus, gelombang dan ketinggian itu tidak akan sanggup kau tahan.” Ethan berbicara dengan sedikit berteriak dan berharap Sarayu kali ini akan mendengarkannya.


            “Meski berulang kali kau mengatakan padaku untuk pergi menyelamatkan diri, aku tidak akan pergi, Ethan. Ini tugasku. Ini pilihanku. Aku ada di sini karena aku memilih untuk menjadi penyelamat dunia ini. Sekarang. . . gelombang tsunami tiba-tiba muncul di samudra  karena bom nuklir yang tidak sengaja jatuh. Jika air laut yang membawa radiasi bom nuklir itu mencapai daratan apa yang terjadi dengan orang-orang di belakangku? Mereka semua pasti akan mati, Ethan.”

__ADS_1


            “Aku tahu kau tidak akan pernah pergi, Savior. Tapi sekarang dengan tubuhmu dan kondisimu saat ini, kau tidak akan mampu menahan gelombang itu. Untuk kali ini saja. . . hanya kali ini saja. . . kau bisa menyelamatkan dirimu, Savior. Dan kami semua pasti tidak akan ada yang menyalahkanmu, Savior!!”


            “Aku tahu kau meragukanku, Ethan. Aku tahu kau ragu karena lebih dari siapapun kau berharap aku selamat. Tapi keselamatan banyak orang lebih penting dari pada keselamatan aku seorang, Ethan. Jadi. . . jika ingin membantuku sekarang, kau bisa lakukan satu hal, Ethan. Kau tahu dengan baik, aku benar-benar bodoh soal perhitungan. Jadi katakan padaku berapa ketinggian gelombang itu dan berapa ketinggian pelindung angin yang harus aku buat? Berapa ketebalan pelindung angin yang harus aku buat agar bisa menahan gelombang air laut sebesar itu, Ethan? Kumohon.”


            Mendengar Sarayu yang tetap bersikeras untuk tinggal dan menahan gelombang itu, Ethan tidak punya pilihan lain. Bersama dengan Dylan di sampingnya, Ethan membuat perhitungan dengan melihat gelombang yang terus naik dan semakin tinggi saja.


            “Dengan ketinggian yang terus naik setiap detiknya, ketinggian maksimum dari gelombang itu adalah dua ratus meter. Untuk menghentikan air itu ke darat, kau harus membuat pelindung dengan ketinggian 400 meter. Pelindung itu harus tebal, sangat tebal karena tekanan yang dibawa oleh volume air sebanyak itu sangatlah besar, Savior!!!”


            Ethan melihat Savior berusaha untuk membuat pelindung anginnya setinggi yang dikatakan oleh Ethan dan membuatnya setebal mungkin.


            “Uhuk. . . huek.”


            Ethan mendengar suara batuk Sarayu yang bercampur dengan muntahan darahnya. “Kau baik-baik saja, Savior??”


            Gelombang tsunami itu benar-benar bergerak sekarang dan sedang menuju ke arah Sarayu dengan kecepatan tinggi.


            “Berapa menit gelombang itu akan tiba dan menghantam pelindungku ini, Tuan?”


            “Mungkin sekitar 5 menit lagi,” jawab Ethan cemas.


            “Jika kali ini aku tidak selamat, tolong sampaikan maafku pada Winner, Tuan. Sampaikan maafku dan sampaikan jawabanku untuk pertanyaannya. Maaf aku terlambat menyadari jika aku menyukainya. . .”

__ADS_1


            Ethan mengepalkan tangannya karena kesal di saat begini, dia tidak bisa melihat masa depan yang menanti Sarayu. Masa depan yang pernah dilihatnya dari Sarayu berhenti pada titik ini dan setelah titik ini, Ethan tidak bisa melihat apa yang akan terjadi pada Sarayu baik itu kematian atau dia akan tetap hidup.


            “K-kau harus mengatakannya sendiri.” Dylan yang geram merebut mikrofon yang digunakan Ethan untuk berkomunikasi dengan Sarayu. “Kau harus mengatakan hal itu sendiri pada Winner, Savior. Kau berjanji padanya untuk tetap hidup, maka kau harus menepatinya, Savior.”


            Gelombang itu bergerak lebih cepat dan kini siap menghantam pelindung angin milik Sarayu. Byurrrrr. . . . Ethan mendengar suara benturan gelombang air yang menabrak dinding pelindung milik Sarayu. Untuk sejenak. . . Sarayu berhasil menahan gelombang itu. Tapi. . . Ethan dan Sarayu melupakan sesuatu yang penting yang sebelum ini terjadi: sisa-sisa pesawat dan kapal selam milik Arael berada di lautan dan ikut terbawa bersama dengan gelombang yang kini sedang ditahan oleh Sarayu.


            Booom. Kreeeetttt. . . bagian dari kepala selam yang tajam menghantam pelindung angin milik Sarayu beberapa kali sebelum akhirnya membuat retakan pada pelindung angin milik Sarayu. Dari retakan itu, air laut yang mengandung radiasi nuklir merembes masuk dan membuat retakan itu bergerak menjalar ke bagian lain.


            “Savior!!!!!” Ethan dan Dylan berteriak memanggil nama Sarayu sebelum retakan itu menjalar lebih jauh lagi dan akhirnya menghancurkan pelindung milik Sarayu.


            Tiba-tiba. . . waktu seolah terhenti. Ethan melihat tubuh Dylan tidak bergerak. Ethan juga tidak mendengar suara percikan api atau suara apapun yang seharusnya sejak tadi terdengar. Ethan melihat ke layar di mana Sarayu terlihat dan melihat apa yang terjadi padanya sekarang juga terjadi pada Sarayu. Waktu terhenti.


            “Dylan???” Ethan berusaha memanggil Dylan yang berdiri di sampingnya tapi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Dylan.


            “Kita bertemu lagi, Ethan.”


            Secara tiba-tiba, Ethan mendengar suara tidak asing yang menyapa dirinya. Spontan, Ethan melihat ke arah suara yang menyapanya dan melihat sosok yang pernah datang dalam mimpinya. “Kau. . .”


            “Aku datang untuk memberimu solusi untuk menyelamatkan Sarayu sekaligus meminta kembali apa yang aku pinjamkan padamu.”


            “Apa aku akan mati sekarang??” Ethan bertanya kepada sosok itu mengingat sembilan rekannya telah kehilangan nyawanya untuk mengembalikan apa yang mereka pinjam dari pria ini.

__ADS_1


            Sosok itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ethan dan membuat Ethan semakin merasa jika saat ini, kematiannya adalah satu-satunya kunci untuk menyelamatkan Sarayu dan apa yang berusaha diselamatkan oleh Sarayu saat ini.


 


__ADS_2