THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 91 TSUNAMI DALAM PENGLIHATAN ETHAN PART 4


__ADS_3

            “Tenang saja, Ethan. Umurmu masih sangat panjang dan kau masih punya tugas lain yang mengharuskanmu untuk hidup.”


            Ethan menatap sosok pria itu dengan tatapan bingung. “Jika begitu, kenapa kau muncul di sini sekarang? Kukira untuk mengembalikan apa yang kami pinjam dari batu milikmu itu, kami harus kehilangan nyawa kami lebih dulu.”


            Sosok pria itu tersenyum mendengar dugaan yang keluar dari mulut Ethan dan senyuman itu membuat Ethan yang tadi merasa sedikit takut dengan kematian yang akan datang kepadanya kini menghilang begitu saja. “Bagi mereka memang itulah caranya, tapi untukmu hal itu adalah pengecualian.”


            “Kenapa begitu? Kenapa hanya aku yang mendapat pengecualian?”


            “Karena saat kau menerima batu itu, kau tidak diambang kematian. Pecahan batu itu datang membantumu dan memilih matamu karena saat itu, matamu terluka dan akan menyebabkan kebutaan. Pecahan batu itu kemudian meninggalkan kekuatannya di dalam matamu dan hanya memberikanmu kemampuan melihat tapi tidak memberikan nyawa padamu. Sedangkan semua orang kecuali Sarayu yang menerima kekuatan dari pecahan batu milikku itu berada di ambang kematian mereka dan kekuatan dari batu itu menjadi penopang nyawa mereka sembari mengabulkan keinginan terdalam mereka di dalam hati mereka.”


            “Keinginan terdalam di dalam hati??” Di dalam benaknya saat ini, Ethan membuat dugaan di dalam benaknya sembari mengingat semua kemampuan dari rekan-rekannya yang telah kehilangan nyawanya.


            “Itu benar. Kau bisa melihat masa depan karena dan mendapatkan kemampuanku melihat masa depan karena di dalam hatimu kau mengatakan bahwa kau ingin mengubah segalanya jika waktu bisa kau ulang kembali.  Kemampuan milikku di dalam pecahan batu itu merespon keinginanmu itu dan akhirnya memilihmu untuk mendapatkan kemampuanku yang bisa melihat masa depan. Hanya saja. . . karena kau manusia biasa yang tidak seharusnya bisa melihat masa depan, kau hanya bisa melihat beberapa potong bagian dari masa depan.”


            “Jadi setelah ini. . . aku akan kehilangan kemampuan melihatku?” tanya Ethan sembari memandang ke arah layar di mana Sarayu sedang menahan pelindung angin miliknya dar gelombang tsunami yang sedang memaksa menghancurkan pelindung milik Sarayu.


            “Ya. Apa kau keberatan??”


            Ethan menggelengkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya. “Tidak. Kemampuan ini, kekuatan ini, sejak awal bukan milikku. Kau meminjamkannya padaku saja, aku sudah merasa senang. Dulu kukira dengan melihat masa depan, aku bisa mengubah banyak hal, aku bisa menghentikan hal-hal buruk yang akan terjadi pada rekanku, pada temanku dan pada orang-orang yang bergantung padaku selama ini. Tapi ada beberapa hal yang ternyata meski aku mengetahuinya, aku tidak bisa mengubahnya.”


            Sosok pria itu kemudian menepuk bahu Ethan untuk memberi penghiburan kepada Ethan atas kesedihan yang melanda Ethan beberapa waktu ini.


            “Melihat mereka mati, aku harap aku bisa mengubahnya. Tapi. . . kematian tetap datang pada mereka dengan cara yang berbeda seolah ingin mengatakan padaku bahwa aku tetaplah manusia meski bisa mengintip masa depan.”


            “Kau sudah bekerja keras, Ethan. Kali ini. . . aku akan mengambil mata ini dan membuat hidupmu tenang lagi tanpa harus mencari cara menghindari masa depan yang mungkin akan terjadi.”

__ADS_1


            Air mata mengalir dari kedua mata Ethan ketika sosok pria itu meletakkan telapak tangannya di atas kedua mata Ethan. Ketika tangan pria itu berada di atas kedua matanya, Ethan merasakan energi hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui matanya. Ethan tadinya mengira melepaskan kemampuan itu dalam keadaan hidup, Ethan akan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tapi nyatanya tidak. Ethan justru merasakan kehangatan yang menenangkan tubuhnya yang tidak pernah Ethan rasakan sebelumnya.


            Samar-samar. . . sebelum kedua matanya kehilangan kemampuannya untuk melihat, Ethan melihat sosok pria itu membawa bulatan cahaya putih dari kedua matanya ke dalam kotak di mana Dylan menyimpan semua pecahan batu yang dimilikinya. Pecahan batu milik Ethan kemudian bergabung dengan batu milik Sarayu dan dengan cahaya itu, batu itu kini terlihat utuh seperti yang pernah Ethan lihat sebelumnya.


            Wushhh. . . batu yang telah kembali ke bentuk semulanya itu kemudian terbang mencari pemiliknya saat ini yang tidak lain adalah Sarayu.


            “Sebagai hadiah perpisahan, aku akan mengatakan sesuatu yang menunggumu di masa depan, Ethan.”


            Kini setelah semua kemampuan Ethan untuk melihat telah benar-benar hilang, sosok pria itu berbisik di telinga Ethan sebelum menghilang lagi seperti sebelum-sebelumnya.


            “Hadiah??”


            “Ya, aku akan memberimu hadiah karena kau sama sekali tidak serakah bahkan ketika kau memiliki kemampuan untuk mengintip masa depan.”            


            “Terima kasih banyak, tapi saya rasa saya tidak pantas untuk menerima hal itu ketika saya adalah orang yang meminjam batu itu dari Tuan.” Ethan merasa dirinya tidak pantas menerima hadiah lagi ketika dirinya menerima terlalu banyak dari pecahan batu itu.


            Setelah mengatakan hal itu, sosok pria itu menghilang begitu saja. Bunyi bising percikan api, bunyi kobaran api, angin yang berembus dan suara gelombang air laut yang mendekat kini terdengar lagi di kedua telinga Ethan. Di saat yang sama, Ethan mendengar suara Sarayu yang memanggil namanya.


            “Tuan Ethan??”


            “Aku mendengarmu, Savior.” Ethan membalas panggilan Sarayu sembari meraba-raba di sekitarnya untuk menemukan sosok Dylan.


            “Kau?? Apa yang terjadi pada kedua matamu, Ethan? Kenapa warna matamu berubah menajdi putih??” Dylan berteriak terkejut ketika melihat kedua mata Ethan yang berubah warna menjadi putih. Dengan cepat Dylan membuka kotak yang selalu dibawanya untuk melihat batu meteor yang seharusnya berada di dalam kotak itu. “Batunya menghilang?? Jangan-jangan kau???”


            “Sssstttttt.” Ethan memberi isyarat kepada Dylan. “Kita bantu Savior lebih dulu. Setelah itu aku akan memberi penjelasan. Bantu aku, Dylan. Jelaskan apa yang kau lihat pada Savior saat ini.”

__ADS_1


            “Tuan Ethan??” Sarayu memanggil lagi.


            “Ya, Savior. Kenapa batu ini ada di sini??”


*


            Setelah mengedipkan matanya, Sarayu membuka matanya dan melihat sebuah batu mengambang di udara di sisinya.  Batu itu kemudian terus mendekat ke arah Sarayu dan tiba-tiba mengalungkan dirinya di leher Sarayu. Hal pertama yang terjadi ketika batu itu tiba, semua energi Sarayu kembali seolah pertarungan sengit yang tadi dilaluinya, tidak pernah terjadi. Lalu tongkat merah milik Sarayu yang tadi telah patah menjadi dua kemudian menyatu lagi dan mengubah warnanya menjadi coklat keemasan.


            “Ruyi!!”


            Sarayu langsung memanggil nama tongkatnya ketika tongkat itu terbang ke tangan Sarayu seolah tidak pernah patah.


            “Savior. . . sekarang, kau bisa menyelamatkan dunia dan membawa kembali perdamaian dunia ini.”


            Dari saluran komunikasi yang terhubung dengan Ethan, Sarayu mendengar suara Ethan yang memberinya instruksi lagi. Tanpa banyak berpikir dan semua tenaganya yang hilang telah kembali dan bahkan luka-lukanya telah sembuh, Sarayu langsung mengangkat kedua tangannya membuat pelindung kubah untuk melindungi semua daratan di belakangnya. Begitu pelindung tebal berhasil di buat, tongkat milik Sarayu kemudian kembali ke tangan Sarayu dan membawanya terbang melewati pelindung miliknya.


            “Apa yang ingin kau lakukan, Ruyi??” Sarayu bertanya pada Ruyi dengan wajah bingung.


            Tidak lama kemudian Ruyi memanjang tubuhnya dengan ukuran tubuh yang sangat panjang dan berat tubuhnya yang maksimal. Sebuah suara muncul di dalam benak Sarayu ketika Ruyi bersiap.


            Belah lautan itu!


            “Suara ini lagi.” Sarayu mengenali suara itu. Tadinya Sarayu ingin bertanya tentang hal itu, tapi Sarayu tidak punya banyak waktu karena gelombang besar tsunami itu terus bergerak, terlebih lagi radiasi yang dibawanya akan membahayakan banyak nyawa.


            Sarayu mengayunkan tongkatnya yang kini berwarna coklat keemasan dan mengarahkannya ke arah lautan dan daratan yang ada di bawahnya. Wushhhhhh. . . . byurrrrrr. . . . . kreekkkkk. . .  seperti apa yang terucap di dalam benak Sarayu, lautan dan daratan yang ada di bawahnya terbelah dan membuat Sarayu yang terbang di atas langit melihat bagaimana inti bumi di dalamnya. Air laut yang membawa radiasi mematikan itu dalam sekejap masuk ke dalamnya dan langsung menguap terkena panas inti bumi yang mengerikan itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2