THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 42 CINTA PERTAMA SARAYU PART 2


__ADS_3

Sarayu’s POV


           Mendengar ucapan Winner tentang sesuatu yang aku miliki itu, aku benar-benar merasa terkejut. Benarkah Redo menyukaiku? Benarkah idola sekolah yang tampan itu jatuh hati padaku yang gadis biasa ini?


           Pertanyaan itu berulang kali berputar di dalam benakku sembari aku melihat senyuman kecil Redo yang sedang melihat diriku di masa lalu.


           Tidak mungkin. Tidak mungkin, Redo menyukaiku.  


           “Tidak mungkin, Redo menyukaiku.” Aku mengatakan kalimat itu kepada Winner sebagai bentuk sanggahan dari ucapannya.


           “Kenapa kamu tidak menyadarinya, Sarayu? Perasaan suka seseorang terkadang tidak bisa dinalar, tidak bisa dilogika. Karena itu adalah cinta, terkadang seseorang yang begitu sempurna jatuh jati kepada seseorang yang memiliki banyak kekurangan. Karena itu adalah cinta, seseorang yang punya segalanya bisa jadi jatuh cinta kepada seseorang yang tidak memiliki apapun. Karena itu adalah cinta, Redo bisa saja jatuh hati padamu. Dan itu adalah yang aku lihat ini.”


           “. . .” Aku menggelengkan kepalaku, masih tidak bisa mempercayai apa yang Winner katakan padaku. Ini tidak mungkin! Redo hanya menggodaku saja. Di matanya, aku hanyalah teman biasa. Tidak lebih dan tidak kurang.


           “Apa yang membuatmu yakin Redo tidak menyukaimu, Sarayu?”


           Sarayu menatap Redo dari kejauhan yang saat ini sedang menggoda Sarayu kecil. “Karena akhir tahun ini, karena di akhir sekolah ini, Redo akan memiliki kekasih dan orang itu bukan aku. Dari kejadian itu, aku tahu bahwa selama itu Redo hanya menganggapku teman saja, Winner.”


           Tiba-tiba waktu yang berada di sekitar Redo dan Sarayu kecil bergerak dengan cepat. Gerakan cepat itu layaknya sebuah film yang diputar dengan percepatan maksimal.


           “Apa yang terjadi??” Winner bertanya dengan bingung melihat gerakan cepat dari semua orang di masa lalu.


           “Aku tidak tahu. Tapi kurasa tujuan kita datang ke tempat ini, sudah mulai terlihat. Hubunganku dengan Redo di masa lalu, sepertinya menjadi alasan kenapa aku berada di sini.” Aku melihat ke arah Winner dengan senyuman kecil. “Dan kau, Winner. Sepertinya hanya sedang sial karena terlibat denganku dan akhirnya terbawa kemari karena aku.”


           Winner terkekeh mendengar ucapanku. “Sepertinya begitu. Tapi. . . bisa melihat bagaimana kau saat masih anak-anak, rasanya tidak cukup sial juga bagiku.”

__ADS_1


           Adegan yang seolah dipercepat tiba-tiba terhenti. Kali ini masa lalu memperlihatkan waktu di mana Redo dan kekasihnya-Nara sedang berbicara.


           “Kau masih begitu menyukai gadis itu, Redo??” Nara berbicara dengan nada kesal kepada Redo. “Bukankah sudah jelas terlihat jika gadis itu-Sarayu hanya menganggapmu sebagai teman?”


           “Benar, aku masih menyukainya, Nara. Bagaimana aku tidak bisa menyukainya jika selama ini aku telah memendam perasaanku padanya? Sudah lebih dari lima tahun, aku jatuh cinta padanya, Nara dan waktu-waktu itu tidak bisa dihapus dengan mudah.”


           Aku dan Winner terkejut mendengar ucapan Redo tentang perasaannya yang tidak pernah aku ketahui di masa lalu.  


           “Aku sudah membantumu dengan berpura-pura menjadi kekasihmu, Redo. Tapi. . .gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan hubungan kita, bukankah itu sudah cukup menjelaskan jika Sarayu sama sekali tidak menyukaimu?”


           Redo terdiam tidak bisa menjawab.


           “. . . Sekarang bisakah kau berikan kesempatan bagiku untuk menjadi kekasihmu yang sesungguhnya, Redo??” tanya Nara menuntut. “Aku sudah cukup membantumu, Redo dan kau berjanji jika Sarayu tidak terganggu dengan hubungan kita, maka kita akan menjadi kekasih yang sesungguhnya. Aku ingin kau tahu, aku benar-benar menyukaimu, Redo.”


           Redo tidak menjawab lagi dan kali ini berjalan pergi, meninggalkan Nara seorang diri.


           Merasa telah melewatkan sesuatu yang penting, aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan Winner begitu saja di atas atap. Aku turun dari atap dan bergegas berlari mengikuti ke mana Redo berjalan pergi setelah meninggalkan Nara-kekasihnya.    


           “Sarayu! Kau benar-benar!”


           Aku mendengar teriakan Winner yang sedang kesal kepadaku. Tapi. . . saat ini, aku hanya ingin melihat ke mana Redo pergi. Aku ingin tahu kenapa Redo rela melakukan tindakan konyol itu hanya demi membuatku mengaku padanya jika aku menyukainya. Aku hanya ingin tahu kenapa Redo yang pintar itu begitu bodoh ketika berhubungan dengan perasaan seseorang.


           “Kau bodoh, Re-“


           Tadinya, aku berniat memaki Redo setelah meninggalkan Nara begitu saja. Tadinya, aku berniat memaki Redo setelah memanfaatkan Nara hanya demi tujuannya. Tadinya, aku berniat memaki Redo karena tindakan bodohnya menyakiti banyak perasaan demi tujuannya. Tapi semua makianku itu terhenti ketika aku melihat Redo menghampiri diriku di masa lalu yang sedang tertidur di tempat persembunyianku sembari mendengarkan musik.

__ADS_1


           Aku ingat betul setiap hari Sabtu di mana hari bebas tidak ada pelajaran sekolah, aku selalu datang ke tempat ini bersama dengan teman-temanku. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang bersama, membaca buku bersama dan makan makanan ringan bersama. Aku menemukan tempat persembunyian ini sejak Redo mulai jadi kekasih Nara-si gadis manis yang nyaris sempurna dan pantas berada di samping Redo yang sempurna.


           Hari ini karena semua temanku harus mengulang ujiannya karena nilai yang buruk, aku berada di tempat persembunyian ini seorang diri. Aku kemudian tidak sengaja tertidur ketika sedang menunggu teman-temanku datang.


           “Kau benar-benar gadis bodoh, Sarayu!” Redo tiba-tiba duduk di samping diriku di masa lalu dan membiarkan kepalaku yang hendak terjatuh, terjatuh di atas pundaknya.


           “Aku memang bodoh,” balasku.


           “Berulang kali aku berusaha untuk mengatakan perasaanku padamu, tapi dalam waktu berulang kali itu, usahaku selalu gagal, Sarayu. Aku tahu kamu menyukaiku, tapi kenapa kamu sama sekali tidak ingin mengakuinya? Begitu sulitkah bagimu untuk mengakui jika kau menyukaiku? Begitu sulitkah untuk menerima kenyataan bahwa kau dan aku saling menyukai? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu menyesal terlahir dengan semua kelebihan yang aku miliki.”


           Tanpa kuduga, air mataku menetes ketika mendengar ucapan Redo kepada diriku di masa lalu yang sedang tertidur dengan nyenyak sembari mendengarkan musik di kedua telinganya.


           “Pertama kali aku bertemu denganmu, lima tahun yang lalu. Hari itu kebetulan sekolahmu dan sekolahku menggunakan lapangan di luar sekolah di saat yang sama. Hari itu aku melihatmu mendorong teman-temanmu untuk terus berlari, saat mereka semua sudah nyaris putus asa. Hari itu tanpa kamu sadari, aku mulai tertarik padamu.”


           Aku menutup mulutku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.


           “Pertemuan kedua kita adalah saat aku tidak sengaja melarikan diri dari rumah karena terlalu kesal dengan ibuku yang selalu mengkhawatirkan aku. Karena sakit yang aku miliki sejak kecil, ibuku selalu bersikap hati-hati padaku. Aku tidak pernah bisa bermain di luar ketika hujan turun dan ketika aku pertama kalinya melakukan hal itu, aku melihatmu yang juga sedang bermain hujan-hujanan di depan sekolahmu sembari menunggu jemputanmu.”


           Air mataku mengalir lebih deras lagi ketika mendengar ucapan Redo mengenai pertemuan kecil kami yang tidak pernah aku sadari sebelumnya.


           “Setelah itu, setiap harinya aku akan selalu menyempatkan waktuku untuk melihatmu di saat kamu pulang. Dua tahun kemudian kebahagiaan datang padaku ketika aku menemukan kamu dan aku, akhirnya berada di satu sekolah dan satu kelas. Kukira. . . kita akan bisa menjadi teman dengan mudah, tapi nyatanya tidak. Mendekatimu adalah sesuatu yang berat dan penuh rintangan. Menarik perhatianmu bahkan lebih sulit dari pada mengerjakan ujian. Karena itu, demi mendapatkan perhatianmu, aku akhirnya membuatmu kesal padaku.”


           Winner entah bagaimana akhirnya bisa turun dari atap dan menyusulku. Winner yang berhasil menyusulku kemudian melihatku yang sedang berlinang air mata melihat Redo yang sedang berbicara dengan diriku yang sedang tertidur di masa lalu.


           “Seperti yang sudah kamu duga, usahaku itu berhasil dan akhirnya kamu mulai melihatku seperti aku melihatmu selama ini, Sarayu.”

__ADS_1


           Air mataku tak henti-hentinya mengalir mendengarkan pengakuan Redo yang terlewatkan olehku di masa lalu.


           “Kurasa. . .” Winner mendekat ke arahku dan menepuk pelan bahuku. “Alasan kita kemari adalah melihat pengakuan yang kamu lewatkan ini, Sarayu.” 


__ADS_2