
“Apa kau bisa melakukan ini, Sarayu?” Sosok pria itu kembali mengayunkan tongkat keemasan miliknya dan sekali lagi menebas daratan di mana Sarayu berpijak tanpa menyentuhnya.
“Bagaimana kamu bisa menebas daratan hanya dengan mengayunkan tongkat itu??” Sarayu bertanya karena tidak bisa mengerti dan memahami apa yang sedang dilakukan oleh pria asing itu.
“Kau ingin bisa melakukan ini, Sarayu??”
Sarayu menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Maka pelajarilah sekarang! Hal yang istimewa bagimu untuk bisa bertemu denganku dan melihat betapa hebatnya diriku ini.” Pria itu tersenyum bangga membanggakan dirinya kepada Sarayu. Namun sekali lagi, Sarayu masih tidak bisa melihat wajah dari pria itu karena kabut tebal yang menutupi lebih dari separuh wajahnya dan hanya menyisakan bibirnya yang selalu tersenyum untuk menggambarkan ekspresinya.
Sarayu mencoba melakukan apa yang sosok pria itu lakukan, tapi sekali lagi tongkat merahnya hanya berayun biasa tanpa menebas apapun di dekatnya. Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan. Bagaimana caranya membuat tongkat di tanganku ini menebas apapun yang terkena ayunannya??
Ssarayu menatap tangan sosok pria di depannya dan kemudian melihat aliran angin mengalir dari tangan pria itu ke tongkat keemasan miliknya. Tangannya mengalirkan angin kepada tongkatnya?? Mungkinkah dia bisa melakukan apa yang aku bisa? Mengendalikan angin dengan kedua tangannya?
Merasa mendapat jawaban untuk pertanyaannya, Sarayu mulai mencoba mengalirkan angin yang dapat dikendalikannya dari salah satu tangannya kepada tongkat merah miliknya. Setelah merasakan tongkat merah miliknya menerima angin dari tangannya, Sarayu mulai mengayunkan tongkat merahnya itu dan wusshhhhh. . .. .
Sarayu melihat ke arah tongkatnya berayun dan menemukan bahwa tempat di mana tongkat berayun itu memberikan goresan yang dalam, meski tidak sampai memotong dan menebas seperti tongkat milik sosok pria itu.
Prok. . . prok. . .
Sarayu menatap ke arah pria itu dan melihat pria itu bertepuk tangan untuk dirinya. “Apa arti dari tepuk tangan itu?”
“Tepuk tangan?? Tentu saja tepuk tangan ini adalah ungkapan perasaan senang dariku karena kau sudah sedikit memahami apa yang bisa aku lakukan dengan angin yang bisa aku kendalikan.”
Sarayu menatap sengit ke arah pria itu karena merasa sedikit tidak senang dengan tepuk tangan itu. Kenapa dia justru merasa senang ketika aku mulai memahami apa yang bisa dilakukannya? Bukankah ini aneh? Dia harusnya merasa kesal karena aku mulai meniru apa yang dilakukannya?
Pria itu bergerak lagi ke arah Sarayu, menerjangnya dan kemudian mengayunkan kembali tongkatnya. Beruntung. . . Sarayu yang masih merasa harus waspada dengan keadaannya, bisa menghindari ayunan dari tongkat itu.
Nyaris saja, pikir Sarayu.
Pria itu bergerak lagi dan kali ini, Sarayu tidak lagi mengambil posisi bertahan dan mengambil posisi menyerang dengan niat mengalahkan sosok pria yang terus menyerangnya itu. Pria itu mengayunkan tongkatnya dan Sarayu pun membalasnya dengan mengayunkan tongkat merah miliknya.
Wussssshhhhh. Dua ayunan tongkat dengan angin tajam yang dibawanya bertemu dan saling menebas satu sama lain. Dua angin itu memang bertemu satu sama lain dan saling menebas satu sama lain. Akan tetapi kekuatan angin milik Sarayu lebih lemah dari milik sosok pria itu, membuat angin milik Sarayu hancur dengan mudahnya.
__ADS_1
Sarayu langsung bergerak menghindari angin milik pria itu yang kini mendatangi dirinya setelah menebas angin miliknya. Sarayu mengayunkan tongkat miliknya lagi, untuk menebas angin yang datang itu. Wusssh. . .
Kali ini Sarayu yang lebih berkonsentrasi mengatur angin miliknya yang disalurkannya kepada tongkatnya, berhasil menghentikan angin milik pria itu yang mendatangi dirinya. Senyuman muncul di bibir Sarayum karena berhasil menghentikan angin milik pria itu. Akan tetapi senyuman Sarayu itu tidak bertahan lama ketika mata Sarayu menatap pose aneh dari pria itu.
Sosok pria itu melepaskan tongkat di tangannya. Tangan kirinya diarahkannya ke depan sementara tangan kanannya di tariknya ke arah belakang. Melihat pose itu, Sarayu mengenali gerakan itu: gerakan yang dibuat pemanah saat hendak melepaskan anak panahnya.
Melihat pose itu, Sarayu merasakan firasat buruk di dalam benaknya dan berniat untuk menghindari arah yang dituju oleh panah itu. Namun. . . gerakan Sarayu sepertinya terbaca dengan mudah oleh pria itu dan pria itu melepaskan anak panah yang langsung mengenai lengannya.
Wushhhhhhh. . .. buk.
Sarayu terlempar sejauh ratusan meter dari tempatnya berada sebelum akhirnya terjatuh dengan tangan kanannya yang terluka karena anak panah angin yang mengenainya.
“Sial.” Sarayu mengumpat kesal merasakan tangan kanannya yang terluka. Tidak terima dengan tangannya yang terluka, Sarayu memindahkan tongkat merahnya ke tangan kirinya dan kali ini mengayunkan tongkatnya dengan tangan kirinya. Sarayu menyerang berulang kali ke arah pria itu, tapi pria itu dengan mudah membalas serangan Sarayu. Bahkan pria itu tidak bergerak dari tempatnya semula ketika Sarayu harus berusaha keras untuk menyerangnya.
“Sial.” Sarayu mengumpat lagi. Sarayu benar-benar kesal karena dia telah mengerahkan semua usaha dan tenaganya, tapi sosok pria itu dengan mudahnya menahan semua serangan darinya.
“Kenapa kau sudah lelah untuk mengalahkanku? Jika kau kalah di sini, maka kau tidak akan mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaanmu, Sarayu??” goda pria itu sembari mengayunkan tangannya membalas ayunan tongkat Sarayu yang menyerang dirinya.
Sarayu mengumpulkan semua angin yang bisa dikumpulkannya dengan tangan kirinya dan membuat semua angin itu berkumpul ke tongkat merah miliknya. Sarayu hendak melakukan tebasan tajam menggunakan tangan kirinya itu untuk mengalahkan sosok pria itu. Sarayu bergerak lagi, berlari lebih kencang, menyerang pria itu dengan mengumpulkan semua angin pada tongkat merahnya. Sarayu berharap kali ini, serangannya akan berhasil mengenai pria itu. Setidaknya. . . itulah yang ada dalam benak Sarayu saat ini.
Wussshhhhhhh. . .
Ayunan dari tongkat merah milik Sarayu berhasil menebas angin milik pria itu hanya dengan satu tebasan. Angin itu kini mendekat ke arah pria itu dan bersiap untuk melukai sosok pria itu. Sarayu tersenyum menantikan kemenangan miliknya.
Namun sesuatu di luar pikiran Sarayu terjadi.
Pria itu membuat dinding perisai angin seperti miliknya dan menahan angin milik Sarayu. Tapi sekali lagi. . . angin Sarayu masih tidak bisa dihentikan.
“Kau pikir akan menang dengan mudah setelah meniru serangan milikku??” Pria itu tersenyum kembali pada Sarayu, seolah dirinya tidak memiliki rasa takut sekalipun dengan angin Sarayu yang masih tidak terhentikan.
Pria itu bergerak mundur dan kemudian membuat dinding pelindung angin secara berlapis-lapis dan berkat lapisan-lapisan itu, angin milik Sarayu berhasil dihentikan dengan mudah.
“Masih terlalu cepat untuk mengalahkanku, Sarayu!!”
__ADS_1
Sarayu yang kesal dengan ejekan pria itu kemudian melakukan pose yang sama dengan pria itu. Sarayu memaksa tangan kanannya yang terluka dan menariknya ke belakang, sementara tangan kirinya mengarah ke depan. Sarayu mengambil posisi tubuh pemanah yang hendak melepaskan anak panahnya. Sekali lagi. . . Sarayu mengumpulkan semua angin yang bisa dikumpulkannya dengan tangannya kanannya dan membuat angin itu berbentuk seperti anak panah.
“Jika kau bisa melakukan hal ini, maka aku pun juga pasti bisa!!” Sarayu membalas ejekan pria itu.
Wussshhhhhhhh. . . . anak panah yang dilepas Sarayu bergerak menuju ke arah dinding pelindung angin milik pria itu.
Krek. Satu lapisan dinding pelindung hancur.
Krek. Lapisan kedua dinding pelindung hancur.
Krek. Lapisan ketiga dinding pelindung hancur.
Berkat anak panah angin dengan ujung yang tajam, panah angin milik Sarayu berhasil menembus enam dari tujuh lapisan dinding pelindung angin milik pria itu.
Krek, lapisan keenam dinding pelindung hancur.
Hanya satu dinding pelindung lagi, pikir Sarayu.
Akan tetapi sekali lagi sosok pria itu tersenyum lagi kepada Sarayu, seolah ingin mengatakan pada Sarayu bahwa menang darinya adalah hal yang tidak mudah dilakukan.
Pada dinding pelindung terakhir pria itu mengangkat tangan kirinya dan membuat dinding pelindung angin itu membeku dan mengeras layaknya es.
Wussshhhhh. . . anak panah angin milik Sarayu langsung hancur lebur begitu menabrak dinding angin yang telah membeku karena perbuatan pria itu.
Bagaimana dia bisa melakukannya? Fifth yang punya kemampuan mengendalikan air saja tidak mampu membuat air yang dikendalikannya membeku, lalu bagaimana pria itu bisa membekukan dinding pelindung angin miliknya?
Ketika Sarayu bertanya-tanya karena terkejut dengan perbuatan pria itu dan kehebatan yang dimilikinya, pria itu telah bergerak mendekat ke arah Sarayu tanpa disadari oleh Sarayu. Pria itu menyentuh kepala Sarayu dan berkata, “Masih terlalu cepat bagimu untuk mengalahkanku, Sarayu. Kali ini kau gagal, maka jawaban yang kau inginkan tidak akan kuberikan. Sekarang. . .saatnya kau bangun dari tidurmu dan lain kali kita akan bertemu lagi.”
“Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu!!” Sarayu berusaha melepaskan tangan pria itu dari kepalanya.
“Kita pasti akan bertemu lagi, Sarayu!! Kamu masih punya banyak tugas yang menunggumu. Sekarang kembalilah, Sarayu!!!”
__ADS_1