
“Dari banyak waktu, dari banyak tempat, kenapa kita harus berakhir di sini?” Sarayu tiba-tiba mengubah tatapannya dan menatap ke arah bangunan sekolah lamanya.
“Benar. Kenapa dari banyak waktu, dari banyak tempat, kita harus terlempar ke sini?” Winner yang sudah sangat kesal karena merasa dirinya kalah dengan anak laki-laki dari masa lalu Sarayu, menyetujui pertanyaan yang diajukan oleh Sarayu.
Mungkinkah ada alasan lain kenapa aku dan Winner terlempar kemari? Waktu ini, tempat ini, apa yang spesial dari masa lalu ini? Sarayu menatap bangunan lama sekolah lamanya dan kemudian memikirkan sesuatu dalam benaknya.
“Ruyi!” Sarayu tiba-tiba memanggil tongkat merah miliknya.
“Kenapa memanggil tongkatmu itu?” Winner melihat ke arah tongkat merah milik Sarayu yang tiba-tiba muncul di tangan kanan Sarayu.
“Maaf.” Sarayu tiba-tiba mengatakan kata maaf dan membuat Winner bingung. Tidak lama kemudian Sarayu merangkul bahu Winner dengan tangan kirinya sebelum memberi perintah lagi kepada tongkat merah miliknya. “Ruyi, memanjang!”
Dalam sekejap tongkat merah milik Sarayu memanjang dan membuat Sarayu bersama dengan Winnner bergerak naik ke atas.
“Aaahhhhhhhh.” Winner berteriak keras karena rasa terkejutnya akibat tindakan tiba-tiba dari Sarayu yang membawanya naik ke atas.
Huph. Sarayu melepaskan genggamannya di tongkat merah miliknya dan kemudian melompat turun ke atap di bangunan sekolah lama Sarayu yang terdiri dari dua tingkat. Sarayu langsung melepaskan rangkulannya di bahu Winner dan memberi ruang untuk Winner berusaha mengatur otaknya yang sedang terkejut.
“Ke-kenapa tidak memberi aba-aba lebih dulu, Bahram???”
“Akan merepotkan jika kau menolak naik jika aku memberi aba-aba lebih dulu.” Sarayu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada tongkat merahnya untuk kembali ke telinganya. Setelah melakukan itu, Sarayu duduk dengan tenang dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di bawah. “Dari tempat ini, dari ketinggian ini, kita dapat dengan mudah memperhatikan apa yang sedang terjadi di bawah. Mungkin dengan memperhatikan dari sini, kita bisa menemukan alasan kenapa hanya kita berdua yang terdampar di sini?”
“Kita berdua??” Setelah mengatur otaknya untuk beradaptasi, Winner kemudian duduk di samping Sarayu.
__ADS_1
“Ya, kita berdua. Jika Sixth dan Second ada di sini, mungkin aku sudah melihat mereka. Tapi aku tidak melihat tanda-tanda keduanya, bisa jadi keduanya terlempar ke waktu yang lain, tempat yang lain atau bahkan berhasil sampai di markas Pasukan Perdamaian Dunia.”
“Jika dua orang itu kembali dengan selamat ke markas yang kamu maksud, maka itu artinya kesialan ini hanya jatuh kepada kita berdua. Ketika bertemu dengan dua orang itu, bisakah aku memukul mereka untuk menyalurkan rasa kesalku?”
Sarayu memandang tajam ke arah Winner. “Ini salahmu sendiri, Winner. Harusnya kamu tidak melompat dari kapal dan kembali bersama dengan kru yang lain. Jika kamu melakukannya, mungkin saat ini kamu sudah berada di hotel yang nyaman sembari memakan makanan yang lezat.”
“Itu mungkin benar.”
Sarayu mengalihkan pandangannya dari Winner, kembali menatap ke bawah di mana waktu di masa lalu sedang berjalan. “Lalu apa alasanmu melompat dari kapal dan menyusahkan dirimu sendiri, Winner? Ini bukan kau yang kukenal selama ini.”
“Lalu bagaimana Winner yang kamu kenal selama ini?” Winner iseng bertanya karena ingin tahu bagaimana pendapat Sarayu tentang dirinya.
“Kamu serius bertanya hal itu padaku?”
Winner menganggukkan kepalanya. “Tentu saja, aku serius. Kau teman lamaku, jadi tidak ada salahnya aku bertanya padamu pendapatmu tentang aku.”
Mulut Winner terbuka lebar ketika mendengar pendapat Sarayu tentang dirinya. “Apakah tidak ada yang bagus? Kenapa rasanya aku terkesan buruk di matamu.”
Sarayu melirik ke arah Winner dengan senyuman kecil di bibirnya. “Hahahah. Itu adalah kesan pertamaku terhadapmu, Winner. Kesan pertama ketika aku bertemu pertama kali denganmu di kampus, di kuliah bersama.”
“Lalu bagaimana dengan sekarang?” Winner bertanya karena tidak sabar dan sangat penasaran.
“Kau orang yang baik. Meski terkenal, kau tidak memandang orang lain dengan popularitas mereka. Lalu. . . kau penyayang. Aku bisa melihatnya dari caramu menyayangi manajermu. “
__ADS_1
“Hanya itu saja?” Winner merasa tidak terima dengan gambaran dari Sarayu yang dianggapnya terlalu sederhana.
“Apa lagi yang kau inginkan??”
“Bagaimana dengan wajahku? Apakah aku tampan? Jika dibandingkan dengan anak laki-laki bernama Redo itu, siapa yang tampan? Aku atau Redo?”
“Redo.” Sarayu menjawab tanpa sedikit pun berpikir.
“Kenapa??” Winner sekali lagi merasa tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh Sarayu tentang ketampanannya yang kalah dari Redo. “Kenapa bukan aku?? Apa yang kurang dariku??”
“Cih, kenapa kamu tidak terima, Winner? Ketampanan seseorang itu bersifat subyektif. Jika kau bertanya pada penggemarmu siapa yang paling tampan antara kau dan Redo, penggemarmu pasti akan menjawab dengan dirimu. Aku menjawab Redo, karena aku bukan penggemarmu, Winner dan di mataku memang Redo lah yang paling tampan.”
“Huft.” Winner mengalihkan matanya dari Sarayu dan melihat ke bawah di mana Redo dan Sarayu kecil asyik berjalan bersama dan sesekali saling bertemu tatap. “Lalu bagaimana dengan kisah kasih di sekolah yang kita lihat ini? Apakah akhirnya Redo dan Sarayu kecil akan bersama dan menjalin hubungan?”
“Tidak.”
Winner yang baru saja mengalihkan pandangannya dari Sarayu, kembali menatap Sarayu dengan tatapan terkejut. “Drama apa lagi ini? Jangan katakan jika kisah kasih yang aku lihat saat ini memiliki akhir yang tragis??”
Sarayu menganggukkan kepalanya. “Memang itulah yang terjadi. Aku dan Redo akhirnya berpisah tanpa sempat mengungkapkan perasaan masing-masing. Berada di samping Redo yang merupakan idola sekolah dan dipuja oleh banyak gadis, membuatku merasa rendah diri. Aku yang berusia 15 tahun hanyalah gadis biasa dengan latar belakang keluarga biasa, kecantikan yang biasa dan kemampuan otak yang biasa. Sedangkan gadis-gadis yang mengejar Redo, kebanyakan mereka semua adalah gadis cantik, gadis pintar dan juga gadis dengan latar belakang keluarga yang baik dan kaya. Jika dibandingkan dengan mereka, aku bukan lawan mereka.”
Winner menatap dari kejauhan bagaimana Redo berulang kali mencuri pandang ke arah Sarayu kecil. Senyuman kecil akan muncul di bibir Redo ketika menatap senyuman Sarayu kecil. Winner menggelengkan kepalanya beberapa kali karena merasa tidak mengerti. “Kenapa kau merasa rendah diri, Sarayu?? Dari tempatku melihat sekarang, kau mungkin tidak memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan gadis-gadis yang sedang mengejar Redo itu. Tapi dari tempatku melihat sekarang, aku pastikan kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak gadis yang mengejar Redo saat ini.”
Sarayu menatap Winner. “Dan apa yang hanya aku miliki dan tidak dimiliki oleh gadis-gadis lain yang mengejar Redo??”
__ADS_1
“Kau punya cinta Redo. Bagaimana pun aku melihatnya, Redo itu menyukaimu. Bibir Redo tersenyum ketika melihatmu. Sinar Redo terlihat hidup ketika melihatmu tersenyum. Wajah Redo memerah ketika tidak sengaja bertemu tatap denganmu dan Redo akan tertawa dengan tawanya yang menawan hanya karena melihatmu kesal karena dirinya.” Winner menunjuk ke arah Redo yang saat ini sedang diam-diam memperhatikan Sarayu kecil dari tempatnya berdiri. “Bagaimana pun aku melihatnya, Sarayu, Redo itu menyukaimu. Dia menyukaimu tanpa melihat semua kekuranganmu, dia menyukaimu apa adanya.”
Dia menyukaimu apa adanya sama seperti aku. Winner menambahkan kalimatnya, hanya di dalam benaknya karena tidak berani mengutarakan perasaannya. Bahkan setelah bertahun-tahun terlewati, bahkan setelah banyak mata, banyak kamera tertuju padanya, bahkan setelah banyak hal buruk yang terjadi, Winner masih tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Sarayu-sama seperti ketika dirinya masih kuliah dan menjadi teman Sarayu.