THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 76 SERANGAN NUKLIR PART 2


__ADS_3

 


            Ethan menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Winner, didasarkan pada cerita kecil Winner tentang perjalanan waktu Sarayu baru-baru ini. Ethan memang setuju dengan apa yang Winner katakan tapi jika keadaannya berbeda.


            “Aku setuju dengan ucapan Mr Winner. Tapi keadaan mereka berdua sekarang tidak semudah kelihatannya, Mr Winner.”


            Winner menatap Ethan dengan wajah serius. “Jadi. . . pertanyaan mengenai pria bernama Redo itu bukan sembarang pertanyaan?? Redo benar-benar muncul sekarang??”


            Ethan menganggukkan kepalanya. “Dia ada di sekitar Savior dan Savior tidak menyadari hal itu. Tadinya. . . kupikir jika hubungan mereka hanya sebatas kenalan atau teman satu sekolah, pertemuan mereka dan kemunculan Redo mungkin tidak akan berdampak besar bagi Savior. Sayangnya. .. hubungannya dengan Savior yang cukup dalam dan membekas itu akan membuat Savior nantinya berada dalam bahaya.”


            Winner mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Ethan. “Saya tidak mengerti, Mr Zero. Apa maksudnya dengan pertemuan mereka yang akan membuat Sarayu dalam bahaya?”


            “Saya akan menjelaskan hal ini tapi. . . berjanjilah padaku bahwa Tuan akan merahasiakan hal ini sampai aku membuka mulutku sendiri dan mengatakannya kepada Savior?”


            Winner menggelengkan kepalanya karena tidak sanggup menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dijanjikannya. Winner tahu dengan baik Sarayu harus menemui Redo untuk menyelesaikan kesalahpahamannya di masa lalu dan Winner tidak ingin Sarayu terus dibayangi oleh Redo seumur hidupnya karena merasa bersalah kepadanya.


            “Jika saya harus berjanji, maka saya tidak akan mau berjanji. Jadi lebih baik, Tuan tidak memberitahu saya mengenai Redo. Hal ini akan lebih baik dan lebih aman bagi Tuan.”


            Ethan tersenyum mendengar jawaban bijak dari Winner. “Baiklah ka-“


            Secara tiba-tiba kedua mata Ethan berkedut dengan sangat keras dan terasa begitu menyakitkan. Di saat yang sama sebuah penglihatan muncul di dalam benak Ethan dan memperlihatkan gambaran yang pernah dilihat oleh Ethan sebelumnya.


            Larilah, Savior!


            Selamatkan dirimu, Savior!


            “Ethan, berapa jarak gelombang itu dengan daratan??”


            “Meski berulang kali kau mengatakan padaku untuk pergi menyelamatkan diri, aku tidak akan pergi, Ethan. Ini tugasku. Ini pilihanku. Aku ada di sini karena aku memilih untuk menjadi penyelamat dunia ini. Sekarang. . . gelombang tsunami tiba-tiba muncul di samudra Hindia karena bom nuklir yang tidak sengaja jatuh. Jika air laut yang membawa radiasi bom nuklir itu mencapai daratan apa yang terjadi dengan orang-orang di belakangku? Mereka semua pasti akan mati, Ethan.”


            Penglihatan yang pernah muncul itu kembali muncul lagi dan membuat Ethan merasakan firasat buruk dalam waktu singkat.


            “Tidak.”

__ADS_1


            Winner yang berada di samping Ethan dan melihat Ethan kesakitan sambil berteriak, membuat Winner langsung gugup dan khawatir. “Apa yang terjadi, Mr Zero? Apa Tuan baik-baik saja? Perlukah saya memanggil seseorang??”


            Sementara Winner gugup ketakutan karena khawatir dengan keadaan Ethan, penglihatan yang pernah dilihat oleh Ethan kini berlanjut. Namun kali ini penglihatan itu memperlihatkan gambaran yang berbeda dari sebelumnya. Ethan ingat dengan jelas bagaimana gambaran sebelumnya muncul di dalam benak Ethan.


            “Aku tahu kau meragukanku, Ethan. Aku tahu kau ragu karena lebih dari siapapun kau berharap aku selamat. Tapi keselamatan banyak orang lebih penting dari pada keselamatan aku seorang, Ethan. Jadi. . . jika ingin membantuku sekarang, kau bisa lakukan satu hal, Ethan. Kau tahu dengan baik, aku benar-benar bodoh soal perhitungan. Jadi katakan padaku berapa ketinggian gelombang itu dan berapa ketinggian pelindung angin yang harus aku buat? Berapa ketebalan pelindung angin yang harus aku buat agar bisa menahan gelombang air laut sebesar itu, Ethan? Kumohon.”


            Ethan ingat dengan jelas gambaran itu menggambarkan bagaimana putus asanya Savior ketika menghadapi bahaya tsunami yang mampu merusak segala hal dan membunuh manusia yang diterjangnya. Ethan ingat dengan jelas gambaran itu.


            Tapi kali ini gambaran yang muncul di dalam benaknya karena kemampuan kedua matanya memberi gambaran yang berbeda. Ethan melihat Savior yang berdiri menangis di saat berusaha menyelamatkan manusia dan dunia. Di sisi kanan Sarayu muncul batu hitam yang pernah Ethan lihat dalam mimpinya dan batu itu yang harusnya dalam keadaan terbagi menjadi beberapa bagian, kini mulai kembali ke bentuk semulanya.


            “Tidak! Tidak! Aku tidak pernah ingin akhir yang seperti ini! Kenapa dari sekian banyak orang, harus aku yang berada di sini dan melihat pemandangan mengerikan ini?? Batu in, kekuatan ini, aku tidak pernah menginginkannya.”


            Ethan mendengar rintihan kesedihan Sarayu yang berusaha keras menahan gelombang tsunami yang membawa radiasi nuklir dengan sekuat tenaga. Ethan melihat bagaimana wajah Sarayu yang begitu bersedih ketika batu hitam itu bergerak di sisinya dan sepertinya sedang memilih Sarayu sebagai pemiliknya.


            “Mr Zero???” Winner terus memanggil-manggil nama Ethan berulang kali. Namun dalam panggilan itu. . . Ethan tidak memberikan responnya karena dirinya sedang mengintip gambaran masa depan yang sedang menunggunya.


            Winner yang merasa bahwa keadaan dan situasi ini mungkin membahayakan bagi Ethan, segera menghubungi siapapun yang bisa mendengar panggilannya.


            “Siapapun mohon kemari! Terjadi sesuatu dengan Mr Zero!”


            “Ethan!!” Dylan berteriak dengan kencang ketika tiba di tempat Winner dan Ethan berada. “Apa yang terjadi padanya??”


            Tidak lama kemudian Sixth bersama dengan Third muncul setelah mendengar panggilan darurat yang dibuat Winner.


            “Apa yang terjadi pada Zero??” tanya Sixth.


            Tidak seperti Sixth dan Dylan yang langsung mencecar Winner dengan pertanyaan, Third langsung memeriksa denyut nadi dari Ethan.


            “Bagaimana Third??” tanya Dylan khawatir.


            “Zero baik-baik saja. Denyut jantungnya normal.”


            Setelah keributan yang dibuat Dylan, Sixth dan Winner, Ethan yang sempat membeku dan tidak memberikan respon kemudian mulai menggerakkan matanya dan memandang ke arah orang-orang yang sedang menatapnya dengan cemas.

__ADS_1


            “Ethan?? Apa yang terjadi??”


            Ethan masih terdiam mendengar pertanyaan dari Dylan. Kedua matanya menatap ke arah Sixth dan Third yang berada di samping Dylan. Tiba-tiba saja air mata mengalir dari kedua mata Ethan dan membuat empat orang yang berada di depan Ethan langsung kebingungan.


            “Ethan, katakan padaku! Apa yang terjadi? Apa kau mendapat gambaran masa depan lagi? Kali ini apa yang kau lihat??” Melihat air mata yang mengalir di kedua mata Ethan, Dylan langsung bisa menebak apa yang baru saja terjadi pada Ethan.


            Ethan masih terdiam dan masih tetap meneteskan air matanya, tanpa bisa memberikan jawaban yang jelas bagi Dylan.


            Dylan yang sudah hampir kehilangan kesabarannya, akhirnya mengguncang tubuh Ethan dengan tujuan membuatnya cepat sadar dari gambaran masa depan yang dilihat Ethan. “Ethan, jangan diam saja! Katakan apa yang kau lihat di masa depan!! Jangan buat kami ketakutan dan khawatir,  Ethan!!”


            “Masa depan berubah, Dylan.”


            “Apa yang berubah? Apa yang kau lihat di masa depan, Ethan?” Dylan bertanya lagi.


            “Harga perdamaian dunia dan perang ini adalah harga yang sangat mahal, Dylan.”


*


            Di markas Knight Arael.


            “Tuan, semua persiapan sudah selesai.” Knight Two datang ke ruangan pribadi milik Knight One dan langsung memberi kabar kepada Knight One tentang rencana mereka.


            “Kalau begitu. . . besok pagi, siapkan semua unit dan kita akan memulai perang yang sesungguhnya untuk mendapatkan dunia ini!”


            “Baik, Tuan.”


            “Malam ini. . . biarkan semua orang tertidur dan beristirahat karena besok adalah hari yang berat dan awal dari revolusi Aliansi Arael.”


            “Saya mengerti, Tuan.”


            Setelah memberikan laporan penting, Knight Two keluar dari ruangan Knight One dan meninggalkan Knight One seorang diri di ruangannya. Knight One menatap data informasi Knight Five dan informasi milik Sarayu yang berada di atas mejanya.


            “Besok kita akan bertemu lagi, Sarayu. Dan besok ketika kita bertemu, aku penasaran pilihan apa yang akan kau ambil? Cinta pertamamu atau dunia ini?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2