
Dylan berlari dengan sangat kencang karena panggilan darurat yang dibuat oleh Forth dan Eighth di tengah-tengah rapatnya. Sejak bekerja bersama dengan Ethan, sejak penemuan pecahan meteor yang disebut dengan God’s Blessing, Dylan yang tidak pernah berlari karena dianggap membuang-buang tenaganya, kini berulang kali terus berlari. Berbagai alasan muncul dan membuat Dylan harus berlari, seperti saat ini.
“A-apa yang terjadi?” Dylan berteriak begitu tiba di ruangan di mana Ethan dan Seventh dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dylan melihat Third sedang sibuk mengobati Ethan dan Seventh, sementara tubuhnya sendiri terlihat sangat pucat. Di samping Third, berdiri Ninth yang bertugas untuk membantunya karena keadaan Third sendiri yang sudah kurang baik karena kelelahan. “Kenapa Ethan tidak sadarkan diri lagi, Third?”
“Tuan Ethan melihat sesuatu secara tiba-tiba lagi dan tiba-tiba ambruk begitu saja,” balas Third. “Forth bahkan mengirimkan Ninth kemari untuk membantuku memindahkan tubuh Tuan Ethan dan Seventh ke ruang perawatan.”
“Bagaimana dengan keadaanmu sendiri, Third? Selama dua belas hari ini, kau tanpa henti terus mengobati banyak orang.”
“Berkat Ninth, saya sedikit bisa beristirahat, Tuan Dylan.” Third melihat ke arah Ninth yang kini sibuk menjaga Seventh dan Ethan menggantikan dirinya.
“Lalu apa yang Ethan katakan sebelum dia kehilangan kesadarannya??” Dylan ingat dengan baik, Ethan selalu mengatakan sesuatu ketika secara tiba-tiba kemampuannya membuatnya melihat penglihatan yang tidak diperkirakannya.
“Savior akan tertangkap oleh Knight One, Tuan.”
“Apa????” Dylan melihat ke arah Third dengan tatapan terkejut dan tidak percaya, “Apa aku tidak salah dengar?”
Third menggelengkan kepalanya. “Tidak, Tuan.”
“Forth, Eighth!” Melalui saluran komunikasi, Dylan memanggil dua orang yang bertugas untuk selalu memantau jalannya perang.
“Ya, Tuan. Kami mendengarkan.” Forth dan Eighth menjawab secara bersama-sama.
“Bagaimana situasi di medan perang sekarang?”
“Buruk, Tuan.” Eighth menjawab lebih dulu.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa situasinya tiba-tiba saja berbalik dalam waktu singkat??” Dylan benar-benar tidak percaya jika ahli strategi yang selalu membawa kemenangan pada Pasukan Perdamaian Dunia mengatakan kata ‘buruk’ dari mulutnya.
Ethan kemudian menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi di medan perang saat ini hingga alasan situasi yang awalnya berpihak kepada Aliansi Ingmar kini berubah dan berpihak kepada Aliansi Arael.
“Ini tidak bisa dipercaya!” Dylan kemudian mendekat ke arah Ethan yang sedang tidak sadarkan diri. “Ethan, bangun sekarang! Kau tidak bisa tidur sekarang ketika anak buahmu sedang dalam bahaya!!! Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Savior adalah penyelamat di masa depan, jika begitu dia tidak akan tertangkap oleh Knight One?? Kenapa penglihatanmu mengatakan hal yang berbeda, Ethan??? Ethan! Bangun dan jelaskan pada kami sekarang juga!!!!”
Mendengar teriakan Dylan yang putus asa melihat Sarayu kini berada dalam bahaya, Ethan perlahan muai membuka matanya.
__ADS_1
*
“Apa yang terjadi???” Sixth terkejut mendapati dirinya gagal berpindah lokasi di mana saat ini Sarayu dan Fifth sedang melawan Knight dari Aliansi Arael.
“Kenapa kita kemari, Sixth?” First yang merasa aneh dengan Sixth membuka mulutnya dan bertanya kepada Sixth.
“Dinding ini. . .aku tidak bisa melewatinya, First.” Sixth menyentuh dinding yang terlihat seperti dinding biasa ketika mata melihatnya.
“Apakah dinding ini tadi ada di sini?” Kali ini giliran Second yang bertanya kepada Sixth,
“Tidak. Saat aku tadi datang dan membawa Seventh, dinding ini tidak ada.”
“Jika begitu. . . dinding ini pasti ulah Knight Three.” First berusaha menyimpulkan. “Dilihat dari bentuknya, dinding ini mirip dengan dinding buatan Seventh. Hanya saja. . . alasan kita tidak bisa melewatinya, aku tidak tahu kenapa.”
“Manipulasi ruang.” Second menambahkan penjelasan dari First. “Dinding ini dilapisi manipulasi ruang seperti milik Sixth dan hal itu yang membuat Sixth tidak bisa menembusnya karena begitu kita berusaha untuk melewatinya, kita akan dikirim keluar dinding.”
“Entah siapa kali ini ahli strategi dari Aliansi Arael. Tapi kurasa ahli strategi kali ini, tidak bisa diremehkan. Dia berhasil membuat banyak pengalihan dan membuat Knight mengantisipasi langkah kita selanjutnya,” ujar First.
“Lalu bagaimana dengan Savior dan Fifth di dalam? Mereka pasti berada dalam bahaya sekarang??” Sixth mulai merasa cemas mengingat bagaimana keadaan dari Sarayu dan Fifth tadi.
Di sisi lain.
“Savior dengarkan aku!” Eighth yang masih terhubung di saluran komunikasi dengan Sarayu, memberikan arahan kepada Sarayu.
“Aku dengar.” Sarayu menjawab sembari terus melawan Knight One dan Knight Five di depannya.
“Bantuan sudah datang. Tapi mereka tidak bisa masuk karena dinding yang mengelilingimu itu. Untuk menghancurkan dinding itu, kau harus menghancurkan dinding dari luar atau membuat pembuat dinding tidak sadarkan diri. Apa kau mengerti, Savior?” Eighth mengakhiri penjelasannya.
“Aku mengerti.”
“Ingat, waktumu tidak banyak, Savior. Kamu harus mengakhiri dinding itu sebelum Knight Three yang sedang mengobati Knight Four dan Knight Two, selesai.” Eighth mengingatkan bahaya di depan Sarayu jika Sarayu gagal menghancurkan dinding dalam jangka waktu yang singkat.
“Aku tahu itu, Eighth.”
__ADS_1
Sembari terus melawan Knight One dan Knight Five, Ruyi dan Fifth yang bergerak di depan sebagai pelindung dari Sarayu, terus menerus melancarkan serangan dan bertahan di saat yang sama. Sarayu mengambil dua pistolnya dan mengaktifkan mode pertama dari pistol miliknya. Sebelum menembakkan pistolnya, Sarayu melihat warga sipil di bawahnya yang berada dalam pelindung kubah miliknya. Mereka pasti tidak akan terkena ledakan ini berkat pelindung milikku.
Tapi dugaan Sarayu itu salah besar. Pergerakan Knight One berkat bantuan dari Knight Five, menjadi lebih gesit dan mampu menahan satu tembakan dari pistol Sarayu. Satu tembakan yang ditahan itu kemudian dipentalkan oleh Knight One ke arah pelindung kubah yang melindungi kota dan warga sipil di bawahnya.
“Gawat!”
Kret. . . kreet. . .dalam hitungan detik, pelindung kubah yang melindungi kota dan warga sipil hancur berkat tembakan pistol milik Sarayu yang dipentalkan oleh Knight One,
Sarayu, Knight Three yang membawa tubuh Winner, Knight Two, Knight Four dan Fifth terjatuh karena pijakan mereka hancur. Sementara Knight One berhasil menghindari kejatuhan itu berkat logam milik Knight Five yang digunakannya sebagai pijakan layaknya tongkat merah milik Sarayu.
Dalam hitungan detik sebelum jatuh Ruyi milik Sarayu bergerak ke arah tangan Sarayu dan membesar dengan cepat ke arah tanah dan langit. Ruyi yang membesar di tangan Sarayu itu membuat Sarayu menemukan pijakannya dan berhasil menghentikan tubuhnya yang terjatuh. Setelah menyelamatkan dirinya, Sarayu melihat ke arah Fifth dan menyadari bahwa Fifth telah kehabisan tenaganya karena Fifith tidak memanggil air untuk melindungi dirinya sendiri.
Sarayu bergerak cepat, mengangkat tangannya dan membuat pelindung angin untuk melindungi Fifth. “Istirahatlah dalam pelindung itu, Fifth!”
Fifth berusaha untuk keluar dari dalam pelindung milik Sarayu. “Savior! Aku masih bisa membantumu. Keluarkan aku!”
Sarayu melihat ke arah Knight Three yang membawa tubuh Winner yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Knight Three bersama dengan Knight Two dan Knight Four, berhasil selamat dari jatuh mereka berkat logam milik Knight Five. Syukurlah Winner baik-baik saja. Dia pasti akan marah besar jika dia bangun nanti dan menemukan tubuhnya penuh dengan luka.
Sarayu menatap tajam ke arah Knight One yang kini tersenyum ke arah dirinya.
“Sekarang Savior, menyerahlah dan ikut baik-baik denganku.” Knight One tersenyum penuh kemenangan melihat Sarayu yang kini semakin tersudut. “Jika kau tidak ingin pergi, aku akan menghancurkan kota di bawah sana yang sudah kau lindungi dengan susah payah. Aku juga tidak akan segan-segan untuk membunuh mereka semua di sana, hanya dengan satu pukulan tanganku ini.”
Sarayu mulai merasakan tenaganya yang melemah. Dengan cepat Sarayu membakar lemak dalam tubuhnya seperti ajaran Third pada dirinya. Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi, bukan?
“Aku tidak tahu kenapa kau ingin sekali membawaku ikut bersamamu, tapi. . . kutegaskan sekali lagi, aku tidak akan pergi bersama denganmu, Knight One.” Sarayu membulatkan tekadnya dan menolak ajakan dari Knight One dengan tegas. Aku tidak akan menyesali pilihanku ini. Sama seperti ketika aku memilih untuk bergabung dengan Pasukan Perdamaian Dinia, aku tidak akan menyesali pilihan apapun yang aku ambil hingga saat ini.
Di saat yang sama, Knight Two telah sembuh dari luka-lukanya dan mulai mengendalikan pikiran banyak warga sipil di kota untuk saling membunuh. Di saat yang genting ini. . . sesuatu dalam benak Sarayu membuatnya teringat dengan seseorang. Seseorang yang dulu pernah selalu dikejar oleh Sarayu, akan tetapi tak pernah bisa diraihnya. Seseorang yang selalu berjalan di depan Sarayu dan membuat Sarayu melihat punggungnya.
Jika kau ada di sini, di posisiku, apa yang akan kau lakukan, Redo? Kau adalah sosok sempurna yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku punya segalanya, berkat itu. . . aku menjadikanmu rival dan aku terus berusaha mengejarmu. Di masa lalu. . . kau selalu bisa melakukan apapun yang tidak bisa aku lakukan, jika saat ini kau ada di sini, di posisiku, apa yang akan kau lakukan, Redo?
Sarayu menarik napasnya. Huft. Sarayu menyimpan dua pistol miliknya dan bersiap menyerang dengan menggunakan Ruyi dan kemampuan pengendali angin miliknya. Sial, kebiasaan burukku kembali lagi. Aku kembali bertanya-tanya padanya lagi bahkan setelah bertahu-tahun aku tidak bertemu dengannya.
__ADS_1