THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 26 HUBUNGAN


__ADS_3

Di gedung peace-markas dari Pasuka Perdamaian Dunia, Sixth yang telah kembali dari tugasnya mengantar Sarayu disambut oleh Ethan. 


“Bagaimana dengan Savior? Apakah mereka meragukan kemampuan Savior?” tanya Ethan penasaran dan tidak sabar. 



“Seperti yang Tuan duga. Awalnya mereka memang meragukan kemampuan Savior. Mereka bahkan menyiapkan ruang ujian untuk menguji kemampuan Savior. Tapi. . . seperti biasa Savior kita itu selalu berhasil mengejutkan semua orang dengan kemampuannya itu, Tuan.” Sixth berbicara dengan nada bangganya sembari mengingat kembali pemandangan orang-orang yang terpukau dengan kemampuan Sarayu. 



“Baguslah kalau begitu. Setidaknya aku bisa sedikit merasa tenang karena ini adalah misi pertamanya sebagai anggota dari Pasukan Perdamaian Dunia. Bisa kau ceritakan lebih detail, Sixt. Aku penasaran dengan apa yang terjadi di sana tadi?” 



Ketika Sixth dan Ethan masih sibuk berbincang-bincang mengenai kehebatan dari Sarayu, Forth tiba-tiba memanggil Ethan dari saluran komunikasi di ruangannya saat ini. 



\[Forth memanggil\]



Tulisan yang muncul di layar monitor itu membuat percakapan kecil antara Sixth dan Ethan terhenti. 


Klik. Ethan menekan tombol terima dan membuatnya terhubung dengan Forth. “Ada apa, Forth?” 


“Ini, Tuan. Saya tidak tahu apakah hal ini penting atau tidak, tapi saya rasa saya harus melaporkan ini untuk berjaga-jaga, Tuan.” 


“Apa itu?” 


“Ketika saya memeriksa berkas-berkas milik Winner dan Sarayu, saya menemukan persamaan di antara keduanya. Mereka berdua merupakan lulusan dari universitas yang sama dan di tahun yang sama, Tuan. Yang membedakan hanyalah jurusan dan fakultas mereka, Tuan. Jika Savior adalah lulusan dari engineering, maka Winner adalah lulusan dari perfilman.” 


“Benarkah itu, Forth? Apakah ada bukti yang mungkin bisa menggambarkan jika kedua mungkin pernah saling mengenal atau tahu satu sama lain?” 


“Untuk itu. . . saya masih mencarinya, Tuan. Karena kejadian itu sudah cukup lama, saya masih mencari bukti tentang hubungan yang mungkin terjadi di antara keduanya, Tuan.” 


Ethan menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu, sebelum mengakhiri percakapannya dengan Forth. “Jika kau menemukan hubungan yang mungkin terjadi di antara keduanya, tolong hubungi aku dengan segera, Forth.” 


“Baik, Tuan.” 


Dan komunikasi antara Ethan dan Forth terputus. 


“Tuan. . .” Sixth memanggil Ethan.


“Ya, Sixth.” 

__ADS_1


“Apa Tuan ingat tentang kejadian beberapa hari lalu di mana Savior yang awalnya menerima misi, dengan tiba-tiba bertanya untuk mundur setelah melihat data Winner di layar saat rapat?” 


“Aku ingat itu, Sixth.” Ethan dapat dengan jelas mengingat kejadian itu. Sejak saat itu. . . Ethan merasa telah melewatkan sesuatu dan Ethan tidak dapat menemukan apa itu. Sekarang setelah Winner menerima Savior sebagai pengawalnya, sesuatu yang membuatnya terganggu tiba-tiba muncul di depannya. 


“Mungkinkah saat itu Savior mengajukan pertanyaan itu karena dia mengenal Winner, Tuan?” 


Ethan menggelengkan kepalanya dengan tidak yakin. “Winner adalah aktor terkenal. Karirnya dimulai tepat setelah masuk kuliah. Bukankah wajar jika Savior mengenal Winner? Para gadis-gadis akan selalu tahu mengenai mahasiswa tampan di kampusnya, apalagi jika mahasiswa tampan itu adalah aktor. Savior mungkin tahu tentang Winner tapi belum tentu Winner-aktor terkenal itu mengenal wanita bernama Sarayu secara pribadi.” 


Sixth menganggukkan kepalanya setuju. “Itu mungkin benar, Tuan. Tapi. . . seandainya Winner benar-benar mengenali Sarayu secara pribadi, apa yang akan Tuan lakukan? Akankah Tuan menarik Savior kembali dari misi pertamanya?” 


“Entahlah, Sixth. Aku harap Winner tidak secara pribadi mengenal wanita bernama Sarayu. Kemungkinan itu benar-benar kecil dan kuharap itu hanyalah kemungkinan saja.” 


\*


Sarayu yang dibawa oleh Winner bersama dengan manajernya-Rudi kemudian tiba di sebuah rumah mewah di Ibu Kota Indonesia-Jakarta Pusat. Rumah dengan model minimalis tu memiliki halaman yang luas dan pagar tinggi yang mengelilingi bagian rumah. Untuk masuk ke dalam rumah, harus melewati penjaga lebih dulu untuk mengonfirmasi apakah pengunjung merupakan kenalan Winner. Jika pengunjung bukan kenalan dari Winner, maka pengunjung itu harus membuat janji lebih dulu dan jika pengunjung belum membuat janji, maka pengunjung itu tidak akan bisa masuk ke dalam rumah Winner. 


“Rumah yang bagus.” Sarayu memberikan pujiannya ketika memasuki bagian dalam rumah yang memperlihatkan sisi minimalis dari rumah itu. 


“Tentu saja. Ini adalah rumah aktor kelas internasional,” balas Rudi dengan bangganya. 


Begitu masuk ke dalam rumah, Winner langsung merebahkan dirinya di atas sofa besar di ruang tengah, sementara Rudi mengajak Sarayu berkeliling menjelaskan setiap bagian dari rumah Winner. Rumah dengan gaya minimalis dengan paduan warna hitam, abu-abu dan putih itu memiliki beberapa ruang: ruang pertama adalah ruang tamu di mana para pengunjung asing datang. Dari ruang tamu menuju ke ruang berikutnya terdapat pembatas ruangan yang cukup rapat sebagai tanda bahwa pemilik rumah ini enggan memperlihatkan privasinya kepada orang asing. Ruang kedua adalah ruang keluarga yang terhubung langsung dengan dapur dan ruang makan. Di ruang keluarga itu juga terhubung ke ruang santai yang berada di sisi yang berlawanan dengan dapur dan ruang makan. Ruang santai itu terhubung dengan kolam renang besar yang terletak di samping rumah dengan bagian kaca yang menjadi dinding dan atapnya. Di ruang keluarga ada tangga besar yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Di lantai dua, terdapat empat kamar; satu kamar utama milik Winner, satu kamar lagi merupakan kamar khusus milik Winner yang berisi hadiah dari para penggemarnya dan dua kamar lain adalah kamar tamu yang jarang digunakan. 


“Untuk kamarmu, apakah kamu tidak keberatan untuk tinggal di lantai satu di samping kamar bibi pelayan dan penjaga?” Rudi bertanya pada Sarayu dengan nada sopan mengingat Sarayu adalah anggota Pasukan Perdamaian Dunia yang berada di bawah Aliansi Ingmar. 


“Tentu, Tuan. Saya tidak keberatan.” 




Sarayu menganggukkan kepalanya setuju. “Baik, saya setuju.” 



Setelah selesai berkeliling, Rudi membawa Sarayu turun dari lantai dua dan hendak menuju ke kamarnya yang berada di dekat kamar bibi pelayan dan penjaga. Namun ketika melewati ruang keluarga di mana Winner tadi merebahkan diri, langkah Sarayu dan Rudi terhenti karena Winner. 



“Mau ke mana?” tanya Winner yang sudah dalam posisi duduk sembari melihat dengan tajam ke arah Rudi dan Sarayu. 



“Membawa Savior ke kamarnya di dekat kamar penjaga dan bibi pelayan. Ada apa? Apa kau butuh sesuatu, Winner?” 


__ADS_1


“Biarkan dia menggunakan salah satu kamar kosong di lantai dua denganku. Membuatnya tidur di lantai yang sama denganku, akan membuatku merasa lebih tenang.” 



Sarayu menatap ke arah Rudi dan melihat ekspresi terkejut di wajah Rudi meski hanya sekilas. Namun Rudi dengan cepat mengubah ekspresinya dan kemudian memasang senyuman di wajahnya. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan membawa Savior untuk tidur di salah satu kamar di lantai dua.” 



“Baguslah kalau begitu.” 



Setelah mendapatkan persetujuan dari Winner, Rudi kemudian membawa Sarayu ke salah satu kamar tamu di lantai dua dan kamar yang dipilih adalah kamar yang dekat dengan kamar di mana barang-barang dari penggemar Winner berada. 



“Apakah kau keberatan menggunakan kamar ini, Savior?” Rudi bertanya dengan nada sopan. 



“Kamar manapun sama bagiku. Aku tidak akan keberatan, Ru. . . Rudi.” 



Senyuman muncul lagi di bibir Rudi ketika mendengar namanya disebut oleh Sarayu. “Senang mendengarmu memanggilku langsung dengan namaku. Kalau begitu, kamu bisa meletakkan barang-barangmu di kamar ini.” 



Sarayu menganggukkan kepalanya, masuk ke dalam kamar dan kemudian meletakkan dua tasnya di atas tempat tidur. Setelah melakukan hal itu, Sarayu melihat ke arah Rudi dan mengajukan pertanyaan. “Bisakah aku bertanya?” 



“Tentu. Apa yang ingin kamu tanyakan?” 



“Kenapa wajahmu tadi terkejut ketika Winner memintaku untuk tinggal di salah satu kamar di lantai dua?” Sarayu bertanya dengan penasaran.



“Karena ini belum pernah terjadi. Winner adalah orang yang benar-benar menjaga privasinya. Selain orang yang dikenalnya, Winner tidak ingin punya banyak hubungan dengan orang lain kecuali masalah pekerjaan. Dan ini adalah pertama kalinya, Winner memintaku membawa seseorang untuk tidur di kamar ini padahal kalian baru pertama kali bertemu.” 



“Mu-mungkinkah kejadian penyerangan itu benar-benar membuat Winner sedikit merasa ketakutan hingga membuatku yang baru pertama kali ditemuinya tidur di kamar ini?” 

__ADS_1



Rudi mengalihkan pandangannya ke arah beranda yang membuatnya bisa dengan jelas melihat Winner yang masih merebahkan dirinya di sofa. Mata Rufi yang sayu itu melihat Winner dengan tatapan sedih. “Mungkin saja. Andi-kakakku adalah manajer Winner untuk waktu yang lama dan mereka sudah seperti kakak dan adik.” 


__ADS_2