THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 73 BATU HITAM PART 2


__ADS_3

            Di markas Knight Arael.


            Setelah membawa Knight One kembali ke markas dan melakukan tindakan terhadap ledakan beruntun yang terjadi, Knight Three menghampiri Knight Five seperti perintah Knight One.


            “Knight Five!!!” teriak  Knight Three setelah berkeliling mencari Knight Five yang terjatuh karena ulah pasukan Aliansi Ingmar. “Kau baik-baik saja?”


            Knight Five menganggukkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, Knight Three. Bagaimana dengan markas dan ledakan itu? Apa Tuan berhasil menghentikan kebakaran yang terjadi??”


            “Sepertinya buruk, Knight Five. Tidak hanya kehilangan wanita itu, kita juga kehilangan sepatu miliknya dan mengalami kerusakan yang cukup fatal pada markas kita. Tak kusangka mereka akan dengan mudah menemukan markas kita padahal selama ini kita selalu menyembunyikan markas ini dengan baik,” jelas Knight Three sembari menyembuhkan luka-luka dari Knight Five.


            “Tuan pasti marah sekali dengan kejadian ini??” ujar Knight Five sembari memandang kepulan asap hitam yang berasal dari markas.


            “Tentu saja dan yang lebih buruk para pemimpin aliansi kita semakin menekan Knight One untuk segera menyerang semua negara dengan nuklir milik kita yang telah siap,” ujar Knight Three dengan menggebu-gebu bercampur dengan rasa kesalnya.


            “Lalu apa yang akan dilakukan oleh Knight One? Apa Tuan akan menerima usulan itu dan melepas nuklir kita sesuai dengan permintaan petinggi aliansi?”


            “Sepertinya begitu. Mengingat wajah para petinggi itu yang sudah sangat tidak sabar untuk menguasai semua negara dan membuat mereka tunduk pada aliansi kita, sepertinya Tuan akan menuruti. Terlebih lagi. . . memang sudah menjadi rencana Knight One bukan untuk melepas nuklir itu dalam waktu dekat??” Knight Three mengangkat tangannya ketika melihat luka-luka di tubuh Knight Five telah sembuh dan tidak berbekas. “Rencana Knight One hancur karena wanita itu dan seharusnya nuklir itu dilepas dalam beberapa hari lagi. Jika bukan karena serangan yang terjadi di markas hari ini, mungkin dalam beberapa hari ini dunia sudah berada di bawah kaki Aliansi Arael.”


            “Ucapanmu memang benar, Knight Three. Jika bukan karena kejadian ini, mungkin dalam beberapa hari rencana itu sudah terlaksana dan kita sudah bisa beristirahat dengan tenang. Sayangnya. . . rencana itu akan sedikit tertunda karena kondisi markas kita.”


            Knight Three melihat ke arah Knight Five dengan wwajha penasaran dan hal itu membuat Knight Five merasa sedikit risi.


            “Kenapa kau memandangku seperti itu, Knight Three??”


            “Bisakah aku bertanya, Knight Five?”


            “Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan padaku, Knight Three?”

__ADS_1


            “Wanita itu. . . kenapa kau memeluknya?? Kukira rencanamu adalah memukulnya ternyata kau justru memeluknya dan membuatku bersama dengan Knight One merasa benar-benar terkejut.”


            “Kalian terkejut??”


            “Tentu saja. Siapapun di antara kami tidak ada yang akan menyangka jika rencanamu untuk membangunkan wanita itu adalah dengan memeluknya. Bagaimana kamu bisa memikirkan tindakan seperti itu?” Knight Three bertanya pada Knight Five dengan wajah penasaran.


            “Aku hanya mengikuti pikiranku saja. Orang yang bermimpi buruk, harus dibangunkan. Tapi dalam kasus kali ini, wanita itu tidak bisa kita sentuh. Berulang kali kita melancarkan serangan, yang terjadi dia justru membalasnya seolah mimpinya terhubung dengan dunia nyata. Karena itu. . . pikiranku mengatakan satu-satunya cara membuatnya bangun adalah membuatnya merasa aman dan nyaman.” Knight Five melirik ke arah Knight Three. “Apa pikiranku salah??”


            “Tidak. Tapi sepertinya. . . kau akan dapat masalah karena itu.”


            “Masalah?”


            “Ya.” Knight Three menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu. “Jika aku tidak salah ingat, Knight One benar-benar marah melihat tindakanmu itu. Jika bukan karena ledakan yang terjadi di markas, mungkin kau akan menerima hukuman dari Knight One. Sepertinya. . . entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, kurasa Knight One menyukai wanita itu. Maka dari itu Knight One berusaha keras untuk membuat wanita itu di pihak kita.”


            Knight Five tersenyum mendengar ucapan Knight Three. “Itu pasti hanya perasaanmu saja, Knight Three. Knight One tidak menyukai wanita itu. Knight One ingin wanita itu di pihak kita karena wanita itu adalah lawan yang menyebalkan bagi kita dan keberadaan wanita itu di pihak kita, akan membuat rencana Knight One berjalan dengan lancar. Itulah yang aku lihat.”


            “Ah. . . mungkin seperti itu. Selain Knight Two, sepertinya kau memang mengenal baik, Knight One. Tidak heran Knight One sengaja membawamu kemari.”


            “Tentu.”


            Dalam sekejap mata, Knight Five kembali ke markas bersama dengan Knight Three. Dalam sekejap mata itu pula, pikiran Knight Five sibuk memikirkan ucapan dari Knight Three tentang Knight One. Kurasa. . . ucapan Knight Three mungkin ada benarnya. Alasan Knight One berusaha keras membawa Sarayu kemari adalah ingin membuatnya berada di pihak kita dan karena dia juga menyukainya. Entah sejak kapan Knight One mulai terobsesi pada Sarayu dan jika terus dibiarkan Knight One akan terus mengejar Sarayu untuk mendapatkan keinginannya.


            Ketika itu terjadi. . . mana yang harus aku pilih? Cinta pertamaku atau penolongku?


*


            “Kenapa aku? Dari sekian banyak keturunanmu, kenapa aku yang dipilih? Aku tidak pernah meminta apapun yang membawaku pada posisi ini?” Sarayu mengajukan pertanyaan kepada sosok pria yang saat ini muncul di hadapannya.

__ADS_1


            “Pilihan yang kau ambil Sarayu. Aku memilih karena semua pilihan yang selalu kamu ambil dalam hidupmu.”


            “Aku tidak mengerti. Apa maksud dari ucapanmu itu?”


            “Manusia dilahirkan di dunia dengan membawa pilihan di kedua tangan mereka. Meski takdir mereka telah ditentukan, tapi. . . tidak ada yang tahu bagaimana takdir itu tertulis. Kita hanya tahu bahwa kelak kita akan mati. Bagaimana cara kita mati dan bagaimana cara kita menghabiskan usia kehidupan ini, tidak ada yang tahu. Karena semua itu adalah rahasia Tuhan. Jadi. . . sepanjang perjalanan kehidupan, kita akan selalu menghadapi pilihan untuk menuju ke akhir kehidupan itu.” Pria itu mengangkat kedua tangannya dan mulai membuat pemisalan. “Anggap pilihan dalam hidup kita hanya ada dua seperti tanganku ini. Tangan kanan adalah pilihan dengan jalan baik tapi membawa kesengsaraan hidup sedangkan tangan kiri adalah pilihan dengan jalan buruk tapi membawa kenyamanan dalam hidup.”


            “Lalu ada apa dengan pilihan itu?”


            “Kau tahu dengan baik bahwa keseimbangan selalu ada di dunia ini bukan, Sarayu?”


            “Ya, aku tahu.”


            “Untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, manusia diberi pikiran dan hati. Pikiran manusia digunakan untuk belajar bagaimana mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Sedangkan hati digunakan untuk belajar bagaimana memahami orang lain. Kedua hal itu kita gunakan sebagai landasan untuk menentukan pilihan dalam hidup kita. Lalu kedua hal itu membuat kita memiliki keinginan yang membuat lahirnya apa yang kita sebut dengan hawa nafsu. Hawa nafsu dan keinginan itulah yang terkadang merusak keseimbangan pikiran dan hati manusia. Pikiran dan hati mereka mengatakan salah tapi mereka tidak bisa melawan keinginan mereka. Dari sinilah pilihan mudah yang harusnya dibedakan dengan mudah, menjadi pilihan yang sangat sulit.”


            Huft. Sarayu menghela napasnya mengerti dengan penjelasan dari sosok pria itu kepada dirinya. “Aku mengerti maksud dari ucapanmu itu. Tapi. . . aku masih tidak mengerti hubungan itu dengan alasanmu memilihku??”


            “Kau tahu beberapa orang yang lahir di dunia memiliki keistimewaan yang tidak pernah dianggap istimewa oleh para manusia??”


            Sarayu menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau maksud?”


            “Hati nurani yang bersih. Semua manusia lahir dengan membawa hal ini, tapi dalam perjalanannya nurani mereka rusak karena tidak bisa mengendalikan keinginan dalam hidup mereka. Harga selalu menuruti keinginan adalah kehilangan hati nurani mereka. Lalu di sepanjang hidupmu. . . kau selalu kehilangan keinginan dalam hatimu dan membuat nuranimu tetap terjaga.”


            “Jadi maksudmu?”


            “Itu benar, Sarayu. Karena hati nuranimu yang tetap bersih bahkan setelah semua keinginanmu yang tidak terpenuhi selalu menuntunmu untuk mengambil pilihan di tangan kananku sepanjang hidupmu. Aku tidak menyangkal terkadang kamu berbuat kesalahan tapi. . . anehnya setelah berbuat kesalahan, kau selalu menyadarinya dan kembali lagi ke pilihan jalan yang baik di tangan kananku ini. Orang yang kehilangan nurani mereka, akan selalu membenarkan pilihan mereka meski mereka tahu, mereka sadar bahwa pilihan mereka itu jelas-jelas salah.”            


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2