
Buk.
Winner membuka matanya dan menyadari jika dirinya baru saja terjatuh dari tempat tidurnya. Sial! Kenapa aku bangun di saat aku belum mendengar jawaban darinya?? Winner mengumpat kesal mengingat mimpi indahnya yang berakhir begitu saja karena tubuhnya yang terjatuh dari tempat tidur.
Tok. . . Tok. . .
Suara ketukan pintu itu kemudian membuat Winner yang masih belum sepenuhnya sadar, hanya bisa melihat ke arah pintu yang mulai terbuka itu.
“Winner kau su-“ Rudi yang baru saja membuka pintu kamar Winner untuk membangunkannya, langsung menghentikan ucapannya dan berlari ke arah Winner yang terduduk di lantai. “Apa kau baik-baik saja, Winner???”
“Oh, aku baik-baik saja.” Winner mencoba bangun dari duduknya dengan bantuan Rudi.
“Ini sudah lama sekali sejak kau jatuh dari tempat tidur. Apa semalam kau bermimpi buruk hingga jatuh dari tempat tidur?”
Winner yang akhirnya duduk di tempat tidurnya kemudian menggelengkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan dari Rudi. “Sebaliknya, aku justru bermimpi dengan sangat indah setelah bertahun-tahun lamanya. Sayangnya. . .”
“Apa??” Rudi bertanya dengan wajah penasaran.
“Sayangnya. . . akhir dari mimpi itu belum sempat kulihat dengan baik karena aku jatu dari tempat tidurku.”
“Mungkinkah kau bermimpi tentang cinta pertamamu lagi? Aku ingat kakakku pernah bercerita tentang hal itu padaku.”
Winner menatap Rudi dengan terkekeh. “Andi rupanya menceritakan hal itu kepadamu.”
Rudi menganggukkan kepalanya. “Ya. Apa kau masih butuh waktu untuk beristirahat?”
Winner menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku akan mandi dan berganti pakaian. Pesankan pada Bibi, aku akan sarapan di mobil bersamamu dan Bahram. Oh iya, Bahram. Apa dia sudah bangun?”
“Tentu saja. Dia bangun sangat pagi dan berolahraga sebentar di sekeliling rumah. aku hampir saja lupa mengatakan sesuatu padamu, Winner.”
“Apa itu?”
“Semalam Bahram memasang beberapa kamera CCTV di beberapa titik untuk keamananmu. Tadi aku sudah mengeceknya secara langsung dan memastikan bahwa kamera itu tidak akan mengganggu privasimu. Kau tentu tidak akan keberatan kan, Winner?”
__ADS_1
“Tidak. Ini demi keselamatanku.”
Setelah cukup berbincang-bincang, Rudi kemudian memilih pakaian yang akan dibawa oleh Winner dan pakaian yang akan dikenakan oleh Winner sementara Winner sendiri sedang membersihkan dirinya. Setelah selesai dengan Winner, Rudi langsung turun ke lantai satu di mana Sarayu duduk menunggu. Rudi memberitahu bahwa sebentar lagi Winner akan siap dan kemudian memberitahu bibi pelayan untuk membungkus makanan Winner dan lainnya untuk dimakan di dalam mobil.
Dalam sepuluh menit, Winner turun dari lantai dua dengan mengenakan topi, kacamata hitam dan masker di wajahnya.
“Selamat pagi, Tuan Winner.” Sarayu langsung memberikan sapaannya kepada Wnner ketika melihatnya turun.
“Pagi, Bahram.” Winner memperhatikan Sarayu dari atas kepala dan menemukan jika pengawalnya itu telah mengenakan pakaian yang kemarin dibelikannya. “Pakaian itu cocok denganmu, Bahram.”
“Terima kasih banyak, Tuan.”
“Apa kau sudah siap, Winner?” Rudi yang membawa dua tas makanan dan minuman, melihat ke arah Winner.
“Ya.”
“Kalau begitu kita berangkat, kau bisa masuk ke dalam mobil, Winner. Nita-penata riasmu sudah menunggu di dalam mobil. Lalu kau Bahram,” Rudi melihat ke arah Sarayu. “Bisakah kau membantuku membawa koper milik Winner itu??”
Perjalanan Winner pun dimulai. Berangkat pada pukul enam tepat, mobil yang membawa Winner, Sarayu, Rudi dan Nita mulai melaju ke pantai yang berada di pulau terpencil. Untuk sampai ke sana, rombongan kecil Winner itu harus pergi ke bandara dan mengudara selama dua jam lamanya bersama dengan kru lainnya. Setibanya di bandara tujuan, Winner dan rombongan lainnya akan dijemput oleh beberapa kru yang telah tiba sehari sebelumnya. Winner dan rombongannya akan diantar ke hotel di tepi pantai untuk meletakkan barang bawaan mereka sebelum akhirnya melakukan pekerjaan dengan menaiki kapal besar di mana pemotretan akan dilakukan.
Dengan menggunakan kapal feri dengan ukuran yang cukup besar, perjalanan ke bagian tengah laut pun dimulai. Sementara kapal berlayar menuju lokasi pemotretan, Rudi dan Nita sibuk merias Winner. Sementara itu kru yang lain bersiap menyiapkan peralatan dan pakaian yang akan digunakan untuk iklan.
“Kau mau ke mana, Bahram?” Winner yang sejak tadi sibuk mendengarkan lagi dari airbudnya, langsung melihat ke arah Sarayu ketika Sarayu bangkit dari duduknya.
“Berkeliling. Apakah aku tidak boleh melakukannya, Tuan?”
“Jangan jauh-jauh dariku. Aku masih takut jika dua orang dengan pakaian hitam seperti kemarin datang lagi.”
Sarayu memiringkan kepalanya ke arah kanan sedikit. “Bukankah saya juga mengenakan setelan jas hitam sama seperti dua orang kemarin? Apa Tuan juga takut pada saya sama seperti kepada dua orang kemarin??”
Winner tersentak sejenak melihat gerakan Sarayu yang dirasanya tidak asing. “A-aku tidak takut padamu. Meski pakaian yang kamu gunakan sama-sama hitam, tapi pakaian yang kamu gunakan adalah pakaian mahal. Jadi aku bisa membedakannya, Bahram.”
“Baiklah saya tidak akan berkeliling jauh-jauh dari pandangan Tuan jika Tuan tidak mengizinkan.” Sarayu akhirnya memilih untuk mengalah kepada Winner dan hanya duduk tidak jauh dari jangkauan Winner sembari menikmati angin laut.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu. Winner yang telah selesai berias dan berganti pakaian tiba-tiba saja duduk di samping Sarayu diikuti Rudi yang memegang payung untuk Winner.
“Apa yang kau lihat, Bahram?”
“Laut dan burung-burung. Aku hanya memastikan jika burung-burung yang terbang semuanya dalam keadaan tenang.”
Winner mengerutkan alisnya tidak mengerti. “Ada apa jika burung-burung yang terbang itu terbang dalam keadaan tidak tenang?”
“Bahaya akan datang. Apakah Tuan tidak pernah tahu jika hewan-hewan terutama burung-burung lebih sensitif ketika bencana akan datang??” Sarayu menjawab tanpa melihat ke arah Winner.
“Aku hanya pernah melihatnya dalam film tapi belum pernah melihatnya sendiri. Jadi aku tidak bisa mengatakan jika aku tahu tentang hal itu.”
Sarayu hendak membuka mulutnya lagi dan memberikan penjelasan panjang, tapi para kru pemotretan sudah bersiap dan kapal feri berhenti tepat di lokasi yang telah direncanakan sebelumnya.
“Kita sudah sampai! Semuanya bersiap!”
Winner bangkit dari duduknya di samping Sarayu. Winner memberikan peringatan kepada Sarayu sekali lagi sebelum bersiap untuk melakukan pemotretan. “Ingat, jangan jauh-jauh dari jangkauan pandanganku, Bahram!”
Sarayu bangkit dari duduknya. “Saya mengerti, Tuan.” Setelah mengatakan itu, Sarayu mengikuti Winner dan berdiri di belakang Rudi dan Nita seperti perintah Winner.
Pemotretan diambil dengan menggunakan latar laut dan pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni karena konsep dari pakaian yang sedang dipromosikan oleh Winner adalah holiday yang sering dikaitkan dengan liburan ke pantai di musim panas.
Klik. Klik. Klik. Setelah entah berapa kali foto yang diambil oleh fotografer, Winner mengganti pakaiannya dan kemudian melanjutkan pemotretan dengan pakaian yang lain. Setelah selesai dengan beberapa pakaian, kapal feri kemudian bergerak menuju ke arah dua pulau yang berjarak sangat dekat dan memperlihatkan dua tebing pada dua sisi di kanan dan kiri kapal. Pemandangan itu adalah pemandangan yang indah jika dibuat sebagai latar pemotretan.
Semua kru wanita melihat ke arah Winner dengan tatapan terpesona seolah terhipnotis oleh pesona Winner tidak terkecuali Sarayu. Untuk beberapa detik, Sarayu semat terhipnotis melihat gaya Winner yang sedang berfoto dengan pakaian yang sedikit terbuka dan memamerkan dadanya yang bidang.
Glek. Sarayu menelan ludahnya dan beberapa kali menepuk wajahnya dengan kedua tangannya untuk membuat dirinya sadar. Ingat, Sarayu! Ingat! Saat ini kau bukan wanita! Kau adalah Savior. Kau adalah Bahram-pengawal dari Winner. Tidak lebih. Kau tidak boleh terpesona padanya seperti saat kuliah dulu! Ingat itu, Sarayu!
Baru saja Sarayu mengucapkan mantra pelindung dari pesona Winner, sesuatu menarik perhatiannya. Wussssshhhhh. Angin kencang yang berembus sejak tadi tiba-tiba berubah arah. Gelombang air laut tiba-tiba bergerak lebih agresif dari sebelumnya dan terakhir, burung-burung yang tadi terbang dengan tenang kini terbang dengan suara berisik.
Firasat buruk kini muncul di dalam benak Sarayu, ketika melihat Winner yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
Bahaya!