THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 45 BENCANA DI MASA LALU PART 3


__ADS_3

           “Uwaaahhhh.” Winner langsung menggenggam tangan Sarayu lagi ketika merasakan guncangan kencang itu untuk kedua kalinya.


           Sarayu bangkit dari duduknya sembari menarik tangan Winner dan memaksanya untuk berdiri juga. “Bersiaplah, Winner! Bencana itu harusnya datang dalam hitungan menit.”


           Benar saja. . . baru saja Sarayu menutup mulutnya memberikan peringatan, air laut yang tadi berada tidak jauh dari tempat duduk Winner dan Sarayu langsung tertarik ke arah tengah lautan. Air laut itu terus tertarik ke pusat gempa hingga kemudian berkumpul dan membuat gelombang yang besar dan tinggi. Dari tempatnya berada, Sarayu mengukur jika gelombang itu mungkin memiliki tinggi kurang lebih 30 meter dengan kecepatan 500 meter per detik. Sial, ini benar-benar seperti yang tertulis dalam berita yang pernah aku baca di masa lalu. Benar-benar tsunami yang menakutkan.


           “Sarayu. . bukankah gelombang itu bergerak dengan sangat cepat??” Winner bertanya dengan tangan gemetar melihat gelombang setinggi 30 meter yang bergerak dengan kecepatan 500 meter per detik.


           “Ya, itu benar. Tsunami dengan tinggi 30 meter itu bergerak dengan kecepatan 500 meter per detik. Sedangkan pusat gempa hanya berjarak 10 km jauhnya dari bibir pantai.”


           Sama seperti Winner yang ketakutan, semua orang yang telah menyadari gelombang tinggi yang bergerak dengan cepat menuju ke arah daratan itu kemudian mulai berteriak histeris ketakutan. Semua pengunjung pantai berhamburan, berlari menuju ke tempat yang lebih tinggi.


           “Cepat lari!!!! Itu tsunami!!!!”


           “Lari sekarang juga!!! Lari ke tempat yang tinggi!!!!”


           Teriakan yang sama itu berulang kali terdengar dari mulut banyak orang yang berlarian menyelamatkan diri sembari memberi peringatan kepada orang lain, agar mereka juga menyelamatkan diri mereka. Namun usaha penyelamatan itu adalah usaha yang sia-sia. Jarak pusat gempa dengan daratan terlalu dekat, ditambah lagi dengan kecepatan gelombang yang sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, gelombang itu akan mencapai daratan dan menyapu semua yang ada di depannya baik itu manusia, tumbuhan maupun bangunan tinggi sekalipun. Lebih buruknya kota J yang berada di dekat pantai ini tidak memiliki dataran tinggi yang mampu menyelamatkan warganya dari gelombang ganas yang bergerak semakin dekat dan bersiap untuk menyapu apapun di depannya.


           “Sarayu, apa yang harus kita lakukan sekarang?? Apa kau hanya akan diam melihat kematian ini saja??”


“Tunggu sebentar!!! Seseorang yang mampu menyelamatkan kota ini pasti akan datang! Ketika itu terjadi, aku harusnya bertanya padanya kenapa dia hanya menyelamatkan kota ini dan tidak dengan kota-kota lainnya.”


           Satu detik.      


           Dua detik.


           Tiga detik.


           Sarayu terus menghitung gelombang tsunami yang bergerak semakin dekat. Namun semakin banyak waktu yang terbuang, seseorang yang ditunggu Sarayu tak kunjung datang dan menunjukkan dirinya.


           “Sarayu!!! Sudah tidak ada waktu lagi!!!” desak Winner. “Apa kau akan diam saja melihat tsunami itu mendekat dan membunuh dirimu di masa ini??”

__ADS_1


           Mendengar ucapan Winner, Sarayu melihat ke arah Winner dengan tatapan terkejut. Diriku di masa ini? Jika diriku di masa ini kehilangan nyawanya karena gelombang tsunami ini, maka di masa depan tidak akan ada Savior dari Pasukan Perdamaian Dunia. Jika diriku di masa ini kehilangan nyawanya, apakah ramalan masa depan akan berubah? Akankah perang yang dimulai oleh Aliansi Arael akan hilang?


           Empat detik.


           Lima detik.


           Enam detik.


           Sarayu melihat orang-orang yang berlarian ketakutan berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Sarayu kemudian membayangkan dirinya di masa ini yang masih berusia belasan tahun dan tidak tahu apa-apa mengenai gelombang ganas yang datang mendekat ke arahnya. Sarayu membayangkan  dirinya sendiri yang masih belasan tahun tiba-tiba kehilangan nyawanya tanpa sempat melakukan apapun sesuai dengan keinginannya.


           Tujuh detik.


           Delapan detik.


           Sembilan detik.


           Sepuluh detik.


           Sarayu melihat ke arah Winner, tidak percaya dengan ucapan Winner saat ini kepada dirinya. Benar, aku adalah Savior dari Pasukan Perdamaian Dunia. Aku adalah Savior yang berusaha untuk mewujudkan ramalan dari Ethan demi perdamaian dunia yang mulai hilang dari dunia ini.


           Sebelas detik.


           Dua belas detik.


           Tiga belas detik.


           Sarayu melepaskan tangan Winner yang menggenggam lengannya karena ketakutan. “Tetap berada di belakangku apapun yang terjadi, mengerti??”


           Winner menganggukkan kepalanya menurut. “Tentu.”


           “Ruyi!” Sarayu memanggil tongkat merah miliknya dan kemudian mengambil langkah maju dan mendekat ke bibir pantai. Tongkat merah milik Sarayu kini berdiri tepat di samping Sarayu dan menunggu perintah dari Sarayu tanpa rasa takut sekalipun.

__ADS_1


           Empat belas detik.


           Lima belas detik.


           Sarayu mengangkat tangannya ke depan dan mulai membuat pelindung angin setinggi lima puluh meter dengan tebal satu meter. Sarayu yang telah lama melupakan perhitungan yang dulu pernah dikuasainya itu kini hanya bisa membuat dinding pelindung asal-asalan demi melindungi semua orang di belakangnya.


           “Apa kau membuat pelindung yang sama dengan pelindung yang kamu buat untuk melindungiku??” tanya Winner.


           “Tidak. Aku hanya membuat dinding tinggi seperti dinding bendungan,” balas Sarayu. Setelah menjawab Winner, Sarayu kemudian memberikan perintah kepada Ruyi-tongkat merah miliknya. “Ruyi. . . jika aku gagal menahan gelombang itu, pecahkan gelombang itu seperti kamu membelah lautan. Apa kau mengerti??”


           Ruyi bergerak naik turun sebagai bentuk anggukan kepalanya, mengerti dengan perintah yang diberikan oleh Sarayu.


           Delapan belas detik,


           Sembilan belas detik.


           Dua puluh detik.


           Tepat pada detik ke dua puluh, gelombang tsunami setinggi tiga puluh meter itu menabrak pelindung angin milik Sarayu.


           “Wuahhhh,” teriak Winner yang terkejut ketika melihat gelombang besar yang mendekat itu terhenti tepat di depan matanya. “Kau berhasil Sarayu. Gelombang itu berhasil kamu tahan.”


           Namun baru saja Winner memuji keberhasilan dari Sarayu, gelombang tsunami yang terus bergerak mendorong itu berhasil membuat pelindung angin milik Sarayu bergetar hebat dan hanya menunggu hitungan detik sebelum akhirnya hancur dan menyerang kota J di mana Sarayu kecil berada.


           “Tidak!!!”


           Menyadari pelindung angin yang dibuatnya tidak cukup untuk menahan gelombang tsunami yang mengerikan itu, Sarayu mengambil langkah mundur dan kembali membuat pelindung. Kali ini pelindung yang dibuatnya bukan lagi berbentuk dinding tinggi seperti bendungan melainkan kubah seperti yang digunakannya untuk melindungi Winner.


           Sarayu membuat kubah besar. Harapannya adalah membuat kubah besar untuk melindungi semua kota di bagian selatan pulau J seperti dinding yang tadi dibuatnya. Namun kemampuannya tidak cukup dan tenaganya sudah nyaris terkuras habis karena pertarungannya dengan Knight One sebelum ini. Kubah yang dibuat Sarayu hanya mampu melindungi kota J saja sementara kota lainnya tidak bisa dilindungi oleh Sarayu.   


           Krek. Krek. Krek. Dinding angin yang dibuat oleh Sarayu benar-benar hancur hanya dalam tiga detik. Gelombang tsunami yang sempat tertahan itu kemudian jatuh begitu saja dan mengguyur pelindung angin yang dibuat oleh Sarayu. Kota J selamat. Akan tetapi gelombang tsunami yang masih terus bergerak itu, menerjang ke arah lain dan menghancurkan kota-kota lain yang tidak bisa dilindungi oleh Sarayu.

__ADS_1


           Sarayu menangis melihat gelombang tsunami yang mulai menerjang ke arah lain selain kota J. Akhirnya jawaban untuk pertanyaanku terjawab. Alasan kota J menjadi satu-satunya kota yang selamat dalam terjangan tsunami di tahun 2020 adalah karena aku. Akulah yang melindungi kota ini dan di saat yang sama, akulah yang gagal melindungi kota-kota lain. 


__ADS_2