THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 53 PENGAKUAN YANG SEMPAT TERTUNDA


__ADS_3

            “A-apa yang baru saja kamu lakukan?” Seventh yang sepertinya tidak mendengar dengan jelas bertanya kembali kepada Sarayu. “Bisakah kamu mengulangi jawaban yang diminta First tadi?”


            “Aku membuat pelindung dengan vakum udara di dalamnya.”


            “Bagaimana kamu bisa memikirkan hal itu, Savior?” Kali ini giliran Second yang bertanya kepada Sarayu.


            “I-itu karena air bah yang dipanggil oleh Fifth tadi. Karena pelindung biasanya yang tadi aku gunakan untuk memerangkap dirinya mampu dihancurkan oleh Fifth, jadi aku membayangkan pelindung yang bisa mengurung Fifth dan membuat gerakannya terhenti. Satu-satunya yang aku pikirkan adalah membuat vakum di dalam pelindung itu. Aku kira aku tidak bisa melakukannya, tapi aku benar-benar bisa menarik keluar udara di dalam pelindung dan membuatnya vakum.”


            “Wahhh. . .” Setelah mengatakan itu, Seventh bertepuk tangan memuji ide yang keluar darii dalam benak Sarayu dalam waktu singkat. “Otakmu itu, bisakah aku mengopinya dan membuatnya menjadi otakku juga, Savior??”


            Buk. Sixth memukul kepala Seventh.


            “Kenapa kau memukul, Sixth?”


            “Hanya ingin membuatmu sadar bahkan jika kau mengopi otak milik Savior, otak itu akan tetap bodoh jika berada di dalam kepalamu.”


            “Sialan kau, Sixth!!”


            Seventh berusaha memukul Sixth untuk membalas pukulan yang diterimanya. Namun karena perbedaan tinggi tubuh mereka yang cukup jauh, membuat usaha Seventh itu berakhir dengan sia-sia belaka.


            “First, Second, Sixth dan Seventh, tolong bawa Fifth ke tempat Third!” Ethan sebagai ketua kemudian menyela keributan antara Sixth dan Seventh dengan memberi perintah.


            “Kami mengerti.” First mewakili rekan-rekannya untuk menjawab perintah Ethan.


            First bersama dengan tiga rekannya bersiap untuk mengangkat tubuh Fifth menggunakan tandu yang sudah disiapkan di ruang latihan dan ruang menonton tempat latihan. Namun sebelum meninggalkan ruang menonton latihan, Ethan memanggil Sixth dan memberinya perintah tambahan.


            “Sixth!”


            “Ya, Tuan?” Sixth bersama dengan First, Second dan Seventh menghentikan langkah mereka karena panggilan dari Ethan.


            “Setelah mengantar Fifth, kembalilah kemari.”


            “Baik, Tuan.”


            Setelah mendengar perintah tambahan dari Ethan, First bersama dengan tiga rekannya kemudian meninggalkan ruang menonton latihan untuk mengantar Fifth. Kini di dalam ruangan itu yang tersisa hanyalah Ethan, Sarayu dan Winner.


            Ethan melihat ke arah Winner dengan senyuman di wajahnya. “Sekarang Tuan Winner, saya akan memberikan beberapa menit waktu kepada Tuan untuk berpamitan dengan Savior. Begitu Sixth kembali dari mengantar Fifth, Sixth bersama dengan pengawal baru Tuan akan mengantar Tuan kembali ke negara Tuan dan ke kediaman Tuan.”


            Winner menatap ke arah Sarayu dengan tatapan mata yang sedikit sedih. Winner tahu hal ini akan terjadi baik itu cepat atau lambat.


            Benar ini akan terjadi cepat atau terlambat. Akhirnya aku mengerti, kenapa setiap cinta selalu mengatakan kata selamanya atau seumur hidup sebagai tambahan. Akhirnya aku tahu alasan orang-orang selalu mengatakan bahwa waktu seumur hidup tidak akan pernah cukup ketika bersama dengan seseorang dicintainya.

__ADS_1


            Kukira kata-kata itu hanyalah bualan belaka. Tapi aku benar-benar merasakannya ketika bersama dengan Sarayu.


            Winner menatap Ethan setelah menatap Sarayu. “Bisakah Tuan Zero memberiku waktu untuk berbicara terakhir kalinya dengan Savior?”


            “Tentu. Aku akan menunggu di luar.” Ethan berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu. Tepat sebelum membuka pintu dan keluar, Ethan menekan tombol off pada saluran komunikasi yang terhubung ke seluruh saluran komunikasi di Markas Pasukan Perdamaian Dunia.


            Ethan telah keluar dan pintu telah ditutup.


            “Sepertinya kita harus berpisah, Winner.” Sarayu membuka mulutnya lebih dulu untuk berpamitan. “Kelak. . . kau harus lebih berhati-hati lagi.”


            “Aku tahu. Aku akan melakukannya.” Winner menuruti ucapan Sarayu.


            “Maaf karena aku tidak menjadi pengawalmu lebih lama lagi, Winner.”


            “Aku tahu. Kau pergi ke medan perang adalah demi menyelamatkan banyak nyawa dan kelangsungan dari dunia ini. Kau pergi ke medan perang untuk menyelesaikan perang ini bukan?” ujar Winner yang kemudian duduk di kursi di dekatnya.


            “Ya. Untuk menghentikan Aliansi Arael dan Knightnya, aku harus terjun ke medan perang dan memukul mundur Aliansi Arael.” Sarayu kemudian duduk di samping Winner. Keduanya duduk tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh.


            “Jika kau kembali dari medan perang, bisakah kau mendatangiku?”


            “Kenapa?”


            Sarayu tersenyum kecil mendengar ucapan Winner yang terdengar konyol di telinganya. “Ya, baiklah. Jika aku masih hidup setelah pulang dari medan perang, aku akan mendatangimu agar kau bisa melihatku dan memastikan aku masih hidup.”


            “Kau harus janji untuk melakukannya, Sarayu.”


            “Ya. .ya. .ya, aku janji, Winner.”


            Hening sejenak menjadi orang ketiga yang menemani Sarayu dan Winner. Sarayu diam karena tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya kepada Winner. Sementara Winner terdiam karena sedang mengumpulkan keberanian di dalam dirinya. Keberanian miliknya yang terkubur selama bertahun-tahun.


            “Sa-rayu. . . se-belum aku pergi, ada yang ingin aku katakan padamu.”


            “Apa?”


            “Dua hari yang lalu kau bertanya padaku bukan tentang gadis yang aku sukai?”


            Sarayu menganggukkan kepalanya. “Ya, aku memang bertanya tentang hal itu. Apakah kau ingin memberitahukannya kepadaku sekarang?”


            “Gadis itu. . . tidak pernah menyadari perasaanku untuknya bahkan setelah aku selalu berada di dekatnya dan berusaha keras untuk menarik perhatiannya. Gadis itu adalah cinta pertamaku dan ketika akhirnya kami terpisah karena lulus kuliah, kukira aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.”            


            Sarayu menoleh ke arah Winner dengan wajah terkejut. “Kau bertemu dengannya lagi??”

__ADS_1


            Winner menganggukkan kepalanya. “Ya, aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi setelah beberapa tahun berlalu. Kukira cinta pertamaku yang selalu menjadi rahasia itu akan tetap menjadi rahasia hingga akhir hidupku. Tapi setelah melalui banyak hal yang menakutkan, aku merasa bahwa tidak seharusnya aku merahasiakan perasaanku ini darinya.”


            “Kau ingin membuat pengakuan padanya, Winner?” tanya Sarayu memastikan.


            “Ya, aku ingin melakukannya. Bagaimana menurutmu? Apakah salah jika aku melakukannya?”


            Sarayu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Perasaan suka itu adalah hak setiap orang dan kau punya hak untuk melakukan itu, Winner. Selama kau tidak memaksa gadis itu untuk menerima perasaanmu, maka pengakuanmu itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.”


            Winner bangkit dari duduknya dan melihat ke arah Sarayu yang masih duduk. “Bisakah kau berdiri, Sarayu? Aku ingin memelukmu sebagai tanda perpisahan. Bolehkah aku melakukannya??”


            “Tentu.” Sarayu bangkit dari duduknya dan menerima pelukan hangat dari Winner.


            “Ingatlah untuk menemuiku setelah kau pulang dari medan perang.” Winner memeluk erat tubuh Sarayu. Winner berusaha untuk merekam dengan baik momen ini, dari bau tubuh Sarayu, detak jantungnya yang berdetak dengan kencang karena Sarayu dan perasaan bahagianya karena bisa memeluk Sarayu setelah cinta rahasia miliknya selama ini kepada Sarayu.


            Dulunya kukira aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, cinta pertamaku. Tapi sepertinya Tuhan dan takdir masih mengasihaniku karena perasaanku padamu yang masih kuat bahkan setelah bertahun-tahun lananya. Aku bertemu denganmu lagi dan kali ini aku akan membuat pengakuan padamu, Sarayu. Kali ini pengakuan ini tidak akan tertunda lagi seperti yang dulu aku lakukan.


            “Aku akan mengingatnya.”


            Tok. . . tok. . .


            “Tuan Winner sebentar lagi kita akan berangkat.”


            Winner mendengar suara Ethan yang sedang memberinya peringatan jika waktunya berpisah dengan Sarayu sudah dekat. Sementara Sarayu berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Winner.


            “Sudah waktunya kau untuk pergi, Winner.”


            “Tunggu, masih ada satu lagi yang ingin aku katakan.” Winner menolak untuk melepaskan Sarayu dari pelukannya.


            “Apa itu?” Sarayu pasrah mendengarkan Winner.


            “Setelah ini aku akan membuat pengakuan kepada gadis itu. Bagaimana menurutmu?”


            “Secepat itu??” Sarayu terkejut mendengar pertanyaan Winner.


            “Ya, aku harus cepat-eepat melakukannya.”


            “Kalau begitu lakukan. Kau sudah menyukainya dalam waktu yang lama jadi kurasa lebih cepat lebih baik, Winner.”


            Winner melepaskan pelukannya dan memandang Sarayu dengan tatapan dalam. Matanya melihat setiap detail dari wajah Sarayu saat ini dan menyimpannya dengan baik di dalam ingatannya. Winner mengumpulkan keberaniannya dan kemudian mulai membuat pengakua. “Gadis yang aku sukai itu adalah kau, Sarayu. Gadis biasa yang tidak pernah melihatku itu adalah kau. Gadis apel merah yang membuat kesalahpahaman itu juga adalah dirimu. Gadis yang aku temui beberapa waktu lalu, yang kukira tidak pernah lagi bisa kutemui juga adalah dirimu. Cinta pertama dan cinta rahasia yang selama ini masih kujaga adalah kau, Sarayu. Aku mencintaimu, Sarayu.”


            Setelah mengatakan itu. . . Winner kemudian berjalan pergi meninggalkan Sarayu yang membeku karena terkejut, keluar ruangan di mana Ethan sedang menunggu dirinya.

__ADS_1


__ADS_2