
Winner’s POV
Pria bernama Knight Five mengangkat tangannya lagi. Aku rasa kali ini, sasarannya adalah sepatu roda yang dikenakan oleh Bahram. Bagaimana pun aku melihat, sepatu roda itu bukanlah sepatu roda biasa. Melihat Bahram yang dapat bergerak dengan cepat, aku tahu bahwa sepatu roda itu mungkin telah dilengkapi dengan mesin yang membuat pengguna sepatu roda itu bisa bergerak dengan cepat.
Bahram yang tidak ingin kalah kemudian menggerakkan tangan kirinya dan membuat sesuatu yang membuatnya bisa terlindung dari serangan Knight Five.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak bisa menariknya, Knight Five?” Aku melihat wajah Knight Three yang saat ini sedang panik, bertanya kepada Knight Five.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa menariknya. Kekuatan mengendalikan angin miliknya, membuatnya terlindungi dari kemampuanku, Knight Three.”
“Sial!” Knight Three mengumpat dengan sangat kesal. Melihat wajah Knight Three saat ini, aku sudah bisa menduga bahwa semua rencananya telah gagal total ketika menghadapi Bahram-pengawalku.
“Apa yang harus kita lakukan, Knight Three??”
Knight Five baru saja bertanya kepada Knight Three, tentang langkah mereka selanjutnya. Akan tetapi Bahram-pengawalku itu, tidak tinggal diam. Sekali lagi, Bahram meminta tongkatnya untuk memanjang.
“Ruyi, memanjang!”
Begitu perintah itu terdengar, tongkat merah yang berada di tangan kanan Bahram kemudian memanjang hingga setiap ujungnya menyentuh dinding dari mall. Bahram kemudian naik ke atas tongkat merahnya dan menggunakan tongkat merah itu sebagai lintasan untuknya agar bisa mendekat ke arah Knight Five dan Knight Three. Tidak lama kemudian, kedua tangan Bahram mengambil sesuatu yang tersimpan di ikat pinggangnya: dua pistol dengan laras yang sedikit lebih panjang dari ukuran biasanya dan mengarahkannya tepat ke arah Knight Five dan Knight Three.
“Kita lari sekarang!” Knight Three berteriak sembari menarik tangan Knight Five dan dalam sekejap mata dua pria itu menghilang.
Ciiiiitttt. . .
Suara roda dari sepatu roda milik Bahram berdecit karena Bahram yang tiba-tiba mengerem kedua kakinya untuk berhenti. Tepat di tengah-tengah tongkat merahnya, Bahram berhenti. Untuk sejenak. . . Bahram melihat ke sekeliling arahnya untuk memastikan lagi keda pria itu telah pergi.
Wussshhhh. . .
Pelindung yang melindungiku bersama dengan Rudi dan karyawan butik, kemudian menghilang ketika Bahram telah merasa bahwa dua orang pria bernama Knight itu telah benar-benar pergi.
“Bahram!” Aku berteriak memanggil Bahram sembari menuju ke tepi pembatas lantai enam yang sudah tidak lagi berbentuk. “Cepat kembali itu berbahaya!”
“Saya baik-baik saja. Tuan tidak perlu khawatir pada saya.” Setelah mengatakan hal itu, Bahram mengembalikan satu pistolnya ke dalam ikat pinggangnya dan kemudian mengeluarkan perintah kepada tongkat merahnya. Karena perintah itu, kami semua nyaris terkena serangan jantung di saat yang bersamaan.
“Ruyi. . . mengecil!”
__ADS_1
Begitu mendengar perintah itu, tongkat merah milik Bahram kemudian mengecil dan membuat kakinya kehilangan pijakan. Benar saja. . . tubuh Bahram langsung terjatuh di tengah pusat mall dari ketinggian 18 meter.
“Aaaaaaaaa. . . .” Orang-orang yang berada di lantai yang sama denganku, langsung berteriak histeris ketika melihat Bahram yang terjatuh dari ketinggian 18 meter.
“Apa kau bodoh, Bahram?????” Di saat yang sama, aku pun juga berteriak karena membayangkan tubuh Bahram yang mungil itu membentur lantai dasar dan mungkin akan terluka dengan parah.
Namun dugaanku itu salah besar.
Tongkat merah milik Bahram yang telah kembali ke ukuran semula dan kembali ke tangan Bahram, kemudian memanjang lagi. Kali ini salah satu ujungnya berada di lantai dasar. Entah itu adalah rencana Bahram atau tidak, aku tidak tahu. Tapi ujung tongkat merah yang berada di lantai dasar itu terlihat seperti sebuah tiang yang besar dan Bahram justru menggunakan tongkat merah yang terlihat seperti tiang itu sebagai landasan untuk sepatu yng dikenakannya.
Dengan memutari tongkat merah itu, tangan kanan Bahram memegang tongkat merah miliknya sebagai tumpuan sementara tangan kirinya mulai menembak ke arah semua lantai yang telah mengalami kerusakan.
Kling. . . kling. . .
Aku terpana untuk sesaat melihat apa yang sedang terjadi saat ini. Semua tembakan yang keluar dari pistol milik Bahram itu kemudian mengembalikan semua benda kembali ke keadaan semula-sebelum dua pria itu datang. Bahram terus naik hingga kemudian mendarat di lantai enam, tepat di hadapanku.
“Ruyi, mengecil dan kembali!”
“Kau??” Aku menunjuk Bahram dengan tanganku yang sedikit bergetar. “Ba-bagaimana kau bisa memiliki kemampuan seperti ini?”
“Rudi. . .” Bahram mengabaikanku dan langsung melihat ke arah Rudi.
“Kau mengabaikanku??” tanyaku kesal.
“Ada apa, Bahram?” Rudi melihat ke arahku dengan senyuman kecil di bibirnya. Aku tahu apa yang saat ini sedang dipikirkannya. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang berani mengabaikanku dan Rudi tersenyum untuk itu.
“Bisakah minta tolong menyelesaikan semua hal yang ingin Tuan Winner beli sekarang juga? Akan lebih baik jika kita segera kembali ke rumah milik Tuan Winner.”
“Kenapa kita harus buru-buru? Bukankah ada kamu yang melindungiku, Bahram?” tanyaku kesal karena diabaikan olehnya.
“Karena di sini terlalu ramai, Tuan Winner. Terlalu banyak orang dan juga terlalu banyak kamera CCTV. Rekan saya mungkin telah mengatur semua rekaman CCTV. Tapi jika dua pria itu kembali kemari, membawa rekannya dan membuat kekacauan di sini, maka saya tidak yakin akan bisa menjaga semua orang, Tuan. Prioritas saya adalah Tuan Winner, tapi saya tidak akan bisa mengabaikan jika wanita dan anak-anak yang berada di mall ini juga berada dalam bahaya.”
Mendengar ucapannya, aku sadar bahwa aku melupakan kenyataan bahwa saat ini aku sedang berada di mall dengan banyak nyawa di dalamnya.
__ADS_1
“Rud!” panggilku.
“Ya, Winner.”
“Beli semua pakaian yang telah dipilih oleh karyawan. Kamu juga bisa membeli beberapa setel pakaian yang kamu suka, lalu minta mereka mengirimnya ke kediamanku.” Aku menyodorkan kartu kredit hitam milikku ke arahnya dan Rudi paham dengan tindakanku itu.
“Baiklah kalau begitu.” Rudi menerima kartu kredit milikku itu dan kemudian melihat ke arah Bahram. “Beri aku lima menit dan setelah itu, kita bisa kembali ke rumah.”
Bahram menundukkan kepalanya. “Aku mengerti.”
\*
Di belahan bumi yang lain.
“Kenapa penampilan kalian terlihat buruk seperti itu?” Knight Two yang baru saja kembali bersama dengan Knight Four, terkejut melihat penampilan Knight Three dan Knight Five yang cukup berantakan.
“Jangan katakan kalian gagal membunuh Winner lagi?” celetuk Knight Four.
“Seperti yang kalian duga.” Knight One yang baru saja masuk ke dalam ruangan membuka mulutnya dan membuat tekanan di dalam ruangan itu berubah menjadi berat. “Knight Three dan Knight Five gagal membunuh Winner.”
“Bagaimana mungkin?? Winner hanyalah aktor kelas internasional dan bukannya anggota militer kelas internasional, kenapa membunuhnya begitu sulit?” tanya Knight Two.
“Pengawal Winner sepertinya memang berasal dari Aliansi Ingmar, Knight One,” balas Knight Three dengan menundukkan kepalanya dan membela dirinya sendiri.
“Lalu?” tanya Knight One dengan memiringkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Knight Three dan Knight Five.
“Aku tidak bisa mengopi kemampuannya, Knight One.”
Satu alis Knight One naik seolah tidak percaya dengan pembelaan dari Knight Three. Knight One kemudian bertanya kepada Knight Five untuk memastikan. “Benarkah itu, Knight Five?”
Knight Five yang merupakan anggota paling baru, menundukkan kepalanya sebelum menjawab. “Itu benar, Tuan.”
“Ini menarik sekali, aku ingin sekali bertemu dengannya.” Knight One tersenyum sembari mengetukkan tangannya di meja dan membuat meja itu kemudian hancur lebur dalam beberapa ketukan.
__ADS_1