
“Kita mulai?” Sixth bertanya kepada rekannya: First, Second, Third, Fifth, Seventh dan Savior ketika hendak melakukan perpindahan lokasi di mana perang sedang berlangsung.
“Ya.” Semua rekan Sixth menjawab dengan suara penuh semangat.
Ethan yang mengantarkan kepergian rekannya, melihat ke arah Sarayu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Sarayu. “Hati-hati, Savior.”
“Aku mengerti, Tuan.”
Ethan kemudian melihat ke arah First sebagai pemimpin dari tim kecil ini dan memberinya pesan penting. “Jaga baik-baik rekanmu, First. Aku akan memandumu di sini bersama dengan Forth.”
“Aku mengerti, Tuan.”
“Baiklah. . . kita berangkat sekarang!” Sixth menyentuh tangan First di mana tangan rekan lainnya berada di pundak First. Sixth kemudian menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mata Sixth bersama dengan enam rekannya itu sudah berpindah ke lokasi perang yang sedang terjadi saat ini.
Lokasi perang kali ini berada di benua Afrika dengan status hampir seluruh benua Afrika hampir jatuh ke tangan Aliansi Arael.
“Kita di mana?” Sarayu bertanya karena begitu membuka matanya, matahari yang sangat terik langsung membakar kulitnya.
“Afrika,” balas First. “Sudah tiga hari ini kami berperang di benua Afrika karena permintaan bantuan dari negara Afrika Selatan yang tergabung dalam kelompok negara netral. Aliansi Arael sepertinya berniat mengincar benua ini dan negara di Asia tengah di mana minyak bumi berasal. Jika mereka menguasai dua tempat itu, maka seluruh dunia akan kehilangan kemampuannya untuk bertahan karena bahan bakar mereka yang akan berada di bawah pengaruh Aliansi Arael.”
“Sepertinya tugas kalian cukup berat juga,” komentar Sarayu.
“Tentu,” balas Fifth.” Jika keadaan memaksa, kami bahkan harus membagi kelompok ini menjadi dua kelompok untuk menghentikan dua perang di dua lokasi.”
“Perang akan mudah diatasi jika yang kita lawan hanyalah manusia biasa, tapi jika ada satu saja Knight yang datang maka kita akan sedikit kesusahan dan membuat Sixth bekerja dengan sangat keras karena harus berpindah-pindah lokasi berulang kali.”
“Sampai seperti itu rupanya.”
“Kau tidak akan tahu bagaimana Knight dari Aliansi Arael yang berjumlah lima orang itu begitu pintar mengatur strategi, Savior. Terlebih lagi kemampuan milik mereka itu benar-benar merepotkan,” tambah Seventh.
“Nanti kita bicarakan lagi hal itu!” First memotong Second yang ingin membuka mulutnya dan memberikan penjelasan lebih kepada Sarayu. “Sebentar lagi kita akan memasuki medan perang, jadi bersiaplah terutama Savior yang baru pertama kali masuk ke dalam medan perang.”
“Aku mengerti, First. Terima kasih untuk peringatannya.”
Lima menit kemudian Sarayu bersama dengan keenam rekannya telah tiba di medan perang yang sesungguhnya.
Ya, Tuhan. Sarayu berbicara di dalam benaknya ketika melihat medan perang yang sesungguhnya. Ini benar-benar kejam sekali. Bagaimana bisa mereka melakukan perang di kawasan yang padat dengan penduduk seperti ini?
Bau amis darah bercampur dengan bau mesiu yang meledak dan bau hangus bangunan yang terbakar. Sarayu hndak menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau yang diciumnya, akan tetapi mata Sarayu lebih tidak tahan lagi ketika melihat banyak mayat-mayat warga Afrika yang tergeletak di pinggir jalanan begitu saja.
__ADS_1
“Ini benar-benar kejam sekali. . .” Sarayu menatap satu mayat anak kecil yang tergeletak tidak jauh dari lokasi tempatnya berdiri.
“Inilah yang terjadi jika melawa keinginan Aliansi Arael. Jika mereka menolak untuk bergabung, maka Aliansi Arael akan menurunkan pasukannya dan membuat negara itu menjadi medan perang yang mengerikan.”
Dar. . . dar. . . dar. . .
Suara tembakan terdengar mendekat ke arah Sarayu dan keenam rekannya. Sarayu yang menyadari bahaya yang mendekat langsung mengangkat tangannya dan membuat pelindung kubah untuk melindungi keenam rekannya. Sarayu sendiri yang berdiri di luar kubah memanggil tongkat merah miliknya-Ruyi untuk menangkis peluru yang datang mendekat ke arahnya.
“Ruyi!”
Ruyi muncul dari telinga kanan Sarayu dan langsung berputar dengan kecepatan tinggi tepat di depan Sarayu demi melindungi Tuannya dari tembakan-tembakan peluru yang berdatangan.
“First!” Sarayu memanggil First selagi Ruyi melindungi dirinya.
“Kenapa kau juga melindungiku, Savior??” balas First bingung. Jelas sekali First merasa bingung karena dirinya sebagai ketua yang seharusnya melindungi rekan-rekannya di medan perang.
“Aku punya ide. Tidak tahu apakah kau akan setuju dengan hal itu?”
“Apa itu?” First sebagai ketua yang bijak, memilih untuk mendengarkan ide Sarayu itu.
Sarayu membuat gerakan di mulutnya ketika suara peluru yang menghantam tongkat merah miliknya membuat suara gemerincing yang memekakkan telinga semua orang. Sarayu hanya tidak ingin orang lain yang bukan rekannya, menemukan rencana miliknya.
Dalam sepuluh detik, First memikirkan rencana yang diberikan oleh Sarayu. First ingat tepat sebelum berpindah lokasi tadi, Ethan membisikkan sesuatu kepada dirinya.
“Akan lebih baik jika hari ini kau mengikuti saran dari Savior. Dengan melakukann hal itu, kau akan menghemabt energi banyak orang dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.”
Tadinya. . . First mengira Sarayu hanya akan memberikan sebuah saran kecil. Tapi. . . siapa yang akan menyangka Sarayu akan memberikan saran besar yang mungkin mampu membuat perang ini selesai dalam waktu singkat.
“Aku setuju.” First menganggukkan kepalanya menyetujui ide Sarayu.
“Kalau begitu. . . aku butuh bantuan Sixth. Agar aku tidak salah menyerang pasukan dari Aliansi Ingmar, pindahkan semua orang ke lokasi di mana Pasukan Aliansi Ingmar berada dan jika mungkin lokasi di mana warag sipil sedang berlindung.”
Dar. . . dar. . . dar. . .
Di antara suara tembakan yang terus menerus berdatangan, First meminta Forth yang berada di markas untuk mengirim semua lokasi pasukan Aliansi Ingmar kepada Sixth dan Sarayu.
Dalam hitungan lima detik, Forth mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Semua lokasi telah dipindai dengan baik.
“Bagus.” Sarayu memuji kinerja Forth yang sangat cepat.
__ADS_1
“Aku pindahkan sekarang?” tanya Sixth menunggu aba-aba dari First dan Sarayu.
“Tunggu! Aku akan memasang ini lebih dulu kepada kalian semua. Dengan ini. . . aku bisa melindungi kalian dari jarak jauh dan juga melacak posisi kalian.” Sarayu memasang pelindung angin kepada semua orang termasuk kepada dirinya. Tidak lama kemudian Sixth mulai memindahkan semua orang ke titik yang telah dikirim oleh Forth.
Dalam waktu enak detik, keenam rekan Sarayu telah berada di lokasi yang berbeda. Sarayu kemudian memerintahkan Ruyi untuk berhenti berputar dan melindungi dirinya.
Sekarang bagian pentingnya.
“Ruyi! Jadi jalur untukku agar aku bisa berada di atas.” Seolah mengerti dengan apa yang ada di dalam benak Sarayu, Ruyi mulai berputar. Saryu menekan sepatunya dan membuat roda di dalam sepatunya keluar. Ruyi kemudian membuat tubuhnya memanjang dan membuat jalur agar Sarayu bisa bergerak ke atas. Begitu berada jarak yang cukup tinggi, Sarayu melompat ke atas dengan menggunakan tubuh Ruyi sebagai landasan dan untuk memotong jalan.
Perjanjian darah itu memang hebat. Ruyi mampu membaca pikiranku. Dia memanjangkan tubuhnya untuk membuat jalur agar aku bisa ke atas. Setelah itu dia langsung berputar dengan cepat untuk berpindah tempat sebagai landasanku berikutnya.
Begitu tiba di ketinggian 100 meter dari daratan Sarayu membuat kubah besar yang mengelilingi satu kota di mana lokasinya berada. Dengan berdiri di atas pelindung yang dibuatnya, Sarayu kemudian mengambil dua pistol miliknya. Satu pistolnya diaktifkan dengan mode kedua di mana itu adalah mode penghancur komponen.
Sarayu yang berada tepat di atas kubah kemudian membuka celah kecil pada kubah pelindungnya dan memasukkan dua pistol miliknya ke dalam celah itu. Sarayu menarik pelatuk dan tidak lama kemudian melepaskan tembakan dari dua pistol miliknya secara bersamaan.
Kling. Begitu tembakan dari pistol milik Sarayu terlepas, suara tembakan yang sejak tadi terdengar langsung menghilang.
“Sekarang!!!” Melalui earphone miliknya yang terhubung ke enam rekannya dan ke markas pusat, Sarayu memberi komando untuk mulai menyerang pasukan musuh yang telah kehilangan senjata mereka karena tembakan dari Sarayu.
*
“Aku punya ide. Tidak tahu apakah kau akan setuju dengan hal itu?”
“Apa itu?”
“Aku punya cara agar kita bisa cepat menyelesaikan perang ini. Pertama. . . aku ingin kalian berpencar ke semua lokasi di mana pasukan kita berada dan tempat perlindungan warga. Kalian yang berpencar akan tetap membawa pelindung yang aku buat. Lalu setelah kalian berpencar, aku akan membuat kubah besar yang akan mengurung semua musuh. Setelah itu. . . tepat dari atas kubah besar yang aku buat, aku akan menembakkan mode kedua dari pistolku. Begitu kutembakkan mode kedua dari pistolku, maka senjata musuh akan berubah menjadi komponen penyusunnya.”
“Itu memang rencana yang bagus, Savior. Tapi jika kau melakukannya, senjata kami dan senjata pasukan kita juga akan menjadi komponen-komponen juga?”
“Bukankah tadi sudah kubilang aku akan membiarkan kalian berpencar dengan pelindungku?? Begitu kalian berpencar, tugas kalian hanya satu sampai aku menembakkan mode kedua dari pistolku”
“Apa itu?”
“Bawa semua pasukan kita ke dalam pelindung itu dan dengan begitu semua senjata kalian akan aman.”
“Bagaimana? Apa kau setuju, First?”
First tersenyum. “Aku setuju. Ide yang bagus.”
__ADS_1