
Sarayu membuka matanya dan menemukan Winner tertidur di kursi dengan tangannya yang menggenggam tangan Sarayu. Untuk sejenak. . . Sarayu melihat setiap bagian dari wajah Winner dari samping.
Hidungnya benar-benar mancung. Bibirnya juga tidak tebal dan juga tipis. Bulu matanya panjang dan lentik. Sarayu menyentuh bulu mata miliknya sendiri dan mengira-ngira ukuran dari bulu matanya sendiri. Kurasa. . . bulu mataku kalah panjang dan lentik jika dibandingkan dengan milik Winner.
Setelah memperhatikan bulu mata, bibir dan hidung Winner, Sarayu kemudian melihat ke kulit di wajah Winner yang benar-benar terlihat lembut seperti kulit bayi. Kulitnya. . . benar-benar lembut seperti kulit bayi. Melihatnya sekilas saja, aku tahu dengan baik bahwa pria di sampingku adalah pria yang tampan. Ditambah lagi dia adalah tokoh publik yang memiliki banyak penggemar dan digilai oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Apa yang dilihatnya dariku hingga menyukaiku?
Tangan Sarayu bergetar. Ingatan lamanya kemudian muncul di dalam benaknya. Ingatan lama tentang dirinya dan Redo di masa lalu, yang terasa jauh padahal jarak mereka sangat dekat. Bukankah ini terjadi lagi? Jika di masa lalu Redo menyukaiku, kenapa sekarang orang ini-Winner menyukaiku? Apa yang mereka lihat dariku?
Sarayu hendak menarik tangannya yang berada di dalam genggaman Winner. Tapi ketika Sarayu melihat ke arah Winner, Sarayu melihat kedua mata Winner yang tadinya berada dalam keadaan tertutup kini telah terbuka dan menatap dirinya.
“Kau sudah bangun rupanya??” ujar Sarayu hendak menarik tangannya.
Namun Winner menahan tangan Sarayu itu dan tetap menggenggamnya dengan erat. “Kenapa kau tidak membangunkanku dan justru memperhatikanku? Apa sekarang kau sudah sadar jika aku ini sangat tampan, Sarayu?”
Sarayu menarik tangannya lebih kuat lagi dan kali ini tangannya benar-benar terlepas dari genggaman Winner. “Sejak dulu pun aku juga tahu jika kau ini tampan.”
“Benarkah??”
Sarayu melirik tajam ke arah Winner. “Hampir semua mahasiswi di kampus mengatakan hal yang sama. Jadi tidak mungkin aku tidak mengetahuinya. Bukankah aneh namanya jika aku tidak menyadarinya ketiak semua mahasiswi selalu memujimu dan mengikutimu ke mana-mana seperti lebah??”
Tadinya. . . Winner ingin membalas ucapan Sarayu itu dengan godaan yang ada di dalam benaknya. Akan tetapi keadaan dan situasi tidak menyetujui tindakan Winner itu dan membuat Winner hanya bisa menahan godaannya hanya di dalam benaknya saja.
Alarm tanda bahaya tiba-tiba saja berbunyi dan membuat kegaduhan di seluruh penjuru markas Pasukan Perdamaian Dunia. Winner dan Sarayu yang berada di dalam ruang perawatan pun merasakan hal yang sama.
“Perhatian-perhatian. Panggilan kepada semua anggota Pasukan Perdamaian Dunia. Sekali lagi. Perhatian-perhatian. Panggilan kepada semua anggota Pasukan Perdamaian Dunia diharapkan untuk segera menuju ruang komando.”
Dari suara panggilan itu, Sarayu tahu bahwa Forth baru saja memanggil seluruh anggota Pasukan Perdamaian Dunia untuk berkumpul dan panggilan itu adalah panggilan pertanda sesuatu yang buruk telah terjadi.
__ADS_1
Sarayu melepas semua peralatan yang terhubung ke tubuhnya dan membuat Winner langsung berbalik dan menutup kedua matanya karena takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
“Apa yang sedang kau lakukan, Sarayu??”
“Jelas bukan?? Aku sedang melepas semua peralatan ini dan akan segera pergi ke ruang komando,” balas Sarayu.
“Ta-tapi bukankah kau baru saja bangun dari tidur panjangmu?? Tubuhmu mungkin masih lemah, Sarayu.”
“Tenang saja, aku tahu bagaimana keadaan tubuhku sendiri, Winner.” Setelah mengatakan itu, Sarayu turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar rawatnya.
“Tunggu aku, Sarayu!” Winner yang masih khawatir dengan keadaan Sarayu, berlari mengikuti Sarayu menuju ke ruang komando.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan dan beberapa koridor panjang yang dipenuhi oleh orang yang kalang kabut mengerjakan tugas mereka, Sarayu dan Winner akhirnya tiba di ruang komando. Sama seperti dengan keadaan sebelumnya, ruang komando benar-benar dalam keadaan kalang kabut di mana semua orang yang bekerja di bawah perintah Forth memberi laporan secara bergantian.
“Terdeteksi pesawat asing di atas benua Asia sebanyak 35 pesawat, dengan posisi satu pesawat di atas negara kecuali negara-negara yang berpihak pada Aliansi Arael.”
Winner yang belum pernah ke ruang komando kini benar-benar terkejut ketika melihat betapa banyak operator yang berada di sana dan terhubung ke satu orang saja yang bertindak sebagai otak mereka.
“Savior???” Third bersama dengan Seventh yang baru saja memasuki ruang komando langsung dikejutkan dengan kehadiran Sarayu yang masih mengenakan pakaian perawatan.
“Maaf, aku langsung berlari kemari, Third,” ujar Sarayu merasa sedikit bersalah.
“Tidak apa-apa. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja??” tanya Third sembari memeriksa Sarayu dengan saksama.
“Tidak pernah merasa lebih baik. Sepertinya aku tidak terlalu lama dan membuat kalian semua khawatir.”
Seventh membuat mantel panjang dan tebal, dan kemudian memberikannya kepada Sarayu untuk digunakannya. “Kau tidak hanya tidur panjang, Savior. Dalam tidurmu yang panjang itu, kau bahkan membuat kekacauan di markas Arael.”
__ADS_1
“Aku melakukan itu?? Kenapa aku tidak ingat??” Sarayu mengenakan mantel pemberian Seventh.
“Nanti saja kita bahas itu, Savior.” First bersama dengan Second dan Sixth akhirnya tiba di ruang komando dan langsung ikut berkomentar menjawab pertanyaan Sarayu.
“Kau baik-baik saja, Savior?” tanya Sixth dan Second bersamaan.
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Apa yang terjadi Forth? Kenapa tiba-tiba kau mengaktifkan alarm di seluruh markas dan membuat pengumuman seperti itu?” tanya First.
Forth hendak menjawab pertanyaan itu, akan tetapi Ethan yang baru saja masuk ke dalam ruang komando mendahului Forth untuk menjawab pertanyaan itu.
“Aliansi Arael akan bersiap untuk serangan besar mereka, First.” Setelah menjawab pertanyaan First, Ethan kemudian mengajukan pertanyaan kepada Forth. “Periksa bagian pesawat itu, Forth! Aku merasa jika setiap pesawat itu membawa nuklir yang mampu menghancurkan satu negara kecil.”
“Baik, Tuan.”
Mendengar kata nuklir keluar dari dalam mulut Ethan, Sarayu kemudian teringat bagaimana gambaran masa depannya yang diperlihatkan oleh Ethan kepada dirinya sebelum bergabung ke dalam Pasukan Perdamaian Dunia.
“Zero, mungkinkah ini waktunya hal itu terjadi??” tanya Sarayu dengan gugup.
Ethan melihat ke arah Sarayu dengan tatapan mata sedih. “Itu benar, Savior. Kita akhirnya tiba di hari di mana peperangan besar akan terjadi dan bencana besar itu datang. Inilah puncak dari perang ketiga ini.”
Semua orang di dalam ruang komando langsung membeku karena terkejut mendengar ucapan Ethan mengenai puncak peperangan yang merupakan penentu apakah perdamaian itu akan bisa mereka raih atau justru mereka akan gagal mendapatkannya dan perang terus berlanjut.
Winner yang merasa sedikit takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan kemudian tanpa sadar menggenggam tangan Sarayu dengan erat. Sarayu merasakan getaran di tangan Winner dan kemudian berbisik kepada Winner. “Kita pasti akan baik-baik saja. Ah tidak. . . semuanya pasti akan baik-baik saja.”
__ADS_1