
Dengan menggunakan pelindung angin miliknya, Sarayu membawa Second mendekat ke arah Sixth yang sedang sekarat.
“Second!!! Lambatkan waktu di sekitar Sixth sementara aku mengurus Dua Knight itu!!” Segera setelah membuat Second di dekat Sixth dan memasang pelindung angin pada dua rekannya itu, Sarayu segera berhadapan dengan Knigth Three dan Knight Five yang kini juga telah kehilangan satu rekan mereka-Knight Four.
“Savior, Kau!!!!” Knight Three berteriak penuh amarah setelah melihat rekannya-Knight Four meregang nyawa karena tembakan dari pistol miliknya.
Knight Three adalah tipikal orang yang mudah tersulut api dan tidak punya ketenangan. Knight Three juga adalah tipikal orang yang banyak bicara dan membuatnya cukup mudah dibaca gerakannya oleh Sarayu. Yang menyulitkan Sarayu sekarang adalah Knight Five yang memiliki ketenangan dan cukup berhati-hati dalam bertindak dan bergerak. Melihat Knight Five beberapa kali, membuat Sarayu mengingat seseorang yang tidak ingin diingatnya lagi karena orang itu meninggalkan luka yang cukup dalam di hati dan ingatan Sarayu.
Knight Three yang bisa menguasai kemampuan dari Sixth, Knight Four, Knight Five, Second, Seventh dan Fifth, melepaskan banyak serangan beruntun ke arah Sarayu. Dari air, logam, api dan benda-benda apapn, Knight Three mulai menyerang Sarayu dengan segala kekuatannya dan menggabungkannya dengan kemampuan Sixth dan Second yang mampu memanipulasi waktu dan ruang.
Sarayu melepas Ruyi dan membuat tongkat merah miliknya itu bergerak di titik butanya untuk melindunginya sementara Sarayu melepaskan banyak tembakan dari arah-arah lain.
Duar. . . wush. . . darrrr.. . . bruk. . .
Beberapa kali. . . Sarayu berhasil menembak jatuh benda seperti batu yang dibuat oleh Knight Three dan dilemparkannya ke arah Sarayu dengan menggunakan kemampuan Seventh, Sixth dan Second. Tapi beberapa kali juga. . . serangan beruntun yang datang ke arah Sarayu berhasil melewati pertahanannya dan melukai dirinya. Seperti ketika api keluar dari Knight Three membuat pelindung anginnya menghilang dan memberikan celah kepada Knight Three untuk menyerang Sarayu tanpa henti.
Bertarung seorang diri dan kini diburu oleh waktu untuk menyelamatkan Sixth yang sekarat, Sarayu mulai kehilangan tenaganya karena menerima banyak serangan dalam waktu yang singkat. Ditambah lagi, Sarayu masih menghadapi Knight Five yang bergerak di belakang Knight Three bertugas untuk melindungi Knight Three dari serangan yang diberikannya.
Ini tidak akan ada habisnya. . . jika terus begini, akulah yang akan kalah dan kehilangan nyawaku dan nyawa rekanku. Sembari terus melepas serangan angin dan menembakkan peluru dari pistol miliknya, Sarayu melirik ke arah Sixth yang sekarat dan saat bersama dengan Second yang berusaha keras menahan luka Sixth dengan memperlambat waktu yang bergerak di dekat Sixth.
Apa yang harus aku lakukan? Serangan ini akan terus datang dan akhirnya membuatku kehilangan semua tenaga milikku. Benak Sarayu tiba-tiba membuat gambaran. Sarayu melihat dirinya sendiri yang melepaskan ratusan anak panah angin dari busur angin miliknya. Lagi-lagi seperti ini? Sebenarnya datang dari mana gambaran ini? Apakah pria yang muncul belakangan ini memberi gambaran ini padaku??
Melirik ke arah rekannya yang kini dalam keadaan sekarat dan mungkin tidak akan tertolong jika Sarayu tidak segera bergegas, Sarayu tidak punya pilihan selain mempercayai apa yang muncul di benaknya saat ini. Kau. . . bilang kau adalah leluhurku? Kau bilang kau memilihku? Maka kali ini aku akan percaya dengan gambaran ini, kuharap rekanku bisa terselamatkan.
__ADS_1
Serangan beruntun datang menghampiri Sarayu. Bahkan pelindung angin milik Sarayu akhirnya ditembus karena jumlah serangan yang tidak henti-hentinya datang. Jika benar apa yang Ethan lihat. . . jika benar masa depan yang menungguku di sana. . . jika benar perdamaian yang mereka harapkan berada di tanganku. . . maka kali ini, tolong bantu aku, bantu aku mewujudkannya dan bantu aku menyelesaikan perang yang menyakitkan semua orang ini.
Dengan membuat harapan di dalam benaknya. . . Sarayu mengambil posisi untuk melepaskan panah angin miliknya. Ruyi-tongkat merah Sarayu bergerak, berputar-putar berusaha melindungi Tuannya ketika Tuannya berusaha untuk membuat serangan mematikan. Sarayu menarik panah itu kuat-kuat dengan membayangkan apa yang tadi terlintas di dalam benaknya. Aku. . . hanya ingin melindungi rekanku. . . aku hanya ingin melihat dunia ini damai. . . aku hanya ingin. . .
Sarayu mengumpulkan semua angin di tangannya dan kini bersiap untuk melepaskannya dan wushhhhhh. . . . Satu panah itu dilepaskan Sarayu ke arah semua serangan yang datang dan siap menghujaninya.
Wush. . . .wush. . . . wushhhh. . . Panah itu tiba-tiba berubah menjadi ratusan ketika dilepaskan oleh Sarayu dan mulai menyerang serangan yang siap menghujani Sarayu.
Booom. . . suara ledakan bersama dengan kilatan cahaya yang menyilaukan muncul di saat panah Sarayu menyentuh serangan itu dan menghentikan mereka. Kilauan cahaya yang menyilaukan itu menjadi kesempatan yang tidak dilewatkan oleh Sarayu. Memanfaat kilauan cahaya yang sangat menyilaukan itu, Sarayu menangkap tongkat merah miliknya dan bergerak ke tempat di mana Sixth dan Second berada.
“Sixth, aku tahu kamu sekarang sekarat. Tapi kemampuanku tidak cukup untuk mengobatimu. Sekarang aku hanya bisa memberikan tenagaku padamu dan pindahkan lokasi kita sekarang. Apa kau bisa melakukannya, Sixth? Kita harus kembali ke markas dan menemui Third!”
Sixth menganggukkan kepalanya dengan lemah. “Aku rasa, aku bisa melakukannya.”
“Kita kembali.” Sixth membuat peringatan kepada Sarayu dan Second sebelum memindahkan mereka kembali ke markas.
“Tunggu sebentar, Sixth.” Sarayu memanjangkan tongkat merah miliknya untuk menjangka tubuh Fifth yang telah dingin karena nyawanya yang telah melayang. Setelah memastikan tubuh Fifth tersentuh oleh Ruyi, Sarayu memberi Sixth izin untuk membawanya kembali ke markas. “Kita pergi sekarang, Sixth!!”
Dalam sekejap mata. . . Sarayu bersama dengan Sixth dan Second muncul di ruang perpindahan di mana Third telah menunggu kedatangan mereka.
“Second, bantu aku!” teriak Third.
“Aku serahkan Sixth dan tubuh Fifth pada kalian!” teriak Sarayu yang langsung berlari menuju ruang komando meninggalkan Sixth bersama dengan Third dan Second.
__ADS_1
“Serahkan pada kami!” teriak Second.
Sarayu berlari menuju ruang komando di mana alarm di seluruh markas terus berbunyi memberi peringatan kepada semua orang di dalamnya. Sarayu terus berlari melewati seluruh pasukan Aliansi Ingmar yang sibuk berlarian ke sana kemari karena tugas-tugas mereka. Tim engineer di bawah Ninth sibuk mengaktifkan sistem pertahanan di markas. Pasukan Aliansi Ingmar terus berlarian dikirim keluar markas karena perintah Ethan yang terdengar oleh saluran komunikasi di seluruh markas.
Sarayu sudah berdiri di depan pintu ruang komando dan menghentikan langkah kakinya. Sebelum masuk ke dalam markas. . . Sarayu memastikan semua pelindung kubah milik di seluruh benua yang tersisa dalam keadaan baik-baik saja. Karena kematian Fifth, lapisan pelindung yang tadinya terdiri dari tiga lapisan kini hanya tersisa dua lapisan.
Selama lapisan pelindung masih ada, kita masih bisa bertahan. Tapi. . . baru saja memastikan pelindung kubah miliknya yang melindungi benua Amerika, lapisan itu telah hancur dan memberi peringatan kepada Sarayu.
Booom. . . sebuah ledakan jatuh di dalam markas dan membuat bagian markas terbakar hebat. Sarayu melihat kepulan asap dari jendela dan merasakan firasat buruk melihat arah asap dan api yang jatuh di bagian markas.
Sarayu masuk ke dalam ruang komando dan mendengar sesuatu yang dia takutkan.
Tittttttt. . . . .
“Denyut jantung Sixth, Second dan Third telah berhenti, Tuan. Mereka bertiga tewas dalam ledakan yang baru saja jatuh di sisi lain markas ini, Tuan.”
Mendengar ucapan itu, kaki Sarayu tiba-tiba merasa lemas. Ini salahku! Ini salahku, karena meninggalkan mereka tadi!!!!
__ADS_1