THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 78 PUNCAK PERANG PART 1


__ADS_3

            Sarayu baru saja menutup mulutnya ketika semua pesawat yang berada di atas udara benua Afrika menjatuhkan beberapa misil mereka secara serentak.


            Duarrrrr. . . . .


            Gambar dalam semua kamera milik Forth yang berada di benua Afrika memberikan gambaran singkat mengenai ledakan yang terjadi sebelum akhirnya gambar itu menghilang karena kamera yang rusak terkena ledakan.


            “Seluruh kamera yang terhubung di benua Afrika terputus, Tuan,” ujar operator Forth kepada Forth.


            “Tidak masalah.” Forth langsung mengambil tindakan dengan menggunakan papan keyboardnya dan mulai mengetikkan kode-kode program yang hanya dikuasai oleh Forth.


            Tidak lama kemudian gambar yang terputus muncul di layar utama dan membuat semua orang yang berada di dalam ruang komando kini melihat bahwa hampir seluruh negara yang di benua Afrika hancur kecuali negara-negara yang sudah bergabung dengan Aliansi Arael.


            “Bukankah itu sama saja dengan menghancurkan semua negara yang ada di benua itu??” ujar Seventh.


            “Itu memang benar. Secara logika itulah yang terjadi. Tapi. . . Aliansi Arael tidak akan melakukan rencana itu jika mereka tidak memikirkan solusi untuk melindungi negara-negara di bawah aliansi mereka.” First menjawab pertanyaan Seventh dengan menggunakan logikanya.


            “Tapi bagaimana caranya??” tanya Sixth yang juga sama bingungnya dengan Seventh.


            Forth dengan kecepatan tangannya kemudian mengganti gambar yang ada di monitor utama dengan gambar yang ditangkapnya melalui satelit luar angkasa. Dari gambar itu, pertanyaan Sixth dan Seventh akhirnya terjawab. Semua negara yang berada di bawah Aliansi Arael kini terlindungi berkat kubah kaca yang dibuat oleh Knight Three dalam waktu singkat. Kubah itu juga dilengkapi dengan penyaring udara yang akan menyaring udara di sekitarnya jika ada radiasi nuklir yang masuk.


            “Mereka sudah merencanakan hal ini!!!” teriak Second kesal.


            “Ini benar-benar kejam!!” tambah Third. “Bukankah ini namanya sama saja dengan pembunuhan masal secara terbuka?? Mereka melepas nuklir pada siapapun tanpa melihat keadaan negara itu!!”


            Sarayu melepaskan genggaman tangan Winner di tangannya dan melihat ke arah Ethan. “Bisakah saya pergi, Tuan? Saya akan menghentikan semua pesawat itu.”


            “Apa kamu yakin bisa melakukannya, Savior??” tanya Ethan dengan wajah sedikit ragu.


            “Saya tidak akan bisa melakukannya jika tidak menerima bantuan dari kalian semua.”


            “Apa kamu punya ide, Savior?” tanya Sixth dengan wajah antusias.

__ADS_1


            “Aku punya ide kecil dan ide itu membutuhkan bantuanmu, Sixth dan beberapa orang lainnya tentunya.”


            Ethan memandang Sarayu dan menatap matanya untuk menemukan keyakinan dalam tatapan Sarayu. Seperti yang diharapkannya, Sarayu sama sekali tidak merasa takut bahkan setelah ucapannya mengenai gambaran yang dilihatnya akan terjadi dalam waktu dekat.


            “Kami akan membantumu dari sini, Savior. Siapa yang kamu butuhkan untuk ikut membantumu, Savior?” tanya Ethan.


            “Sixth, Second dan Fifth. Sisanya akan kutinggalkan di sini jika Knight datang kemari dan menyerang markas kita. Knight One pasti datang kemari karena katanya saya telah menghancurkan markas miliknya.”


            “Tentang markas ini, kau tidak perlu khawatir, Savior,” ujar Ethan. “Sebelum membangun markas ini, aku telah membuat Ninth, Eighth dan Seventh membuat beberapa pelindung yang bisa kami aktifkan jika bahaya mendekat kemari. Seluruh markas Aliansi Ingmar yang didesain oleh Eighth dan Ninth, memiliki pelindung mereka. Eighth dan Ninth bahkan telah merancang beberapa bunker di beberapa negara yang bersekutu dengan Aliansi kita karena gambaran masa depan yang aku lihat, Savior.”


            “Jadi begitu rupanya. . .karena Tuan telah bersiap-siap setelah mengintip masa depan, sepertinya saya tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal ketika bertugas nantinya.”


            “Tenang saja, Savior,” ujar Ninth dari saluran komunikasi yang terhubung ke ruang komando. “Aku dan Eighth telah mengaktifkan alarm bahaya untuk meminta semua orang dievakuasi ke dalam bunker yang kami rancang dan buat.”


            “Itu benar,” tambah Eighth. “Fokuslah untuk menghentikan Knight Arael dan menghentikan perang ini.”


            “Aku mengerti,” balas Sarayu. “Aku akan melakukan itu, Eighth, Ninth.”


            Sarayu menatap pakaian yang melekat di tubuhnya dan tersenyum kecil ketika menyadari pakaian yang dikenakannya saat ini adalah pakaian perawatan yang tidak layak untuk dibawa pergi berperang. “Aku akan mengganti pakaianku dalam lima menit. Kita bertemu di ruang perpindahan, Sixth, Second dan Fifth.”


            “Oke.” Sixth, Second dan Fifth menjawab dengan serentak.


            Sarayu berbalik dan langsung keluar dari ruang komando, diikuti oleh Sixth, Second, Fifth dan terakhir Winner. Sixth, Second dan Fifth langsung menuju ruang perpindahan, sementara Sarayu berniat untuk mengganti pakaiannya lebih dulu di ruang ganti. Winner yang mengikuti Sarayu, menarik lengan Sarayu dan membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.


            “Ini berbahaya, Sarayu! Kau tidak bisa pergi ke sana!!”


            “Jika aku tidak pergi, Knight Arael akan menjatuhkan misil-misil itu di benua lainnya dan membuat banyak nyawa melayang begitu saja tanpa tahu alasan kematian mereka. Ini pembunuhan masal dan ini adalah kesalahan. Aku harus menghentikan kesalahan ini dan menyelamatkan nyawa mereka, Winner.”


            “Tapi. . .”


            “Sudah kukatakan bukan, kita akan baik-baik saja bukan? Zero bisa melihat masa depan dan dia pasti akan mengatakan jika sesuatu yang buruk akan menimpa kami. Percayalah padanya, Winner.”

__ADS_1


            Winner ingin sekali percaya seperti yang dilakukan oleh Sarayu, tapi Winner terlanjur mendengar ucapan Ethan mengenai masa depan yang menunggu mereka dalam puncak perang ini. “Harga perdamaian dunia dan perang ini adalah harga yang sangat mahal, Dylan.”


            “Kalau begitu sebelum kau pergi. . . bisakah aku bertanya satu hal padamu, Sarayu?”


            “Apa yang ingin kau tanyakan??”


            Winner mengatur pikirannya, nafasnya dan hatinya sebelum mengajukan pertanyaannya yang muncul ketika Ethan bertanya mengenai Redo. Winner merasa kehadiran Redo ini mungkin akan membuat Sarayu dalam bahaya mengingat Ethan memintanya untuk merahasiakan hal itu.


            “Apa yang ingin kau tanyakan, Winner? Aku tidak punya banyak waktu.” Sarayu mengulangi ucapannya.


            “Redo.”


            Alis Sarayu mengerut. “Kenapa tiba-tiba bertanya tentang hal itu padaku?”


            “Aku hanya penasaran. Jika dia muncul di hadapanmu, apa yang akan kau lakukan?”


            “Aku dan dia, hubungan kami, perasaan kami sudah lama berlalu. Aku dan dia terikat takdir yang mengatakan bahwa kami tidak bisa bersama bagaimana pun keadaannya. Aku dan dia, hanya bisa menjadi bagian dari kenangan satu sama lain dan tidak lebih dari itu. Jika kau menanyakan pertanyaan ini padaku ketika kita kuliah, mungkin aku akan menjawab bahwa aku masih berharap padanya. Tapi. . . setelah bertahun-tahun berlalu, aku belajar dia dan aku tidak ditakdirkan untuk bersama.”


            Winner melepaskan tangan Sarayu dengan menundukkan kepalanya. “Ingatlah untuk kembali dengan selamat. Kau masih berhutang jawaban untuk pernyataanku waktu itu.”


            Sarayu berjalan pergi ke ruang ganti sembari berkata, “Bukankah pernyataan tidak butuh jawaban?? Jadi hutang apa yang aku miliki denganmu, Winner??”


            Setelah mengganti pakaiannya, Sarayu langsung menemui Sixth, Second dan Fifth yang telah menunggunya di ruang perpindahan. Di sana Sarayu melihat Ninth yang membawa dua senjata milik Sarayu: pistol dan sepatu rodanya.


            “Aku sudah memperbaikinya, Savior. Ini. . .” Ninth memberikan dua senjata milik Sarayu kepadanya.


            Sarayu menatap dua senjata itu dengan senyuman tipis di wajahnya. “Terima kasih banyak, Ninth. Kukira aku sudah kehilangan dua senjata ini sejak pertarungan terakhir.”


            “Sixth menemukan dua benda ini untukmu, Savior,” balas Ninth.


            Sarayu meletakkan pistolnya di balik jas hitamnya, lalu mengenakan sepatu roda itu di kedua kakinya. Tidak lama kemudian memasang kacamata hitam di wajahnya. “Kita berangkat sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2