THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 33 CINTA PERTAMA WINNER PART 1


__ADS_3

Begitu tiba di rumah, Winner menatap Barham dengan tatapan menyelidik dan memperhatikan setiap bagian dari Barham.


“Kenapa Tuan Winner melihatku seperti itu?”


“Oh.” Winner terkejut mendengar pertanyaan dari Bahram karena menyadari tatapan darinya. “Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja dan berusaha untuk tidak menyembunyikan lukamu dariku.”


“Tuan tidak perlu khawatir saya memang baik-baik saja.”


Winner menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan percaya dengan ucapanmu. Sebagai orang yang kau layani dan kau lindungi, aku juga harus memperhatikan keselamatanmu, Bahram. Bagaimana pun saat ini sepertinya hanya kau yang bisa melindungiku dan jika kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, aku mungkin akan dalam masalah.”


Sarayu menganggukkan kepalanya. “Saya paham hal itu, Tuan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya baik-baik saja dan Tuan bisa kembali ke kamar Tuan untuk beristirahat.” Sarayu melemparkan tatapannya ke arah Rudi dan memberi isyarat pada Rudi untuk membawa Winner ke kamarnya.


“Ayo, Winner! Akan lebih baik jika kau beristirahat hari ini. Karena kau besok harus melakukan pemotretan di tengah laut.”


Winner yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya kemudian terhenti ketika mendengar kata ‘tengah laut’ dari mulut Rudi. “Apakah besok jadwal pemotretanku itu?”


Rudi menganggukkan kepalanya. “Ya, besok.”


Mendengar jawaban dari Rudi, Winner kemudian kembali menatap Sarayu. Untuk sejenak, Sarayu merasa Winner mampu mengenalinya bahkan setelah dirinya menggunakan rambut palsu, masker yang menutupi separuh wajahnya dan kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya.


“Barham?” panggil Winner dengan suaranya yang sedikit bergetar.


“Ya, Tuan.” Sarayu menundukkan kepalanya menjawab panggilan dari Winner.


“Apakah aku akan baik-baik saja, besok?”


“Tentu, Tuan.”


“Aku akan melakukan pemotretan di tengah laut, apakah kau yakin aku akan baik-baik saja??”


“Ya, Tuan. Di dalam pikiran saya saat ini, saya sudah punya banyak rencana untuk melindungi Tuan. Jadi Tuan Winner tidak perlu khawatir dan cukup beristirahat saja malam ini.” Setelah menjawab pertanyaan itu, Sarayu kembali melihat ke arah Rudi untuk memberikannya isyarat kepada Rudi untuk membawa Winner beristirahat.


“Ayo, Winner! Kau butuh istirahat!”

__ADS_1


Lima menit kemudian, Rudi keluar dari kamar Winner dan Sarayu telah menunggu Rudi di depan pintu kamar Winner.


“Kau juga beristirahatlah, Bahram! Hari ini. . . kau pasti sangat lelah sekali.”


“Ya, aku akan melakukannya setelah mengatur beberapa keamanan di rumah ini. Sebelum itu. . . aku ingin bertanya padamu, Rudi.”


“Apa itu?”


“Bisakah aku memasang beberapa kamera CCTV di beberapa tempat??”


Rudi menganggukkan kepalanya. “Jika menurutmu itu perlu, aku tidak akan masalah. Nanti ketika Winner bangun, aku akan memberitahunya. Titik mana saja yang ingin kamu pasang dengan CCTV, Bahram?”


“Karena bagian gerbang sudah ada, maka aku hanya akan memasang di depan pintu masuk dan pintu belakang, lalu di depan pintu kamar Winner dan di luar jendela kamar Winner. Apa tidak apa-apa?”


Rudi memikirkan sejenak permintaan dari Sarayu dan tidak lama kemudian memberikan anggukan kepalanya sebagai jawaban. “Baiklah. Aku rasa semua titik itu tidak ada yang mengganggu privasi Winner.”


“Terima kasih.”


“Ingat setelah melakukan itu, kau juga harus beristirahat, Bahram!”


“Ah satu lagi, Barham!”


Ucapan dari Rudi itu menghentikan langkah kaki Sarayu yang baru menuruni dua buah anak tangga. “Ya??”


“Besok jangan lupa kenakan satu dari beberapa setelan yang dibelikan oleh Winner untukmu! Winner akan marah besar jika kamu tidak mengenakan apa yang telah dibelikannya, itu satu dari beberapa kebiasaan Winner.”


“Aku mengerti.”


Sarayu melanjutkan langkah kakinya lagi dan mulai melakukan pekerjaan terakhirnya sebelum beristirahat.


\*


Di dalam kamar Winner yang tertidur karena kelelahan dengan pemandangan yang dilihatnya hari ini, kemudian bermimpi tentang kenangan lamanya.

__ADS_1


“Win! Winner!”


Suara itu adalah suara yang begitu dirindukan oleh Winner selama beberapa tahun terakhir. Suara itu membuat Winner yang berada di kampus lamanya kemudian berbalik untuk melihat pemilik suara itu.


“Win! Winner! Kenapa kau tidak menjawab panggilanku, hah?? Aku memanggilmu sejak tadi dan kau mengabaikan panggilanku!! Kau pasti lupa kan jika hari ini harusnya kau mengerjakan tugas denganku???”


Winner menatap sosok gadis di hadapannya itu dengan perasaan rindu yang sudah berkumpul selama beberapa tahun terakhir. Winner tidak bisa berkata apapun untuk membalas ucapan gadis di hadapannya dan terus melihatnya sebagai balasannya.


“Hei, Winner! Kenapa kau diam saja?? Kau sudah berlagak karena kau sudah mulai terkenal sekarang, hah??”


Winner menggelengkan kepalanya.


“Lalu kenapa kau diam saja?? Kenapa kau mengabaikan panggilanku??” Sosok gadis itu kemudian berjinjit untuk menyentuh kening Winner dan memeriksa keadaan tubuh Winner. “Kau baik-baik saja. Kau tidak demam. Kenapa denganmu hari ini, Winner??”


Winner menatap gadis itu dengan tatapan penuh rindu dan mulai membuka mulutnya karena perasaan rindunya yang meluap di saat yang bersamaan. “Apakah aku bisa memelukmu sebentar saja??”


Sosok gadis itu kemudian spontan mengambil langkah mundur ketika mendengar pertanyaan Winner. “Apa kau sudah gila? Kenapa kau ingin memelukku? Ini di kampus bukan lokasi syuting, Winner??”


“Aku tahu.”


“Lalu?? Kenapa kau ingin memelukku? Kau lupa, kau sudah mulai terkenal. Kau tidak bisa melakukan semua hal yang kau ingin tanpa berpikir panjang soal karirmu dan namamu.”


“Aku tahu itu. Aku hanya tidak ingin melewatkan kesempatan yang sama dua kali. Dulu. . . aku punya banyak kesempatan untuk membuat pengakuan padamu. Tapi karena karirku yang terus menanjak dan karena popularitasku yang terus meningkat, aku kehilangan banyak kesempatan itu. Aku kehilangan waktu untuk memelukmu. Aku kehilangan waktu untuk menghabiskan waktu bersamamu. Aku kehilangan banyak hal yang harusnya aku bisa lakukan bersamamu dan yang terpenting, aku kehilangan kesempatanku untuk membuat pengakuan padamu. Jadi kali ini. . . hanya kali ini saja, bisakah kau membiarkanku memelukmu?”


Sosok gadis di hadapan Winner memandang Winner dengan tatapan tidak mengerti. Kepalanya yang sedikit miring ke arah kanan adalah satu dari beberapa kebiasaannya khasnya yang diingat dengan baik oleh Winner.


Tidak segera mendapatkan jawaban dari gadis yang dicintainya secara diam-diam selama ini, Winner yang tidak ingin kehilangan kesempatan penting itu lagi, langsung menarik sosok gadis di hadapannya itu ke dalam pelukannya.


“Win! Winner! Apa yang kau lakukan???” Gadis itu mencoba untuk memberontak ketika berada di dalam pelukan Winner yang erat. Namun Winner yang tidak ingin merasakan penyesalan untuk kedua kalinya justru mengeratkan pelukannya.


“Kali ini dengarkan aku! Ini tidak akan kukatakan untuk kedua kalinya, jadi kau harus mendengarnya dengan baik.”


Gadis itu kemudian menghentikan usahanya untuk memberontak ketika mendengar ucapan Winner yang lembut. Dalam pelukannya, gadis itu dapat dengan jelas mendengar suara detak jantung Winner yang kencang.

__ADS_1


“Apa yang ingin kau katakan padaku hingga kau berani memelukku di tempat seperti ini, Winner??? Apa kau sudah tidak sayang lagi dengan karir dan popularitasmu??”


“Jika aku punya kesempatan ini lagi, jika aku bisa bertemu denganmu lagi, jika aku bisa melihatmu lagi, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang saat ini aku lakukan padamu. Dengarkan baik-baik!” Winner mengambil napas dalam-dalam dan menghirup bau tubuh khas gadis yang begitu disukainya sejak kuliah. “Aku menyukaimu. Aku menyukaimu, Sarayu.”


__ADS_2