
Winner’s POV
“Apa arti cinta pertama bagimu?”
Pertanyaan itu sering kali kudengar baik dalam memerankan tokoh atau dalam kehidupan nyata. Banyak dari penggemarku yang begitu penasaran dengan sosok cinta pertamaku yang selama selalu aku sembunyikan.
Tapi meski mulutku ini selalu membaut berbagai alasan dengan mengatakan bahwa cinta pertamaku tidak memiliki kesan mendalam dan terjadi sudah cukup lama, nyatanya hatiku mengatakan hal yang lain. Cinta pertamaku meninggalkan kesan yang mendalam bahkan hingga saat ini aku tidak bisa melupakannya.
Cinta pertamaku terjadi ketika aku kuliah. Seorang gadis dengan rambut yang cukup panjang itu selalu menggelung rambutnya di atas dan menyembunyikan rambut hitamnya yang indah itu. Penampilannya benar-benar seperti kamuflase. Ketika kuliah, dia hanya akan mengenakan celana jins, kemeja yang ditutup dengan hoodie dan sneaker. Rambut hitamnya yang indah digelung ke atas dan membiarkan beberapa rambutnya yang berukuran pendek, sedikit berantakan. Kacamata yang terpasang di wajahnya juga berhasil menutupi kedua matanya yang indah.
Pertemuan pertama kami adalah saat kuliah bersama di mana dia adalah satu-satunya gadis yang sengaja menjaga jarak denganku dan berharap kuliah dengan tenang, tidak ingin terganggu oleh teriakan histeris gadis-gadis lainnya yang menggilaiku. Pertemuan pertama itu tidaklah cukup untuk meninggalkan kesan padaku hingga akhir kuliah bersama kami, dosen yang memimpin kuliah memberikan tugas kelompok dan membuatku terjebak dengannya-hanya berdua saja.
Melihat caranya berpenampilan dan kebiasaannya yang selalu menyendiri, awalnya kukira dia adalah gadis introvert yang akan mengerjakan semuanya sendiri. Tapi lagi-lagi aku salah.
“Win. Winner, tugasmu belum dikerjakan!”
“Win. Winner, bagianmu mana? Apa kamu tidak butuh nilai untuk kuliah??”
Gadis itu benar-benar menagih tugasku layaknya penagih hutang. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk mencegatku dan memberiku peringatan. Tidak hanya itu, dia juga membombardirku dengan banyak pesan. Aku bahkan sempat heran, bagaimana dia bisa menemukan nomor ponselku?
Mau tidak mau, akhirnya aku mengerjakan semua tugasku untuk membuatnya berhenti mendatangiku dan menagihku layaknya penagih hutang.
Sampai pada kejadian itu, aku masih belum memiliki kesan apapun padanya dan masih menganggapnya sebagai gadis biasa yang sibuk mengejar nilai kuliah dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di masa depan. Namun sesuatu terjadi pada kuliah bersama kedua di mana aku menarik semua penilaian dan kesan awalku padanya. Gadis itu. . . tiba-tiba mengubah penampilannya: mengenakan blouse putih dan rok warna capucinno dengan panjang selutut dan dibalut dengan jas hitam dengan panjang yang panjang sama dengan roknya. Rambutnya yang selalu digelung kini dibiarkan terurai rapi dan kacamata yang selalu menjadi bagian dari wajahnya kini benar-benar lepas, digantikan oleh lensa kontak.
Gadis itu tampil dengan anggun secara tiba-tiba dan membuat semua mata tertuju padanya, tidak terkecuali aku. Hari itu, saat itu adalah kesan mendalam yang tidak pernah bisa kulupakan dan mungkin itu adalah pertama kalinya jantungku berdetak lebih kencang karena dirinya.
“Sarayu, kenapa kau tiba-tiba mengubah penampilanmu??” tanyaku ketika jam kuliah bersama berakhir.
“Oh ini.” Sarayu menatap dirinya sendiri dan merasa sedikit kikuk. “Setelah ini, aku ada janji. Karena tidak sempat kembali ke kos, mau tidak mau aku harus mengenakan pakaian ini. Ada apa kau memanggilku, Winner?”
“Untuk tugas kelompok berikutnya, kau tidak keberatan berkelompok denganku lagi bukan?” tanyaku dengan nada sedikit merendah.
__ADS_1
“Tentu saja. Bukankah memang harus begitu? Kenapa memangnya??”
“Kukira kamu tidak suka berkelompok denganku.”
Sarayu tersenyum kecil dan membuatnya semakin terlihat bersinar di mataku. “Win. Winner, dengar yah. Yang aku tidak suka itu para pengikutmu yang selalu mengikutimu dan selalu membaut keributan. Aku suka ketenangan dan kamu adalah seseorang yang jauh dari kata tenang. Tapi bukan berarti aku tidak suka bekerja sama denganmu. Selama kau bekerja dengan baik, aku tidak keberatan.”
Hari itu, detik itu, saat itu, aku telah jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku jatuh cinta pada Sarayu yang tidak melihat ketampananku, yang tidak tergila-gila padaku, dan melihatku sebagai Winner-teman kuliahnya.
*
“K-kau wanita?” Teriakan dari Knight One itu membuat semua orang terkejut baik itu Knight One sendiri, Knight Three, Knight Five, Sixth, Second dan Winner.
Namun keterkejutan yang diperlihatkan oleh Sixh dan Second berbeda dengan keterkejutan yang diperlihatkan oleh Knight One, Knight Three dan Knight Five. Keterkejutan Sixth dan Second adalah bentuk terkejut yang mengatakan bahwa terungkapnya jati diri dari Sarayu harusnya tidak terjadi.
“Savior!!!!” Sixth berteriak memanggil Sarayu.
Sarayu menganggukkan kepalanya seolah mengerti maksud dari teriakan Sixth. Sarayu langsung memberikan perintah kepada tongkat merahnya untuk memanjang ke arah Sixth dan Second. “Ruyi!!!”
“Savior!” Sixth memanggil nama Sarayu lagi sembari mendekat ke arah tongkat merah milik Sarayu dan menyentuhnya. Sixth memberi aba-aba kepada Sarayu untuk segera melakukan perpindahan tempat menuju ke markas Pasukan Perdamaian Dunia.
“Tidak akan kubiarkan kau pergi, Bahram!” teriak Knight One yang berusaha menjangkau tangan Sarayu. Tapi usaha Knight One itu gagal karena sepatu roda milik Sarayu bergerak lebih cepat untuk mundur dan mendekat ke arah Sixth dan Second. Berkat Second, gerakan Knight One yang harusnya mampu menggapai Sarayu kini harus menelan kenyataan pahit untuk gagal.
“Knight Three! Knight Five! Tangkap gadis itu!!! Apapun yang terjadi, aku ingin gadis itu ditangkap sekarang juga!” Knight One masih tidak ingin menyerah untuk mendapatkan Sarayu dan kini memerintahkan dua rekannya untuk maju dan membantunya, mendapatkan keinginannya.
Knight Three yang memiliki kemampuan untuk mengopi kemampuan lain, segera mengopi kemampuan dari Second dan membuat Knight One dan Knight Five yang berada di dekat Sarayu dan Winner bergerak untuk menangkapnya.
“Jika tidak bisa menangkap gadis itu, tangkap Winner!” Knight One memberikan aba-abanya lagi kepada dua rekannya. “Winner adalah kelemahan dari gadis itu sekarang!”
Mendengar aba-aba dari Knight One, Knight Five yang memiliki jarak paling dekat dengan Winner segera memanggil logam miliknya dan membuat rantai panjang dengan borgol di kedua ujungnya. Satu borgol itu terhubung ke tangan Knight Five sendiri dan satu lagi akan terhubung ke sassarannya yakni Winner.
Sarayu yang melihat tindakan dari Knight Five yang membahayakan Winner yang saat ini merupakan seseorang yang harus dilindunginya, langsung bergerak mendekat ke arah Winner dengan menaiki tongkat merah miliknya-Ruyi. Bergerak di atas tongkat merah lebih cepat dibandingkan bergerak di atas air karena faktor kepadatan dua benda yang berbeda itu. Dengan cepat Sarayu berada di dekat Winner dan menggantikan Winner tertangkap oleh borgol dari rantai panjang milik Knight Five.
__ADS_1
Hup. Kling. Kling.
Tangan kiri Sarayu tertangkap oleh borgol milik Knight Five sementara Sixth mulai memindahkan dirinya bersama dengan Sarayu, Second dan Winner.
“Sial! Apa yang terjadi???” umpat Sixth yang melihat tangan Sarayu tertangkap oleh Knight Five. “Aku tidak akan bisa memindahkanmu jika kau terhubung dengan Knight Five, Savior! Berpindah tempat sekarang, akan membawa Knight Five ke markas kita!”
“Lakukan saja, Sixth!!!” teriak Second. “Kita tidak akan rugi menangkap Knight Five sekarang, daripada kita harus melepaskan Savior dan kehilangannya! Ingat tujuan kita datang kemari adalah menyelamatkan Savior dari mereka!”
“Aku tahu itu, Second! Tapi membawa Knight Five-pengendali logam itu akan membahayakan markas kita! Semua orang di markas tidak akan sanggup mengatasinya!”
“Second!!” teriak Sarayu yang seolah mengerti kesulitan yang sedang dihadapi oleh dua rekannya. “Perlambat semua waktu di sekitar Knight, lebih lambat lagi! Setelah ini, aku akan melepas tembakan dari mode ketiga dan setelah itu Sixth akan memindahkan kita tepat sebelum efeknya terjadi dan jika itu terjadi hambatlah Knight One saja! Aku akan mengatasi Knight Five!”
Sixth dan Second yang memahami kode mode ketiga itu, langsung menelan ludahnya ketika ide Sarayu yang cukup membahayakan.
“Sepertinya kita tidak punya pilihan lain, bukan?” Sixth melirik ke arah Second.
Second menganggukkan kepalanya setuju. “Ya, ini satu-satunya cara untuk membawa kita semua kembali ke markas dan menyelamatkan Savior dan Winner.”
Sarayu menahan borgol di tangannya yang terus menariknya ke arah Knight Five, sementara itu pelindung angin milik Sarayu yang berada tidak jauh dari dirinya berusaha menahan gerakan Knight One yang sudah diperlambat oleh Second. Pertarungan itu semakin sengit ketika Knight Three berusaha untuk menetralkan kemampuan milik Second dan membuat dua rekannya mendekat ke arah Savior yang kini merupakan sasaran mereka.
“Knight Three!” Knight One berteriak lagi.
“Aku tahu, Knight One. Tapi ini bukanlah hal yang mudah!!!” keluh Knight Three yang berusaha dengan keras untuk mendukung dua rekannya.
Perlahan Savior mulai ditarik oleh Knight Five karena terus berlindung tanpa menyerang. Ruyi yang harusnya bisa membantu, kini harus menjadi jembatan untuk Savior bergerak menahan tarikan dari Knight Five.
“Seeond!” Sarayu mengeluarkan satu pistolnya dan menekan tombol modenya. “Sekarang!"
Second melepaskan perlambatan waktu pada Knight Five, sementara Sarayu yang berhasil ditarik oleh Knight Five langsung melepaskan tembakannya ke arah rantai milik Knight Five.
Booom. Ledakan dengan skala yang luar biasa terjadi. Sixth langsung memindahkan dirinya bersama dengan Second, Winner dan Sarayu yang kini terhubung dengan tongkat merah milik Sarayu-Ruyi kembali ke markas Pasukan Perdamaian Dunia.
__ADS_1