
Dalam tidurnya, mimpi Sarayu membawa Sarayu ke kenangan lain dalam hidupnya. Jika sebelumnya mimpi membawa Sarayu pada kenangan kecilnya tentang ibunya yang bercerita tentang legenda keluarga, maka kali ini mimpi itu membawa Sarayu pada kenangan di mana dirinya selalu merasa rendah diri di masa lalu.
Sejak kecil Sarayu tahu dengan baik bahwa keluarganya adalah contoh dari keluarga yang tidak sempurna. Dari luar. . . keluarga Sarayu terlihat seperti kebanyakan keluarga lainnya. Tapi begitu berada di balik dinding rumahnya, keluarga Sarayu terasa begitu dingin bahkan rumah di mana dirinya tumbuh terasa sangat dingin.
Awalnya. . . Sarayu beranggapan bahwa keluarga miliknya itu sama dengan kebanyakan keluarga lainnya. Namun ketika dirinya tumbuh semakin dewasa dan mulai melihat keluarga-keluarga lain, Sarayu sadar bahwa keluarganya berbeda dari kebanyakan dari keluarga yang dilihatnya. Di mata kedua orang tuanya tidak ada cinta seperti yang Sarayu lihat pada mata-mata lain dari keluarga-keluarga lain.
Perlahan ketika mulai beranjak dewasa Sarayu akhirnya tahu alasan keluarganya yang berbeda. Ayah dan Ibu Sarayu dulunya memang pernah saling mencintai satu sama lain. Tapi cinta itu telah hilang dari keduanya karena banyak alasan di mana salah satu alasannya adalah perbuatan buruk dari Ayah Sarayu yang suka berhutang dan berselingkuh. Ibu Sarayu memilih bertahan hanya demi ketiga anaknya yang kelak bisa melihat kenyataan itu sendiri dengan kedua matanya dan seperti harapannya, Ibu Sarayu akhirnya berpisah setelah Sarayu berumur 17 tahun dengan adikku Sarayu yang masing-masing berumur 15 tahun dan 10 tahun.
Kehidupan pelik yang terekam jelas dalam ingatannya, membuat Sarayu lebih berhati-hati dengan hubungan yang terjalin antara pria dan wanita. Sarayu mungkin berkata dirinya tidak percaya dengan cinta, Sarayu mungkin berkata bahwa dirinya merasa rendah diri dengan keadaan keluarganya, tapi. . . anggapan itu berubah ketika cinta datang padanya tanpa pemberitahuan sekalipun. Sarayu jatuh cinta kepada Redo.
Tapi meski cinta itu datang dalam hidupnya secara tidak terduga, cinta pertama Sarayu itu harus berakhir dengan tragis. Sarayu hanya bisa memendam perasaan cintanya di dalam hati ketika akhirnya Redo memilih untuk bersama dengan gadis lain. Dunia seolah ingin mengatakan pada Sarayu bahwa cinta pertamanya yang datang secara tidak terduga itu datang pada waktu yang tidak tepat dan hanya akan melewati hidup Sarayu tanpa sempat menetap.
Seperti kebanyakan gadis-gadis lain yang tidak bisa melupakan cinta pertamanya, Sarayu juga mengalami hal yang sama. Meski memilih untuk kuliah di luar kota, Sarayu masih tidak bisa melupakan sosok Redo yang telah mengambil separuh ruang dalam hati dan kenangan Sarayu. Tapi seiring bertambahnya usia Sarayu, seiring waktu berjalan, seiring Sarayu mulai menerima keadaan hidupnya yang memang sedikit berbeda dari kebanyakan orang, Sarayu mulai merelakan cinta pertamanya itu untuk pergi.
Sarayu berharap di masa depan dirinya tidak akan lagi pernah bertemu dengan cinta pertamanya itu. Namun. . . beberapa waktu ini, sosok cinta pertamanya itu terus muncul dalam benaknya dan Sarayu menyebut hal itu dengan kebiasaan buruk lamanya.
Sejak terlempar ke masa lalu bersama dengan Winner dan melihat kembali sosok cinta pertamanya, benak Sarayu terus memutar sosok Redo. Berulang kali hati Sarayu mengulangi kebiasaan buruknya dengan bertanya pada Redo.
Ya, semua itu dimulai sejak Sarayu tahu bahwa sebenarnya Redo itu menyukai dirinya.
“Tapi apa gunanya tahu tentang hal itu?” Sarayu bertanya pada dirinya sendiri ketika mimpinya mengulang kembali kenangan-kenangannya. ”Masa lalu tidak akan berubah. Semua yang terjadi tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Rasa sakit di dalam hatiku yang ditinggalkan olehnya, tetap akan ada dan membekas selamanya.”
“Benar. Semua yang terjadi di masa lalu tidak akan bisa berubah.”
Sarayu melihat sosok laki-laki muncul di dalam mimpinya secara tiba-tiba. Sarayu tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa dari sosok laki-laki itu karena kabut tebal yang membuat pandangannya sulit untuk melihat. Namun. . . dari balik kabut yang tebal itu, Sarayu menangkap senyuman di bibir sosok itu.
“Siapa kau?” Sarayu bertanya. “Kenapa kau tiba-tiba ada di sini bersamaku?”
__ADS_1
Senyuman dari sosok itu semakin terlihat jelas oleh kedua mata Sarayu dan membuat Sarayu merasa untuk waspada dengan sosok itu.
“Tenanglah Sarayu, aku bukan seseorang yang harus kau waspadai.”
“Lalu katakan padaku, siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba ada di sini bersamaku?” tanya Sarayu lagi.
Senyuman sosok pria itu semakin lebar dan tanpa Sarayu sadari senyuman itu membuat Sarayu merasakan kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Aku selalu di sini bersamamu sejak dulu, Sarayu. Hanya saja. . . mungkin selama ini kau tidak pernah menyadari bahwa aku selalu ada bersamamu.”
“Apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti.”
Sosok itu melangkah mendekat ke arah Sarayu, akan tetapi sekali lagi Sarayu masih tidak bisa melihat wajah dari sosok itu karena kabut yang mengelilinginya. “Sekarang buka saatnya kau bertanya mengenai hal itu, Sarayu. Kau harus bangun sekarang dan pergi dari tempat itu!”
Sarayu mengambil langkah mundur karena perasaannya yang tiba-tiba mengatakan padanya untuk waspada sekali lagi. “Aku tidak akan ke mana-mana!”
Alis Sarayu mengerut karena tidak mengerti dengan maksud dari ucapan sosok pria di depannya itu. “Apa maksudnya dengan itu? Apa maksudnya kau memilihku?”
Sosok pria itu berjalan mendekat ke arah Sarayu dan memutari Sarayu untuk melihat Sarayu lebih dekat lagi. Namun sama seperti sebelumnya, Sarayu masih tidak bisa melihat wajah dari sosok itu karena kabut tebal yang menutupi wajah dari sosok pria itu.
“Bukankah setiap kali kau berada di keramaian kau selalu bertanya-tanya? Bertanya-tanya kenapa semua orang bisa begitu menikmati keramaian itu dan justru kau merasakan kehampaan?”
Bagaimana dia bisa tahu ucapan yang hanya aku ucapkan di dalam hatiku saja? Sarayu mengambil langkah mundur lagi dan kali merasa bahwa sosok pria yang muncul secara tiba-tiba itu adalah bahaya baginya.
*
Alarm tanda bahaya berbunyi di markas Aliansi Arael dan membuat semua orang yang berada dalam markas terkejut dan bingung.
__ADS_1
“Ada apa ini, Knight Two?” Knight Four yang lebih dulu mendengar suara alarm di markas bertanya kepada Knight Two yang saat itu sedang terjaga di malam hari karena mengerjakan tugasnya dari Knight One.
“Aku tidak tahu. Mungkin ada serangan yang datang.” Knight Two langsung meraih jaketnya, berjalan keluar ruangannya dan menuju ke ruang komando.
Knight Four yang sempat tidur di ruangan yang sama dengan Knight Two, meraih jaketnya dan mengikuti langkah Knight Two. “Apa Pasukan Perdamaian Dunia dari Aliansi Ingmar akhirnya menemukan markas kita?”
Knight Two menggelengkan kepalanya merasakan keraguan. “Aku tidak yakin. Markas ini berada di lokasi yang strategis. Tapi karena baru-baru ini kita membawa Savior, mungkin mereka menemukan jejak rekan mereka.”
Dalam perjalanannya menuju ke ruang komando markas, Knight Two dan Knight Four bertemu dengan Knight One yang terjaga dan menghabiskan malamnya sibuk menyusun rencana-rencana untuk menaklukkan dunia dan Aliansi Ingmar.
“Apa yang terjadi?” tanya Knight One.
“Kami juga baru keluar dari ruang istirahat kami, Tuan,” jawab Knight Two.
“Siapa yang harusnya berjaga di ruang komando malam ini?” Knight One bertanya lagi.
“Knight Five, Tuan.” Kali ini giliran Knight Four yang menjawab.
Knight One bersama dengan Knight Two dan Knight Four tiba di depan pintu ruang komando dan hendak membuka pintu itu. Namun pintu itu lebih dulu terbuka dan dari dalamnya muncul Knight Five yang memasang wajah gelisahnya.
“Apa yang se-“ Knight One belum sempat menyelesaikan pertanyaannya kepada Knight Five karena Knight Five telah berlari melewatinya begitu saja seolah apa yang sedang terjadi adalah sesuatu yang benar-benar buruk.
Knight One mengabaikan Knight Five dan masuk ke ruang komando untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Akan tetapi begitu melihat layar di ruang komando, Knight One langsung berbalik dan berlari ke arah yang sama dengan Knight Five.
“Itu!” Knight Four yang terkejut menunjuk ke arah monitor dengan tatapan tidak percaya.
“Sepertinya alasan Knight Five berlari tanpa sempat menyapa kita dan Knight One adalah karena wanita pengawal Winner itu sedang membuat kekacauan.”
__ADS_1