
Sial! Apa yang bisa aku lihat jika asap tebal ini menutupi pemandangan yang seharusnya aku lihat??? Setelah mengumpat kesal dan bahkan mengepalkan tanganku, aku hanya bisa diam menunggu hasil dari ujian pria mungil dengan kode nama Savior itu.
Wush. . . wush. . . sesuatu dari arah di mana pria mungil itu tadi berdiri, terlihat muncul memecah asap tebal dan udara. Sesuatu dengan benda merah itu kemudian berputar-putar dengan cepat di udara dan membuat suara kling. . . kling. . .
Apa itu? Benda berwarna merah itu, apa? Bagaimana dia bisa berputar-putar di udara seolah sedang terbang? Belum cukup rasa penasaranku terjawab, aku melihat benda merah yang bentuknya seperti tongkat itu kemudian berputar dan menghancurkan satu persatu senapan yang ada di dalam ruang ujian itu.
Kling. . . wushhh. . . dash. Suara itu terdengar setiap kali tongkat merah itu berputar dan menghancurkan senapan yang sedang menembakkan pelurunya ke arah pria mungil-Savior. Asap tebal yang tadi sempat menghilang karena gerakan tongkat merah yang berputar seperti layaknya kipas angin, kemudian muncul lagi bersamaan dengan hancurnya senapan. Pemandangan kembali gelap dan membuat semua orang yang berdiri bersamaku, merasakan hal yang sama di saat yang bersamaan: bingung, terkejut dan penasaran.
Mungkin sekitar satu menit atau kurang dari dua menit setelah ujian dimulai, tongkat merah yang berputar-putar di udara itu kemudian kembali ke tengah ruang ujian di mana pria mungil itu tadi berdiri. Tidak lama kemudian, perwakilan dari Indonesia menekan tombol pembersih udara untuk membersihkan asa tebal yang mengepul di dalam ruang ujian.
Klik.
Mesin filter udara menarik asap tebal itu keluar dan menggantinya dengan udara bersih dari ruang ujian. Begitu asap tebal menghilang, semua orang yang tadinya merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi kemudian mengubah ekspresi mereka di saat yang bersamaan. Mereka tercengang. Mereka terpukau. Bagaimana tidak?
Dari balik kaca, aku dengan jelas melihat pria mungil-Savior itu dalam keadaan baik-baik saja dan sama sekali tidak terluka. Bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya pun sepertinya tidak tersentuh dengan peluru yang tadi ditembakkan di saat yang bersamaan. Tangan pria mungil itu kemudian diangkat ke atas seolah sedang melakukan sesuatu yang tidak aku tahu. Hanya saja. . . melihat tongkat merah itu sekarang berada di tangannya, aku tahu bahwa tangannya yang ke atas itu mungkin adalah perintah bagi tongkat merah untuk kembali ke tangannya setelah melakukan tugasnya.
“Bagaimana, Tuan-Tuan? Apakah Tuan-Tuan puas dengan ini?”
Mendengar suara pria mungil itu, semua orang langsung memberikan tepuk tangannya kepada pria mungil itu.
“Hebat. Dia sungguh-sungguh hebat.”
“Benar. Dia benar-benar hebat. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun masih terlihat bersih dan baik-baik saja, seolah peluru yang ditembakkan sama sekali tidak bisa menyentuhnya.”
“Dia memang layak untuk menjadi pengawal dari Winner kita. Kurasa melindungi Winner adalah pekerjaan yang mudah baginya.”
“Tidak salah kita meminta bantuan Aliansi Ingmar. Mereka mengirim orang yang hebat, yang artinya mereka menghormati bantuan yang kita minta.”
__ADS_1
Satu persatu pujian kudengar dari mulut perwakilan-perwakilan anggota kelompok negara netral. Kuakui, aku pun juga sama terkejut dan tercengangnya melihat kemampuan dari pria mungil itu. Melihat pria mungil itu. . . aku jadi teringat akan pepatah: Jangan menilai buku dari covernya. Pepatah itu sesuai dengan gambaran dari pria mungil itu.
\*
Tidak hanya perwakilan dari kelompok negara netral yang terpukau dengan kemampuan Sarayu, Sixth yang datang bersama dengan Sarayu juga terpukau dengan pertunjukan kecil dari Sarayu.
Tidak heran. . . rekan-rekan lainnya memuji Sarayu. Mereka pasti sudah melihat langsung kehebatan Sarayu yang baru berlatih selama sebulan saja. Sixth berbicara di dalam benaknya sembari tersenyum melihat ke arah Sarayu.
“Bagaimana? Apakah Tuan-tuan di sini ada yang keberatan jika Savior menjadi pengawal bagi Tuan Winner?” Sixth yang sadar akan tugas yang diembannya saat ini kemudian memutar tubuhnya dan mengajukan pertanyaan kepada anggota kelompok negara netral.
“Tentu tidak, Tuan Sixth.” Perwakilan dari Malaysia menjawab mewakili perwakilan lainnya.
Sixth menganggukkan kepalanya menerima pendapat dari anggota kelompok netral. Sixth kemudian menatap ke arah Winner dan mengajukan pertanyaan yang sama. “Bagaimana dengan Tuan Winner? Apakah Tuan Winner keberatan jika Savior menjadi pengawal Tuan?”
Sixth melihat senyuman kecil di sudut bibir Winner sebagai bukti bahwa pikiran dan hatinya benar-benar menerima Sarayu sebagai pengawalnya. Sixth kemudian melihat Sarayu keluar dari ruang ujian dengan tongkat merah-Ruyi yang masih berada di tangannya.
“Bagaimana? Apakah mereka setuju, Sixth?” tanya Sarayu dengan merendahkan dan menyamarkan suaranya.
Sixth mengacungkan jempolnya pada Sarayu. “Setelah melihat kemampuanmu, tentu saja mereka menerimamu, Savior.”
“Baguslah kalau begitu.” Sarayu menjawab dengan perasaan lega di hatinya. Sarayu kemudian meminta Ruyi untuk mengubah ukurannya dan kembali ke telinganya dalam bentuk jarum. Semua orang yang melihat tongkat merah milik Sarayu yang tiba-tiba mengecil dan berada di telinga Sarayu, langsung merasa takjub dan penasaran di saat yang sama.
“Mungkinkah tongkat merah itu adalah Ruyi Jingu Bang milik Sun Go Kong??” Perwakilan Indonesia maju dan bertanya kepada Sarayu.
Bisik-bisik terdengar ketika perwakilan dari Indonesia menyebut kata “Ruyi Jingu Bang” pada pertanyaannya kepada Sarayu.
__ADS_1
“Ruyi Jingu Bang? Bukankah tongkat merah itu harusnya berada di museum milik Cina?”
“Kenapa tongkat merah itu bisa berada di tangan pasukan khusus milik Aliansi Ingmar?”
“Aku kira tongkat merah milik Sun Go Kong itu hanyalah legenda saja, siapa yang akan menyangka jika legenda itu benar-benar nyata?”
Sixth yang bertindak sebagai wakil Ethan saat ini kemudian maju dan memberikan penjelasan kepada anggota kelompok negara netral yang saat ini merasa ingin tahu tentang tongkat milik Sarayu. “Tuan-tuan, tongkat merah itu memang Ruyi Jingu Bang. Tapi tongkat itu hanyalah tiruan dari benda aslinya. Saat ini Ruyi Jingu Bang yang asli masih berada di salah satu museum di Cina.”
“Ah, begitu rupanya.”
Bisik-bisik kembali terdengar dari anggota perwakilan kelompok negara netral, ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Sixth dan untungnya bisik-bisik itu tidak berlangsung dalam waktu yang lama karena Winner.
“Baiklah, Tuan-tuan. Berhenti bertanya lagi pada pengawalku-Savior. Aku masih punya jadwal lain yang harus aku lakukan.”
Perwakilan Indonesia yang terlihat menyayangi Winner, kemudian membawa semua orang kembali ke aula pertemuan. Setelah kembali ke aula pertemuan dan memberi salam perpisahan pada Sixth dan anggota kelompok negara netral lainnya, Sixth langsung menghilang dalam sekejap mata di depan mata semua orang.
“Apa itu barusan??”
“Dia menghilang begitu saja?”
Kegaduhan kecil itu membuat semua orang di ruangan itu langsung menatap ke arah Sarayu dan berharap mendapat jawaban untuk rasa ingin tahu mereka. Namun. . . Winner dan managernya-Rudi yang sudah punya jadwal lain yang menunggu kemudian menarik tangan Sarayu dan memaksanya untuk pergi bersama dengannya.
“Ayo kita pergi pengawalku! Kita masih punya jadwal lain yang menunggu!”
Dengan membawa tas di punggung dan tangannya, Sarayu memulai misi pertamanya sebagai anggota dari Pasukan Perdamaian Dunia di bawah Aliansi Ingmar.
__ADS_1
\*