
Dua hari berlalu sejak Sarayu kembali ke markas Pasukan Perdamaian Dunia bersama dengan Winner setelah melakukan perjalanan kembali ke masa lalu di mana bencana tsunami paling mengerikan dalam sejarah pernah terjadi. Selama dua hari juga, Sarayu menjalani perawatan karena tubuhnya yang mengalami kelelahan yang luar biasa yang belum pernah ditanggung Sarayu dalam hidupnya.
“Beruntung kau masih hidup, Savior,” ujar Third yang mengobati Sarayu selama dua hari lamanya. “Jika kami terlambat sedikit saja menemukanmu, jika kamu menggunakan energi dalam tubuhmu sedikit lebih banyak, mungkin kau sudah kehilangan nyawamu itu, Savior.”
Selma dua hari juga, Third mengomeli Sarayu karena keadaannya yang sungguh mengenaskan. Sarayu kehilangan hampir separuh dari berat badannya karena membakar lemak dalam tubuhnya untuk membuat pelindung angin yang melindungi kota J ditambah lagi dengan pertarungannya melawan Knight One, Knight Three dan Knight Five dalam waktu yang cukup dekat. Tubuh Sarayu yang belum mengembalikan semu energinya, dipaksa untuk terus bertarung hingga nyaris ke titik batasannya.
Jika selama dua hari Sarayu menjalani perawatan dengan omelan dari Third dan kunjungan dari beberapa rekannya di Pasukan Perdamaian Dunia, maka Winner yang ikut bersama dengan Sarayu menolak untuk kembali ke negaranya dengan berbagai alasan. Sixth dan Dylan yang berulang kali berusaha untuk membujuk Winner atas permintaan dari Ethan, akhirnya angkat tangan karena kehabisan akal untuk membujuk Winner yang pandai membuat alasan.
Sixth yang sudah kehabisan akal, akhirnya mengeluh kepada Sarayu yang masih beristirahat di ruangannya.
“Aku benar-benar heran denganmu, Savior.”
“Apa yang membuatmu heran, Sixth?” Sarayu yang sedang memakan bubur yang dibuat oleh Third, duduk dengan tenang memakan makanannya sembari mendengarkan keluhan Sixth.
“Bagaimana kamu bisa tahan bersama dengan Winner itu??”
“Kenapa memangnya? Apa karena kau gagal membujuknya untuk kembali seperti perintah dari Zero??”
Sixth menganggukkan kepalanya. “Ya. Kuakui, Winner adalah aktor yang tampan, prestasinya sebagai aktor dan perjalanan karirnya memang bagus. Tapi. . . kenapa dia pandai sekali membuat alasan. Seribu alasan digunakannya untuk tetap di sini.”
“Sejak kuliah, Winner sudah banyak dikejar oleh gadis-gadis. Jika aku tidak salah menebak, keahlian Winner membuat alasan didapatkannya ketika menghadapi gadis-gadis yang menyukainya, Sixth.”
Sixth tiba-tiba mengubah ekspresinya di wajahnya yang tadinya kesal kini berubah menjadi datar. Sixth kemudian memandang ke arah Sarayu dengan tatapan menyelidik. “Ohhhhhh begitu rupanya. Jadi itu memang benar rupanya.”
Sarayu terkejut mendengar ucapan dari Sixth yang tidak dimengertinya. Sarayu kemudian mengulangi ucapan dari Sixth dan menggantinya sebagai kalimat tanya. “A-apa maksudnya dengan ohhhhh begitu rupanya?”
“Setelah kepergianmu menjadi pengawal dari Winner, Zero merasakan sesuatu yang aneh darimu dan kemudian meminta Forth untuk menyelidiki sesuatu tentangmu. Siapa yang akan menyangka jika kau dulunya satu kampus dengan Winner??” Sixth memasang senyuman licik di wajahnya dengan niat menggoda Sarayu. “Zero dan Forth awalnya hanya mengira kau mungkin mengenal Winner secara pribadi karena beberapa alasan dan hubungan kalian tidak mungkin lebih dari sekedar saling kenal atau sekedar saling tahu jika kalian pernah berinteraksi di masa lalu. Itulah dugaan Forth dan Zero. Tapi sekali lagi. . . siapa yang akan menyangka jika hubungan kalian jauh lebih dekat dari yang diduga oleh Zero dan Forth.”
__ADS_1
“Aku sudah menduga jika cepat atau lambat Forth akan menemukan hubunganku dengan Winner.” Sarayu menjawab setelah menelan satu sendok terakhir buburnya.
“Kalian hanya teman kuliah?” tanya Sixth yang kali ini memasang wajah datar tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan bahwa saat ini Sixth benar-benar ingin tahu dan sangat penasaran.
“Ya.” Sarayu menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Kami hanya teman kuliah. Jika bukan karena kuliah bersama yang aku ikuti bersama dengan Winner, mungkin aku tidak akan pernah mengenal Winner meski kami kuliah di kampus yang sama. Aku hanya kebetulan satu kelompok dengannya dan kebetulan saja mengenalnya. Lalu sekarang. . . aku hanya kebetulan mendapat tugas untuk menjadi pengawalnya, itu saja.”
“Sayangnya. . . kebetulan yang kau lihat itu, bukan kebetulan biasa di mata Zero, Savior.”
Sarayu menatap Sixth dengan tatapan bingung karena tidak mengerti dengan ucapannya. “Apa maksud dari ucapanmu itu, Sixth??”
*
Winner yang telah membuat Sixth dan Dylan kewalahan, akhirnya membuat Ethan yang memberikan tugas untuk turun tangan sendiri dan berusaha untuk membujuk Winner sendiri.
Tok. . . tok. . .
“Who’s there?”
Dari balik pintu, Ethan mendengar suara Winner.
“It’s me, Zero, Mr Winner.”
Tidak butuh waktu lama dan pintu pun terbuka. Winner kemudian menatap ke arah Ethan dengan tatapan menyelidik. “Zero??”
Ethan menganggukkan kepalanya. “Ya, saya Zero. Ketua dari Pasukan Perdamaian Dunia dari Aliansi Ingmar.”
“Oh. . . Tuan Zero, silakan masuk.”
__ADS_1
Seperti permintaan Winner, Ethan pun masuk ke dalam ruangan Winner dan langsung duduk di sofa di ruangan Winner berada. Karena status Winner yang merupakan duta dari kelompok netral yang sedang menjalin hubungan kerja sama dengan Aliansi Ingmar, Ethan sengaja memilih kamar terbaik yang ada di markas dan memberikan semua pelayanan untuk kebutuhan Winner. Sixth dan Seventh bekerja dengan sangat keras untuk mewujudkan hal itu.
“Akhirnya saya bertemu secara langsung dengan Tuan Zero.” Winner memandang Ethan dengan tatapan kagum sekaligus penuh rasa ingin tahu.
“Sepertinya Tuan Winner ingin bertemu dengan saya?” Ethan mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Winner saat ini.
“Ya, saya sangat ingin bertemu dengan Tuan. Saya dengar dari Savior bahwa Tuan adalah pemimpin dari Pasukan Perdamaian Dunia.”’
Ethan melihat ke arah Winner dan tiba-tiba sesuatu dalam benaknya memberikannya ide. “Terima kasih karena telah menaruh perhatian terhadap saya, Tuan Winner. Saya juga ingin berterima kasih kepada Tuan Winner karena telah berbaik hati kepada Savior kami meski dia hanyalah pengawal Tuan semata.”
Winner menggelengkan kepalanya. Wajahnya saat ini terpaksa senyuman tanda bahwa dirinya sedang salah tingkah karena mendengar ucapan terima kasih dari Ethan. “Saya tidak melakukan banyak hal. Saya justru merepotkan Savior karena berusaha melindungi saya yang lemah ini.”
“Tuan Winner, bisakah saya mengajukan permintaan kepada Tuan?” Tanpa basa basi, Ethan mengutarakan niatnya mendatangi Winner.
“Silakan, Tuan. Permintaan apa itu, Tuan Zero?” Winner menatap Ethan dengan tatapan mata yang berbinar.
“Saya punya tiga permintaan kepada Tuan. Pertama. . . saya hanya ingin mengonfirmasi apa yang terjadi ketika Tuan dan Savior kembali ke masa lalu?”
Winner kemudian menjelaskan segalanya kepada Ethan baik itu pertemuan Sarayu dengan cinta pertamanya yang bernama Redo dan juga bencana tsunami yang berhasil dihadang oleh Sarayu dengan sekuat tenaganya. Ethan mendengarkan dengan seksama dan akhirnya menemukan bahwa Sarayu tidak menceritakan pertemuannya dengan cinta pertamanya yang bernama Redo itu kepada Ethan.
“Terima kasih banyak untuk ceritanya, Tuan Winner. Lalu untuk permintaan kedua, saya ingin Tuan menjawab dengan sejujur-jujurnya kepada saya. Mungkinkah Tuan Winner memendam perasaan kepada Savior sejak kuliah?”
Winner menatap ke arah Ethan dengan tatapan terkejut. Winner benar-benar tidak menyangka jika orang-orang dari Pasukan Perdamaian Dunia akan menemukan perasannya kepada Sarayu yang disembunyikannya selama ini dengan begitu mudahnya. Tapi. . . Winner tidak memberikan jawabannya dengan mudah kepada Ethan. Sebaliknya Winner justru berbalik mengajukan pertanyaan kepada Ethan sebelum memberikan jawaban yang benar kepada Ethan.
“Apa yang membuat Tuan Zero berpikir seperti itu? Saya akui saya dan Savior dulunya adalah teman satu kampus di mana kami beberapa kali bertemu dan mengerjakan tugas bersama. Tapi hanya itu saja yang terjadi pada kami, Tuan Zero.”
Ethan menunjuk ke arah kedua mata miliknya sebelum menjawab pertanyaan Winner itu. “Jika Savior memiliki kemampuan dalam mengendalikan angin dengan kedua tangannya, maka kemampuan saya terletak pada kedua mata saya ini. Kedua mata saya ini mampu membuat saya melihat banyak hal. Beberapa waktu lalu, saya harus menyentuh tangan seseorang untuk bisa melihat banyak hal dari mereka. Tapi sekarang. . . saya tidak harus menyentuh tangan mereka jika saya ingin melihat masa depan dan masa lalu seseorang. Yang saya perlukan hanya melihat mata mereka dan saya akan dengan mudah melihat masa depan dan masa lalu seseorang.”
__ADS_1
Sial, aku tertangkap basah, pikir Winner.