THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 70 PENYELAMATAN SAVIOR PART 3


__ADS_3

“Seventh, buat banyak bom dan berikan padaku.” Sixth yang tidak sabar menunggu Forth sedang meretas sistem di markas Knight Arael, meminta Seventh untuk membuat banyak bom dan memberikannya kepadanya.


            “Untuk apa??” tanya Seventh.


            “Tentu saja untuk mengebom. Kau pikir bom punya fungsi apa lagi selain menghancurkan apapun yang dikenainya??”


            “Aku tahu itu, Sixth. Tapi tugas kita hanyalah menyusup, membantu Forth meretas sistem dan menolong Savior jika dia berada di dalam markas. Tapi sekarang. .  Savior ada di luar markas. Bukankah akan lebih baik jika kita selesaikan tugas ini dan segera keluar untuk membantu kelompok kedua??” balas Seventh.


            “Tenang saja. . . ada Forth yang akan membantuku. Aku tidak akan tertangkap,” ujar Sixth yang kemudian memanggil Forth. “Ya kan, Forth??”


            “Kalau Sixth yang pergi, aku akan merasa sedikit tenang karena kemampuan yang dimilikinya.”


            Mendengar persetujuan Forth, Seventh akhirnya tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Sixth. Seventh membuat beberapa bom waktu dan kemudian memberikannya kepada Sixth seperti permintaan Sixth.


            Setelah mendapatkan bom yang dibuat oleh Seventh, Sixth meninggalkan Seventh bersama dengan Fifth dan mulai berpindah tempat ke markas Knight Arael untuk memasang bom-bom yang dibuat oleh Seventh. Berkat bantuan Forth yang hampir mampu meretas seluruh sistem dari markas Knight Arael, Sixth dapat menghindari kamera-kamera penjaga yang terpasang.


            “Ini ruangan apa, Forth?” Kini setelah tersisa satu bom di tangannya, Sixth tiba di sebuah ruang tidur yang terkesan mewah daripada ruangan-ruangan yang sebelumnya. Ruangan itu juga dilengkapi dengan beberapa peralatan di dalamnya dan bahkan ada komputer yang terhubung dengan ruang komando.


            “Kurasa. . . kau tiba di ruang peristirahatan milik Knight One, Sixth. Ruangan di mana tempatmu berada adalah satu-satunya ruangan tanpa nama. Tapi melihat bagaimana dekorasinya. . . aku duga ruangan itu adalah milik Knight One,” jawab Forth.


            “Dari mana kamu dapat keyakinan itu? Hanya karena ruangan ini lebih besar dari ruangan lain dan lebih mewah dari ruangan lain, bukan berarti ruangan ini milik Knight One. Bisa saja ruangan ini adalah milik Knight lain.”


            “Sixth. . . lihat ke arah kananmu.”


            Sixth melakukan apa yang diperintahkan oleh Forth padanya. “Lalu??”


            “Apa kau lihat foto siapa itu??”


            Sixth terkekeh melihat foto Knight One yang mengenakan pakaian jenderal dari Negara Rusia. “Jadi karena melihat ini, kau yakin bahwa ruangan ini adalah milik Knight One??”


            “Ya.” Forth menjawab dengan singkat. “Kalau kau sudah selesai melihat-lihat segera kembali pada Seventh dan Fifth. Pelarian mereka berdua dan kelompok dua bergantung padamu.”


            “Tunggu sebentar. . . aku akan melihat-lihat ruangan ini. Mungkin saja. . . aku bisa menemukan sesuatu di sini.”


            “Terserah padamu, tapi kembali pada Seventh dalam lima menit. Apa kau mengerti?”


            Sixth menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti.”


            Sixth kemudian berkeliling di dalam ruangan milik Knight One. Setelah cukup lama berkeliling mencari sesuatu yang mungkin penting, mata Sixth terhenti pada berkas-berkas di meja kerja milik Knight One. Mata Sixth membulat besar ketika menemukan berkas-berkas itu.


            “Ini. . .”


*


            Pertarungan Knight Five, Knight One dan Knight Three melawan Sarayu benar-benar berat sebelah. Siapapun yang melihat hal itu akan mengatakan hal yang sama karena tidak ada satu pun dari ketiga Knight itu yang bisa mendekat ke arah Sarayu. Ketiga Knight itu benar-benar kewalahan menghadapi ayunan tongkat Sarayu karena mampu menebas apapun yang berada dekat dengannya tanpa harus menyentuhnya. Ditambah lagi Sarayu akan melepaskan panah angin dengan kekuatan luar biasa yang mampu menghancurkan apapun dalam radius dua kilometer.

__ADS_1


            “Knight Five, pikirkan cara untuk membuat wanita itu bangun dari tidurnya!!” Knight Three mengeluh kesal karena beberapa kali benda yang dibuatnya hancur begitu saja dan kini tenaganya nyaris terkuras habis. “Kita tidak bisa membiarkan wanita itu terus begitu dan menghancurkan markas kita!”


            Knight Five setuju dengan ucapan dari Knigth Three, tapi kenyataan mewujudkan ucapan itu semudah berkata-kata dan Knight One pun tahu hal itu.


            “Berhentilah mengeluh, Knight Three!!! Harusnya kau membantu Knight Five dan bukannya mengeluh padanya!!!”


            Knight One juga berusaha keras untuk mendekati Sarayu dan berusaha untuk membangunkan Sarayu dari mimpi buruknya. Akan tetapi jangankan membangunkan, Knight One tidak bisa mendekat ke arah Sarayu. Ini adalah pertama kalinya bagi Knight One setelah menerima kemampuannya merasa kesal dan tidak berdaya.


            Di sisi lain.


            “First, kenapa kita tidak gunakan kesempatan ini untuk mendekati Savior dan membawanya pergi??” tanya Third.


            “Kita tidak bisa mendekati Savior dan mengungkap keberadaan kita sekarang! Meski ini adalah kesempatan yang bagus, tapi kita harus berkumpul lebih dulu karena hanya Sixth yang bisa membawa kita kembali ke markas,” ujar First setelah mempertimbangkan keadaan saat ini.


            Eighth yang mendengarkan percakapan First dan Third pun, angkat bicara untuk mendukung ucapan First. “Benar, ucapan First, Third. Kalian jangan mengungkap keberadaan kalian lebih dulu sebelum tim penyusup keluar dari markas musuh. Mengungkap keberadaan kalian saat ini, hanya akan membuat keberadaan rekan kita di dalam markas musuh berada dalam bahaya.”


            Sixth bersama dengan kelompok dua akhirnya muncul di dekat kelompok First dan membuat kelompok First bisa sedikit bernafas lega.


            “Kenapa kalian lama sekali??” gerutu Second.


            “Salahkan Sixth,” balas Seventh sembari melirik ke arah Sixth. “Dia pergi entah ke mana dan membuat kami semua menunggunya dengan jantung yang nyaris keluar dari tempatnya. Berada di dalam markas itu, rasanya benar-benar menakutkan. Rasanya seperti aku mendengar suara jeritan yang entah dari mana asalnya.”


            “Maafkan aku. Aku berkeliling berusaha untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa berguna untuk kita,” Sixth memberikan pembelaan untuk tindakannya sendiri.


            “Lalu?? Apa kau menemukannya??” tanya Second.


            “Baguslah kalau begitu. . .” ujar Seventh. “Tidak sia-sia jantungku yang berdetak kencang sekali tadi jika kau menemukan sesuatu yang berguna, Sixth.”


            “Sekarang. . .” ucap First. “Bagaimana cara kita membawa Savior kembali??”


            Pertanyaan First itu diajukan olehnya kepada seluruh rekannya, baik itu yang berada di sampingnya dan berada jauh di markas mereka.


            “Bukankah kita tinggal mendekat ke arah Savior saja?” ujar Seventh dengan entengnya.


            “Apa kau tidak lihat itu??’ Second menunjuk ke arah Savior yang saat ini sedang bertarung dengan tiga Knight sekaligus dan membuat tiga Knight itu berada dalam keadaan terdesak.


            “Seperti biasa, Savior kita memang yang paling hebat.” Seventh memuji kehebatan Sarayu. “Bukankah melihat bagaimana Savior dengan mudahnya membuat tiga Knight terdesak, tidak lama lagi perdamaian yang kita inginkan akan kembali??”


            “Lihatlah baik, Seventh!!” First menunjuk ke arah Sarayu. “Kau lihat tidak jika kedua mata Savior saat ini sedang tertutup??”


            “Benarkah??” ujar Seventh terkejut.


             “Ya. Kalian mungkin tidak melihatnya, tapi alasan Knight kesulitan untuk mengalahkan Savior kita saat ini adalah karena Savior kita sedang tidak sadarkan diri. Mungkin dia sedang mengalami mimpi buruk yang benar-benar buruk hingga menyerang sekitarnya  tidak peduli apapun.”


            “Jika begitu. . . maka kita tidak akan bisa mendekat dengan mudah??” tanya Sixth.

__ADS_1


            “Kita harus menunggu kesempatan datang dan membangunkan Savior untuk membawanya kembali.” Kali ini giliran Eighth yang membuka  mulutnya untuk bicara.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2