
Booom. . . bunyi ledakan yang menghantam logam pelindung milik Knight Five terdengar memekikkan telinga Sarayu dan untuk sejenak membuat telinga Sarayu berdengung. Nginggggg. . . . Sarayu melihat membuka matanya melihat punggung Knight Five yang melindunginya masih berdiri tegap dengan kedua tangannya yang mengeluarkan asap akibat logam dari tangannya yang berusaha melindungi Sarayu.
Sarayu berusaha berdiri melihat ke arah Knight Five yang masih mencoba bertahan setelah menerima ledakan mengerikan itu hanya dengan kedua tangannya yang membuat pelindung dari logam berbentuk dinding.
“Kenapa kau menolongku?? Kenapa kau tidak membiarkanku mati seperti keinginan Knight One?” tanya Sarayu dengan tangan gemetar.
Sarayu berjalan mendekat ke arah Knight Five dan ingin melihat wajah Knight Five dengan jelas. Sarayu ingin memastikan jika Knight Five yang selama ini berusaha untuk mengalahkan dirinya adalah Redo-cinta pertamanya dulu.
Wushhhh. . . tapi begitu Sarayu ingin melihat wajah Knight Five, dari arah belakangnya sesuatu bergerak dengan kencang hingga udaranya yang bergerak menimbulkan suara di telinga Sarayu. Dengan gerakan cepat Sarayu berbalik untuk melihat apa yang sedang mendekat ke arahnya.
Knight One. Dia masih ingin membunuhku. Sarayu mengangkat tangannya berusaha membuat pelindung angin miliknya. Di saat yang sama Sarayu memanggil lagi tongkat merah miliknya untuk melindunginya. “Ruyi!!!”
Tapi. . . Knight One yang sudah benar-benar berniat untuk membunuh Sarayu berhasil menembus pelindung angin milik Sarayu dengan mudahnya dan melewati pertahanan pertama yang Sarayu buat. Setelah menghancurkan pelindung angin milik Sarayu, Knight One berhadapan dengan tongkat merah milik Sarayu yang berputar-putar dengan kencang. Tapi sekali lagi. . . Knight One berhasil melancarkan serangannya kepada Ruyi dan membuat tongkat kesayangan milik Sarayu itu akhirnya patah menjadi dua bagian.
“Ruyiiiii!!!!”
Sarayu berteriak memanggil nama tongkat yang kini jatuh setelah terbagi dua seolah kehilangan nyawanya. Sarayu mengangkat tangannya lagi dan membuat pelindung angin untuk melindungi dirinya dan Knight Five yang terluka karena berusaha melindungi dirinya. Tapi pelindung yang harusnya muncul tidak muncul. Tidak. . . aku sudah mencapai batasku. Tenagaku. . . yang tersisa sudah tidak lagi sanggup membuat pelindung lagi.
Di saat yang sama. . . semua pelindung yang dibuat Sarayu untuk melindungi benua-benua lain dari serangan nuklir Aliansi Arael, menghilang bersamaan dengan habisnya tenaga milik Sarayu. Kini. . . Sarayu layaknya manusia biasa tanpa pertahanan. Pistol yang harusnya bisa melindunginya, tidak lagi bisa digunakan karena peluru yang digunakan Sarayu berasal dari tenaganya. Sepatu roda yang bisa membawanya berlari jauh kini juga tidak bisa lagi digunakan karena tenaganya menggunakan angin dari Sarayu dan tongkat merah-Ruyi yang selama ini selalu melindungi Sarayu kini tidak lagi bisa melindunginya karena telah patah seolah kehilangan nyawanya.
__ADS_1
Apakah aku akan mati? Kalimat itu muncul di dalam benak Sarayu ketika melihat Knight One yang mengangkat tangannya dan hendak mendaratkan pukulannya di tubuh Sarayu. Mungkin ramalan yang dilihat oleh Ethan kali ini salah. Mungkin aku akan mati setelah menerima serangan itu.
Di saat Sarayu pasrah, seseorang bergerak ke depan Sarayu dan sekali lagi memasang tubuhnya sendiri sebagai pelindung Sarayu. Untuk kedua kalinya. . . Sarayu melihat punggung itu dan di masa lalu. . .. punggung itu adalah punggung yang begitu indah di mata Sarayu dan punggung yang selalu ingin diraih oleh Sarayu. Melihat punggung itu dan mengenali punggung itu, Sarayu akhirnya yakin jika sosok Knight Five yang telah melindunginya beberapa kali, benar-benar adalah Redo.
“Redo!!!!”
Bukkkk. Knight Five menahan pukulan Knight One dengan kedua tangannya. Tapi pukulan itu terus bergerak ke arah Knight Five karena tenaga Knight One yang lebih besar dari Knight Five.
Bukk. . . pukulan Knight One itu akhirnya mendarat di tubuh Knight Five dan mengenai dada dan menyerang jantungnya. Knight Five terlempar beberapa meter dan mendarat setelah melewati Sarayu.
“Hueekkk.” Knight Five batuk bersama dengan darah karena menerima serangan dari Knight One secara langsung. Knight One tadinya ingin melancarkan serangan lagi kepada Knight Five, tapi. . . Knight Five tiba-tiba membuka mulutnya dan memohon kepada Knight One. “Tuan.”
“Aku tahu, aku salah, Tuan. Aku bersalah pada Tuan yang telah menyelamatkanku di masa lalu. Tapi setelah ini, aku akan mati, Tuan. Nyawa yang kau berikan padaku sudah kukembalikan padamu dengan menerima seranganmu itu, Tuan.”
“Kau memang sudah bosan hidup, Knight Five!!” ujar Knight One menurunkan tangannya yang tadinya hendak memukul Knight Five. “Kau tahu dengan baik, kau tidak akan sanggup menahan pukulanku.”
Knight Five tersenyum sembari darah terus mengalir keluar dari mulutnya. “Ini sudah keputusanku, Tuan. Di masa lalu. . . sebelum Tuan mengajakku bergabung dengan Knight, Tuan pernah bertanya padaku apakah aku tidak punya penyesalan untuk bergabung dengan Knight.”
“Aku ingat itu.”
__ADS_1
“Sejujurnya saat itu saya berbohong pada Tuan. Saya punya satu penyesalan meski saya telah bergabung dengan Knight.” Knight Five melihat ke arah Sarayu yang berlari ke arahnya dan berlutut di sampingnya.
“Dia adalah penyesalanmu, Knight Five?” Knight One bertanya sembari melirik ke arah Knight Five.
“Ya, Tuan. Di masa lalu. . . kami berdua terpisah karena keadaan dan situasi. Kami saling menyukai, tapi kami tidak bisa bersama. Kukira di masa depan ketika kami bertemu lagi, kami akan bisa bersama. Tapi nyatanya. . . pertemuan kami berakhir dengan tragis. Kami sekali lagi berdiri di dua sisi yang berlawanan dan akhirnya menjadi musuh.” Knight Five menghentikan ucapannya karena mulutnya yang penuh dengan darah. “Sebelum aku mati, bisakah Tuan berbaik hati padaku untuk mengatakan kalimat terakhirku pada wanita ini?”
Knight One melirik Sarayu. “Kau bisa melakukannya, Knight Five.”
“Untuk terakhir kalinya aku ingin bertanya padamu, Sarayu? Di masa lalu saat kita masih sekolah di sekolah yang sama dan di kelas yang sama. Apa kau pernah menyukaiku? Apa kau pernah mencintaiku? Dulu aku selalu menanyakan hal ini di dalam kepalaku. Sinar matamu dan caramu menatapku mengatakan kau menyukaiku tapi mulutmu selalu mengatakan kau tidak pernah menyukaiku. Mana yang benar, Sarayu? Ucapan yang keluar dari mulutmu atau sinar mata yang aku lihat darimu?”
Sarayu meneteskan air matanya melihat Knight Five yang kini dalam keadaan sekarat karena menolong dan melindunginya.
“Kau bodoh, Redo. Kenapa kau masih bertanya ketika kau sudah mengetahui jawabannya??” balas Sarayu.
“Benar rupanya. . . apa yang aku rasakan dan pikirkan selama itu adalah benar rupanya. Kau menyukaiku dan mungkin sangat-sangat menyukaiku. Tapi Sarayu. . . meski aku tahu kau menyukaiku, menerima ucapan darimu yang mengatakan bahwa kau tidak menyukaiku dan menjaga dariku tetap terasa menyakitkan bagiku.”
“Ma-maafkan aku untuk itu, Redo. . .” ucap Sarayu berlinang air mata. “Aku egois saat itu dan hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tidak menyadari jika kau sama terlukanya dengan aku.”
“Akhirnya. . . setelah belasan tahun, aku mendapatkan jawaban yang aku inginkan.” Setelah mengataka itu dengan bibir tersenyum, Knight Five akhirnya menutup matanya dan tidak pernah membuka matanya lagi untuk selamanya.
__ADS_1