THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 65 SOSOK DALAM MIMPI PART 1


__ADS_3

Knight Five tiba di ruangan Sarayu setelah berlari dari ruang komando. Setelah tiga hari tidak sadarkan diri, Knight One memindahkan Sarayu ke ruangan khusus yang terletak tidak jauh dari ruangan pribadinya. Selama tiga hari juga, hanya beberapa orang yang memiliki akses masuk ke ruangan itu: Knight dan pelayan wanita khusus yang ditunjuk oleh Knight One.


            Selama tiga hari itu, Sarayu tidur dengan tenang dan Knight Three yang memeriksa keadaan Sarayu mengatakan bahwa tidur panjang Sarayu adalah bentuk istirahat setelah kehilangan banyak tenaganya. Tapi. . . siapa yang akan menyangka jika setelah tiga hari tertidur tanpa terbangun, Sarayu tiba-tiba mengamuk.


            “Apa yang terjadi padanya??” Knight One yang berhasil menyusul Knight Five bertanya kepada Knight Five yang diam mematung dan tidak berani masuk ke dalam ruangan Sarayu.


            Saat ini. . . Knight Five benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Sarayu karena tubuh Sarayu dikelilingi oleh cahaya putih. Sesuatu dari dalam tubuh Sarayu bersinar dengan terang seolah cahaya putih yang menyilaukan itu berasal darinya.


            “Saya tidak tahu, Tuan. Begitu saya sampai, wanita ini sudah dalam keadaan seperti ini. Alarm  markas berbunyi karena menangkap sesuatu yang aneh dari cahaya itu. Dan lagi. . .” Knight Five menunjuk tongkat merah milik Sarayu yang kini sudah berada di tangan Sarayu, padahal selama tiga hari ini tongkat itu tidak pernah terlihat ada bersama dengan Sarayu. “Tongkat itu sudah ada di tangannya sekarang, Tuan. Sepertinya. . . kita harus berhati-hati untuk mendekat ke arahnya, Tuan.”


            Knight One yang baru saja mendengar penjelasan dari Knight Five, berusaha mendekat ke arah Sarayu dan berusaha untuk menenangkan Sarayu. Namun begitu Knight One melangkahkan kakinya sebanyak tiga langkah. . .


            Wushhhhhh. . . . Sarayu mengayunkan tongkat merah di tangannya dan membuat angin yang dihasilkan itu menjadi setajam pedang yang mampu menebas apapun yang disentuhnya.


            “Tuan!” Knight Five yang menyadari pergerakan angin yang aneh dari Sarayu itu berhasil menarik tubuh Knight One menjauh dan melindungi Knight One dari tebasan tajam angin itu dengan logam yang dibuatnya seperti perisai.


            Nafas Knight One tersengal ketika menyadari apa yang baru saja nyaris terjadi kepada dirinya. “Nyaris saja. . .”


            “Harap berhati-hati, Tuan. Sepertinya wanita itu dalam keadaan tidak sadarkan diri dan mungkin sedang mengalami mimpi buruk dalam tidur panjangnya.” Setelah mengatakan hal itu Knight Five menunjuk ke arah mata Sarayu yang masih dalam keadaan tertutup bahkan ketika tubuhnya telah bergerak ke mana-mana sejak tadi.


            “Matanya masih tertutup?”


            “Ya, Tuan. Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya cara adalah membangunkan dia dari tidurnya.”

__ADS_1


            “Bagaimana jika menarik rantai yang mengikat kakinya??” usul Knight One sembari  menunjuk ke arah rantai di kaki Sarayu yang ternyata sudah terlepas dan kini dalam  keadaan hancur. “Sepertinya tidak bisa yah. . . Bagaimana rantai itu bisa tiba-tiba hancur??”


            “Satu-satunya cara adalah mendekat padanya dan memukulnya untuk membangunkannya, Tuan.”


            “Bagaimana jika kita mengurungnya dalam perisai??” Knight Three bersama dengan Knight Two dan Knight Four akhirnya muncul di samping Knight Five dan Knight One.


            “Bagaimana jika kamu mencoba untuk mengurungnya dalam perisai logam milikmu?” usul Knight Two. “Kita harus segera membangunkan wanita itu karena pancaran cahaya yang keluar dari tubuhnya itu terus bergerak ke atas dan tidak lama kemudian Aliansi Ingmar akan menemukan markas kita.”


            Tanpa banyak menunggu, Knight Five mencoba mengurung Sarayu dengan perisai logam miliknya. Akan tetapi belum sampai perisai itu mengurungnya, Sarayu sudah lebih dulu menebas perisai logam buatan Knight Five dengan angin dari gerakan tongkat merahnya yang sangat tajam.


            “Wuahhhhh!” Knight Three berteriak terkejut dan kagum melihat apa yang baru saja Sarayu lakukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Dia belum pernah melakukan itu sebelumnya.”


            “Tebasan angin itu benar-benar tajam sekali hingga mampu membuat perisai logam dari Knight Five terpotong-potong dengan mudahnya layaknya kertas,” ucap Knight Four.


            “Ini percuma!” teriak Knight One. “Knight Three, pindahkan Sarayu ke dalam ruang kurungan di bawah tanah dengan kemampuanmu.”


            “Sial!” umpat Knight One. “Apapun yang terjadi tangkap wanita itu!”


                                                                                      *


 


            Hampa yang dalam, itulah yang selalu aku rasakan, pikir Sarayu di dalam benaknya ketika menghadapi sosok pria asing yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Sarayu ingat bagaimana dirinya selalu merasakan kekosongan di dalam hatinya ketika berjalan di keramaian, ketika menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya di mall dan ketika berjalan dalam gemerlapnya cahaya kota.

__ADS_1


            Aku selalu merasa jika tempatku ini bukanlah tempat yang benar. Aku selalu merasa berada di tempat yang salah. Tapi bagaimana pun aku mencarinya, aku tetap tidak menemukan tempat yang tepat untukku. Sarayu ingat kalimat itulah yang sering keluar dalam benaknya ketika merasakan kehampaan yang besar di dalam hatinya.


            “Sekarang biarkan aku bertanya padamu, Sarayu. Apakah sekarang  kau masih merasakan kehampaan itu lagi, Sarayu?” Sosok pria itu mengajukan pertanyaan penting kepada Sarayu yang selama beberapa waktu ini terlupakan oleh Sarayu sendiri.


            Benar. Kehampaan dalam yang selama ini selalu menemaniku, tidak lagi kurasakan. Sarayu menyentuh dadanya sendiri untuk merasakan hatinya yang tidak lagi merasakan kehampaan.


            “Mau bertaruh, Sarayu?”


            “Bertaruh?”


            Senyuman di bibir sosok pria itu semakin lebar saja dan membuat Sarayu merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi sesaat lagi.


            “Jika kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan, aku akan memberi tahu alasan kenapa hatimu itu selalu penuh dengan kehampaan sepanjang hidupmu. Jika kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan, aku akan memberitahu rahasia kecil tentang legenda turun temurun dalam keluarga ibumu. Dan jika kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan, aku akan memberikanmu hadiah kecil. Apa kau ingin mencobanya?”


            Setelah mengatakan itu, tangan dari pria itu bergerak ke samping dan tidak lama kemudian muncul tongkat yang sama seperti milik Sarayu-Ruyi. Hanya saja tongkat milik pria itu bukanlah berwarna merah, melainkan cokla keemasan.


            “Ba-bagaimana bisa kau memiliki tongkat itu juga?” Sarayu menatap terkejut tongkat milik pria itu yang muncul secara tiba-tiba.


            “Biar adil, kau juga akan melawanku dengan tongkat yang sama.” Ting. Secara tiba-tiba, tongkat merah milik Sarayu-Ruyi muncul di tangan Sarayu. “Dengan begini pertarungan kita akan adil.”


            Wush. Pria itu tiba-tiba saja mengayunkan tongkat keemasan miliknya dan membuat daratan di mana berada langsung terbelah.


            “A-aku bahkan belum bersiap-siap dan kau sudah menyerangku??” ujar Sarayu terkejut melihat daratan tempatnya berdiri terbelah begitu saja hanya dengan satu ayunan dari tongkat keemasan itu. Tongkat keemasan itu bahkan hanya mengayun saja tanpa menyentuh daratan itu sebelum akhirnya daratan itu akhirnya terbelah.

__ADS_1


            “Tidak ada yang namanya menunggu dalam sebuah pertarungan, Sarayu! Jika kau ingin mendapatkan semua jawaban untuk pertanyaanmu, kau harus mengalahkanku lebih dulu! Dengan begitu kau sudah membuktikan padaku bahwa kau layak.” Pria itu bergerak mendekat ke arah Sarayu dan terus mengayunkan tongkatnya untuk mengalahkan Sarayu.


            Siapa sebenarnya pria ini?? Sarayu yang kesal karena didesak untuk terus mundur, hanya bisa bertahan melawan tebasan angin dari tongkat milik pria itu.


__ADS_2