
Sarayu’s POV
Sejak aku menerima batu ini, aku melihat bagaimana masa depanku menantiku. Banyak hal yang aku lihat, dari pernikahanku dengan Winner tidak lama setelah perdamaian datang, lalu aku yang kemudian mengandung anak dari Winner dan melahirkannya, lalu Ethan dan Dylan yang ikut tinggal di rumah yang aku bangun di pegunungan yang sepi dari keramaian. Dalam penglihatan masa depan yang muncul di dalam benakku, aku melihat diriku akan hidup dengan cukup bahagia selama kira-kira sepuluh tahun ke depan. Kebahagiaan itu aku dapatkan dan rasakan, mungkin sebagai hadiah untukku karena telah berusaha keras memberikan kembali perdamaian yang telah hilang.
Setelah mendapatkan kebahagiaan itu, kematian akan datang padaku. Aku melihat Dylan mengkhianatiku dan Ethan. Dia menyerangku dan Ethan karena ingin merebut batu hitam yang ada di leherku. Selama sepuluh tahun ini, aku berusaha keras mencari tahu alasan Dylan mengkhianati kami. Tapi selama sepuluh tahun itu, aku tidak bisa menemukan alasan Dylan menginginkan batu itu. Mungkin Dylan terpesona dengan batu itu atau mungkin Dylan menginginkan kekuatan yang dimiliki batu itu. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi hanya satu yang bisa aku sebut dengan benar. Semua perbuatan Dylan itu dilandasi oleh keserakahan di dalam dirinya.
Tidak ada lagi kata yang tepat menggambarkan alasan itu selain keserakahan.
Dalam penglihatanku harusnya Dylan datang setelah Winner dan pengawalnya datang. Untuk mengantisipasi jumlah korban yang jatuh, aku meminta Winner untuk membawa pasukan dari mantan anggota Aliansi Ingmar dan membuat mereka datang bersamaan dari berbagai arah. Harusnya begitu dan harusnya itu yang terjadi.
Tapi. . . Dylan dan pasukannya datang lebih cepat beberapa hari dari apa yang muncul di dalam benakku seolah dia tahu aku bisa membaca gerakan dan pilihannya. Dylan tiba-tiba mengubah pikirannya dan datang secara mendadak di saat pasukan yang aku minta untuk datang, belum tiba.
Menanggapi hal itu. . . pada akhirnya aku tahu, apa yang aku lihat, kematian yang akan datang padaku tetap tidak bisa kuubah meski aku mengetahuinya.
Apakah ini yang dirasakan oleh Ethan ketika melihat kematian First dan lain-lain sepuluh tahun yang lalu? Pertanyaan itu muncul di dalam benakku ketika aku melihat Dylan muncul di depanku dengan pasukan miliknya.
“Kau benar-benar mengkhianatiku dan Tuan Ethan, Tuan Dylan!” teriakku kepada Dylan.
“Berikan batu itu padaku, Sarayu!!! Kau tidak seharusnya menyia-nyiakan batu itu dengan bersembunyi di sini, di gunung ini!!! Dengan batu itu, kau harusnya menjadi pahlawan, menjadi penyelamat di dunia yang dipuja-puja oleh semua manusia di dunia ini. Jika kau tidak mau menggunakan batu itu, biarkan aku yang menggunakan batu itu dan menggantikan posisimu itu!!”
__ADS_1
Benar. Alasan Dylan mengkhianatiku dan Tuan Ethan adalah keserakahan yang telah menguasai pikiran dan hatinya. Hal ini sering terjadi kepada banyak ilmuwan di mana pikiran mereka menerima terlalu banyak pengetahuan tanpa dasar hati dan mental yang kuat.
“Maafkan aku, Tuan Dylan, tapi batu ini bukanlah milikku!! Batu ini ada bersamaku karena dia sedang menunggu pemiliknya yang sesungguhnya dan aku hanya bertugas untuk menjaganya saja sampai pemiliknya datang menemuiku!! Kau salah besar jika berpikir bisa menggunakan batu ini seenakmu sendiri, Tuan Dylan!!!”
Tuan Dylan yang aku kenal dulu adalah pria terbuka yang selalu tersenyum dan sangat ramah. Dia menjadi sahabat terbaik dari Tuan Ethan dan selalu mendampinginya dengan baik. Tapi Tuan Dylan yang sekarang berdiri di hadapanku bukanlah Tuan Dylan yang dulu aku kenal.
Tuan Dylan sama sekali tidak mau memahami ucapanku. Hati dan pikirannya telah gelap oleh keserakahannya dan tidak menganggapku sebagai temannya lagi. Tuan Dylan langsung mengerahkan pasukannya maju menyerangku tanpa lagi melihatku sebagai temannya. Pertarungan itu akhirnya tidak terhentikan sampai salah satu dari kami tewas. Selama dua hari dua malam, pasukan milik Tuan Dylan terus saja berdatangan dan aku harus menghadapi mereka terus menerus seolah jumlah mereka tidak ada habisnya.
“Maafkan aku, Tuan Dylan. Tadinya. . . aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah lagi. Tapi. . . kali ini aku harus melakukannya. Jika tidak, batu ini akan berada di tangan yang salah.”
Tadinya aku tidak ingin membunuh lagi, tapi jumlah pasukan yang terus berdatangan serta kemampuanku mengendalikan kekuatan batu itu semakin berkurang sering berjalannya waktu, maka aku tidak punya banyak waktu untuk menghadapi pasukan yang terus berdatangan tanpa henti.
“Maafkan aku, Tuan Dylan. Aku terpaksa melakukannya.”
Berhasil membekukan seluruh pasukan yang ada, tanganku bergerak lagi. Kali ini memanggil ruyi milikku dan mengayunkannya untuk menebas es-es yang di dalamnya terdapat tubuh manusia. Dalam satu tebasan es-es itu hancur bersama dengan semua manusia di dalamnya.
Setelah pertarungan dua hari dua malam itu, aku yang kelelahan langsung ambruk dengan pecahan-pecahan es yang mulai mencair bercampur dengan darah-darah pasukan dari Tuan Dylan. Tubuhku yang ambruk kemudian bermandikan darah dari pasukan Tuan Dylan dan dara dari Tuan Dylan sendiri.
Aku lelah. Rasanya lelah sekali. Setelah sepuluh tahun tidak menggunakan tubuh ini dan kekuatan ini untuk bertarung seperti ini, aku merasa benar-benar lelah bertarung selama dua hari dua malam. Sebelum mataku menutup karena rasa lelahku yang teramat sangat menyerangku, aku sibuk bicara dengan diriku: mengeluh ini dan itu setelah sekian lama menikmati kehidupan bahagia yang diberikan Tuhan padaku. Seolah merasakan kematian hendak datang menjemputku, pikiranku membuat harapan untuk semua orang yang aku sayangi. Kuharap. . . Reinner bisa tumbuh jadi pria yang tampan, bijaksana dan pria hebat. Kuharap Reinner tidak meniru sikap Winner yang sedikit memuja dirinya sendiri. Lalu untuk Winner, aku lupa berterima kasih padanya karena selama ini selalu mencintaiku dan menerima berbagai keputusanku. Dia bahkan tidak marah ketika aku meminta untuk tinggal di gunung seperti dan membuatnya setiap tiga bulan sekali harus pulang hanya untuk menemuiku dan menemui putranya. Lalu untuk Tuan Ethan, kuharap dia masih mau menjaga putraku-Reinner dan mengajarinya banyak hal seperti yang dia ajarkan padaku.
__ADS_1
Embun pagi. . . tiba-tiba mencair. Udara lembab malam hari kemudian berubah menjadi udara yang menyegarkan ketika sinar mentari tiba. Sebelum menutup mata karena kelelahan yang teramat sangat, aku melihat sosok Winner yang berlari ke arahku.
“Sarayu!!!!”
Dalam benakku, aku membuat harapan terakhir kecilku. Ah. . . alangkah senangnya jika aku bisa melihat wajah-wajah orang yang aku sayangi sebelum aku pergi ke alam baka. Rasa lelah itu benar-benar sudah tidak bisa aku tahan lagi. Rasa lelah itu terus menelanku dan membawaku pada kegelapan tanpa ujung yang sedang menantiku.
*
“Kita bertemu lagi, Sarayu!!”
Aku membuka mataku dan melihat sosok pria yang berulang kali muncul dalam mimpiku dan selalu diselimuti oleh kabut di sekitar wajahnya. Tapi. . . kali ini berbeda. Kabut-kabut yang biasanya menutupi wajah sosok itu, kini telah hilang dan aku bisa dengan jelas melihat wajahnya.
“Kau??”
“Apa kau mengenali wajah ini, Sarayu?” Sosok itu mendekat ke arahku sembari menyentuh wajahnya sendiri dengan senyuman.
“Y-ya. Wa-wajahmu itu mirip dengan wajah anakku-Reinner.” Aku menatap wajah itu lagi dengan saksama dan perasaanku mengatakan jika wajah itu memang mirip, sangat-sangat mirip dengan Reinner-putraku.
__ADS_1