
Sosok itu tersenyum padaku dan senyuman itu sama persis dengan Reinner ketika tersenyum. “Itu benar, wajahku ini memang mirip dengan wajah Reinner-putramu, Sarayu. Alasannya mudah, karena Reinner tidak lain dan tidak bukan adalah reinkarnasi dariku.”
Batu hitam yang selama sepuluh tahun ini selalu berada di leherku kemudian bergerak ke arah sosok dengan wajah Reinner itu bersama dengan tongkat coklat keemasan yang selama ini aku simpan.
“Jadi kau. . .”
Sosok itu menganggukkan kepalanya. “Alasanku memilihmu adalah karena di masa depan aku akan lahir dari rahimmu dan menjadi anakmu, Sarayu. Karena itulah, kalian disebut dengan sang penjaga.”
Aku tidak percaya dengan ucapan sosok itu dan masih belum bisa mencerna maksud dari ucapannya kepadaku. Selama ini. . . aku selalu bertanya-tanya apa yang membuatku istimewa hingga batu itu memilihku setelah kembali utuh? Hanya karena aku selalu kembali pada jalanku dan punya pendirian, bukan berarti batu itu akan memilihku. Di dunia ini masih banyak orang yang mampu dan jauh lebih baik untuk menjaga batu itu.
Pertanyaan itu berulang kali muncul di dalam benakku selama sepuluh tahun dan tidak pernah bisa kutemukan jawabannya. Dan sekarang sosok pemilik dari batu itu menunjukkan wajahnya padaku dan membuatku melihat bagaimana rupa Reinner-putraku ketika dewasa nantinya.
“Sekarang jelaskan padaku, kenapa batu itu memilihku selama sepuluh tahun ini??”
“Karena aku memilihmu untuk menjadi ibuku.” Sosok itu menjawab pertanyaanku dengan nada entengnya seolah apa yang aku tanyakan selama sepuluh tahun ini adalah pertanyaan ringan.
“Kukira. . . selama ini keturunan selalu diwariskan oleh ayah kepada anaknya. Kenapa kau memilih wanita dalam keturunanmu untuk membawamu lahir ke dunia ini??” tanyaku masih tidak mengerti. Dalam kehidupan ini, aku belajar bahwa seorang ayah akan memilih anak laki-lakinya untuk meneruskan nama keluarganya. Tapi untuk sosok pria di hadapanku ini, dia justru memilih wanita dari keturunannya untuk membawanya lahir ke dunia ini.
“Apa kau pernah mendengar bahwa ibu yang baik akan menghasilkan anak yang baik, Sarayu?”
Aku memiringkan kepalaku masih tidak mengerti. “Apakah ada ucapan seperti itu??”
Sosok itu menganggukkan kepalanya. “Aku meyakini ucapan itu, Sarayu. Ibu yang baik akan membesarkan anaknya dengan baik juga. Seorang anak akan berada dalam kandungan ibunya selama kurang lebuh sembilan bulan lamanya dan selama sembilan bulan itu, calon anak itu akan membaca dan mempelajari apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh ibunya,. Ikatan selama sembilan bulan itulah ikatan istimewa karena dasar-dasar sifat anak itu kelak akan berasal dari sana.”
“Jadi menurutmu. . . aku akan menjadi yang ibu baik, begitu?”
Sosok itu menganggukkan kepalanya lagi kali ini dengan senyuman manis di bibirnya yang membuatku melihat Reinner-putraku. “Ya, kau benar-benar menjadi ibu yang baik bagi Reinner. Meski membawa batu itu di lehermu dan telah mendapat julukan pahlawan perang dunia ketiga, kau memilih untuk menyembunyikan dirimu di gunung dan memulai kehidupanmu dengan damai bersama keluarga kecilmu sembari menjaga batu itu hingga pemiliknya tiba. Kau pasti tidak mengira jika pemilik batu itu akan lahir ke dunia ini sebagai putramu bukan, Sarayu?”
Aku menganggukkan kepalaku. “Y-ya. Aku benar-benar tidak menduganya.”
“Di masa lalu. . . hal yang sama juga selalu terjadi, Sarayu. Aku selalu memilih wanita dalam keturunanku untuk tempat aku berinkarnasi. Setiap keturunan wanita yang aku pilih, dia akan menghadapi ujian kehidupan yang cukup berat dan lebih berat dari kebanyakan keturunanku yang lainnya. Ujian kehidupan itu akan membentuk karakter dan cara mereka berpikir. Perlahan. . . aku menuntun mereka untuk tidak memiliki keserakahan di dalam hati mereka dan hidup dengan penuh kebijaksanaan sepanjang jalannya.”
__ADS_1
“Apa itu selalu berhasil??” tanyaku penasaran.
“Tidak selalu. Beberapa keturunan yang aku pilih, gagal dalam ujiannya dan membuat beberapa keturunanku berjalan keluar dari jalan yang benar. Ketika hal itu terjadi, aku melihat bahwa mereka yang aku pilih masih jauh dari kata sanggup untuk menjadi penjagaku dan membesarkanku kelak.”
“Kukira yang kau maksud adalah nenekku,” balasku dengan tersenyum getir. Aku ingat bagaimana nenekku selama ini hidup. Dia adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya dan mendapat banyak kasih sayang karena kecantikannya. Tapi kasih sayang yang diterimanya secara berlebih itu membuatnya tidak bisa bersikap dengan bijaksana dalam perjalanan hidupnya.
Ketika ibuku lahir dan membawa keberuntungan yang sama dan bahkan lebih besar darinya, nenekku diam-diam memendam rasa iri pada putrinya sendiri dan kemudian memilih untuk tidak menyayangi ibuku karena merasa ibuku sudah banyak yang menyayanginya. Sayangnya. . . nenekku yang selama ini selalu disayangi oleh semua orang melupakan kenyataan bahwa kasih sayang orang tua dan kasih sayang orang lain akan tetap berbeda. Bagaimana pun sayangnya orang lain pada kita, kasih sayang itu tidak akan bisa mengalahkan kasih sayang orang tua.
“Kau menyadarinya, Sarayu??”
Aku menganggukkan kepalaku. “Tentu saja, aku sadar. Dari ibuku, aku belajar banyak hal.”
Sosok itu tersenyum padaku lagi. “Inilah yang membuatku menyukaimu, Sarayu. Kau memilih menjadi pengamat yang baik dalam setiap kisah kehidupan yang kau temui dalam hidupmu. Kekurangan yang kau terima dalam hidupmu, kau anggap sebagai cara Tuhan menyayangimu dan bukan caramu merendahkan diri. Meski beberapa kali kau merasa putus asa, kau selalu mampu kembali bersemangat. Tak satu kali pun dalam hidupmu, kau berpikir untuk membunuh dirimu karena kau selalu percaya Tuhan selalu punya jalan untuk setiap kesulitan yang kau lalui.”
Aku tersenyum getir mendengar pujian itu. “Kurasa kau menilaiku terlalu tinggi, leluhurku. Bisakah aku bertanya??”
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Sejak kau bertanya di dalam hatimu. Aku ingat dengan jelas kau menanyakan hal ini di dalam hatimu. ‘Apa yang mereka lihat dari kemewahan ini? Apa yang membuat mereka begitu tergila-gila dengan ini dan itu?’ hari itu, aku akhirnya menemukan bahwa kau merasakan kehampaan ketika berada dalam gemerlap dunia. Sejak saat itu. . . aku selalu memperhatikanmu dan mendengar pertanyaan yang selalu kau ajukan. ‘Apa yang mereka lihat dari dunia ini? Kenapa mereka saling menyakiti hanya karena jumlah uang yang tidak seberapa? Kenapa mereka memburu banyak kekayaan jika pada akhirnya kekayaan itu akan membuat mereka sengsara?’ dan masih banyak pertanyaan lainnya yang kurasa jumlah bukan ratusan dan mungkin sudah puluhan ribu.”
Aku melongo mendengar penjelasan sosok itu karena dia mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang selama ini aku ajukan dalam hatiku dan tidak pernah kukatakan seumur hidupku.
“Kau benar-benar memperhatikanku sampai pertanyaan-pertanyaan yang aku tanyakan dalam hatiku selama ini pun, kau tahu.”
“Hahahaha.” Sosok itu tertawa kecil mendengar pertanyaanku. “Bukankah sudah kukatakan jika aku bisa sembarangan memilih ibu di mana aku akan lahir ke dunia? Aku harus hati-hati membuat pilihan karena batu itu akan membahayakan jika berada di tangan yang salah.”
Akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya. . . aku menemukan jawaban untuk pertanyaanku. Alasan batu itu mengalungkan dirinya di leherku dan memilihku adalah pemiliknya akan lahir dari rahimku. Batu itu ada di sisiku karena pemiliknya juga ada di sisiku.
“Karena sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku selama sepuluh tahun ini, setelah ini. . . apakah aku akan mati?” tanyaku dengan nada pahit.
“Ya. . . seperti yang kau lihat dalam masa depanmu dengan menggunakan batu ini, kau memang akan mati, Sarayu. Tugasmu sebagai sang penjaga juga telah berakhir. Kau menjadi penjaga terbaik yang pernah aku temui dalam banyak perputaran kehidupan yang aku lalui.”
__ADS_1
“Lalu. . . bagaimana dengan Reinner di masa depan?”
“Dia akan menjadi penyelamat di masa depan. Tugasnya yang dibawanya lebih berat dari tugasmu tapi. . . kujanjikan satu hal, Reinner akan mampu melewatinya, Sarayu. Kau tidak perlu khawatir dengan hal itu.”
Aku tersenyum mendengar janji kecil dari leluhurku itu. Seperti banyak kisah-kisah kepahlawanan yang pernah aku baca, aku tahu bahwa kali ini. . . aku bukan pahlawan dan bukan tokoh utama dalam kisah itu. “Terima kasih telah memberikan janji itu. Meski aku tidak bisa melihatnya tumbuh dewasa, aku senang mendengar bahwa Reinner akan mampu tumbuh dengan baik nantinya.”
“Nah. . . sekarang sudah saatnya kau pergi, Sarayu. Terima kasih atas semua usahamu selama ini sebagai Sang Penjaga. Beristirahatlah dengan tenang, Sang Penjaga terbaik.”
Di depan sana. . . alam baka menantiku. Aku tidak tahu apakah aku akan masuk surga atau masuk ke neraka karena darah yang mengalur di tanganku. Tapi. . . satu hal yang aku tahu, kematian ini, hidup ini dan apa yang aku lalui hingga hari ini, aku tidak pernah menyesalinya. Setelah berjuang sekuat tenaga, setelah berusaha dengan keras menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi, kematian ini tidaklah menyedihkan bagiku. Aku mati demi orang-orang yang aku sayangi dan bangga akan hal itu. Kematian ini jauh lebih baik dari pada kematian yang pernah aku bayangkan di mana aku mati seorang diri tanpa siapapun yang mungkin akan mengingatku.
Ya. . . inilah kematian yang aku inginkan, kematian yang aku harapkan dan kematian terbaik yang bisa kudapatkan.
*
Reinner menutup buku catatan yang selama setengah tahun ini selalu dikerjakannya. Setelah sepuluh tahun kematian ibunya, Reinner baru mendengar kisah perjalanan ibunya dari mulut Paman Ethan yang sudah mulai tua dan mulai jatuh sakit. Selama setengah tahun ini, Reinner sengaja meminta Paman Ethan yang membesarkannya untuk menceritakan kisah ibunya dan kematian tragis yang dihadapinya.
“Aku tidak pernah menyangka jika di masa lalu, Ibu adalah pahlawan perang.” Reinner melihat catatan miliknya dengan memegang batu hitam yang mengalung di lehernya.
Reinner kemudian membuka halaman terakhir dalam catatannya dan menuliskan kalimat penutup dalam catatan miliknya yang akan ditinggalkannya sebagai bukti sejarah sebelum dirinya pergi menghadapi bencana besar yang akan datang.
Jika selama ini kalian tahu tentang kisah pahlawan terkenal yang menyelamatkan dunia, kalian pasti tidak akan tahu bahwa ibu dari pahlawan itu ternyata memiliki banyak ujian dalam hidupnya. Ibu dari pahlawan itu sering kali dilupakan atau bahkan tidak diceritakan karena ceritanya tidak seindah dengan kisah pahlawan itu sendiri.
Ibuku juga sama.
Untuk melahirkanku ke dunia ini, dia menjalani hidup yang penuh dengan perjuangan dan demi kelahiranku di dunia yang damai, dia harus ikut berperang. Perjuangannya begitu besar tapi kisahnya tidak pernah tercatat di manapun.
Maka siapapun yang membaca kisah ini, kuucapkan terima kasih.
Terima kasih karena telah membaca kisah Sang Penjaga ini. Terima kasih karena telah mendengar kisah panjang Sang Penjaga yang dilupakan karena kisahnya tertutup oleh kisahku.
__ADS_1
Kuharap setelah membaca kisah ini, kalian juga akan merasakan apa yang aku rasakan dan mengingat kisah ini di dalam hati kalian.