
Seventh berhasil melindungi Dylan ketika bagian markas terkena ledakan misil yang berhasil menembus pelindung angin milik Sarayu dan jatuh di dalam markas Pasukan Perdamaian Dunia.
“Tuan Dylan biak-baik saja?’ tanya Seventh panik.
“Aku baik-baik saja, Seventh.”
“Kita harus kembali ke ruang komando, Tuan,” ujar Seventh cemas. Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Bantu aku membawa batu-batu itu, Seventh.”
Setelah pecahan batu milik Fifth, pecahan batu yang tidak dikenal yang diduga Dylan sebagai milik Knight Four, kini giliran pecahan batu milik Second, Third dan Sixth yang bergerak menyatu dengan batu milik Sarayu.
“Kenapa mereka menyatu dengan batu milik Savior, Tuan?” Seventh bertanya pada Dylan sembari menyimpan semua batu-batu itu ke dalam koper sebelum pergi dari laboratoriumnya dan kembali ke ruang komando.
“Aku tidak tahu kenapa mereka sekarang tiba-tiba menyatu. . . tapi sebelum batu itu menyatu, pemiliknya lebih dulu kehilangan nyawa Seventh.”
Seventh membeku mendengar ucapan Dylan. “I-itu. . . itu artinya. . . Sixth, Second dan Third juga telah tewas??”
“Kita tidak tahu. Tapi untuk memastikannya kita harus segera kembali ke ruang komando. Karena ledakan yang baru saja terjadi, saluran komunikasi pasti telah terputus bahkan kamera CCTV itu kini sudah tidak menyala,” jelas Dylan.
Setelah memasukkan semua batu ke dalam koper, Dylan bersama dengan Seventh dan penjaga mereka segera keluar dari laboratorium dan berniat untuk kembali ke markas.
Di sisi lain. . .
First bertarung mati-matian melawan Knight One seorang diri. Pukulan mematikan Knight One itu akhirnya berhasil menghancurkan pelindung angin milik Sarayu dan membuat misil yang dilepas oleh kapal selam yang kini telah menunjukkan dirinya berhasil jatuh di markas. Berkat itu. . . saluran komunikasi yang menghubungkan dirinya dan markas telah terputus dan kini satu-satunya harapan untuk menghentikan Knight One hanyalah dirinya.
“Tuan kami datang.”
Di samping Knight One tiba-tiba muncul Knight Three dan Knight Five, menyapa Knight One dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
“Ada apa dengan wajah kalian berdua? Di mana Knight Four?” tanya Knight One.
“Savior berhasil membunuhnya, Tuan,” ucap Knight Three geram. “Setelah ini, aku akan membunuh wanita itu sendiri dan membalaskan kematian dari Knight Four.”
“Sebelum itu terjadi. . . kita harus membunuh rekan mereka lebih dulu.” Knight One melihat ke arah First yang sudah kelelahan karena bertarung seorang diri sementara semua pasukannya telah tewas bersama dengan Eighth. Bala bantuan yang dikirimkan oleh markas pun dijatuhkan dengan mudah oleh misil yang dilepas oleh 9 kapal selam yang kini telah menunjukkan diri mereka di depan First.
“Baik, Tuan.”
Knight One bersama dengan Knight Three dan Knight Five melancarkan serangan mereka bersamaan ke arah First.
Booom. . . dar. . . . Dengan kemampuan First menggunakan senjata ganda dengan kedua tangannya, First dapat menghindari beberapa serangan yang datang ke arahnya. Tapi serangan yang datang kepadanya terlalu banyak ditambah lagi Knight Three-si peniru yang merepotkan itu melancarkan banyak serangan dengan meniru banyak kemampuan yang menyusahkan First. Alhasil beberapa serangan lolos dari dua pedang milik First dan melukai beberapa bagian tubuhnya.
Uhuk. . . . First batuk bersama darah segar karena serangan tadi yang sepertinya berhasil melukai organ di bagian di dalamnya.
“Satu serangan lagi dan dia akan tewas seperti rekan-rekannya!” teriak Knight One sebelum melancarkan serangan terakhirnya untuk First bersama dengan Knight Five dan Knight Three.
First yang masih belum menyerah bahkan ketika bayangan kematian datang menghampirinya terus berdiri dengan tegap bahkan setelah tubuhnya yang penuh dengan luka.
Dar. . . suara tembakan terdengar dan kali ini mengenai kepala Knight Three karena Knight Three yang sudah merasa akan menang melihat First. Seketika Knight Three tewas seketika.
“Tembakan itu!!” teriak Knight One penuh amarah.
Dari kejauhan tongkat merah bergerak memanjang dengan Sarayu dan Seventh di sampingnya.
“Aku tidak akan kehilangan rekanku lagi, Knight One.” Sarayu melompat turun dari tongkat merahnya dan langsung mengambil posisi menembak bahkan sebelum kedua kakinya mendarat di atas pasir pantai dan ting. . .
Peluru dari mode kedua pistol milik Sarayu ditembakkan dan sembilan kapal selam milik Arael langsung terpecah menjadi komponen penyusunnya. Kapal yang terpecah itu membuat semua awaknya kemudian mengambang di air laut. Sarayu langsung mengambil tongkat merah miliknya dan mengayunkannya sekuat tenaga dan wusshhhhh. . . Angin kencang itu membuat air laut bergerak ke tengah dan membuat semua awak kapal Arael mati tenggelam.
Knight One benar-benar mengamuk melihat bagaimana kedatangan Sarayu langsung merusak semua rencana miliknya. “Savior, kau!!!!!”
Knight One langsung melancarkan pukulannya sekuat tenaga ke arah daratan dan membuat getaran yang sangat hebat di tempatnya berdiri.
__ADS_1
“Knight One!” teriak Knight Five.
“Aku tidak peduli jika aku mati di sini, Knight Five! Aku hanya ingin membunuh wanita ini karena sudah berulang kali membuat rencanaku gagal!” Knight One bergerak lagi dan kali ini mengarahkan semua pukulannya untuk memukul Sarayu.
Satu pukulan dan Sarayu berhasil menghindari.
Pukulan kedua, Sarayu berhasil menghindar.
Pukulan ketiga, Sarayu berhasil menghindar.
Sarayu membalas pukulan Knight One dengan mengayunkan tongkat merah miliknya dan berusaha untuk menebas lengan Knight One yang merupakan sumber kekuatan dahsyat milik Knight One. Wushhh. . .
Rencana itu harusnya berhasil jika bukan karena logam milik Knight Five yang melindungi Knight One.
Pukulan keempat dan Sarayu berhasil menghindarinya.
Pukulan kelima datang dan Sarayu berhasil menghindarinya.
Tapi setelah pukulan kelima dan berhasil menghindarinya, tubuh Sarayu tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan jatuh berlutut. Sarayu lupa jika tenaganya sudah hilang lebih dari separuh karena berusaha melindungi Sixth.
“Sepertinya kau telah kehilangan semua tenagamu karena terlalu banyak melindungi, Savior,” ujar Knight One yang melayangkan satu tinjunya yang kali ini terlihat benar-benar kuat dan mungkin mematikan.
Itu benar. Setelah berusaha menjaga Sixth tetap hidup dan melindungi beberapa benua dari serangan nuklir, Sarayu terus kehilangan tenaganya lebih cepat dari seharusnya karena berusaha melindungi negara-negara yang tidak seharusnya menjadi korban perang ketika mereka tidak siap. Harusnya. . . Sarayu masih punya cukup tenaga untuk melawan Knight One dengan menarik semua pelindung angin miliknya. Tapi jika Sarayu melakukannya, maka banyak negara dan banyak orang tidak bersalah akan jadi korban dari perang yang dimulai oleh keserakahan ini.
Aku sudah siap mati. Sarayu datang kemari bersama dengan Seventh dengan niat sudah siap untuk mati. Sejak melihat kematian tragis Fifth, Sixth, Second dan Third, Sarayu tidak lagi bisa menahan beban yang dibawanya. Setelah memastikan Winner berada dalam bunker kepda Ethan, Sarayu menghadapi Knight One dengan taruhan nyawanya.
Di saat pukulan Knight One yang sangat kuat itu mendekat, Sarayu tiba-tiba teringat ingatannya ketika kembali ke masa lalu dan bertemu dengan Redo. “Di saat seperti ini, aku kembali mengingatnya. Dasar Redo!! Alangkah senangnya jika aku punya kesempatan untuk bertemu lagi dengannya sekali saja dan menyelesaikan semua masalah kami di masa lalu.”
Sarayu memejamkan matanya dan kali ini pasrah siap menerima pukulan dari Knight One. Bukkk. . . . pukulan itu harusnya sudah mendarat di salah satu bagian tubuh Sarayu, tapi Sarayu sama sekali tidak merasakan sakit pada bagian tubuhnya.
“Knight Five!!!! Minggir!!!” teriak Knight One penuh amarah.
__ADS_1