THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 56 SAVIOR TERJUN KE MEDAN PERANG PART 3


__ADS_3

            Dalam sepuluh hari Sarayu terjun ke medan perang, dalam sepuluh hari itu juga Sarayu mendapatkan kemenangan mutlak untuk Aliansi Ingmar. Ide-ide gila dan kreatif muncul dari dalam benak Sarayu ketika berusaha menyelesaikan perang dalam waktu singkat. Dan kehebatan Sarayu itu sampai di telinga Knight One.


            “Hahahaha. Aku benar-benar tidak menyangka wanita biasa yang dulunya hanyalah seorang penulis novel fantasi bisa memikirkan cara gila itu untuk membuat pasukan kita kalah dari perang.” Knight One tertawa memuji kehebatan Sarayu sekaligus merasa kesal dengan semua bawahannya yang gagal mengalahkan Pasukan Perdamaian Dunia di bawah instruksi rencana Sarayu.


            “Wanita itu benar-benar gila, Tuan,” ujar Knight Three. “Bagaimana bisa dia memindahkan seluruh pasukan kita ke lautan pada hari kedua, memindahkan seluruh pasukan kita ke pulau ular yang mematikan di hari ketiga, memerangkap seluruh pasukan kita dalam pelindung anginnya dan membuat mereka lemas karena kehabisan napas sebelum memindahkan mereka semua ke gurun pasir di hari keempat.”


            “Di hari kelima, wanita itu mengirim seluruh pasukan kita ke kutub utara,” tambah Knight Two. “Di hari keenam dan ketujuh, wanita itu melepaskan tembakan mengerikan dari pistol miliknya ketika menghadapi pasukan kita yang berada di lautan. Lalu di hari kedelapan dan kesembilan, semua pasukan kita yang berada di bawah laut mengalami kekalahan karena tongkat merah milik wanita itu yang bisa membelah lautan dan membuat semua kapal selam kita tidak berguna. Lalu kemarin. . . apa yang dilakukan oleh wanita itu sama seperti yang dilakukannya pada hari pertamanya terjun ke medan perang: membuat kubah besar dan membuat semua pasukan kita kehilangan senjata mereka.”


            “Rasanya. . . seperti kita sedang dipermainkan olehnya,” tambah Knight Four.


            Knight One yang sudah sangat kesal dan juga merasa kagum dengan kemampuan Sarayu mengepalkan tangannya dan membuat semua Knight di ruangannya langsung mengubah wajahnya karena ketakutan. “Itu sebabnya. . . aku ingin kalian menangkap wanita itu dan membawanya kemari. Aku tidak peduli apa yang kalian akan lakukan, aku hanya ingin wanita itu berada di Aliansi Arael dan menjadi sekutu kita. Berkat wanita itu. . . semua rencanaku gagal dan aku kehilangan momen penting untuk melakukan serangan nuklir yang sudah disiapkan oleh petinggi Aliansi Arael.”


            “Tapi Tuan. . .” Knight Three membuka mulutnya. “Kemampuanku dan kemampuan dari Knight Two tidak mempan terhadap wanita itu. Aku tidak bisa mengopi kemampuannya dan Knight Two tidak bisa mengendalikan pikirannya.”


            Knight One mengangkat tangannya yang mengepal lagi ke atas. “Haruskah aku yang turun sendiri??”


            Empat Knight langsung bergidik ketakutan mendengar pertanyaan dari Knight One itu.


            “Tidak, Tuan. Kami akan pikirkan caranya,” ujar Knight Two.


            “Bisakah aku yang memancing wanita itu, Tuan?” Knight Five maju dan mengajukan dirinya.


            “Kamu?” tanya Knight One.


            “Ya, Tuan.” Knight Five menundukkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari Knight One.

__ADS_1


            “Apa kau punya rencana untuk itu, Knight Five?” Knight One menurunkan tangannya yang mengepal.


            “Ya, Tuan. Bisakah Tuan mempercayakan tugas ini kepada saya?”


Knight One melihat keyakinan di sorot mata Knight Five. “Baiklah, jika kau punya rencana, Knight Five. Apakah kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu dan membantu rencanamu itu?”


“Cukup Knight Three saja, Tuan. Itu jika Tuan mengizinkan.”


Knight One mengubah ekspresinya yang dingin menjadi lebih hangat. “Kau bisa membawa Knight Three untuk membantumu. Jika butuh bantuan lagi, kamu bisa menghubungi siapapun. Kau paham?”


“Ya, Tuan.”


Knight Five bersama dengan Knight Three kemudian keluar dari ruang rapat dan meninggalkan Knight One bersama dengan Knight Two dan Knight Four,


“Tuan membiarkan Knight Five mengerjakan tugas itu?” tanya Knight Two yang sejak tadi menyimpan rasa ingin tahu dan herannya kepada Knight One.


            “Saya kira Tuan kesal karena wanita itu membuat semua rencana Tuan berantakan?” tanya Knight Four.


            “Aku memang kesal. Aku juga sangat marah. Jika bisa. . . aku ingin melayangkan pukulanku ini ke arah wanita itu juga. Sayangnya. . . aku tidak bisa melakukannya. Dan seperti ucapan kalian tadi, Knight Two tidak bisa mengendalikan pikirannya dan Knight Three yang bisa mengopi kemampuan orang lain, tidak bisa mengopi satu pun kemampuan dari wanita itu. Setelah aku pikir-pikir, membuat wanita itu menghilang dari bumi ini dan kehilangan kemampuannya yang sangat istimewa itu adalah hal yang sangat disayangkan.” Knight One memasang senyuman di wajahnya membayangkan Sarayu yang berhasil tertangkap dan terkurung di markas Aliansi Arael. “Kukira kita ini adalah manusia istimewa sejak menerima kemampuan dari pecahan meteor saat itu. Kukira kita semua adalah manusia yang paling istimewa. Tak pernah aku sangka bahkan di antara manusia istimewa pun masih ada manusia yang lebih istimewa lagi.”


                                                                          *


            Knight Three mengopi kemampuan Sixth dari Aliansi Ingmar dan membawa Knight Five ke lokasi perang di mana saat ini Savior-mantan pengawal Winner sedang bersama dengan rekannya dan berusaha untuk menyelesaikan perang.


            “Lihat itu, Knight Five!” bisik Knight Three dari belakang tubuh Knight Five.

__ADS_1


            Begitu tiba di lokasi perang, Knight Three sengaja memilih tempat yang sedikit lebih jauh dari lokasi perang dengan tujuan mengamati keadaan lebih dulu. Siapa yang akan menyangka begitu tiba di dekat lokasi perang, pelindung angin yang besar milik Savior yang berbentuk seperti kubah itu sudah mengelilingi lokasi perang dan mengunci seluruh pasukan dari Aliansi Arael di dalamnya.


            “Kita beruntung, aku memilih untuk berpindah di lokasi yang sedikit jauh dari lokasi perang. Jika kita berpindah di lokasi perang dan terkunci di dalam kubah angin itu, bisa-bisa kita berpindah tempat ke pulau ular dan kehilangan nyawa kita karena serangan ribuan ular di sana.” Knight Three bergidik ngeri membayangkan ucapannya sendiri.


            “Kau takut ular, Knight Three?”


            “Ya. Aku sangat takut sekali dengan hewan satu itu. Mata mereka buta tapi sungguh menakutkan dan lagi cara mereka bergerak itu sungguh membuatku ngeri. Meliuk-liuk tidak jelas.” Knight Three bergidik lagi dan kali ini memeluk tubuhnya sendiri. “Sekarang. . . apa rencanamu, Knight Five?”


            Knight Five memandang ke arah Savior yang baru saja melepaskan tembakannya dari atas kubah tempatnya berdiri. Di samping Savior ada pelindung angin sendiri yang melindungi dirinya dan juga tongkat merah yang selalu bergerak-gerak seolah sedang berjaga untuk melindungi Savior.


            “Tadinya aku ingin langsung menculik Savior?”


            “Apa kau sudah gila?” potong Knight Three dengan cepat. “Apa kau sudah tidak sayang lagi dengan nyawamu itu? Pukulan yang kau terima dari wanita itu sepertinya kurang keras karena kau bisa membuat rencana seperti itu dengan mudahnya.”


            Knight Five melirik ke arah Knight Three yang bersembunyi di belakangnya. “Asal kau tahu saja, Knight Three. Pukulan dari tongkat merah itu benar-benar menyakitkan.”


            “Tanpa kau beri tahu pun, aku sudah tahu, Knight Five. Ingat! Akulah orang yang menyembuhkanmu saat itu dan aku kehabisan banyak energi ketika melakukannya.”


            Knight Five melirik ke arah Knight Three lagi. “Kukira kau tidak tahu, Knight Three. Jika kau tidak tahu dan ingin mencobanya, aku akan dengan senang hati melemparmu ke atas kubah itu untuk menerima pukulan yang sama dengan yang aku pernah terima.”


            “Aku tidak gila sepertimu, Knight Five.” Knight Three menyipitkan matanya menatap ke arah Savior yang melepaskan tembakan lagi dan tidak lama kemudian, Booooom. Ledakan besar dan kencang, terdengar di telinga Knight Three. “Knight Five! Sekarang apa rencanmu?”


            “Kita pindah tempat lagi saja, Knight Three??”


            “Ke mana?”

__ADS_1


            “Ke tempat Winner berada.”


__ADS_2