
Sarayu membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat yang tidak asing. Sarayu mengerjap-ngerjapkan matanya lagi, beberapa kali. Kali ini dengan tujuan untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah mimpi dan kenyataan.
“Ini di mana, Sarayu?”
Sarayu menolehkan kepalanya melihat ke arah pemilik suara itu dan melihat sosok Winner yang tampak seperti bayangan. Ini. . . mungkinkah sesuatu terjadi dalam proses pemindahan yang dilakukan oleh Sixth dan Second? Sarayu menolehkan kepalanya lagi melihat ke tempat di mana perasaan nostalgia langsung muncul dalam waktu sekejap.
“Hei Sarayu! Kita di mana sekarang?” Winner bertanya lagi dan kali ini sedikit megguncang tubuh Sarayu. “Apakah ini markas Pasukan Perdamaian Dunia dari Aliansi Ingmar? Kenapa bangunannya terlihat kuno dan juga terlihat seperti bukan tempat militer??”
Sarayu menatap Winner dengan tatapan tajam. Kali ini kacamata hitam yang biasanya menutupi mata Sarayu, tidak lagi berada di wajah Sarayu dan menutupi sorot mata Sarayu. “Win, Winner, apakah setelah menjadi tokoh publik selama bertahun-tahun kemampuan otakmu menurun?” Lihatlah ke sana!”
Sarayu menunjuk ke arah lain dari gerbang itu di mana anak-anak usia sekitar 13-15 tahun berdiri mengenakan seragam sekolah dan bersiap untuk menyeberang jalan.
“Aku tidak mengerti. Ada apa dengan anak-anak itu?” Winner menatap bingung ke arah yang ditunjuk oleh Sarayu.
“Huft.” Sarayu menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Bangunan yang ada di depan kita saat ini adalah bangunan sekolah lamaku dan bukan markas dari Pasukan Perdamaian Dunia milik Aliansi Ingmar.”
“Oh ho. Kenapa kita bisa ada di sini dan bukan di markas seperti ucapan rekanmu yang bernama Sixth dan Second itu?” Winner menatap bangunan sekolah lama Sarayu dengan tatapan berbinar.
“Aku tidak tahu. Tapi. . . mungkin ini ada hubungannya dengan kemampuan milik Sixth, Second dan Knight Three. Mungkin kemampuan milik mereka yang bertemu di satu titik, menyebabkan kita terlempar ke masa lalu.”
Mendengar kata masa lalu, Winner langsung menolehkan kepalanya lagi melihat ke arah Sarayu. “Apa maksudnya dengan masa lalu, Sarayu?”
Sarayu mengangkat kedua tangannya, memegang kepala Winner dan membuat kepala milik Winner itu melihat ke arah yang dilihat oleh Sarayu lagi. “Lihat ke sana, Win, Winner! Gadis dengan rambut ekor kuda itu adalah aku di usia 15 tahun.”
Winner mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha untuk melihat, memperhatikan dengan jelas. Setelah beberapa kali mengerjapkan matanya, Winner kemudian melepaskan kedua tangan Sarayu dari kepalanya, untuk melihat wajah Sarayu dan membandingkannya dengan gadis kecil berambut ekor kuda yang sedang menyeberang jalan.
“Wajahmu dari kecil tidak mengalami banyak perubahan, Sarayu!” Winner tersenyum melihat wajah kecil Sarayu yang berjalan mendekat ke arahnya dan kemudian melewati tubuhnya.
__ADS_1
Blurb. . .
“Di-dia. . . menembus kita??” Winner yang terkejut menarik tubuh Sarayu dan membuat Sarayu yang tidak siap, nyaris saja jatuh jika Winner tidak sigap dan langsung menahan tubuhnya.
“Ka-kau! Kenapa tiba-tiba menarikku, huh???” Sarayu menatap tajam ke arah Winner sembari menarik tubuhnya menjauh dari Winner.
“Ma-maaf. Tapi. . . kenapa sekarang kau bicara kasar sekali padaku Sarayu?? Apa karena sekarang aku sudah mengetahui identitasmu sebagai Bahram-pengawalku??”
Sarayu memalingkan wajahnya. “Ya. Kali ini aku tidak perlu bersikap sopan padamu karena kau sudah mengetahui identitasku. Tapi. . . jika kau ingin aku bersikap sopan padamu seperti sebelumnya, aku akan melakukannya, Tuan Winner.”
Winner menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan. “Tidak perlu. Begini jauh lebih baik. Kau adalah teman kuliahku dan teman lamaku. Jadi bersikap seperti biasa seperti ini adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. Sudah lama sekali sejak aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Tapi. . .”
“Tapi apa?”
“Bisakah kau bersikap sopan padaku ketika berada di dengan Rudi-manajerku? Akan lebih baik jika tidak ada satupun orang yang tahu hubunganku denganmu sebagai teman lama. Ini demi kau dan juga demi aku.”
Setelah mengataka hal itu, Sarayu tiba-tiba membeku dengan tatapan matanya yang tidak bisa lepas dari satu anak laki-laki yang kin berjalan mendekat ke arahnya dari seberang jalan.
“Anak laki-laki itu, wajahnya tampan sekali.” Winner yang juga melihat ke arah anak laki-laki yang sama, memuji ketampanan wajah anak laki-laki yang membuat Sarayu tidak bisa berhenti menatapnya.
“Benar. Dia adalah anak paling tampan di sekolah ini. Dia adalah sosok sempurna di sekolah ini. Wajahnya tampan dengan mata hitam, bulu mata yang lentik dan alis yang tebal. Hidung mancung, bibir merah, wajah oval, tubuh yang tinggi dan kulit putih seputih salju. Dia adalah gambaran sosok sempurna yang pernah aku lihat dalam hidupku.”
Jawaban Sarayu itu membuat Winner menjadi sedikit kesal. Winner yang merasa penasaran kemudian mengikuti anak laki-laki itu setelah anak laki-laki itu melewati dirinya dan Sarayu. Winner kemudian menemukan bibir merah dari anak laki-laki itu tiba-tiba membuat senyuman ketika mata dari anak laki-laki itu menatap ke arah anak perempuan yang sedang duduk di dekat jendela sembari mendengarkan pemutar musik di telinganya.
Anak laki-laki itu kemudian mempercepat langkah kakinya dan membuat Winner yang merasakan sesuatu juga mempercepat langkahnya. Anak laki-laki itu tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika tiba di depan jendela di mana gadis itu sedang duduk bersandar. Anak laki-laki itu kemudian mengangkat tangannya dan mencubit pipi gadis itu dengan senyuman nakal di bibirnya.
“Pagi, Sarayu!”
__ADS_1
Gadis yang tadi duduk tenang dengan membaca buku sembari mendengarkan lagu itu, langsung menolehkan kepalanya ke arah anak laki-laki itu sembari melemparkan tatapan tajam ke arah anak laki-laki. Winner yang melihat adegan itu langsung melihat ke arah Sarayu dewasa yang perlahan berjalan mendekat ke arah anak laki-laki dengan tatapan sendu di kedua matanya.
“Kenapa kau mencubit pipiku, Redo? Ini pipi bukan boneka yang bisa kamu cubit seenak jidat!” balas Sarayu kecil.
Anak laki-laki yang dipanggil dengan nama Redo itu tersenyum lagi dan perlahan membuat tawa kecil yang sangat memesona. Bahkan Winner yang dikenal tampan dan dipuja oleh banyak wanita di jamannya, mengakui jika senyuman dan tawa anak laki-laki di depannya saat ini benar-benar memesona.
“Jika begitu maka mulai hari ini, kamu akan jadi boneka milikku sekarang di mana hanya aku yang boleh mencubit pipimu itu, Sarayu.”
Sarayu kecil bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas untuk menghampiri anak laki-laki bernama Redo itu.
“Apa kau sudah gila, Redo??” tanya Sarayu kecil.
Winner melihat raut kesal di wajah Sarayu kecil. Namun Winner menangkap tatapan Sarayu kecil yang mengatakan hal lain berbeda dengan raut wajahnya. Cara Sarayu kecil menatap anak laki-laki bernama Redo itu sama dengan cara Sarayu dewasa menatapnya saat ini.
“Tidak, aku tidak gila. Aku hanya senang saja mencubit pipimu dan melihat kesal seperti ini. Dengan begini, kamu bisa melihatku seperti aku melihatmu.”
Mendengar ucapan Redo itu, Winner langsung melihat ke arah Sarayu dewasa yang kini sudah berdiri di sampingnya. “Mungkinkah anak laki-laki ini adalah cinta pertamamu, Sarayu??”
Sarayu dewasa dan Sarayu kecil membuat senyuman yang sama ketika menatap Redo.
“Kau ini!! Apa bagusnya aku melihatmu, Redo??” ujar Sarayu kecil.
“Benar, dia adalah cinta pertamaku, Winner. Anak laki-laki bernama Redo yang diidolakan oleh seluruh sekolah adalah cinta pertamaku,” ujar Sarayu dewasa.
Winner terdiam membeku mendengar jawaban dari Sarayu dewasa yang berdiri di sampingnya dan saat ini matanya tidak bisa melepaskan tatapannya dari anak laki-laki bernama Redo. Kenapa dari sekian banyak waktu, kami berdua harus terlempar ke waktu ini?
Winner menatap wajah Redo yang terlihat sempurna, dengan tatapan penuh cinta yang sedang menatap ke arah Sarayu kecil. Bagaimanapun aku melihatnya, anak ini benar-benar sangat tampan? Jika di masa depan dia adalah seorang aktor sama sepertiku, maka mungkin aku akan kalah terkenal jika dibandingkan dengan dia. Sial! Sial sekali! Tidak heran jika selama kuliah, Sarayu sama sekali tidak melihat ketampananku.
__ADS_1