THE SAVIOR

THE SAVIOR
BAB 58 PILIHAN PART 2


__ADS_3

            Winner’s POV


            Sudah dua belas hari berlalu. Dua belas hari itu juga berlalu tanpa kehadirannya. Seharusnya. . . aku tidak merasa kehilangan. Aku hanya kembali ke waktu di mana dirinya tidak ada sebelumnya. Awalnya itulah yang aku pikirkan. Sayangnya. . . hatiku berkata lain. Waktu yang aku habiskan bersama dengannya mungkin hanyalah waktu yang singkat sama seperti ketika aku menghabiskan waktuku mengaguminya semasa kuliah. Tapi waktu yang singkat itu benar-benar meninggalkan bekas di hatiku. Bekas yang dalam, bekas yang tidak bisa kulupakan dan takkan pernah bisa digantikan oleh sosok orang lain.


            Inikah cinta yang orang-orang katakan?? Inikah cinta yang orang-orang rasakan hingga terkadang membuat mereka tampak bodoh dari biasanya?


            Pertanyaan itu dulu pernah aku tanyakan ketika aku berpisah dengannya dan selalu mengingat dirinya. Dan aku tidak bisa menemukan jawabannya hingga aku bertemu lagi dengannya dan menghabiskan waktu singkat bersama dengannya.


            Pada pertemuan kami setelah terpisah bertahun-tahun lamanya, perasaan yang selama ini aku simpan ternyata sudah begitu besar, begitu banyak dan mungkin ketika diuangkan aku sudah menjadi satu dari sepuluh orang terkaya di dunia. Setelah bertemu dengan dirinya lagi, aku akhirnya tahu kenapa orang yang jatuh cinta seringkali berakhir menjadi orang yang bodoh. Kedua mataku ini, tidak bisa melepaskan pandangan dari dirinya. Hatiku ini, tidak bisa berhenti merindukannya dirinya. Dan pikiranku ini, tidak bisa berhenti untuk terus memikirkan dirinya.


            Melihat dirinya di sisiku dan merasakan dirinya di sampingku, aku benar-benar seperti orang bodoh yang selalu ingin bersama dengan dirinya. Namun. . . sekali lagi, aku harus berpisah dengan dirinya. Aku yang baru saja berbahagia dekat dengannya, dipaksa lagi untuk berpisah dengannya.


            Baru dua belas hari kulalui tanpa dirinya dan aku merasa aku telah berjalan selama dua belas tahun tanpa dirinya. Selama dua belas hari ini, aku selalu membuat doa pada Tuhan: aku berdoa agar dia selalu baik-baik saja dan aku harap aku bisa segera bertemu lagi dengan dirinya. Aku harap doaku itu terkabulkan karena baru dua belas hari aku tidak melihatnya, aku sudah sangat merindukan dirinya.


*


            “Tuan Ethan?” Eighth yang sedang memperhatikan jalannya perang dari markas Pasukan Perdamaian Dunia menggantikan Forth, terkejut menemukan bahaya yang sedang dihadapi Sarayu dan lima rekan lainnya.


            “Aku juga melihatnya, Eighth. Sama seperti Savior yang terus mengalami kemajuan dalam menggunakan kemampuannya, aku rasa Knight dari Aliansi Arael pun melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Apa yang kita takutkan akhirnya benar-benar terjadi,” ujar Ethan memandang layar monitor dengan wajah gelisah. “Melihat keadaan ini, apakah kamu punya strategi lain untuk membuat Seventh lepas dari pengaruh Knight Two, Eighth?”


            “Seperti tindakan cepat yang diambil oleh Savior, akan lebih baik jika tidak banyak orang yang mendatangi lokasi Savior saat ini. Berdasarkan data yang kita dapat dari pertarungan kita selama ini, kemampuan Knight Two ini memiliki batasan pada jarak penggunanya. Knight Two tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain jika jarak pikiran orang itu lebih dari 5Km.”


            “Jika memang begitu. . . akan lebih baik jika First dan lainnya kembali kemari lebih dulu. Begitu bukan Forth?” tanya Ethan dengan sedikit ragu.


            “Ya, Tuan. Akan lebih baik begitu.”


            Ethan kemudian memberi komando kepada First, Second, Third dan Sixth untuk kembali lebih dulu ke markas demi mengurangi beban Sarayu dan Fifth ketika berhadapan dengan Knight Two dan Knight Four.


            Di sisi lain, Sarayu yang masih berhadapan dengan Knight Two dan Knight Four berusaha untuk mendekat ke arah Knight Two. Namun usahanya itu mendapat halangan dari Knight Four karena semburan apinya.


            “Sial!” Sarayu mengumpat kesal untuk pertama kalinya dalam pertarungannya. Ini adalah kali pertama di mana Sarayu merasa sedikit kesal karena lawannya yang sedikit membuatnya kesal. Sarayu merasa seperti orang tidak berguna karena Knight Four.


            “Kendalikan emosimu, Savior!” Fifth yang sudah lebih berpengalaman menghadapi Knight dari Aliansi Arael, memberi peringatan kepada Sarayu. “Emosi yang berlebih hanya akan membuat kepalamu tidak bisa berpikir dengan benar dan membuatmu tidak bisa menyusun rencana dengan baik.”


            Mendengar peringatan dari Fifth yang cukup dingin, Sarayu merasa sedikit bersalah. “Ma-maafkan aku.”

__ADS_1


            Byurrrr. Fifth melepaskan bola airnya dan dilemparkannya ke arah Knight Four untuk melindungi dirinya dan Sarayu di sampingnya. Di sisi lain, Sarayu berusaha untuk menyerang Knight Two. Namun karena ada Seventh yang sedang dikendalikan oleh Knight Two, Seventh membuat banyak benda untuk melindungi dirinya dan Knight Two atas perintah dari Knight Two dan hal itu benar-benar membuat Sarayu kesulitan.


            “Sial!” umpat Sarayu kesal untuk kedua kalinya karena tembok besar muncul di hadapannya ketika berusaha untuk melancarkan serangannya kepada Knight Two. Jika begini terus. . . tenagaku akan habis terkuras hanya untuk menghancurkan benda-benda yang dibuat oleh Seventh.


            “Savior??” Eighth memanggil Sarayu ketika otak Sarayu sudah tidak lagi bisa berpikir dengan benar.


            “Ya, Eighth.”


            “Apa kau mau mencoba rencanaku?” tanya Eighth.


            “Kenapa tidak?” balas Sarayu. “Kepalaku saat ini sedang tidak bisa digunakan dengan baik. Kau adalah ahli strategi di pasukan kita. Rencanamu pasti lebih baik daripada rencanaku.”


            “Kalau begitu dengarkan ini. . .” Eighth mulai berbicara menjelaskan rencana yang ada di dalam benaknya kepada Sarayu ketika Sarayu masih terus berusaha menyerang pertahanan yang dibuat oleh Seventh karena perintah dari Knight Two.


            Daaarrrrrr. Sarayu melepaskan mode pertama dari pistol miliknya ketika berusaha menghancurkan tembok besar yang dibuat oleh Seventh.


            “Bagaimana, Savior? Apa kau setuju dengan rencana itu?” Eighth yang telah selesai menjelaskan rencananya kepada Sarayu, mengakhiri penjelasannya dengan bertanya kepada Sarayu.


            “Aku setuju. Itu rencana yang bagus. Bisakah kau mengatakan rencana itu kepada Fifth juga melalui saluran komunikasi, Eighth?”


            “Baiklah perhitungannya aku serahkan padamu, Eighth.”


            Sarayu menunggu satu menit dengan posisi bertahan ketika Eighth menjelaskan rencananya kepada Fifth yang masih fokus menyerang Knight Four dan begitu Eighth selesai memberikan penjelasan, Eighth langsung mengambil komando dan memberi arahan.


            “Fifth, sekarang!!”


            Mendengar perintah dari Eighth, Fifth memanggil lima bola air yang besar dengan kedua tangannya. Lima bola itu berada di atas kepala Fifth dan tidak lama kemudian dilepaskannya ke arah Knight Two dan Knight Four di saat yang bersamaan.


            Byurrrrrr. . . empat bola air besar itu kemudian pecah dan mengguyur Knight Two dan Knight Four. Tadinya Sarayu mengira, serangan itu akan bisa mengenai Knight Two. Akan tetapi berkat Seventh yang berada dalam kuasanya, Knight Two berhasil menghindari serangan itu dengan membuat payung besar dari batu dengan menggunakan kekuatan Seventh.


            Di tangan yang tepat, kemampuan Seventh bisa berkembang sejauh itu. Di saat serangan pertamanya gagal, Sarayu masih bisa memberikan pujiannya kepada Knight Two yang sedang mengendalikan Seventh karena berhasil membuat Seventh mengopi banyak benda yang sebelumnya tidak bisa dikopi oleh dirinya dengan mudah.


            “Sekarang, Savior!!!” Eighth berteriak memberikan komando lagi kepada Savior ketika satu bola air yang masih berada di atas jatuh ke arah Knight Four. Dengan cepat Sarayu menggerakkan tangannya dan mengurung Knight Four dengan pelindung angin miliknya bersamaan dengan bola besar yang dibuat oleh Fifth.


            “Ah begitu rupanya,” seru Fifth senang karena melihat Knight Four yang berhasil terkurung di dalam pelindung angin milik Savior bersama dengan air dari Fifth. Dalam keadaan itu, api yang dikeluarkan oleh Knight Four, tidak akan bisa membuatnya keluar dari dalam pelindung itu.

__ADS_1


            “Sial!!” Kali ini umpatan keluar dari mulut Knight Two karena melihat Knight Four yang berhasil tertangkap oleh Sarayu dan Fifth. “Kau wanita yang benar-benar hebat, Savior!!”


            Rencana Eighth masih belum berhenti di situ saja. Karena Knight Four berhasil ditangkap, Savior jadi punya bantuan untuk menyelamatkan Seventh. Fifth maju dengan pelindung angin milik Sarayu dan melancarkan serangannya terus menerus ke arah Seventh dan Knight Two. Di saat yang sama. . . Sarayu juga melancarkan serangannya ke arah Knight Two menggunakan tongkat merahnya-Ruyi.


            Buk. Buk. Berulang kali tongkat merah milik Sarayu mengubah ukurannya dengan cepat dan menghancurkan benda apapun yang dibuat oleh Seventh. Ketika Seventh memanggil banyak pistol untuk menyerang Sarayu dan Fifth, Sarayu akan menggunakan pistol miliknya dengan mode keduanya di mana apapun yang terkena tembakan dari pistolnya akan berubah menjadi komponen.


            “Sial!!”


Knight Two yang terus terdesak, mengumpat lagi dan kali ini berhasil membuat celah yang cukup bagi Sarayu untuk mendekat ke arah Seventh dan menyelamatkan.


            “Aku mendapatkanmu, Seventh!” Dengan menggunakan pelindung angin miliknya, Sarayu menangkap Seventh dan kemudian membuatnya sedikit lemas dengan memberikan keadaan vakum dalam pelindung angin buatannya. Hal yang sama dilakukan oleh Sarayu kepada Knight Four yang berada dalam pelindung angin buatannya.


            Begitu mendapatkan Seventh dan membuatnya kehilangan kesadaran, Sixth tiba—tiba muncul di belakang Sarayu.


            “Aku tiba, Savior.”


            Mendengar suara Sixth, Sarayu langsung membuat pelindung angin yang mengurung Seventh untuk bergerak ke arah Sixth. Sarayu membuat tongkat merahnya memanjang ke arah Sixth agar Sixth bisa menyentuhnya. Di saat yang sama, Fifth langsung kembali ke belakang untuk segera kembali bersama dengan Sixth dan Seventh.


            “Kita kembali ke markas, Savior!”


            “Ya.” Sarayu membawa Knight Four yang berada dalam pelindung anginnya untuk kembali ke markas Pasukan Perdamaian Dunia. Namun niat itu kemudian terhenti ketika Knight Two membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu kepada Sarayu.


            “Jika kau pergi sekarang, kau tidak akan bisa melihat Winner lagi, Savior!” ujar Knight Two.                         


            “Apa maksud ucapanmu itu, Knight Two?”


            Tiba-tiba di samping Knight Two, muncul Knight Three dan Knight Five yang sedang membawa tubuh seseorang yang sedang kehilangan kesadarannya. Dari kejauhan. . . Sarayu dapat dengan jelas melihat sosok yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.


            Di saat yang sama. . . Forth yang tadi sedang memeriksa keadaan Winner menghubungi Sarayu melalui saluran komunikasi yang terhubung dengan markas.


            “Savior.”


            “Forth? Apa yang terjadi pada Winner?” Sarayu menatap tajam ke arah Knight Two yang tersenyum licik ke arahnya.


            “Sayangnya. . . sosok yang sedang kamu lihat saat ini, itu benar-benar Winner. Aku baru saja menerima laporan bahwa erangan terjadi di negara Indonesia dan yang tertangkap oleh kamera CCTV adalah Knight Three dan Knight Five.”

__ADS_1


 


__ADS_2