Tuanku Suamiku

Tuanku Suamiku
takut


__ADS_3

pagi-pagi buta sania sudah bangun dan membantu bi minah membersihkan sekeliling rumah.akhirnya dia berkesempatan untuk melihat lebih jauh rumah mewah bak istana kepresidenan ini.semakin kedalam sania terpukau dengan cantiknya lantai marmer hitam yang membentang sepanjang koridor.pintu-pintu kokoh saling berdampingan satu dengan lainnya membuat rumah ini terkesan misterius sekaligus menarik disaat yang bersamaan.mungkin itu adalah kamar untuk para tamu penting.


begitu sampai dikolam renang dan lampu dinyalakan sania berteriak girang dan berlari mendekat,dia memainkan airnya yang terasa sangat sejuk.kolam renang ini dibuat khusus didalam ruangan.kaca besar sebagai dinding di sebelah kirinya, batuan kali berukuran besar dipasang ditepian kolamnya dan ada juga air terjun yang sengaja dibuat didinding berdampingan dengan tanaman-tanaman hijau.


sania mengelap tiap hiasan yang ia lewati dengan hati-hati sesuai arahan dari bi minah.


"bi...tiap hari bersihin rumah kayak gini emang nggak bosen?"


"ya mau gimana lagi neng,saya kan butuh uang buat kuliahnya si imam sama kebutuhan lainnya juga"


"oh ..bibi punya anak?"


"iya...baru masuk kuliah taun kemaren"


"kok saya nggak pernah liat ya bi?"


"kan dia nggak pernah masuk kerumah ini.pulang kuliah juga malem,kadang kalo udah kecapean langsung tidur"


"oh..gitu semoga kuliahnya cepet selesai dan nilainya bagus-bagus ya bi"


"iya neng..biar hidupnya lebih enak.nggak kayak orang tuanya dibawah terus" sania tersenyum kecut..mengingat posisinya yang kini juga ada dibawah.


"tapi sebenernya nyonya sama tuan itu baik ya bi.."


"baik banget neng..dari imam sd sampe masuk kuliah nyonya yang biayain"


"seriusan bi?"


"serius neng...masa saya bohong"


"hehe..iya juga yah.emmm....bi saya mau tanya"


"tanya apa neng?"


"kalo mau njemurin baju dimana"


"yaampuun saya lupa nggak ngasih tau.habis ini saya anterin ya neng"


sania mengangguk senang,wanita didepannya ini begitu baik dan bisa mengayominya layaknya seorang ibu.baru dua hari disini saja sania sudah merasa betah.


suasana masih gelap,bi minah mengajak sania masuk ke ruangan lainnya yaitu perpustakaan.ditempat ini terpajang banyak sekali foto keluarga.sania mengambil satu dan mengelapnya perlahan.jelas sekali itu tuan jonathan kecil,sedang tersenyum lebar sambil memeluk pialanya.difoto itu terlihat tuan jonathan sangat bahagia,tapi semakin besar tuan jonathan semakin jarang tersenyum dalam fotonya.


dari bawah sampai langit-langit dipenuhi buku-buku beraneka warna.tangga khusus disediakan disana bila seseorang ingin mengambil buku yang letaknya tinggi.kursi serta meja baca diletakkan dekat jendela.


"ngomong-ngomong semalem tuan pulang jam berapa neng?"


"jam 1 bi...saya sampe ketiduran di dapur"


"ya alloh kasian banget sih neng.siapa yang anter?"


"saya nggak tau bi..soalnya tuan masuk sendiri ke rumah.mana mabok lagi,saya harus anterin kekamarnya"


"loh...kok bisa nggak ada yang nganter.firman juga nggak ada ?"


"enggak bi..."


terdengar suara bel mengagetkan keduanya.sania berlari melewati ruangan-ruangan tadi dan memelankan larinya sebelum mencapai kamar nyonya maria.

__ADS_1


"kamu dari mana sih,baru bangun tidur ya?!"


badan udah keringetan begini dikatain baru bangun?!! sabar...sabar


"saya habis bantuin bi minah nya..."


"ambilin sepatu saya yang warna hijau"


"baik nya..."


tak lama sania kembali,dia menyerahkan didepan nyonya maria yang sedang duduk santai didepan televisi.


"lap dulu yang bersih dan cek dalamnya.


san kamu kok bau banget keringet sih ?ganti sana!!!"


sang nyonya menutup hidung dengan sebelah tangan,wajahnya pun terlihat sekali tidak suka.


"iya nya..maaf saya kan tadi udah keliling bersihin rumah"


jawab sania sambil berjalan masuk kekamarnya.


kalo ganti lagi baju gue cepet abis donk...nyonya baju saya kan cuma sedikit.


sania membuka lemari dan mengambil satu kaos lainnya.dalam hati dia terus saja merutuki tingkah majikannya yang sangat cerewet.


"udah ayo" nyonya maria berjalan didepan, dengan sania dibelakangnya mengekori sambil menenteng sendal jepit.


nyonya maria sudah menggerak-gerakkan tubuhnya kekiri-kanan sementara sania hanya lari-lari kecil dibelakang majikannya.gadis itu sudah lama sekali tidak berolahraga seperti ini,kebiasaannya hanyalah bangun-bekerja-tidur.satu-satunya olahraga yang ia lakukan adalah bila rio sedang meminta itu padanya.


entah kenapa sania teringat lagi pada rio,lelaki brengsek yang sialnya sangat sulit ia lupakan.sania sudah bertekad dalam hati bila nanti dia membeli ponsel baru dia akan mengganti nomernya agar rio tidak bisa menghubungi.


"mau ngapain kamu!"


"beli hape nya"


sania berusaha menjawab dengan sopan. gemas sekali rasanya bila dia mengatakan sesuatu nyonya maria pasti menjawabnya dengan nada jutek.


"loh..emang kamu belum buka paperbag yang saya kasih semalam?"


"belum nya..."


"astaga....."


"emang isinya apa nya?"


"liat sendiri"


mendengar nyonya maria mengatakan itu sania berlari kencang masuk kedalam rumah.nyonya maria pun yang tadinya hendak memanggil sania kembali mengurungkan niat.dia tersenyum tipis melihat sania yang nampak begitu bersemangat.


lima menit kemudian sania kembali berlari keluar dengan senyum lebar.hilang sudah kekesalannya karena rambutnya dipotong pendek.


"nyonyaaaa......"


"apaan sih lebay banget pake teriak-teriak segala"


"ini serius hapenya buat saya???"

__ADS_1


"iya"


sania langsung mencium tangan nyonya maria,membuat wanita berumur itu berjalan meninggalkan sania di belakang.


"nyonya tungguin saya dong..."


"kamu lama"


"hapenya nggak potong gaji kan nya?"


"emang kamu mau potong gaji?"


sania menggeleng cepat padahal nyonya maria berjalan dua langkah didepannya yang pastinya tidak bisa melihat gelengan kepalanya tadi.gadis itu berpikir-pikir lagi kalau gajinya sampai dipotong seharga ponsel yang kini ada disakunya,kira-kira berapa banyak?kalau dilihat lagi sepertinya harga ponsel itu mencapai 3juta rupiah.dia segera menyamai langkah sang majikan.


"nya...kalo dipotong mendingan saya balikin aja hapenya"


"kenapa ?kan sama aja kamu beli hp,cuma lewat saya belinya"


"yang ini kemahalan nya....saya beli yang dulu aja harganya cuma 1,5juta"


hening...nyonya maria tidak menanggapi ucapan sania barusan dan malah


masuk ke sebuah ruangan.kalau dilihat sepintas memang tidak terlihat ada ruangan disana karena tersamar oleh lebatnya tanaman.


setelah sania masuk dia baru sadar kalau itu adalah rumah kaca.didalamnya berisi jajaran tanaman sayur beraneka macam.atapnya terbuat dari kaca hingga sinar matahari bisa masuk kedalamnya.sania takjub,dirumah ini ternyata ada kebun sayur sendiri.


"ambil pisau sama baskom san..di rak deket pintu"


"baik nya..."


"coba kamu ambil sayurannya buat masak nanti malam,secukupnya aja nggak usah banyak-banyak"


"sayur apa nya?"


"sawi,wortel,daun bawang"


sania segera memotong daun bawang dan mencabut tanaman wortel dari tanah,sementara nyonya maria menyiram beberapa tanaman sambil sedikit bersenandung membuat sania tersenyum kecil.


rasanya pagi ini cukup menyenangkan,sania bisa melihat sisi lain dari seorang nyonya besar yang selalu tampil menawan dan mewah.


"ahhh....." sania terlonjak mundur dari tempatnya berdiri tadi.


nyonya maria menoleh begitu mendengar suara pekikan sania.


"kamu kenapa?suruh metik sayur malah teriak-teriak"


"nyonya...saya takut ada ulet bulu tadi gede banget,item lagi" wajah sania pucat,dia bergidik ngeri saat disuruh menunjukkan dimana letak ulat bulu yang dilihatnya.


"ulet bulu doang..." nyonya maria membuang daun yang ditempeli ulat bulu tadi lalu menginjaknya dengan sepatu tanpa rasa takut.


"hehe..takut nya"


BERSAMBUNG


################################


maaf lama nggak update readers...tiga hari ini nemenin ibu yang opname di rumah sakit.

__ADS_1


makasih yang udah mau baca dan setia nunggu cerita ini update.


maaf kalau ceritanya kurang menarik.aku masih amatir banget soalnya 😊😊


__ADS_2