
sania masuk kekamar sambil menggendong bintang,wajahnya tertunduk tak berani menatap kedepan karena masih merasa takut untuk bertatap muka dengan nyonya maria.
jika saja dia bisa memilih,sania ingin berlari sekencang-kencangnya dan pergi dari rumah ini.
ini semacam mimpi buruk,hanya saja benar-benar terjadi dalam dunia nyata.
"duduk"
nyonya maria sedang duduk disofa yang ada dikamarnya.sania mau tak mau duduk di hadapan nyonya maria didampingi jonathan yang tetap tenang mendampinginya.
"mami pengen ngobrol berdua sama sania jo.."
"ck..emangnya kenapa sih harus berdua.anggap aja jo nggak disini"
"sebentar aja..lagian nggak akan mami apa-apain juga"
"oke.." jonathan menatap sania berusaha meyakinkannya,lalu keluar dari kamar.
"jadi ini betul anak jonathan ?"
"iya nya"
"saya mau tanya satu hal,apa kamu benar-benar mencintai anak saya?"
apa ?cinta ?
sebenarnya gue juga nggak tau apa itu cinta.
sania menggeleng membuat wajah nyonya maria yang tadinya tenang berubah marah.dia berpikir bahwa jonathan sungguh bodoh memperjuangkan wanita biasa-biasa saja yang bahkan tidak mencintainya.
"saya nggak tau cinta itu apa nya,tapi setelah melihat tuan banyak berjuang dan berkorban buat saya,saya tau saya nggak boleh menyia-nyiakan orang sebaik tuan.bahkan setelah saya pergi,tuan tetap berusaha mencari saya.jadi saya mohon nyonya mau merestui hubungan kami"
"saya janji akan membuat tuan bahagia,karena saya juga menghargai tuan sebagai seorang lelaki dan sebagai ayah dari anak saya"
maria tersentuh dengan kata-kata sania barusan.selama ini wanita-wanita muda yang selalu mengejar jonathan lewat dirinya.tapi berbeda dengan sania,gadis yang awalnya hanya bekerja sebagai ART ini bahkan harus dipaksa agar mau menerima jonathan.
"lalu bagaimana kalau saya tidak memberi restu?"
"semua terserah tuan jonathan...saya juga tidak pernah memaksa beliau untuk tetap bersama saya"
sania yang awalnya takut kini mulai berani mengeluarkan semua perasaannya dan pasrah dengan keadaan.apapun yang nyonya maria katakan kali ini tidak akan memengaruhi keputusannya,kecuali tuan jonathan yang melepaskannya pergi.
aànyonya maria bangun dari duduknya dan mendekati meja rias.
sania memandangnya bingung,apalagi nyonya maria tak menanggapi kalimatnya yang cukup panjang tadi.apakah kata-katanya tadi terlalu berani?
"dulu saya dikasih ini sama mertua saya waktu melahirkan jonathan,sekarang ini buat kamu" nyonya maria meletakkan sebuah kotak beludru berwarna biru dan membukanya.didalamnya terdapat sebuah cincin yang sangat indah bermatakan berlian berwarna hijau.
"tapi ini barang yang sangat penting buat nyonya,saya nggak bisa terima"
"kenapa?"
"saya cuma nggak bisa.."
"terserah..kalau kamu nggak mau restu dari saya ya udah" nyonya maria menutup kembali kotak beludru tersebut dan mengambilnya seperti berniat mengembalikan ke tempat semula.
"tu...tunggu nya"
nyonya maria berbalik dan menyerahkan kotak cincin tersebut pada sania.
"sini biar bintang saya gendong"
sania dengan senyum haru mengulurkan bintang pada nyonya maria.dia senang karena ternyata nyonya maria juga menerima bintang.
"nyonya..terima kasih"
__ADS_1
"nggak perlu,saya cuma minta kamu buat membahagiakan anak saya.dia anak yang sangat sederhana,jangan sampai kamu menyia-nyiakan jonathan"
ceklek
jonathan muncul dari pintu dan mendekati sania.dia tersenyum begitu melihat bintang berada di gendongan ibunya.
"mami udah selesai ngobrolnya?"
"udah"
"san..ayo jadi nggak ?"
"ah..iya tuan"
"loh emang mau kemana?"
"mau belanja mi,sebentar doang"
jonathan sudah menarik sania dalam rangkulannya.
"ya udah bintang tinggal aja sama mami"
"mami serius mau jagain bintang?"
"iya,udah sana pergi"
"nanti kalau mau minum susu gimana?"
"oh..tadi saya sudah siapin susu di botol ASI,nanti tinggal dihangatkan tuan"
"udah tinggal aja,mami bisa kok jagain bintang,lagian ada bi minah"
melihat sania sama sekali tidak khawatir meninggalkan bintang bersama ibunya membuat jonathan heran.mereka sudah berada di mobil dan bersiap untuk pergi.
"ya adalah tuan,tapi nyonya ngasih saya ini"
"itu apa?"
"cincin"
"cincin??"
"iya,katanya dulu nyonya dikasih cincin ini sama mertuanya waktu melahirkan tuan"
"terus?"
"tadinya saya nggak mau,tapi nyonya bilang kalau saya nolak nggak bakalan kasih restu"
"mami ngomong gitu?" jonathan tertawa kecil membuat sania mengerutkan kening.sebenarnya dia sudah tau ibunya akan memberi restu.alih-alih mengatakannya secara langsung,ibunya memilih memberikan pilihan yang pasti akan sulit untuk sania tolak.
"tuan..apa lebih baik saya kembalikan ?"
"ck..ya jangan dong.kamu nih gimana sih"
"tapi kan ..."
"udah san..pake aja.daripada mami marah" jonathan memarkirkan mobilnya di halaman sebuah gerai ponsel.dia mengambil kotak cincin dan memakaikan cincin tersebut ke jari manis sania.
jantung sania sudah berdebar-debar tak karuan,tapi justru wajah jonathan biasa-biasa saja.
"ayo turun"
begitu masuk,jonathan langsung memilihkan ponsel yang paling bagus dan mahal.sania bahkan tak sempat memprotes karena setelah membayar jonathan langsung menuntunnya keluar.
"tuan..tunggu dulu dong.main tarik-tarik aja,emang saya anak kecil"
__ADS_1
jonathan membuka pintu mobil dan mendorong sania masuk,sama sekali tidak memedulikan protes sania.
"kamu mau jalan-jalan?" tadinya sania kesal tapi melihat cincin yang ada ditangannya dan mengingat perkataan nyonya maria saat dikamar tadi hilang semua rasa kesalnya.
"jalan-jalan tuan?"
"iya" sania mengangguk.sudah lama semenjak dia bersembunyi dirumah darius,sania belum pernah pergi jalan-jalan berdua apalagi bersama seorang lelaki.kalau dipikir-pikir lagi ini juga pertama kalinya dia pergi jalan-jalan berdua dengan jonathan.
mereka pergi ke sebuah cafe dan memilih duduk dikursi yang berada diluar ruangan.
"mami pasti seneng banget ada bintang dirumah"
sania tak menyangka jonathan akan mengatakan hal tersebut.dia teringat bagaimana nyonya maria tersenyum saat menerima bintang dalam gendongannya.
"dari dulu mami selalu maksa saya buat menikah supaya mami bisa menimang cucu dan dirumah juga ada yang nemenin"
"tapi apa nggak pa-pa kalau kita tinggal selama ini tuan?"
"enggak san,mami nanti malah protes kalau kita pulangnya terlalu cepet..ada berapa botol yang kamu siapin ?"
"empat tuan"
jonathan melihat jam ditangannya dan mengatakan pada sania akan pulang satu sampai dua jam-an lagi.
"bener kan..mami nggak marah sama kamu?" sania menggeleng sambil tersenyum.
wanita itu membuka mulut saat jonathan mengacungkan potongan steik kedepan mulutnya.
sania mulai sadar,jonathan itu tipe lelaki yang perhatian dan selalu menunjukkannya dengan perbuatan.bukan hanya kata-kata manis lewat pesan atapun telfon.
kalau boleh jujur justru jonathan jarang sekali mengiriminya pesan.telfon pun kadang hanya membicarakan seperlunya saja.
"tuan...kapan tuan makannya dari tadi saya terus yang makan?!"
"kalau ibu menyusui itu harus makan yang banyak.apalagi bintang itu laki-laki pasti minum susunya banyak kan?"
"kok tuan tau?"
"saya baca artikel"
untuk yang ke sekian kalinya hari ini sania merasa tersanjung.
apakah ini nyata ?
benar-benar ada orang yang menyayanginya,memerhatikannya dan memberi semua yang sania butuhkan.
"san..kayaknya saya nggak bisa nunggu lebih lama lagi"
"nunggu apa tuan?"
"jadi suami kamu"
"k-kenapa?katanya nunggu empat puluh hari"
"lusa kita berangkat.nanti biar saya tanya dokter anak apa bintang boleh diajak atau tidak"
"terus acara besok gimana tuan?"
"undur dulu san..pulang dari luar baru kita urus.kamu nggak perlu repot-repot ngurus acaranya,nanti biar orang saya yang urus"
"sania..."
kedua orang yang sedang terlibat obrolan serius menoleh mendengar seseorang memanggil nama sania.
BERSAMBUNG
__ADS_1