
siang hari begitu dokter selesai memeriksa kondisinya,sania meminta rosi untuk mengajaknya berkeliling rumah sakit.dia merasa suntuk terus-terusan dikamar walaupun tersedia televisi sebagai hiburan.
sania tidak menceritakan tentang rio yang kembali menjenguknya dan meminta maaf karena sepertinya rosi sedang ada masalah dengan kekasihnya.
dari yang sania tangkap,rosi dan kekasihnya bertengkar karena perbedaan target dalam menikah.sahabatnya itu selalu gusar bila ditanya oleh orangtuanya kapan hubungan dengan sang kekasih akan diresmikan.
yang membuat rosi kesal adalah rizal selalu menolak bila dia mengajak untuk bertemu orangtuanya.meskipun berkali-kali mereka bertengkar karena hal yang sama,tapi mereka masih belum juga mendapatkan pencerahan.
"alasan dia apa nggak mau ketemu orang tua lo?"
"katanya dia belum siap san...takut ditanyain masalah nikah ama bokap gue.dia pengennya nabung dulu buat bikin rumah,baru deh tuh mikirin nikah.padahal gue nggak ngarep resepsi mewah,mahar mahal,yang penting sah dulu.masalah rumah kan bisa dipikir bareng-bareng"
"lo udah ngomong gitu ke rizal?"
"udah..tapi katanya masalah rumah itu udah tanggung jawab laki.ih stress gue lama-lama"
"sabar ya...mungkin dia cuma mau pertahanin harga dirinya sebagai cowok"
"hayati lelah bang..."
sania tertawa mendengar celetukan rosi yang terdengar sangat klise.
"oh...iya lo tau kan bi minah yang kerja bareng gue ?"
"tau..kenapa emang?"
"dia kan punya anak cowok ros..cakep lagi.gue pernah ketemu beberapa kali,anaknya baik banget"
"terus ?"
"gue kenalin ya ?"
__ADS_1
"pfffttt...ngapain lo kenalin ke gue.lo aja jomblo"
"kalo gue suka mana mungkin gue kenalin ke elo rosiii..."
"ah..bener juga lo kan masokis,makanya belom bisa move on dari rio yang sukanya nyakitin lo itu"
hening
sania jadi teringat pada rio lagi.entah apa yang membuatnya begitu terikat pada rio.banyak hal yang sudah mereka lalui bersama,apalagi rio selalu ada disaat dia tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk berbagi suka duka.
"lo kan tau ros...gue nggak punya orangtua lagi.paman-paman gue buang gue dan ngambil semua peninggalan bokap.cuma rio yang mau nerima gue dan sayang sama gue tanpa pamrih.walau gimanapun dia orang yang penting dalam hidup gue"
rosi mengelus bahu sahabatnya itu,mereka memang baru kenal setahun terakhir karena bekerja dipabrik yang sama.dia juga tau bagaimana kisah cinta sania dan rio yang sudah berjalan cukup lama dan banyak melalui tikungan tajam.
"gue tau..sebenernya dia orang baik.cuma **** aja karena udah sia-siain cewek kayak lo"
sania tersenyum mendengar rosi yang sudah seringkali mengucapkan hal itu.
aku udah maafin kamu,cuma sekarang aku belum bisa ketemu kamu rio.
"ck..apaan sih lo"
"kenalan doang..nggak pa-pa kali buat nambah temen"
"kapan-kapan aja lah..gue masih ruwet banget masalah ama rizal"
rosi mendorong kursi roda yang dipakai sania kembali menuju kamar.rosi akan menemani sania yang masih diharuskan menginap.
"san...ngomong-ngomong majikan lo orangnya kayak apaan sih?"
"yang cewek apa cowok?"
__ADS_1
"cowok"
"tuan orangnya baik...masih single,ganteng,umurnya jauh diatas kita ros"
"berapa ?"
"37"
"belom punya istri?"
sania menggeleng membuat rosi berteriak histeris.
"beuuuuuh....jomblo berkualitas itu mah san.lo godain aja siapa tau ntar kecantol ama pesona lo itu"
"pesona apaan..." sania mengucapkannnya sambil tertawa renyah.dia naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya pelan.
"lo itu sebenernya cantik banget...cuma selalu lo tutupin dan nggak pernah mau nunjukkin didepan orang-orang"
"haha...makasih loh udah bilang gue cantik"
"ck...serius.liat aja kalo gue make over pasti banyak cowok antri buat jadi pacar lo"
"ngayal...."
"serius"
"gue juga serius rosi...."
sania mengaduh karena hidungnya sudah dijepit kuat oleh rosi.
sementara sahabatnya itu terlihat gemas saat melakukannya.
__ADS_1
jonathan yang ada diluar sempat melihat beberapa saat dan membiarkan kedua gadis itu bercengkrama.dia memilih untuk pergi setelah melihat keadaan sania yang sepertinya sudah jauh lebih baik.
BERSAMBUNG