
pukul delapan malam saat kebanyakan orang tengah bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuhnya,keributan besar terjadi disebuah rumah tua milik pak kardi.barang-barang miliknya terlempar keluar rumah bersamaan dengan dirinya yang juga diusir oleh dua orang lelaki bertubuh kekar.
"tolong bang jangan usir saya sama istri saya,kami nggak punya tempat lain buat tinggal"
"sana pergi!!!sekarang tempat ini sudah menjadi milik bos saya"
salah satu lelaki dengan rambut panjang mengunci pintu dari luar dan pergi meninggalkan kardi dan istrinya begitu saja.beberapa tetangga melongok dari pintu dan jendela,tapi langsung menutupnya beberapa saat kemudian.
"gimana ini pak,kita mau kemana?" istri kardi memunguti bajunya yang berserakan dengan pandangan buram karena air mata.pikirannya kalut karena kini harta satu-satunya sudah diambil alih oleh burhan,seorang lintah darat yang sangat kejam.
tadinya dia terpaksa berhutang karena suaminya yang sakit membutuhkan pengobatan.
tapi karena besarnya bunga dan penghasilan yang tak seberapa sebagai penjual sayur keliling membuatnya kewalahan untuk membayar hutang dan berakhir seperti ini.
"coba kita kerumah karman"
"tapi pak,dia kan masih marah"
"pokoknya kita kesana dulu bu,besok baru kita kerumah sania.bapak punya alamatnya"
"sania?"
"ayo bu..bawa barang-barangnya"
mereka berdua berjalan kaki menuju rumah adik laki-lakinya yang bernama karman.
tapi sesampainya disana....
"hah,nginep disini?emang uang hasil jual tanahnya almarhum karna kemana?" marni istri karman yang sedari tadi memasang wajah sinis menjawab perkataan kakak iparnya dengan kasar.
"kamu kan tau sendiri mar,kemaren arlan habis bikin rumah.uang segitu juga masih kurang"
"enak banget kamu mbak..waktu banyak duit lupa,tapi giliran susah datengnya kesini"
"tapi mar..kami sudah nggak punya tempat lain buat tinggal.cuma malam ini aja,besok kami pergi"
"kenapa kalian nggak pergi aja ke tempat arlan?"
"aku kasihan sama arlan mar,dia lagi nggak kerja"
"emang mbak pikir kehidupan kami itu gampang ?asal mbak tau ya,kita buat makan sehari dua kali aja susahnya minta ampun" ucap marni dengan nada tinggi.
dalam otaknya terputar kembali ingatan dimana dia ditolak oleh kasih dan kardi saat akan meminjam uang.dia sudah sampai memohon-mohon agar diberi,tapi sedikitpun kasih dan kardi tidak memandang kearahnya dan meninggalkannya didepan pintu begitu saja.
"tolong lah mar,cuma semalam aja"
"nggak bisa mbak,silakan pergi!"
"mar..udah biarin aja mereka nginep semalam disini" akhirnya karman melunak melihat keadaan kakak dan kakak iparnya.
"nggak mas,kalau kamu ijinin mereka tinggal disini mending aku yang keluar" setelah mengatakan itu marni berlalu masuk kekamar dan membanting pintu sekencang-kencangnya.
"maaf mas,mbak bukannya aku nggak mau bantu tapi kalian liat sendiri kan si marni"
"ya udah nggak pa-pa man.aku sama kasih pamit"
"tapi kalian mau kemana?"
"ke tempat arlan"
karman lalu merogoh sakunya dan memberikan selembar uang berwarna hijau pada kakak sulungnya.
"saya nggak bisa kasih banyak,ini buat ongkos kesana mas"
karman mengantarkan mereka berdua sampai depan rumah.sebenarnya dia tak tega,tapi dia juga tahu istrinya masih sakit hati.
***
keesokan harinya keluarga jonathan yang masih ada di bali sedang bersiap-siap untuk kembali ke jakarta.
liburan tiga hari mereka terasa sangat singkat apalagi bagi sania yang baru kali ini bisa menginjakkan kaki di pulau dewata.
__ADS_1
tapi dia sadar suaminya harus kembali dan memimpin perusahaan yang sudah lama dia tinggalkan.
"kamu udah siap san?"
"udah" sania mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajah suaminya.
"makasih sayang udah ajakin aku sama bintang kesini"
"sama-sama,tapi....kok kamu kedengeran sedih gitu?"
"ah..enggak kok.aku seneng,cuma rasanya sedih harus pergi dari tempat seindah ini"
jonathan tersenyum lalu memeluk istrinya erat.dia tau pasti sania masih ingin tinggal lebih lama disini.
"kan aku udah bilang,kita bisa tinggal dirumah yang kemarin kita datengin"
"tapi tuan kan harus kembali ke perusahaan lagi"
cup
"iiiih malah nyium"
"siapa suruh manggil tuan"
"ish" sania memanyunkan bibirnya
"kita nggak usah pulang"
"Tapi...mama gimana?"
"mami biar pulang sama tante wanda"
"terus perusahaan?"
"ada darius,lagian itu kan perusahaan dia juga.ya udah aku mau kasih tau mami dulu"
jonathan berjalan keluar kamar menuju kamar ibundanya,
"mam.."
"ada apa jo?"
"kayaknya aku sama sania bakalan tinggal disini buat beberapa waktu deh mam"
"oh..gitu?ya udah nggak pa-pa"
jonathan mengernyit,tadinya sang ibu memaksa untuk pulang bersama tapi kenapa sekarang tanpa mendebat ibunya langsung setuju?.
"ngomong-ngomong tadi mami telfon siapa?"
"bi minah jo..."
"oh..yaudah biar jo anterin sampai ke lobi mam"
sania ikut pula mengantar mertuanya dan wanda sampai menaiki mobil menuju bandara.
"jadi sekarang gimana,kita langsung aja kerumah?" sania mengangguk antusias karena dia sudah tak sabar ingin segera sampai disana.apalagi disekitar rumah juga banyak tetangga dan sepertinya sania akan senang bisa berinteraksi dengan mereka.
jonathan lalu menyuruh seorang pegawai untuk mengambil barang-barang mereka yang masih ada dikamar.
"san..kamu ingat waktu kita menikah?"
"ingat kenapa?"
sania mengingat kembali saat dirinya mengenakan gaun putih dan memasuki gereja untuk pertama kalinya.bangunan gereja yang megah membuat sania merasa kecil.tapi dia tetap menatap ke depan ke arah dimana jonathan tengah berdiri menantinya,
begitu gagah dan tampan mengenakan setelan jas berwarna hitam.
meski tak ada satupun anggota keluarganya dari kampung datang,dia tetap merasa bahagia.lagipula siapa yang akan sudi datang ke acara pernikahannya?mereka sama sekali tidak menganggap sania sebagai anggota keluarganya lagi.
saat jonathan mengucapkan janji bahwa dia akan senantiasa membuat sania bahagia,melindungi dan menjaga sampai akhir hayat,dadanya langsung bergemuruh,rasa haru menyelimuti hatinya.
__ADS_1
pun ketika dia harus mengucapkan janji pernikahan,ucapannya terbata-bata dan amat dalam.
"hey kok mata kamu malah berkaca-kaca gitu?"
"saya cuma keingetan dihari pernikahan kita,bapak sama ibu nggak ada"
"mereka pasti bahagia lihat kita dari surga san,lagian kamu kan punya suami ganteng dan baik hati yang jagain kamu 24jam.masa masih sedih juga?"
"PD gilaaa" sania terbahak saat mendengar kenarsisan suaminya itu.
"itu fakta loh"
"iya..iya yang mulia.jangan-jangan mau minta imbalan nih ?"
"enggak,tapi kalau dikasih nggak nolak sih"
"yeee..maunya"
mereka berdua bercengkerama dengan mesra dan tak menyadari kalau kini ada seseorang yang memerhatikan dengan pandangan benci.dulu mereka tidak pernah sedekat ini,karena status yang berbeda.tapi kini mereka bagai pasangan yang sudah lama berpasangan.
setelah barang-barang mereka dimasukkan ke mobil,jonathan langsung membawa anak dan istrinya pergi menuju kerumah pribadi.
"oh iya,nanti saya mau ngecek lokasi pembangunan villa baru.kamu sama bintang saya tinggal dulu nggak pa-pa kan?"
"iya sayang,lagian bintang nggak rewel kok"
"rumah udah dipasang sistem pengaman,jadi kamu bisa tenang"
begitu sampai disana sania ternganga dengan sistem pengamanan yang jonathan maksud.
kacanya begitu tebal dan anti peluru,pintunya menggunakan sistem pemindaian wajah.untuk saat ini hanya ada lima orang yang bisa masuk kesana,termasuk maria,wanda dan darius.
"kemarin nggak gini ?"
"keren kan?sini aku tunjukkin satu tempat lagi"
jonathan membawanya ke perpustakaan dan setelah menyentuh tombol disisi lemari yang berhimpitan dengan tembok,dua rak buku dihadapannya terbuka lebar.
"kalau mau masuk kesini sama seperti tadi,pakai sensor pengenalan wajah"
sania masih belum berkata apa-apa mengenai hal ini karena saking takjubnya.
"ini seperti bunker,didalam juga ada monitor cctv semua sudut rumah.jadi kalau kamu sedang ada disini,kamu masih bisa ngawasin keadaan diluar"
"sayang..apa ini nggak berlebihan?"
"ini buat keadaan darurat"
ternyata keadaan didalam pun tak kalah nyamannya dengan yang ada di luar meskipun tak ada cahaya matahari yang masuk.ada sofa,ranjang,televisi dan perangkat elektronik lainnya.beberapa layar lcd menampilkan keadaan baik didalam maupun luar rumah.
"saya nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bintang"
"uuuuh co cwiiiiiit,makasih papa"
sania mengatakannya dengan suara seperti anak kecil lalu mencium pipi jonathan.
"aku tinggal dulu ya ?bye bintang jagain mama ya?"
lucunya saat mengatakan itu anaknya seperti mengerti apa yang dia katakan karena wajah bintang menampilkan senyuman yang sangat manis.
"oh iya,tadi mami titip pesen katanya kamu suruh hati-hati.emang kenapa sih?"
"oh..maksudnya bintang sayang"
"bener?"
"iya.kamu hati-hati ya dijalan"
sania menidurkan bintang lalu sholat,dia amat sangat bersyukur dengan kehidupannya yang saat ini.terbersit dalam hatinya sebuah keinginan bahwa suatu hari nanti jonathan akan menjadi imamnya.tapi sania langsung menegur dirinya sendiri untuk tidak terlalu tamak.
meskipun kini rumah tangga mereka baru seumur jagung,perbedaan keyakinan sama sekali tak menjadi halangan.hanya saja sering kali sania merasa tak pantas mendampingi jonathan.dia hanya berharap kehidupannya akan baik-baik saja tanpa ada gangguan.
__ADS_1
BERSAMBUNG