
"Permisi" terdengar suara bel berbunyi membuat Sania yang sedang bermain dengan Bintang menghentikan sejenak aktifitasnya.
Saat dilihat siapa tamu yang datang Sania merasa heran.Wajahnya asing, jangan-jangan kejadiannya seperti kemarin. Bukan tamu biasa yang datang melainkan mantan kekasih jonathan yang muncul tiba-tiba.
"Iya..Ada yang bisa saya bantu?"
"Perkenalkan saya Dina, yang tinggal disana" Tunjuk wanita berparas ayu itu ke bangunan yang terletak diseberang rumahnya.
"Oh, silakan masuk Mbak, saya Sania.Apa Mbak Dina baru pindah kesini?"
"Iya. Saya kesepian dirumah makanya iseng jalan-jalan. Apa itu anaknya, Mbak?"
Sania mengangguk sambil tersenyum ramah, sepertinya tamunya ini sangat antusias saat melihat Bintang bermain ditaman.
"Ayo, Mbak kita kesana" Ucap Dina sambil beranjak dari duduknya.
Sania pun berjalan didepan.
"Bi, tolong buatkan minum untuk Mbak Dina ya"
"Baik"
"Ngomong-ngomong, Mbak udah menikah apa belum?Disini tinggal sama siapa?" Tanya sania saat mereka duduk diatas hamparan rumpit hijau. Bintang berjalan kesana kemari dengan langkahnya yang gontai sambil sesekali melihat kearah ibunya lalu tersenyum.
"Sudah, tapi suami saya diluar negeri dan hanya pulang sebulan sekali" Jawab wanita itu tanpa menoleh.
"Oh, LDR dong. Mbak nggak ikut tinggal disana?"
__ADS_1
"Saya lebih suka tinggal disini.Lagipula sekarang komunikasi lebih mudah,saya bisa video call kalau kangen"
Sania mengangguk. Mereka ngobrol cukup lama seperti sahabat yang sudah lama kenal. Entahlah kenapa dengan Dina, dia bisa bercerita banyak hal dan terasa nyambung.
"Saya juga baru beberapa bulan tinggal disini, karena kerjaan suami belum selesai"
"Oh, suaminya kerja apa?"
"Lagi ada pembangunan hotel, Mbak. Katanya sih tinggal beberapa bulan lagi"
"Makasih ya, Bik. Saya malah lupa dari pagi belum minum susunya. Ayo silakan diminum Mbak Dina" Wanita paruh baya itu tersenyum lalu pamit undur diri setelah meletakkan minuman tadi di meja taman.
"Kalau dilihat-lihat mukanya kok keliatan sedikit pucat ya, Mbak Sania?"
"Saya, Mbak? kebetulan saya lagi hamil lagi"
"Baru dua bulan, ini juga ayahnya Bintang yang minta. Katanya biar repot sekalian, haha" Sania tertawa mengingat alasan Jonathan kala Ia bertanya kenapa suaminya itu menginginkan anak lagi. Jonatahan berkata Sania terlihat lebih seksi ketika perutnya membuncit, apalagi saat Sania memarahi Bintang wajahnya akan merengut.
"Bintang, mama kalau lagi marah cantik ya? kayak burung merak" Ucap jonathan suatu pagi seperti sedang berbisik-bisik pada putranya.Waktu itu Sania marah karena Bintang berkali-kali menyemburkan makanannya.
"Mbak Dina udah punya anak belum?"
Untuk sesaat Dina hanya melempar senyum tipis,
"Belum, masih proses. Mungkin kalau lebih sering bareng saya bisa cepat hamil"
Ada sedikit kesedihan terdengar dari kata-katanya barusan,tapi dalam hitungan detik Dina sudah kembali ceria. Sania hanya menanggapi dengan senyum maklum sambil sesekali menciumi pipi Bintang saat anak itu mendekat dan memberikan apapun yang didapatnya kepada sang ibunda.
__ADS_1
"Oh iya besok jalan-jalan yuk, belanja habis itu kita ke pantai"
"Wah boleh tuh, Mbak. Nanti aku ijin sama suami dulu. Aku minta nomornya biar nanti bisa kukabari secepatnya".
Dina pamit pulang karena sepertinya Bintang sudah mulai rewel ingin tidur siang.
Sambil menyusui Bintang, Sania mengirim pesan pada sang ibu mertua dan menanyakan kabarnya.
Yah hanya Maria ibu mertuanya dan Bu Wanda yang kini menjadi orangtuanya sekaligus tempat ia menceritakan segalanya disaat Jonathan bekerja. Beruntung ibu mertuanya orang yang sangat baik dan pengertian.
"Jaga kehamilan kamu, jangan sampai cucu mama kenapa-napa. vitamin sama susu kehamilannya juga jangan males minum. Bibi sekarang nginap dirumah kan? Mama takut Bintang nggak ada yang jaga, soalnya kata Jonathan kalau pagi kamu mualnya parah. Benar begitu, San?"
Sania tersenyum mendengar pesan suara dari mertuanya,dia mendengarnya berulang-ulang.
"San, kamu lagi ngapain sih?! kok lama banget jawabnya" pesan suara susulan kembali masuk membuat sania tertawa.
"Iya. Mama tenang aja. Bibi udah nginep dirumah kok, tiap hari ngingetin Sania buat makan sama minum vitamin juga. Mama kapan kesini lagi?? Sania kangen"
Ketiknya panjang agar mertuanya tak lagi mengomel.
"Manja. Disitu kan sudah ada Bibi. Mama juga banyak urusan,besok kalau sudah selesai baru mama kesitu".
"Oh iya Ma,kata tetangga Sania yang diperumahan itu pernah ada saudara Sania yang datang kerumah. Mama tau nggak siapa?"
"Nggak tau. Lagian saudara kamu yang dikampung mana inget sama kamu. Udah nggak usah mikir yang macem-macem. jangan WA lagi mama mau istirahat. Kamu juga sana!"
"Iya, Ma."
__ADS_1
Sania berpikir apa yang dikatakan ibu mertuanya itu benar. Tapi Mbak Putri sepertinya juga tidak berbohong.