
Rasanya seperti menahan beban, Sania masih belum merasa nyaman setelah kehadiran Michelle yang tiba-tiba.Dia jadi sering melamun dan seperti kurang bergairah,apalagi saat tak sengaja pandangan matanya bertemu dengan jonathan.Dia pasti langsung memalingkan wajahnya,menghindari tatapan yang membuatnya tak nyaman.
"San, Mama mau pulang dulu ke Jakarta.Jaga Bintang baik-baik. Ok?!" Sania mendekat merasa tak rela ditinggal oleh ibu mertuanya itu.
"Sania ikut pulang ya, Ma?"
"Nggak usah lah, Ngapain kamu ikut pulang!" Maria menjawab cepat dan tegas.
"Urusin tuh Si Jo, jangan sampai dia berantakan lagi gara-gara kamu tinggalin". Lanjut wanita paruh baya itu lagi,dia langsung meninggalkan anak dan menantunya setelah mencium bintang.
"Ma..."
Sania masih terus berharap bahwa sang ibu mertua akan berbalik arah dan mengajaknya pulang ke Jakarta.Namun harapan itu pupus saat pintu mobil tertutup rapat dan dalam sekejap membawa maria pergi ke bandara.
"San, Bintang udah tidur tuh" Ucap jonathan tepat disamping sania.tangan kekar lelaki itu kini tengah melingkari tubuh sania.
"Hmm..."
Sania melepas pelukan suaminya dan berjalan menuju kamar, menidurkan Bintang yang sepertinya kelelahan.
Baru saja dia merasa tenang hidup ditempat baru,kini hadir seseorang dari masa lalu suaminya.Entah perasaan seperti apa yang kini berkecamuk dihatinya.
Ingin sekali sania meminta kepada jonathan untuk tidak meninggalkannya,tapi jonathan bahkan seperti tak terpengaruh oleh kehadiran Michelle.Atau mungkin ini hanya kekhawatirannya saja sebagai seorang istri?
Dirasakannya pelukan Jonathan yang begitu hangat dan erat membuatnya nyaman,dalam hati Sania berusaha keras untuk tak membalas pelukan itu,tangannya hanya mencengkeram bagian samping baju Jonathan.
"Tuan,apa bisa kita pindah dari sini"
"Loh kenapa? Bukannya kamu suka tinggal disini?"
Sania menggelengkan kepalanya keras,sambil bercucuran air mata dia mengatakan ingin pergi dari tempat itu dan kembali ke Jakarta.
"Shh, kok kamu nangis.Kenapa tiba-tiba pengen balik?"
__ADS_1
Sania menggeleng,dia tidak bisa mengatakan ini semua karena wanita cantik bernama Michelle, yang tiba-tiba saja datang dan mengguncang kebahagiaan keluarga kecilnya.Tidakkah jonathan bisa mengerti itu?
"Kamu takut saya dibawa pergi sama Michelle?" Tanya jonathan dengan wajah serius,sania malah makin membenamkan wajahnya kedalam pelukan suaminya itu.
"Astaga,sania kamu cemburu?hahahaha..." Tawa lelaki itu berderai sambil beberapa kali mengusap mata.Sementara sania sendiri sudah berhenti menangis.Ternyata begini rasanya dicemburui oleh seseorang yang kita cintai,
"Iih, Tuan nyebelin! " Tawa jonathan semakin kencang saat sania memukul tubuhnya dengan wajah ditekuk.
"Lagian kamu tuh ada-ada aja,udah dibilangin Michelle itu cuma mantan. Nggak mungkinlah,aku ninggalin kamu sama bintang cuma gara-gara dia".
"Dapetin kamu aja susah,masa mau ditinggalin gitu aja.Bisa-bisa aku ditendang sama mami"
"Nggak mungkin...." Ucap sania tak percaya.
"Ahh kamu nggak tau aja.mami itu sekarang lebih sayang sama kamu,daripada saya anaknya sendiri" Badan yang tadinya tegak karena menopang sania kini bersandar ke sofa dengan wajah cemberut.
"Waktu kita pindah kesini,awalnya mama marah banget karena jadi jauh sama kamu dan bintang"
"Ya iyalah pasti nggak boleh,mana mau mami liat hidup anaknya berantakan lagi kayak dulu"
"berantakan?" Lagi-lagi dahi sania mengernyit,karena dia memang sama sekali tidak pernah bertemu atau melihat jonathan saat tinggal dirumah wanda.Kecuali setelah melahirkan dan jonathan mengajaknya pindah kerumah baru.Pada saat itu jonathan hanya terlihat sedikit kurus,tapi dandanannya tak pernah berantakan.
"Udah jangan dipikirin terus. Mending sekarang kita bikin adek buat bintang"
"Ish apaan sih,tuan.." Wajah sania bersemu merah saat jonathan membawanya keatas ranjang.
"Ditambah kamu juga saya hukum, karena tiga kali kamu panggil saya Tuan"
*****
"San ,kamu belum jawab pertanyaan saya" Ucap jonathan sambil terus menggosok punggung sania.lalu menggosok bagian tubuh lainnya bergantian.
"Pertanyaan apa?"
__ADS_1
"Kenapa tiap habis itu kamu pasti mandi dan keramas?"
"Oh..emm gimana ya jelasinnya.Jadi...kalau aku mau ibadah sholat,badan harus bersih, suci, Tuan.kalau nggak habis hubungan badan,wudhu udah cukup,nggak perlu mandi besar segala"
"Wu-dhu?"
"Iya"
"Yang cuci muka itu?"
"Iya" jawab sania lagi sambil terkekeh,ternyata begini rasanya memiliki pasangan berbeda keyakinan.Hal-hal yang kita anggap lumrah,bagi mereka sesuatu yang tabu.
Tiba-tiba terdengar suara bintang yang sedang menangis,jonathan yang tadinya asyik menggosok tubuh sania bangkit dari bathtub dan membilas badannya terlebih dulu.Karena dia tahu sania belum selesai membersihkan diri.
"Udah biar saya aja yang jagain bintang,kamu selesaikan mandi kamu dulu" Ucap jonathan saat melihat sania juga akan bangkit.Perbedaan usia yang terpaut lumayan jauh membuat jonathan bisa mengerti kondisi sania yang kerepotan mengurus anak bayi.
Lelaki itu keluar kamar terlebih dahulu dan memberikan botol susu pada bintang yang kebetulan sudah sania siapkan didekat box bayi.
"Anak papa laper ya?habisin dulu susunya ya,papa mau ganti baju.oke?" Jonathan menjauh sambil tetap mengawasi anaknya yang terlihat cukup tenang.Dia bergumam sepertinya bintang sudah cocok bila mempunyai adik.
"Sayang...kenapa senyum-senyum sendiri kaya gitu?" Sania mengernyit heran padahal bintang sangat anteng,tapi kenapa suaminya bisa seperti itu?
"Ehm, nggak pa-pa"
"Dih, aneh tau"
jonathan masih tersenyum bahkan kini lelaki itu bersiul riang.Dia membawa bintang keluar kamar,meninggalkan sania yang masih kebingungan.Diluar tak lama terdengar kekehan dua jagoannya,membuat sania geleng-geleng.Jonathan memang sangat cocok berperan sebagai ayah sekaligus suami yang baik sekaligus perhatian.
BERSAMBUNG
Dear reader tersayang,maaf bangettt bangett banget baru up setelah sekian lama.maaf karena udah buat kalian kecewa dan menunggu terlalu lama.adakah yg masih menunggu kelanjutan cerita ini?
aku tunggu di komentar ya.oh iya like n klik tombol favoritnya juga ya,biar tambah semangat buat update lagi.terima kasih 😊😊😊
__ADS_1