Tuanku Suamiku

Tuanku Suamiku
Pembuat Onar


__ADS_3

Hari sudah sore...Faisal sedang berada di mobilnya yang terjebak macet.Bahkan dari setengah jam yang lalu mobilnya hanya bergerak sejauh 50meter saja.


"Kayaknya seneng banget,Mas"


"Udah lama banget gue nggak kejebak macet kayak gini,mungkin kalau elo tadi nggak bantuin bos jo gue masih lembur"


Sania tertawa kecil,dia merasa aneh karena faisal justru senang berada ditengah-tengah kemacetan.


"Kasian banget kamu,Mas.Kejebak macet aja senengnya ngalahin orang menang undian"


"Nih ya,San kalo gue disuruh milih,mending kejebak macet kayak gini daripada di kantor nemenin bos lembur"


"Tapi kan lembur ada duitnya,Mas"


"Biar kata duitnya banyak,kalo muka tua sebelum waktunya buat apaan"


"Emang umur kamu berapa?"


"26"


"Masa sih?Aku kirain udah 35"


"Jahat lo,emangnya gue keliatan setua itu apa?"


Sania tersenyum tak enak hati,membuat faisal mendesah kesal.Sebenarnya lelaki itu memang cukup tampan.Tapi tak bisa di pungkiri bahwa bos mereka jauh lebih tampan dan berkharisma.Apalagi bila sedang memerintahkan sesuatu,aura mengintimidasinya begitu kuat membuat siapapun sulit untuk menolak.


"Lo tau berapa umur bos jo?"


"Berapa emang?"


"37 san...Tapi sayang nggak laku-laku"


"Masa sih??"

__ADS_1


"Serius..Buat apa gue boong"


"Kok bisa ya ?"


"Sebenernya dulu Si bos itu udah pernah mau nikah,tapi karena nggak direstuin ama nyonya besar bos jo mutusin tuh cewek dan jomblo deh ampe sekarang.Nah....Sejak saat itu hampir tiap hari gue lembur.Kecuali kalau dia lagi keluar negeri"


"Oh..Tapi kok tuan nurut banget ya?Kalau aku jadi tuan,aku udah nikah diem-diem ama perempuan itu"


"Sultan mah lain kali san.Gue juga nggak tau kenapa Si bos nurut aja ama nyonya"


"Hehe..Iya juga ya


Mas..Aku turun sini aja.Kasian kamu kalau nganter sampe kontrakan.Ini udah deket kok"


Ucapan sania membuat faisal buru-buru menepikan mobilnya,


"Makasih ya,Mas..Ati-ati di jalan"


"Iya san lo juga ati-ati"


Dia sudah berpikir akan menyerahkan perabotan masaknya kepada mpok ipeh tetangga kontrakan yang sangat baik padanya selama ini.


Sedangkan kasur serta lemari akan ia jual dengan harga murah kepada tetangganya yang lain karena dia sudah tidak membutuhkannya.Mau dibawapun percuma karena Bos jo mengatakan kamar beserta isinya sudah disiapkan lengkap dan sania tinggal menempatinya saja.


Malam ini adalah malam terakhir dia menempati ruangan dua petak penuh kenangan itu.Besok pagi dia akan mulai bekerja ditempat tuan jonathan.


Hari sudah cukup gelap saat dia sampai di kontrakannya.Sania masuk dan sedang meraba tembok mencari saklar lampu.Tapi tanpa diduga,tangannya justru ditarik dan mulutnya dibekap oleh seseorang.Orang tersebut segera menutup dan mengunci pintunya dari belakang.


rio..ngapain dia disini?


Sania mulai merasa ketakutan,dia khawatir Rio akan berbuat nekat karena kemarin sania sudah memutuskannya.


"Kalau kamu nggak teriak,aku nggak bakal macem-macem,San"

__ADS_1


Sania segera mengangguk patuh hingga perlahan rio melepaskannya bekapan dimulutnya.Namun tubuh sania masih dipeluk dari belakang.


"Kamu mau apa sih?"


Sania mulai merasa risih dengan keberadaan rio dikontrakannya.Gadis itu bertanya sambil berbisik takut tetangganya akan mendengar bila dia bicara dengan suara keras.


"Ck aku kan udah bilang,aku nggak mau putus sama kamu.Kenapa nomerku diblokir?"


"Udah tau alesannya,masih nanya"Tangan rio sudah menggerayangi tubuh sania,bahkan kini bibirnya sedang menciumi tengkuk gadis itu mesra menciptakan gelenyar aneh ditubuhnya.


"Mendingan kamu pergi deh..Aku udah punya cowok yang siap nikahin aku dan sebentar lagi dia dateng"


"Haha..Cowok mana yang mau sama kamu?"


"Ada,yang jelas bukan kamu"Sania memaksa keluar dari pelukan rio.Dia tidak mau lagi terjatuh dalam lubang yang sama berulang kali.


Dia kemudian mencoba menghubungi faisal dan syukurnya pria itu langsung mengangkat panggilan darinya.


"Mas..Tolong...Kesini sekarang..."


Brakk


Sania menatap nanar...Ponsel hasil jerih payahnya bekerja di pabrik selama bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik.Rasanya dia ingin menangis sekarang.Dia sungguh menyesal pernah mencintai pria ini,bahkan dia sampai merelakan keperawanannya direnggut begitu saja.Sania melempar gelas yang tergeletak disampingnya ke lantai.


"Mendingan kamu pergi..."Sania sudah mengacungkan pecahan gelas kearah rio dan membuat lelaki itu mundur selangkah.


"SEKARANG!!!"


Sania benar-benar muak.Dia melempar semua barang ke arah rio membabi buta.


Setelah melihat sania lama,baru rio mau keluar meskipun dia tidak tega juga melihat perempuan yang dicintainya menangis.


Setelah pintu tertutup dari luar sania berteriak frustasi.

__ADS_1


"SANIA..."


BERSAMBUNG


__ADS_2