
"ha .ru..s nya tadi aku tidak pergi mengejar" sahut Reina sambil menatap Jasmin, air matanya jatuh satu per satu membasahi cadar yang Reina kenakan
"shutt ,Reina semua ini rencana nya Allah ,jadi jangan salahkan dirimu ,aku yakin semuanya akan baik baik saja " sahut Jasmin lagi
, matanya menatap Reina dengan tatapan meyakinkan
"t.. tapi………"kata kata Reina terputus saat seseorang menyerahkan air mineral kemasan tepat di depan wajah Reina
"minum " Emir menyerahkan air mineral ke pada Reina ,
dengan perlahan Reina mengambil air itu dari tangan Emir
"terimakasih paman" ujar Reina pelan
"paman kita pulang sekarang ya..."ujar Jasmin ,dia tidak bisa membiarkan Reina tetap di sini ,karna jika ia membiarkan nya Reina mungkin malah tambah menyalahkan dirinya
"baiklah" Emir berdiri dari tempat duduk nya
matanya menatap ke arah Reina ",ada yang tidak beres dengan dirinya "batin Emir "mengapa aku harus peduli?" tanya Emir lagi pada dirinya sendiri
Jujur ,sejak malam dimana Reina memukulinya dia merasa ada yang berbeda pada dirinya, seperti saat ia berpapasan dengan Reina ,hati nya seperti ingin sekali mengajak Reina berbicara,mencoba untuk lebih mengenal ,dan ada sesuatu dalam dirinya yang ingin mengetahui segala tentang Reina
"ini hanyalah rasa penasaran Emir" batin nya menenangkan nya
Emir berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke bassment , tempat di mana mobil nya berada
dan dibelakang nya Jasmin dan hawa berjalan mengikuti nya
"apa tidak apa apa ,kita tinggal?" tanya Reina sekali lagi
"tidak apa apa Rei ,percaya sama aku ,oke.." sahut Jasmin kembali meyakinkan Reina
sejak saat itu ..
Reina tidak pernah bertemu kembali dengan ustadz Farhan maupun hawa ,
saat mereka mencoba bertamu ke rumah hawa ,rumah nya kosong ,tidak berpenghuni ,hawa bilang ia di luar kota ada urusan
tetapi Reina merasa ini karena nya
"apa ustadz terluka parah?"
__ADS_1
"apa ustadz sakit ?"
" apa hawa menghindari nya?"
pertanyaan pertanyaan itu selalu menghantuinya
Reina berharap ketika di pondok nanti ,ia bisa segera bertemu dengan hawa dan ustadz nya
hari demi hari terus berganti ,
waktu liburan telah habis ,Reina dan Jasmin sekarang sudah berada di depan pondok
Sekarang mereka sedang menurunkan barang barang mereka dari bagasi mobil nya Emir ,karna paman Jasmin lah yang mengantar mereka ditemani oleh mama nya Jasmin
setelah seslesai menurunkan barang ,mereka segera melangkah masuk ke dalam pondok
baru berapa menit mereka masuk ,Reina nampak keluar lagi menuju mobil ,ada barang nya yang tertinggal ,untung saja paman Emir belum pergi
Reina mengetuk kaca pintu mobil Emir ,
"ada apa!?" tanya Emir membuka kaca mobilnya
"maaf paman, barang ku tertinggal" sahut reina menunjuk ke tempat Yang tadi di duduki nya
dengan cepat Reina membuka pintu mobil dan mengambil paper bag nya yang tertinggal
"terimakasih paman " ujar Reina sambil tersenyum dari balik cadar nya
"ya!" balas Emir singkat , nada bicaranya yang dingin membuat Reina kembali tersenyum dan dengan segera ia berjalan kembali ke gerbang pondok nya
Emir menatap kepergian Reina dari kaca spion mobil nya , wajah diam tak berekspresi , tatapannya yang tajam memerhatikan kepergian Reina ,
Emir mengingat kembali saat Reina mengucapkan terima kasih , walaupun Reina menggunakan cadar tapi Emir tahu Reina sedang tersenyum kepadanya karna Emir melihat mata Reina menyipit saat mengucapkan kata-kata terimakasih ,
Emir memegangi dada nya terdengar suara detak jantungnya yang sangat jelas
"ada apa ini ? " batin Emir bertanya-tanya
"apa aku sakit?" tanya Emir kembali sambil memegang Dada nya yang berdegup sangat kencang
jam silih berganti
__ADS_1
Di kelas ,Reina menatap kursi kosong di depan nya dengan perasaan takut dan harap ,bagaimana tidak , udah setengah jam berlalu ,ustadz Farhan belum juga datang
tak selang beberapa lama seseorang perempuan berumur 25 tahun masuk ke kelas ,dengan segera satu kelas berdiri memberikan salam
"assalamualaikum ustadzh Khadijah " seru para santri memberi salam dengan serentak termasuk Reina ,ia tahu siapa perempuan di depan nya ini , dia adalah anak dari pemilik pondok , sekaligus ustadzh di pondok ini , kecerdasan jangan di tanyakan lagi ,banyak sekali dari para santri yang menanti nanti pelajaran bersama nya ,karna walaupun masih muda ustadzah Khadijah adalah orang yg sangat bijaksana
kelas pun dimulai dengan ustadzh Khadijah yang jadi pengajar nya , beberapa kali Reina dibuat kagum oleh cara pengajaran ustadzah Khadijah yang sangat berbeda dari kebanyakan ustadzah yang mengajar
dalam hati nya Reina berniat ingin menjadi seperti ustadzah Khadijah
menit berganti jam pelajaran telah selesai ,ustadzah Khadijah sudah keluar dari kelas ,para santri pun sudah keluar dari kelas
berbeda dengan Reina yang sedang menempelkan kepala nya di atas meja nya ,dia benar benar tidak mood sama sekali , pikiran nya masih tertuju pada seseorang,hatinya terus menanyakan tentang keberadaan orang itu
"ke perpus Rei ?" ajak Jasmin ketika berjalan melewati meja Reina
" duluan aja!" sahut Reina masih tak bersemangat
"duluan yaa"
Jasmin berlalu meninggalkan Reina ,Reina menatap kelas nya yang kosong , jarang sekali kosong seperti ini , biasanya ada para santri yang mengerjakan hukuman dari ustadz, tapi sekarang ……
"huh" Reina menghela nafas panjang
dia harus segera menyusul Jasmin ke perpustakaan ,Reina beranjak dari tempat duduk nya berjalan ke arah perpus
saat di lorong pondok ,telinga reina menangkap pembicaraan kakak kakak senior nya yang sedang duduk duduk di sudut lorong
"kalian tahu ,Fatima masih belum datang , kabar nya sih dia dilamar seseorang "
"ihh cepat banget "
"biasa… orang nya kan dah cantik pintar pagi… ya pasti banyak yang mau lamar "
"ya siih "
"enak yaa"
"kalian tahu ustadz farhan juga tidak datang "
"jangan jangan Fatima dilamar sama ustadz farhan"
__ADS_1
Reina dengan spontan berhenti ketika kalimat itu di ucapkan oleh kakak kakak senior nya ,
"mungkin kah?" batin nya bertanya