
Di tempat lain
Farhan menggenggam erat tangan nya
sekarang ia sudah berada di kamar yang ia tempati
"setidak nya ia sudah mengungkapkan niat nya "
Niat nya melamar Reina ,bukan apa-apa tapi ia takut jika ketakutan sebenarnya terjadi ,jika Reina di miliki oleh laki laki selain dirinya , kejadian kemarin saja sudah membuat nya sangat takut ,ia tidak ingin ada yang ke dua kali nya ,
Farhan mengambil handphone nya dan segera menelepon aba nya (Farhan memanggil ayah nya dengan sebutan aba), ingin menyampaikan niatnya melamar Reina ,ia sudah sangat yakin setelah melakukan istikharah berkali kali
(panggilan tersambung)
"Assalamualaikum aba "ujar Farhan memulai percakapan dengan aba nya
^^^"Wa'alaikumsalam nak ada apa ?"^^^
"Gimana kabar aba sama mama ?"tanya Farhan lembut
^^^"Alhamdulillah baik"^^^
"Gini aba… ,Abang mau sampai kan sesuatu"
^^^"ya apa nak ?"^^^
"Abang mau lamar seorang akhwat aba , bagaimana menurut aba ?" tanya Farhan hati-hati
^^^"Reina nya gimana Abang ,bukan nya dulu Abang sudah lamar Reina anak teman aba "^^^
"bukan- bukan gitu ba ,Abang tetap mau lamar Reina anak teman aba , bagaimana menurut aba ?"
^^^"oh astagfirullah kira aba yang lain,kapan rencana nya bang ?"^^^
"insyaallah secepatnya aba "
^^^"Alhamdulillah bagus Abang , semakin cepat semakin baik "^^^
"makasih aba ,jadi bisa aba sama mama dan adek -adek datang ke Indonesia?" tanya Farhan hati-hati
__ADS_1
^^^"insyaallah bisa ,Abang masih ingat janji Abang kan ?"^^^
"insyaallah masih ingat aba ,Abang insyaallah mau " ujar Farhan
Setelah sekian lama mengobrol Farhan mematikannya sambung telfon nya .ia menatap lama ke luar jendela menatap lama pemandangan di depannya .
"janji " ujar Farhan pelan ,ia ingat akan hal itu dulu sewaktu Farhan melamar Reina pertama kali dengan Abi Sa'ad ayah nya Reina ,ia membuat sebuah janji kepada keduanya orang tuanya agar mau menemani nya untuk melamar Reina kecil.
Ia pernah berjanji akan menggantikan posisi aba nya,dimana adik laki-laki nya Rayhan tidak mau untuk mengganti kan posisi aba nya.
ia harus menyampaikan ini kepada Reina agar Reina mau menerima nya dan keadaan nya nanti ,sebelum terlambat
jam silih berganti
di tempat yang berbeda dua manusia sedang mengangkat tangan nya mencari petunjuk terbaik dari sang maha pencipta agar memberi petunjuk kepada mereka
Reina meneteskan air matanya di tengah tengah doa ,di depan Allah sang maha pencipta ia mengadukan keluh kesah nya menyampaikan niat nya agar Allah memberikan petunjuk kepada nya
begitu juga dengan Farhan ia tak bosan bosan mentebut nama sosok yang ia cinta di sela sela doa nya .
doa dan tangisan ,hanya Allah lah saksi dari ke dua insan yang saling mencintai
waktu terus berlalu ,hari silih berganti
berbeda dengan Farhan dan Harits yang sekarang kalang kabut mencari sosok perempuan yang sudah menghilang sejak dini hari sampai sekarang masih belum nampak batang hidungnya
"ya Allah telfon nya gak aktif" ujar Harits memijat pelan pelipis nya ,pusing ,ia merasakan sangat pusing pasal adik nya yang sudah sangat meresahkan nya ,ia kira Reina bersama sepupu sepupu nya tapi ternyata dugaan nya salah .
"gimana Harits ,di cari dimana lagi ?" tanya Farhan setelah beberapa jam menemani Harits mengunjungi beberapa tempat favorit Reina .
"Farhan biar cepat carinya , kamu pakai mobil yang satu lagi Karena tinggal dua tempat lagi yang belum kita kunjungi " ujar Harits pusing ,ia benar benar harus extra sabar menghadapi sikap Reina yang membuat pusing dirinya ,bagaimana ia tidak pusing ia mendapat telfon dari umi nya saat sedang mengajar ,uminya terdengar sedang menangis mengkhawatirkan adek bungsu nya ,yang sebenarnya tidak perlu di khawatir kan
"oke baik aku ke perpustakaan kan " ujar Farhan sambil menerima kunci mobil dari Harits dan segera berlari masuk ke pondok mengambil mobil satu nya lagi
"gimana nasib Farhan jika Farhan menjadi suami Reina nanti " batin Harits melihat sosok sahabatnya yang sedang berlari menjauh ,ia tidak bisa membayangkan,ia sendiri yang sebagai kakak kandung Reina harus ekstra sabar dengan tingkah Reina yang sangat tidak masuk akal menurut nya
beberapa lama kemudian Harits dan Farhan sudah berpencar mencari Reina
Harits menuju ke rumah bibi nya
__ADS_1
sedangkan Farhan di minta untuk mencari ke perpustakaan terbesar di kota ini
Farhan berjalan di sela sela rak ,mencari sosok perempuan ,tapi ketika hendak menuju ke rak akhir
Farhan di cegat dengan seorang
"sorry sir. better not go there someone a little out of his mind " sahut orang itu dengan maksud agar Farhan tidak ke rak terakhir karna ada orang yang tidak waras .
"oh thanks" ujar Farhan .
baru hendak membalikan badan Farhan seperti mendengar suara tangisan dari balik rak buku .
"Reina ?" batin Farhan bertanya
dengan cepat Farhan segera membalikan badan , melangkah menuju ke sebalik rak itu ,"bodo amat tentang orang yang tidak waras " ujar Farhan
betapa terkejutnya Farhan saat tahu bahwa Reina yang dimaksud orang gila dengan orang tadi
"Reina ?!" ujar Farhan hati hati sambil melihat ke arah perempuan yang sedang menangis di depan nya
mendengar nama nya di panggil Reina menurunkan novel yang ia baca dan melihat ke sosok yang berdiri di depan nya
"huaa" tangis Reina pecah saat melihat sosok ustadz Farhan di depan nya
Farhan yang mendengar suara tangisan Reina semakin menjadi semakin panik
"ada apa Reina ?" tanya Farhan kwatir
"ustadz ,Gilang mati ustadz" Kadu Reina pada sosok di depannya
"Gilang siapa ? Gilang siapa Reina ?" tanya Farhan setengah cemburu dan setengah kwatir
"ini ustad Gilang di sini " ujar Reina sambil menunjuk buku yang ia pegang
"hah?" ujar Farhan tidak mengerti
"huaa" tangis Reina yang makin menjadi
"Reina bisa berhenti menangis ? please ! oke Reina ? " ujar Farhan pelan ,sambil memerhatikan orang orang yang mulai berkumpul melihat Reina yang masih menangis tanpa henti ,
__ADS_1
"ustadz tahu Gilang belum sempat mengungkapkan cinta nya sama Zahra " ujar Reina masih baper dengan novel yang barusan selesai ia baca ,novel dengan sad ending
"Zahra siapa ?" tanya Farhan masih tidak mengerti